Dian Nafi's

journey journal
Travel Lasem Penulis Arsitek 


Ramadlan thn kmrn balik dr surabaya utk ambil Visa Schengen, pulangnya dpt bis sembarang& ndilalah di-drop depan masjid lasem. Keleleran lama sblm akhirnya dpt bis sambungan. Eh barusan ama grup penulis arsitektur,brainstorming&rencana travel ke lasem writravelicious.com/2019/05/cara-m

Zoom brainstorming bareng 11 profesor dan doktor berasa banget padat dan efektifnya. Semua berlomba menyumbangkan source yg mrk punya. Dan ketika aku dpt kesempatan ngomong, guess what? Keliaran pikiranku malah sampai ngebayangin gengster mafia,pdhl frame-nya arsitektur lho

takpikir2 aku ki kewanen juga, semua s2 s3, aku aja yg s1 :D

Mungkin karena so civilized and well educated, mereka so polite. They carefully choose their words. Kalau mengoreksi yg lain, caranya juga aluuuss, gak berasa tapi ngena. Kyk main bilyard, nyodoknya ke mana tp masuk. Aku berasa bar bar sendiri di tengah orang2 yg sangat sopan :D

belum mulai aja, pak sus sdh share peta2 lama lasem. sembari nunggu yg lain, bu ema cerita kalau nginep nanti sebaiknya di luar lasem karena konon lasem agak horor sedianya bu maria dan bu sita diminta sharing, tapi belum bisa waktunya pak lendi sebagai moderator membuka diskusi

bu oka: kalau batiknya menarik, apalagi arsitekturnya. yang penting jalan-jalan, tulisannya menyusul p sus: pernah kkn di pamotan. ronda babi ngepet dan keranda terbang ada mahasiswa yang skripsi tentang lasem dulu lasem tidak pernah disebut, sejak masa gubernur jendral voc

sampai masa wiliam booth (source: buku zoom filder?) yang disebut hanya jeparadan rembang william booth 1613 dari banda neira ke batavia/banten melalui gresik, jepara mendirikan pelabuhan. lasem tidak pernah disebut dalam catatan prancis, inggris, jerman dll kenapa?

pak kus: ke lasem ketemu mahasiswa di sana. menginap di rumah warga, guest house 100 ribu per malam jalan sepanjang pecinan, sholat di masjid tepi jalan belakang pecinan, ada kauman ada perpustakaan kecil, pameran foto-foto banyak peninggalan didokumentasikan orang-orang lokal

pak priyo: penulis tidak pernah kehabisan materi, meski mengulangi hal yang sama setiap hari. setiap orang memilik materi swsuai dengan keahlian. ada yang punya rasa ruang, ada yang expert konstruksi, struktur, lanscape jalan-jalan, baca lingkungan, otomatis terjawab oleh.. .kesadaran kita, mana yang mau ditulis setelah jalan-jalan.
arsitektur tidak bisa berdiri sendiri, ada seni terkait. arsitektur tidak mungkin dimiliki masyarakat jika tidak punya selera/taste lasem 1950 dekat dengan sekarang kita memaknainya beda dengan cara voc memaknainya
sudut pandang apa yang kita pakai untuk menulis lasem bu hani: lima hari di lasem barneg bu maria. banyak yang bikinterkagum-kagum. rumah merah punya pak toni, home stay. layout asli tapi renovasinya nanggung, antara modern dan klasik masjid agung tidak punya out door space

ada masjid di pinggir sungai. dulu ada tempat pembuatan kapal
akses masjid ke sungai memiliki nilai arsitektural

uatara masjid, di muara, tidak terpelihara

dari ilmu lingkungan sebaiknya muara dipelihara untuk mengangkat nama lasem
banyak icon yang diekspos
bukan hanya building, lingkungan, kawasan.


Pak Christopus Koesmartadi: terlibat penelitian parsial.
sebenarnya di lasem sudah dilakukan pendataan, penelitian
BPJEPDE, kebanyakan arkeologo
pendataan pelabuhan, titik perkembngan kota pecinan
Bu Riris arkeolog bawah air menrmukan titik-titik penting dalam perkembangan kebudayaan lasem
ditemukan rumah paling lama dan perkembangannya
dan rumah-rumah masyarakat lokal
penting untuk dipetakan
lihat dengan drone untuk melihat keseluruhan

