Dian Nafi's

journey journal
mas nicholas saputra
Perjalanan Sastra Ke Film

Tadi siang aku sempat ikut webinar tentang sastra ke film, tapi telat masuknya. Hiks. Jadi cuma dapat sedikit saja. Nggak apa-apa ya. 

Kenapa tayangan film itu2 saja? Krn ada 3 hipotesa sosiologi. 3 posisi ekonomi Ada gear yg bergerak, mengikuti rules. Pleasure
Identity
Mari menanggapi dg cara kritis Spy punya wacana berpikir lain dr yg dominan Film laku di pasaran jarang dpt award

Film itu berbahasa. Film itu komunikasi Secara naratif, teks Kalau sastra, struktur kata Kalau film, sinematografi, properti, set Bgm teks itu bekerja dlm sastra/film
Film warkop boneng jd orang gila, memukul org dg kostum polisi, tentara. Menggunakan org gila Konsep yg dikuasai penguasa Gila itu posisi netral Representasi keganasan masyarakat mengkritisi penguasa Kecerdasan warkop mengkritisi Anehnya pengarang tdk sadar melakukan itu.
Bgm cara mengkaji film yg sensitif thd agama dan politik? Pak Sapardi dg lembutnya melakukan kritik via #sastra Pengarang menyembunyikan kritik lewat karya2nya Itu yg hrs kita cari #Film Great dictator Charlie Caplin mengkritisi nazi, hitler, musolini

Jadi ingat cuitan om Richard Oh beberapa waktu lalu terkait sastra dan film, seni serta kreatifitas.


Aku berpikir, seorg kreator, setelah menguasai dasar2 di bidangnya, mesti mengembangkan minatnya pd bidang2 di luar spesialisasinya. Penulis sastra nggak melulu baca karya2 sastra. Sutradara nggak melulu nonton film. Sama juga utk perupa, pemusik dsb.

Seorg penulis yg bisa menulis kalimat plg bagus tdk berarti ia berkualifikasi sbg penulis baik. Ingat, Hemingway pny editor keren yg mengoreksi kata2/kalimat2nya yg kacau. Skenario Tarantino pd awalnya tdk ditulis dgn format penulisan skenario dan sering ditolak.
Dan Einstein pd awalnya tdk menguasai matematika, mesti minta bantu temannya utk gagasan2nya.

Alasannya, kupikir, penguasaan bahasa, medium, atau teknik, walau sangat membantu dlm berkarya, tidaklah sebanding dgn kekayaan imajinasi/pengalaman/wawasan yg merupakan anasir2 eksplorasi yg menjadikan karya unik/berbeda/dari sebuah perspektif ajaib.

Memiliki minat2 di luar bidang seorg kreator, kupikir membuka cakrawala bagi seorg kreator utk mencoba sesuatu baru/bereksplorasi tanpa perlu berbanding secara apel ke apel karya lain, tetapi ke sebuah orientasi berbeda.

Org2 ini ketika sedang mencoba sering dianggap gila atau bodoh, tp pada akhirnya kupikir mrk mendekati sesuatu secara lateral, ke samping tdk linear, atau non-Euclidean. Beresiko, tp jauh lbh banyak peluang utk bereksplorasi.

Intinya, kupikir, seorg penulis, sutradara, photographer, perupa, dsbnya, berupaya membongkar medium yg ditekunin utk memperkayakannya: bahasa, musik, visual, gambar dll. Inovasi bisa menekuk ke dlm medium atau dicangkok dr unsur2 luar.

Penulis yg menekuk ke dalam medium bahasa namanya Samuel Beckett. Yang mencangkok bnyk elemen ke dalam karya sastra, James Joyce. Perupa: Monet (nekuk dlm medium), Picasso (pencangkok). Film: Tarkovsky vs Godard dstnya.

Nah, setelah mengatakan itu semua, jgn salahtafsir mrk yg menelusuri seenak jidatnya, tanpa sebuah metode penelusuran berlandasan atau coba hanya sekedar berani mencoba. Krn pd akhirnya menemukan sesuatu baru sekalipun, mrk tdk bs mengulangi atau pny sebuah metode berlanjut.

