Yang Bangkit Dari Bangkrut #1: Donald Trumph

Yang Bangkit Dari Bangkrut #1: Donald Trumph

Jika Anda pernah melihat acara The Apprentice di salah satu stasiun TV Indonesia, Anda pasti tak asing lagi dengan pengusaha super kaya asal Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Hingga Juni 2013, tercatat kekayaannya US$ 63 juta atau Rp 713,3 miliar versi Forbes.
Namun tahukah Anda, pria bernama lengkap Donald John Trump ini pernah mengumpulkan berkas kebangkrutan sejumlah perusahaannya pada 1991, 1992, 2004 dan 2009. Hebatnya, dia masih bisa bertahan secara keuangan dan kembali membangun serangkaian bisnis lain.
Saat kecil, Trump merupakan anak yang energik dan agresif. Orangtuanya bahkan mengirim dia ke sekolah berbasis militer guna menyalurkan energinya pada hal-hal yang positif. Di sana dia bergaul dengan baik bahkan menjadi bintang siswa.
Kepribadian baik Trump itulah yang hingga kini menjadi kunci kesuksesan bisnisnya. Trump yang mudah bergaul memiliki banyak teman dan relasi bisnis. Namun motivasinya menjadi pengusaha real estate banyak dipengaruhi sang ayah yang terlebih dulu mendirikan perusahaan penegmbang The Trump Organization.
Setelah bergabung dengan perusahaan ayahnya, dia terus memberikan gagasan baru yang membuat bisnis tersebut terus berkembang. Berikut profil lengkap Donald Trump yang saat ini menjabat sebagai Presiden The Trump Organization dan pendiri Trump Entertainment Resorts:
Donald John Trump lahir pada 14 Juni 1946 di Queens, New York. Dia merupakan anak ke empat dari pasangan Frederick C. dan Mary MacLeod Trump. Frederick merupakan pendiri dan pengembang real estate yang memiliki spesialisasi di bidang konstruksi dan pengoperasian sejumlah apartemen kelas menengah di Queens, Statn Island dan Brooklyn. Dia merupakan salah satu konglomerat di New York saat itu.
Saat kecil, seperti dilansir Liputan6.com, Trump merupakan anak yang energik dan tegas. Melihat sikap dan karakter anaknya tersebut, Frederick mendaftarkannya ke Akademi Militer New York (New York Military Academic) saat Trump masih berusia 13 tahun.
Disiplin di sekolah tersebut diharapkan dapat menyalurkan sikap positif atas karakternya tersebut. Memang benar, Trump belajar dengan sangat baik di akademi tersebut. Secara sosial dia bergaul akrab dan punya banyak teman. Trump juga merebut sejumlah penghargaan di bidang akademis. Dia sempat mengikuti beberapa kejuaraan sepak bola dan baseball.
Namanya tenar sebagai bintangnya atlet sekolah dan ketua siswa hingga lulus pada 1964. Dia lalu mendaftar di Fordham Universty sebelum akhirnya pindah ke Wharton School of Finance di University of Pennsylvania. Dari sekolah tersebut dia menyabet gelar sarjana ekonomi.
Awalnya dia sempat tertarik untuk belajar di sekolah film. Namun akhirnya dia memutuskan bisnis real estate jauh lebih baik.
Pengaruh ayahnya pada kehidupan Trump terlihat sangat kuat. Hal itulah yang membuat dia memutuskan untuk terjun ke dunia karir yang sama dengan sang ayah. Meski demikian, Trump yang saat itu masih sangat muda memiliki target bisnis yang jauh lebih besar dari apa yang sudah dicetak ayahnya.
Sejak masih menjadi mahasiswa, Trump sudah mulai bekerja pada ayahnya selama musim libur panas. Setelah lulus dia pun bergabung dengan Trump Organization, perusahaan pengembang real estate milik ayahnya tersebut.
Setelah meyakinkan ayahnya untuk bergerak lebih liberal dalam penggunaan pinjaman berbasis ekuitas di kompleks apartemen Trump, dia berhasil mendanai ekspansi perusahaan. Namun demikian persaingan di bisnis tersebut masih sangat ketat dan selisih untungnya masih kecil.
Pada 1971, dia memutuskan untuk pindah ke Manhattan dan bertemu dengan banyak orang penting di sana. Berbekal keyakinan akan peluang di kota tersebut, Trump terlibat dalam proyek pembangunan besar. Dengan menggunakan desain arsitektur yang menarik dan hubungan publik yang baik peluang tersebut menjanjikan untung yang jauh lebih besar.
Saat ini, Trump menjabat sebagai Presiden sekaligus CEO Trump Organization. Dia juga mendirikan perusahannya sendiri Trump Entertainment Resorts. Pria yang dulu mahir berolahraga ini merupakan salah satu pengusaha real estate terbaik di AS.