Kali Babagan, sungai menjadi urat nadi perekonomian lasem
dasar perkembangan perkembangan lasem
bisa diketahui perkembangan masyarakatlokal dari kedatangan tionghoa
Pak Lot Yang Kung semarang tahu betul arsitektur pecinan peranakan lasem
tahu teman-teman yang punya rumah-rumah kost untuk didokumentasikasina
penting untuk diketahui
karena yang untuk penginapan, sudah banyak berubah
arkeolog rembang cari data di sana
bicara lewqt arkeolog, sejarah,
jika benar peninggalannya, sejarahnya baru benar
ada banyak versi sejarah tentang lasem

setidaknya kita sudah punya beberapa alternatif bahan tulisan:
ada site, tapak, sungai, sejara, preservasi konservasi, pelabuhan, rumah merah, rumah asli, penginapan


pak susilo: kenapa lasem dulu tidak disebut?
ada file besar tentang jalur candu, perdagangan langsung dari laut ke rumah
pemerintah belanda mengatur penggunaan madat 12 oktober 1861

sungai yang ada akses ke masjid kalau ditraik ke selatan, ketemu klenteng
ada rumah yang punya lubang, untuk candu tersebut
di utara klenteng, di bawahnya sungai
yang nembus kerumah pak budi
kamar sebagai gudang candu
saudagarnya candu

lawang ombo, rumah candu, opium, rumah original lasem

Chris: BPJB penelitian
jalur candu
ditemukan kapal-kapal karam

Ema: ada rumah kapitan, rumah candu, rumah kuno pecinan, rumah gladak pribumi jawa

Gubug, Purwodadi, ke utara sampai Tuban, ada rumah gladadengan tujuan mengatasi banjir. 50 cm tingginya

pro kontra: kenapa yang diopeni pecinannya?
masjidnya banyak unsur chna/tionghoa/peranakan

masyarakat jawa sebelumnya yang menggulirkan roda perekonomian
masyarakat cina pendatang hanya laki-laki, nikah dengan perempuan lokal
sehingga terbentuk rumah-rumah yang tidak hanyabergaya cina
karena iklimnya beda debgan cina, terjadi akultrasi

beda dengan pecina semarang, karena pendatangnya beda daerah asalnya

terbentuknya masyarakat semarang pecinan oleh pemerintahhindia belanda, kalau di lasem tumbuh sendiri

batik lasem, bisnisnya menghidupi masyarakat lokal


time line sinkronik
jalur kereta api semarang kok muter, tidak melewati lasem

Oka: Apakah ada benteng? ternyata tidak ada
ada stasiun,
ada tempat makan

hani: poto di bawah pohon trembesi raksasa besar
5 hari di lasem

chris: pemodal-pemodal besar
rumah cina khas
motif batik yangtidak sama dengan saudargar lainnya
seperti ada kesepakatan untuk tidak memproduksi printing
justru pekalongan yang produksi printing

ada stasiun lasem,
stasuiun jurnatan dekat kampung batik semarang
jangan-jangan ada perdagangan batik lasem ke jurnatan

beras, garam

irina: 1 inggu di ladsem antar mahasiswa gunadarma dan korea, international workshop
ada 4 pembatik, 3 dara
proses pewarnaan tidak di satu tempat
kereta untuk membawa batik mentah ke semarang, solo, pekalongan
peta perjalanan batik ada di hotel

olah data lapangan, galangan kapal, pusat kota, stasiun, ide-ide untuk yang akan datang

oka: tanya ciri arsitektur stasiun
pak chris: banyak material kayu karena di lasembanyak pohon jati

pertanyaan:
siapa pribumi lasem
kenapa arsitektur pecinan jadi primadona

arsitektur mrekontruksi masa lalu dengan baik tapi harusnya juga memprediksi masa depan\

pemaknaan lasem bagi orang lasem, bagi arsitek

antar seni dan masyarakat bisa timbal balik
merekontruksi, menskenarionkan

penulis bertugas
mengungkap di balik sesuatu
kenapa stasiun rusak
dengan pandangan post kolonial

mengungkap hal kecil jadi hal besar
keapa memperbaiki lubang candu
kena[a tidak mau printing

gagasan-gagasan yang logis
tugas penulis: memberi makna, stimulus pada masyarakat oh ternyata begini. oh ternyata begitu
menggali apa di balik semua itu

Oka; kerajan lasem?
pak chris: tidak ditemukan kraton yang tertinggal
yang ada kabupaten rembang, lasem itu kecamatan

ema rosalia: tempat hayam wuruk, lingga kay
pak chris: arkeologi batu, bisa digali

lasem, sebuah kecamatan yang tadinya tidak disebut, kecil, sekarang jadi besar
demak, yang dulunya kerajaan, sekarang malah gak ada







Waspada Sebab Coronavirus Mengintai Kita



Sejak pergi ke Jogjakarta di akhir Januari 2020 untuk mengikuti workshop pelatihan dan sertifikasi pembimbing ibadah haji, sebenarnya kami  sudah mulai menyadari adanya ancaman penyebaran coronavirus.  