Karena karya2 yg berani mencoba ini pd akhirnya tdk memiliki sebuah pola atau sebuah konsistensi yg mengukuhkannya menjadi sebuah keseluruhan. Atau bs direkonstruksi kembali menjadi sebuah bentuk, betapapun bedanya karya itu.
Perjalanan Pembelajaran Anak-Anak Kita



Siapa yang turut memperhatikan Perjalanan Pembelajaran Anak-Anak Kita belakangan ini?

HIKMAH PANDEMI
Ada beberapa hikmah yg bisa dipetik dr keniscayaan Learning from home tersebab pandemi covid-19
1. Mengembalikan kewajiban mendidik pd orgtua, yg selama ini byk diabaikan
2. Ponpes2 jelas2 butuh byk tools utk bisa menyelenggarakan online learning. Krn meski santri2 sdh balik ngaji.. ..di pesantren, tp mereka masih hrs tetap remote online learning pelajaran2 dari sekolah/madrasahnya. Sementara pesantren hy py sdkt fasilitas utk itu, pdhl jumlah santri sangat banyak.
Yok suply pesantren with the tools they need for that purpose.


3. Bagi pesantren yg mmg py idealisme utk mengembangkan metode pendidikan khasnya sendiri yg beda dg madrasah/sekolah formil, masa ini mjd istimewa,krn mrk dpt porsi besar utk apply their methods for their santris.
Kudos!


EVOLUSI
Dalam “The Singularity Is Near” Kurzwell membagi evolusi dalam enam era informasi:

(1) Era fisika dan kimia: informasi tersimpan dalam partikel subatomik.
(2) Era biologi, informasi tersimpan dalam DNA organisme seluler sederhana.

3. Era otak manusia,info memunculkan kesdrn 4. Era teknologi: transformasi informasi ke digital,artificial Intelligence 5. Era Singularitas: manusia& teknologi cerdas menyatu, makhluk super cerdas-transhuman 6. Era semesta tersadar: transhuman berekspansi ke seluruh alam semesta

PELUANG BESAR
Ada peluang besar banget utk courses ngajarin cara online learning dan remote learning. That's totally different from traditional / conventional learning / teaching
Ini mustinya tugas mas menteri nadiem makarim and friends sih. Tapi gak yakin juga kalau mrk sdh bisa ngajarin atau nggak nya. Krn kyknya ya cuma mas menteri aja yg sdh advanced.


Apakah kita akan mengambil bagian dalam perjalanan pembelajaran alias online remote learning ini?

Perjalanan Ketulusan Cinta




Bicara tentang tulus, kita pasti ingat penyanyi bernama Tulus dong. Tapi kalau band? band mana yang terdengar cintanya paling tulus

sheila on 7?
letto?
the overtune?
atau siapa?


Bicara tentang tulus, kita tak akan lupa keterkaitannya dengan cinta.

Seperti apa cinta yang tulus itu?

Bagaimana cara mengukurnya? Baik dalam diri kita sendiri, maupun pada orang lain?

Apakah kita bisa menilai ketulusan cinta orang lain?

Apakah boleh?



Btw, kurasa, aku tidak menyesal telah memberikan cinta dengan tulus selama bertahun-tahun, karena cuma ketulusan itu yang kupunya. Hanya saja aku butuh ketemu yang sama tulusnya.

Oke, stop sampai sini curcolnya. hahaha..


**


Bicara tentang tulus, tentu tak luput dari ikhlas.

Bicara ikhlas, kita akan ingat dengan karma.

Berikut konsep karma, phala (pahala), & dosha (dosa) menurut Hindu Dharma.

Karma berarti tindakan (baik & buruk). Tiga jenis karma: Sancitta, Prarabdha, & Kriyamana/Agami. Dosha (√dush) adl tindakan yg salah. Phala adl buah karma.




Karma menyebabkan kelahiran kembali. Moksha berarti lepas dari siklus ini. Bagaimana bisa, sementara semua tindakan kita di dunia menghasilkan karma? Shri Krishna mengatakan ‘nishkama karma’, jadikan setiap perbuatanmu sebagai persembahan; jangan terikat pd hasilnya. Karma Yoga.


Teknik membaca Prarabdha Karma diajarkan dalam Jyotisha (ilmu astronomi/logi Veda). Prarabdha Karma ini dianalisis untuk membantu perjalanan Jiwa. Kriyamana Karma juga bisa dibaca dengan teknik yang serupa

Apakah yang banyak sedekah/karma baik misalnya bisa lepas dari bala/karma buruk?