Saat Pennsylvania Central Railroad mengalami kebangkrutan, Trump mampu memperoleh opsi menggarap sejumlah lahan rel kereta api di Manhattan.
Saat sejumlah rencana pembangunan apartemen dinyatakan tak layak karena iklim ekonomi yang rendah, Trump mempromosikan properti tersebut sebagai lokasi pusat pertemuan (convention center) di sana. Pemerintah kota Manhattan memutuskan agar penggarapannya di dua kota lain pada 1978.
Trump menawarkan untuk mengurangi biaya pembangunannya jika pusat konvensi tersebut diberi nama sesuai nama keluarganya. Namun tawaran tersebut ditolak dan dia justru menerima tawaran baru untuk membangun kompleks dengan nama senator Jacob Javits.
In 1974 Trump obtained an option on one of the Penn Central's hotels, the Commodore, which was unprofitable but in an excellent location adjacent to Grand Central Station. The next year he signed a partnership agreement with the Hyatt Hotel Corporation, which did not have a large downtown hotel.
Trump yang pandai memanfaatkan potensi bisnis juga menggaet Hyatt Hotel Corporation untuk bekerja sama dengan perusahaannya. Saat itu, Grand Hyatt masih belum memiliki banyak hotel di kota-kota kecil.
Trump telah membangun kerajaan bisnisnya dari Las Vegas hingga New York lewat sejumlah hotel dan casino yang menyebar di berbagai daerah AS. Namun tak semua bisnisnya berhasil dan mencetak uang. Pada 1991, 1992, 2004 dan sekali lagi pada 2009, perusahaan-perusahaan ternama milik Trump dilaporkan bangkrut.
Tak diragukan lagi, nama dan citra Trump tak telah membantunya bertahan dari setiap kebangkrutan yang dialaminya. Rekannya di salah satu perusahaan New York, Edward Weisfelner membantunya melunasi utang-utang atas kebangkrutan bisnis kasinonya tersebut.
Semua kebangkrutannya berkaitan dengan properti hotel dan kasino di bawah banner Trump Entertainment Resorts. Sementara kebangkrutan pribadinya adalah saat dia mendanai konstruksi Trump Taj Mahal dengan junk bond dan tak mampu membayar bunganya yang tinggi. Bisnisnya di ujung tanduk dan dia memiliki utang pribadi sebesar US$ 900 juta.
Namun pada pertengahan 1990-an dia mampu membayar sebagian besar utangnya dengan menjual kapal pesiar pribadinya, Trump Princess, maskapai pribadinya Trump Shuttle dan sahamnya di sejumlah bisnis lain.
Dari kebangkrutannya tersebut dia belajar banyak. Dia pun kapok menjamin utangnya dengan kekayaan pribadinya.
Bicara soal kebangkrutan perusahaan, dia dengan tenangnya mengatakan, ada hukum di negeri ini yang bisa digunakan untuk mengatasi kebangkrutan dan bisa membantunya membayar utang. Anda punya perusahaan, bangkrut dan ajukan pemberkasan pembayaran utang, bernegosiasi dengan bank, dan buat kesepakatan yang luar biasa. Menurutnya hal tersebut tak perlu dipikirkan secara pribadi, begitulah bisnis.
Dia pun bangkit lagi dan terus mencapai tempat-tempat tinggi dalam berbisnis.
Trump yang saat itu tengah berkecimpung di dunia bisnis properti mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Ivana Marie Zelnickova pada 1977. Dari pernikahannya tersebut Trump memiliki tiga orang anak yaitu Donald Jr., Ivanka dan Eric. Pernikahan yang sempat bertahan selama 15 tahun tersebut berakhir pada 1992.
Saat masih terikat status pernikahan bersama Ivana, Trump sudah terlibat kasus perselingkuhan bersama Marla Maples. Beritanya bahkan menjadi headline di salah satu surat kabar New York pada 1990. Setahun setelah bercerai dengan istri pertamanya dia pun menikahi Marla Maples. Keduanya dianugerahi satu orang puteri bernama Tiffany.
Setelah 9 tahun menikah, Maples dan Trump memutuskan untuk bercerai pada 1999. Saat diwawancara, Trump hanya mengatakan, memang sulit bagi Ivana dan Marla untuk bersaing, tapi dia sangat mencintai pekerjaannya.
Pada 2004, dia melamar Melania Knauss, wanita asala Slovenia. Melanie memberinya anak laki-laki pada 2006 bernama Barron.

sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/bisnis/kisah-donald-trump-bangkit-dari-kebangkrutan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox

@diannafi