Selama dua minggu itu sebagian peserta yang berasal dari berbagai kota dan provinsi itu sudah mulai menggunakan masker. Aku kadang memanfaatkan kerudung jilbab sekaligus sebagai masker, meski tidak begitu kerap/sering karena memang saat itu bahaya coronavirus ini belum banyak diketahui dan diberitakan. 

Barulah ketika Februari 2020 saat  pergi ke Palembang melakukan fam trip bersama Dinas Pariwisata selama beberapa hari, aku mulai makin waspada. Apalagi beberapa event yang aku hadiri terkait dengan perayaan tahun baru China alias imlek. Ada banyak sekali para turis yang berasal dari luar kota dan mungkin juga luar negeri. Kita tahu asal muasal coronavirus ini dari Wuhan China. Sehingga Dinas Pariwisata pun menyediakan masker untuk kami gunakan selama perjalanan dan liputan event. 

Aku bahkan tidak melepaskan masker sama sekali saat menyeberang sungai Musi dan menyeberang ke pulau Kemarok Palembang untuk merayakan puncak peringatan tahun baru Imlek. Memang sebagian besar yang hadir di sana adalah keturunan Tionghoa, dan kita tidak tahu siapa yang sehat dan siapa yang orang tanpa gejala tapi membawa virus. 


Belakangan aku sempat membuat timeline antara perjalanan virus corona ini sejak pertama kali hadir versus perjalananku sendiri di tanggal-tanggal terkait. 
Iseng banget ya. hanya untuk merekam dan kemudian menyadari bahwa sesungguhnya coronavirus ini sesungguhnya sudah mengintai sejak lama, tapi kita tidak mengetahuinya. bahkan saat sekarang coronavirus masih beredar, sebagian dari kita masih merasa santai dan hampir kendur melepaskan kewaspadaan. 

Saat pulang dari Palembang dan naik kereta bandara, aku sempat bertemu dengan sesama penumpang yang kelihatannya dari Cina. Dia bersin bebas dan tentu saja dropletnya mungkin mengapung di udara. Waduh, aku takut setengah mati. 

Sesampai di rumah, besoknya aku menjemput ibu yang pulang umroh dua puluh hari dan ndilalah sempat transit di Malaysia yang saat itu ditengarai sudah terkontaminasi coronavirus. Sehingga ibu diharuskan karantina dan isolasi mandiri selama empat belas hari dalam rumah. Akulah yang banyak berinteraksi dengan beliau. Mengobrol, makan, sholat jamaah dan banyak aktifitas lainnya.  

Beberapa hari kemudian justru aku yang demam, panas, badan pegal-pegal semua, batuk, pilek dan semua tanda gejala covid-19 itu kualami. Segera aku mengkonsumsi obat-obatan yang disarankan oleh adikku yang dokter. Aku juga mengikuti saran teman-teman untuk minum madu, habbatus sauda, minum jahe, buah-buhan dan beberapa asupan yang berguna untuk meningkatkan imunitas. 

Alhamdulillah setelah enam hari, berangsur-angsur demamku turun dan aku pelan-pelan memulihkan diri. Syukurlah aku bisa melewati masa-masa itu. 

Untung juga ya aku punya adik yang seorang dokter sehingga bisa ditanya-tanya langsung dan konsultasi setiap saat. Tapi teman-teman yang juga ingin punya dokter untuk ditanya-tanya, bisa memanfaatkan halodoc. 

Dengan Halodoc, Sehat Jadi Lebih Mudah, karena ada dokter, apotek, rumah sakit, dan asuransi terintegrasi  dan  memenuhi kebutuhan medis setiap saat.

Layanan kesehatan  jadi lebih mudah, aman dan nyaman, dapat ditangani lebih cepat. Halodoc selalu siap memberikan kemudahan layanan kesehatan untuk kita dan keluarga, di mana saja kapan saja.

Di web dan aplikasi  halodoc kita bisa membicarakan kondisi kesehatan  dengan menghubungi dokter berpengalaman dan terpercaya secara gratis. Kita bisa memilih berbagai metode komunikasi seperti Chat dan Voice/Video Call dari smartphone kapan saja, di mana saja.  Seru kan!


Ada banyak dokter umum dan dokter spesialis berpengalaman dan terdaftar di IDI yang bekerja sama dengan halodoc. Gratis kok kalau mau  tanya jawab dengan Dokter.  Langsung bisa terhubung dengan dokter kurang dari tiga menit
95% pengguna halodoc mengatakan  puas, apalagi dokter siaga 24 jam.