Konsep dasarnya agak berbeda dlm Hindu Dharma. Derma & perbuatan baik lainnya bagus dilakukan, tapi masih karma. Dia akan ber-pahala baik, dan akan membantu perkembangan Jiwa. Tapi masih “menjerat” krn phala baik bisa membuat kita (makin) betah di dunia.

Orang yg menderita ingin segera mengakhirinya. Sdgkan orang yg menerima phala berupa segala kesenangan duniawi malah akan sulit keluar dari permainan. Tp bukan berarti berbuat jahat juga supaya menderita. Baik phala karma baik maupun buruk, keduanya adl “penderitaa

Mungkin Nishkama Karma ini kalau di Islam disebut ikhlas lillahi ta'ala, ikhlas karena Allah semata? Nggak memikirkan apakah ini berpahala, apakah ini akan jadi tiket masuk surga, intinya ikhlas karena Allah.

Ya, seperti pengabdian tulus ikhlas (bhakti) Rabi’ah yg tak mengaharap surga atau menghindari neraka


Pada upacara api suci (agnihotra), setelah umat memasukkan persembahan ia akan mengatakan “idan na mama”, ini bukan milikku, bukan ‘aku’. Ini adl bentuk latihan utk mencapai keikhlasan itu.




Rg Veda kitab tertua yg masih hidup dalam tradisi Hindu Dharma juga dibuka dgn semangat ini. Kita perlu melalui Agni/api. Membersihkan diri dari kotoran-kotoran. 

Perjalanan ke dalam diri, adalah perjalanan oleh Dia, dari Dia, menuju Dia.

kalau dalam islam, di tasawuf ada takholli, tahalli, tajalli (yang kujadikan dasar dalam buku How To Reset Your Life)
takholli: mengosongkan diri dari keburukan
tahalli: mengisi dengan kebaikan
tajalli: mengejawantah/ menyatu denganNya


Dalam hindu, semua karma yang masih mengharapkan hasil (baik di sini atau di alam nanti) masih menghasilkan buah; masih ada ‘aku’, egonya. Kita masih harus memetiknya, di sini atau nanti.

Sedangkan tulus, berarti tak lagi mengharapkan apa-apa lagi. 

Hidup adalah Perjalanan Perbaikan Diri


Waktu 1 on 1 call dengan oola saat konsultasi tentang coaching, aku  ditanya apa yang sekiranya menghalangi. Apa yang membuat langkahku seperti tidak jalan dengan cepat, apalagi  berlari. 


Aku bilang mungkin karena diriku sedikit ragu sebab backgroundku arsitektur dan nulis, bukan psikiater atau psikolog, kok nge-coach life reset. Meski ada background pendidikan pesantren dan tasawuf yang juga kujadikan approach pendekatan dalam program life reset ini. 

Trus dia (konselor coaching) bilang, nggak masalah. Make boundaries aja, apa-apa yang bisa kubantu untuk orang-orang yang bermaksud untuk reset their life. (menata ulang hidup mereka kembali) 

Dia memberi saran agar aku memberikan pendekatan/approach sebagaimana yang pernah aku alami dan dipraktekkan oleh  beberapa teman/kenalan yang pernah kubantu. The general recipe. 
She said, kamu yang bikin silabusnya, arahnya, caranya. Memang akan berbeda dengan cara yang psikiater atau psikolog lakukan, karena memang beda. Tapi not problem at all. You have boundaries, apa yang menjadi tanggung jawabmu, wilayahmu, mana yang bukan.

Oola nawarin aku untuk menjadi coaching program mereka juga, sebagai kepanjangan tangan alias cabang yang di Indonesia. Bayarannya lumayan ya sebenarnya. Dapat 80% sharing dari klien yang ditangani. 






Another story. Aku sempat mendapat tawaran dari satu startup yang punya layanan curhat. Supaya aku menjadi volunteer yang dicurhatin para pengguna aplikasinya. Kami ketemu di kontes startup kemarin. Startupnya masuk finalis tapi nggak menang. Kalau sama-sama gak dibayar, dan sama-sama starting, kupikir ya mending buka lapak sendiri, ya gak sih. Gimana baiknya

and also..
Aku s
empat kepikiran ninggalin this call karena merasa gak/belum pantas. Sebab bahkan diriku sendiri masih terus menerus on progress resetting life. Beberapa kali merasa sudah  berhasil reset my life, lalu terdistrak lagi, balik lagi. Maju mundur, nge loop gitu.  Lalu aku ingat konsep bandul yang salah satu  guruku pernah ajarkan. Konsep bandul ini kusadur dalam buku how to reset your life itu. 

Aku juga mengingat kiat dari habib luthfi yang kudengar dari pamanku, tentang pentingnya menikmati menghikmati progress perubahan. Tak apa sesekali balik, itu manusiawi banget. Manusia adalah makhluk yang lemah, dhoif. Tapi teruslah gantungkan harap yang tinggi padaNya, sembari terus berusaha. Tawakal penuh. Optimalkan usaha dhohiriyah dan batiniah.  Laman laman, step by step. 

So, sembari menikmati proses dan progressku sendiri, seandainya Allah meridloi dan memberi jalan untukku melanjutkan this call, insyaAllah aku  ridlo alias rela. Kan tujuan akhir kita adalah roodhiyatan mardhiyyah. 


Kita tahu maqom gak bisa diminta. It is given, gift. Amanah pasti berat pertanggungjawabannya. Tapi keinginan untuk bisa membantu orang-orang lain agar tak terpuruk setelah keberantakan dan kehancurannya, masih menggaung. 

Let it be let it be. 

Let it flow let it flow. 

Kadang orang yang merasa bisa membantu, sesungguhnya yang butuh dibantu? 
Who knows. 
We never know

Hidup adalah Perjalanan Perbaikan Diri

**
Wanna know more thought about life reset? Sila subscribe di sini
Buku How To Reset Your Life terbitan Grasindo juga tersedia di toko buku offline dan online. Joy reading and learning ^_^