Kita  bisa membeli Obat atau kebutuhan medis lain lebih cepat, aman dan nyaman. Tidak  perluantri panjang  atau  terjebak macet. Obat dan kebutuhan kesehatan  akan langsung diantar ke tujuan.


Layanan Apotik Antar tersedia di kota: Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi, Medan, Palembang, Pekanbaru, Padang, Bandar lampung, Sukabumi, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Mataram, Makassar, Manado, Balikpapan, Pontianak.

Kita  bisa melakukan Pemeriksaan Laboratorium di rumah. Tinggal pilih paket pemeriksaan yang dibutuhkan, kemudian tentukan tanggal dan staf halodoc akan langsung datang ke lokasi.


Kita juga bisa mengakses asuransi dan benefit karyawan  langsung dari aplikasi halodoc. Daftar dan hubungkan saja perlindungan kesehatan kita sekarang untuk mempermudah akses kesehatan. Saat ini halodoc sudah bekerjasama dengan AXA Mandiri, Cigna, Allianz, FWD, Medicilin, Bumiputra, Intiland, Ultrasakti.

Kita bisa menikmati berbagai akses kesehatan dengan lebih mudah melalui aplikasi Halodoc. Ada fitur Catatan Kesehatan, Upload Resep, Reminder supaya tidak lagi lupa minum obat karena ada reminder yang selalu mengingatkan, ada Artikel Kesehatan dan jelas  berbagai pilihan Metode Pembayarannya. 




Gratis Ebook Three Musketeers Go To Ubud


KLIK ini untuk dapat gratis ebook Three Musketeers Go To Ubud

Three Musketeers Go To Ubud


Bagaimana rasanya kehilangan suami?

Bagaimana rasanya kehilangan ayah bagi dua anak kecil yang masih butuh kasih sayang dan cinta serta pelukan?

Apakah dunia menjadi terasa gelap?

Apakah mereka akan kehilangan keceriaan, keriangan masa kanak-kanak?

Apakah mereka jadi tak punya kesempatan berjalan-jalan apalagi ke destinasi yang jauh dan menikmati kehidupan ​sebagaimana keluarga yang masih lengkap dengan ayahnya?

Apakah mereka akan terus terkurung kesedihan?

Ataukah perjalanan akan mengobati kesedihan mereka, memberi mereka banyak pelajaran dan pengalaman yang berharga?

Kisah perjalanan single mom dan dua anak kecilnya ini hadir menghangatkan hati kita.

Ada selipan parenting dan juga sisi-sisi kontemplasi spiritual dalam personal literature Three Musketeers Go To Ubud ini.

Selamat membaca ^_^



Teman-teman bisa dapatkan gratis ebooknya di sini ya. Untuk menemani teman-teman di masa karantina alias isolasi diri di rumah. 

Joy Reading!
Stay at Home!
Stay Safe!
Stay Healthy!


Untuk lihat dan beli buku-buku Dian Nafi lainnya, klik bit.ly/bukudiannafi

Untuk beli buku-buku versi digital alias ebook Dian Nafi di Amazon, klik bit.ly/diannafi

Untuk beli buku-buku versi digital alias ebook Dian Nafi di Google Books dan GooglePlay, klik bit.ly/DianNafi
From Nomaden Become Nocturnal



Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa setelah bepergian hampir setiap minggunya, bahkan hampir setiap harinya,tahu-tahu sekarang harus berada di rumah terus. Semua gegara pandemic corona alias covid-19 yang menghebohkan seluruh dunia. 

Stay at home. Working from Home.

Tapi semua dilakoni dengan senang hati, daripada ngedumel malah tidak memecahkan masalah, justru makin membuat sesak dan jengkel ya kan. 

Tersebab banyak di rumah jadi tidak begitu peduli dengan bioritmik tubuh yang tidak seperti biasanya. Karena kalau dari pagi seharian sampai sore butuh beraktifitas di luar dengan banyak load, maka pilihan yang mungkin adalah tidur cukup dengan pulas di malam hari. 

Berhubung situasinya bisa mager kapan pun, plus penggunaan kuota data internet dari sebuah provider yang ternyata bonusnya banyak dimulai saat after mid night alias setelah jam satu dini  hari sampai jam lima pagi, jadi aku malah bangun tengah malam. Sholat tahajud dan sholat hajat, lalu duduk manis bekerja di depan laptop sampai subuh. 

ha ha ha awalnya berasa aneh juga dan kok kesannya maksain gitu.
Tapi selanjutnya jadi biasa saja, dan akhirnya menjadi habit sehari-sehari, eh semalam-malam. ha ha ha ha..

jadilah aku makhluk nocturnal yang aneh. 

From Nomaden Become Nocturnal