Dari Sebuah Acara Launching Buku




Agustus.
Zara menyadari ada yang salah dengan peletakan backdrop besar itu. Berbahan dasar MMT dengan tulisan-tulisan yang sangat besar agar menonjol, memang pilihan tepat dalam acara launching dan bedah buku ini.
Benar  bahwa bagian atasnya memang sudah mepet dengan pengaitnya, tidak mungkin ke atas lagi. Namun akibatnya ada bagian bawah MMT yang tertutupi kursi, yang akan digunakan sebagai tempat duduk dua nara sumber termasuk dirinya. Nhah! Masalahnya sekarang adalah bagian yang menjadi hampir tidak terbaca itu adalah nama dirinya berikut profesi yang terdapat dalam tanda buka tutup kurung.   
Ada sebagian suara dalam hati kecilnya untuk mengingatkan panitia akan keganjilan dan janggalan ini. Tetapi belum lagi mulutnya mengeluarkan suara, sisi batin yang lain mencegahnya berdiri.
“Biarlah namaku tidak dibaca atau dikenali,” batinnya.
Ada rasa ingin meluruhkan ego dan narsisme yang selama ini menggerogotinya sedemikian rupa. Akan bersanding dengan seorang doktor dalam acara bedah buku ini, membuatnya tertunduk malu. Dia bukan siapa–siapa, hanya seorang arsitek yang tersesat menulis. Lalu tiba–tiba disandingkan dengan seorang pakar filsafat.
Zenal Edha, nama itu sudah sempat diselidikinya beberapa hari ini. Sepak terjangnya, latar belakangnya dan statusnya. Dari sekilas pembacaan itu, lelaki intelek itu sudah langsung memperoleh simpati dari Zara.
Meskipun kemudian agak sedikit menurun konsentratnya ketika perempuan ini menemukan langsung sang doktor telah duduk di kursi seberangnya. Zara sedang duduk di kursi audience paling belakang, sembari acara sore itu dimulai. Setelah baru saja berbincang dengan Silvi dan Lala, panitia acara, kepalanya segera menoleh karena merasakan ada angin dan aura dari arah sebelah. Ternyata pemilik wajah yang diintipnya lewat fesbuk kemarin, sudah hadir di situ dengan senyum dan sorot mata cerdasnya. Persis seperti dalam profil–profilnya di fesbuk. Tetapi yang tidak diduganya adalah fisik pria ini ternyata tidak lebih tinggi dari dirinya.
“Nhah, ini pak Zenal-nya sudah datang,” seru Zara menggamit bahu Lala dan Silvi.
Mereka berdua kemudian mengucap salam kepada pria yang meski pendek tetapi tampak berwibawa itu. Disambut dengan senyumannya yang ramah. Kemudian dengan takjub mengalihkan pandangan ke arah Zara.
“Ini bu Zara ya?” tanyanya sopan, masih dengan senyuman.
Zara menganggukkan kepalanya, lalu teringat sesuatu.
“Eh, mumpung ingat pak. Saya minta tanda tangannya,” ujar Zara sembari mengeluarkan novel terbarunya, mengulurkannya pada pria di yang duduk di depannya.
“Lho? Kok malah saya yang tanda tangan,” Pak Zenal menerima novel itu sambil matanya jenaka melirik ke arah Zara.
“Memang hobi saya mengoleksi tanda tangan orang–orang terkenal, pak,” Zara mencoba menjelaskan.
“Saya malah ingin baca. Mana yang buat saya?” pak Zenal membolak– balik novel berukuran 11x 18 cm itu. Membaca tulisan di back covernya lalu membaca bagian dalamnya.
“Wah. Sayang sekali, saya juga cuma punya satu ini, pak. Stock-nya habis. Itu juga saya coret–coret pakai stabilo. Maaf ya,” Zara tersipu malu karena tidak menyiapkan sesuatu untuk orang yang dimintai tanda tangan.
Padahal dia biasanya menyerahkan salah satu karyanya. Seperti ketika bersua Pipit Senja, Donatus A Nugroho, Gol A Gong, pak Ahmad Tohari dan yang lainnya.
Zenal manggut–manggut saja sambil terus asyik membaca. Fast reading,  tentu saja karena tidak tersedia banyak waktu. Sebentar lagi acara bedah buku dimulai. Tak berapa lama kemudian, dia menorehkan tanda tangannya. Menyerahkannya kepada Zara dengan senyuman yang khas, menampilkan lesung pipinya dan ujung bibir yang bergeser  beberapa senti ke kiri. Manis juga pak dosen ini, pikir Zara.
**
Zara puas dengan keriuhan dan keseruan acara bedah buku itu. Tidak sia–sia dia mempersiapkan diri selama tiga hari itu. Membaca novelnya secara nyemil menghasilkan fokus yang lebih baik. Sehingga dia bisa menulis empat belas halaman catatan tentang novel tersebut. Sparing partner yang handal membuat irama talkshow ini mengalun indah dan harmoni. Perempuan itu tersenyum lega, meraba dadanya yang penuh kesyukuran.
**
Keesokan harinya,  perempuan ini sempat menemukan sebuah artikel. Yang berisi  ulasan tentang acara kemarin di sebuah media.
Angin Baru Relaunching dan Bedah Buku Semarang. Jum’at (03/8) Penerbit E menyelenggarakan acara relaunching dan bedah novel di gedung toko buku Gramedia Pandanaran Semarang lantai dua. Acara ini terselenggara atas kerja sama Penerbit buku E dan Komunitas Kepenulisan cabang Semarang dengan menghadirkan narasumber Zara Medina (arsitek dan novelis)  dan Zenal Edha (Dosen Filsafat dan Pemerhati Sastra).
Bedah buku ini juga dirasa menarik dikarenakan kombinasi antara kedua narasumber dalam membedah novel tersebut. Pasalnya kedua pembicara memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat novel tersebut. Zara Medina berbicara terkait fisik novel, meliputi diksi, alur cerita, setting, dan lain sebagainya, sedangkan Zenal Edha berbicara terkait jiwanya, yakni berkaitan tentang pemaknaan karya sastra. Kombinasi ini membuat peserta semakin asyik dalam mengikuti dialog.
Acara ini cukup menyita perhatian pengunjung Gramedia. Hal ini dibuktikan dengan membludaknya pengunjung yang berkunjung antara pukul 15.00-17.30 WIB berhenti di area kegiatan dan menyimak apa yang sedang dibicarakan. Dalam acara ini juga hadir segenap pengurus dan anggota Komunitas Kepenulisan cabang Semarang dan beberapa tamu undangan. Lima menit sebelum adzan maghrib berkumandang, bedah novel ini berakhir. Dilanjutkan dengan buka bersama. 


Teaser Novel Tentang Komunitas



Persinggungan dengan teman-teman di berbagai komunitas, perkenalan dengan Rumah Dunia dan perjalanan ke Qoryah Toyyibah memercikkan sesuatu dalam diri sehingga muncullah ide novel ini.
Dengan tokoh-tokoh utamanya yang berinisial Z, komunitas yang mereka dirikan ini bernama Three-z. Yang bisa diasosiasikan dengan Trees alias pohon. Kebetulan sekali mantan pacar Zahra yang turut memperkuat komunitas ini bernama Wit, yang artinya pohon.
Kisah romantika mereka terangkai bersama dinamika komunitas. Ah jadi ingat untuk berterima kasih pada para sahabat dan teman di berbagai komunitas. Love you all J
Pada kesempatan ini, rasa terima kasih terunjuk pada Allah yang tak pernah mengecewakan hamba-hambaNya, memenuhi janjiNya, menunjukkan dan menerangi jalan yang dianugerahkanNya untuk kita, atas luasnya pengampunan dan rahmatNya. Rosul atas tuntunan dan teladan yang mulia, kasih dan sayangnya yang tulus.
Terima kasih untuk orang tua yang tak henti-hentinya mengasihi dan mendukungku. Saudara-saudaraku  tersayang. Almarhum suami atas semua cinta yang tak sempat kau ucap tetapi kurasakan. Anak-anakku, beranilah untuk mencinta dan setia. Guru-guruku terkasih. Atas semua bimbingan, cinta dan ketulusannya.
Untuk seluruh pembaca, salam hangat dan salam santun. Komentar dan kritik membangunnya selalu kutunggu.

Gambar


Novel Tentang Cinta Lokasi dan Beda Status Sosial

Beberapa hari terakhir ini kan aku cerita kalau lagi proses menulis novel 14 Jomlos. Tapi kayaknya ada perubahan. 
Cerita #14jomlos nya belum jadi kutulis aja ya. Sudah mau padha jadi manten kayaknya. Haha. Baca novel ini aja ya. Tentang cinlok. Cinta Lokasi Pernah naksir orang yg beda status sosial? Bikin galau kan. Apalagi kalau dogma keluarga sdh kudu pilih bebet bibit bubut eh bobot storial.co/book/just-in-love


Pernah naksir orang yang status sosialnya berbeda?

Serasa ada jarak yang jauh, dinding yang tinggi, tebing yang dalam kan untuk bisa melanjutkan hubungan seperti ini.

Khawatir tidak mendapat restu orang tua dan keluarga. 

Khawatir diledek teman-teman pergaulan selama ini. 

Apalagi bagi Kemala yang tinggi hati dan telanjur melabeli dirinya sebagai perempuan yang tidak sembarang memilih pasangan. Bahkan untuk memilih orang yang ditaksir saja, dia akan berpikir panjang terlebih dahulu. 

Lah ini tahu-tahu saat magang mengerjakan renovasi interios di butik luar kota, Kemala malah jatuh hati pada pegawai rendahan di butik itu.  

Cinta beneran atau hanya nafsu ya?

Kalian bisa membedakan nggak? 

Kayak gimana sebenarnya kalau itu cinta? Atau jangan-jangan cuma nafsu? Bagaimana cara membedakannya? 

Bersama-sama selama beberapa waktu membuat Kemala dan Yudhistira mau tak mau juga berakibat kedekatan fisik. Yang membuat mereka....aduh kalian musti baca deh, memang sulit untuk membendung gairah dan gejolak muda.

Meski sepertinya udik, Yudhistira memang ganteng sih. Ganteng dan menggoda. Anak pemilik butik -Vanisha- ternyata juga naksir cowok yang sama. Membuat keadaan menjadi blunder. 

Kecemburuan Vanisha membuatnya melakukan hal-hal yang merugikan Kemala, dan mengancam pekerjaan renovasinya. Sabotase demi sabotase terjadi. 

Bagaimana kalau kalian  bekerja sampai lelah sampai berbulan-bulan, kemudian terancam tidak dibayar karena terancam lewat dead line pekerjaan? Padahal membawahi banyak tenaga kerja, tukang dan keneknya, juga beberapa pihak outsourcing yang menyuplai berbagai pekerjaan instalasi.