Dian Nafi's

journey journal

Perjalanan Sastra Ke Film

Leave a Comment
mas nicholas saputra
Perjalanan Sastra Ke Film

Tadi siang aku sempat ikut webinar tentang sastra ke film, tapi telat masuknya. Hiks. Jadi cuma dapat sedikit saja. Nggak apa-apa ya. 

Kenapa tayangan film itu2 saja? Krn ada 3 hipotesa sosiologi. 3 posisi ekonomi Ada gear yg bergerak, mengikuti rules. Pleasure
Identity
Mari menanggapi dg cara kritis Spy punya wacana berpikir lain dr yg dominan Film laku di pasaran jarang dpt award

Film itu berbahasa. Film itu komunikasi Secara naratif, teks Kalau sastra, struktur kata Kalau film, sinematografi, properti, set Bgm teks itu bekerja dlm sastra/film
Film warkop boneng jd orang gila, memukul org dg kostum polisi, tentara. Menggunakan org gila Konsep yg dikuasai penguasa Gila itu posisi netral Representasi keganasan masyarakat mengkritisi penguasa Kecerdasan warkop mengkritisi Anehnya pengarang tdk sadar melakukan itu.
Bgm cara mengkaji film yg sensitif thd agama dan politik? Pak Sapardi dg lembutnya melakukan kritik via #sastra Pengarang menyembunyikan kritik lewat karya2nya Itu yg hrs kita cari #Film Great dictator Charlie Caplin mengkritisi nazi, hitler, musolini

Jadi ingat cuitan om Richard Oh beberapa waktu lalu terkait sastra dan film, seni serta kreatifitas.


Aku berpikir, seorg kreator, setelah menguasai dasar2 di bidangnya, mesti mengembangkan minatnya pd bidang2 di luar spesialisasinya. Penulis sastra nggak melulu baca karya2 sastra. Sutradara nggak melulu nonton film. Sama juga utk perupa, pemusik dsb.

Seorg penulis yg bisa menulis kalimat plg bagus tdk berarti ia berkualifikasi sbg penulis baik. Ingat, Hemingway pny editor keren yg mengoreksi kata2/kalimat2nya yg kacau. Skenario Tarantino pd awalnya tdk ditulis dgn format penulisan skenario dan sering ditolak.
Dan Einstein pd awalnya tdk menguasai matematika, mesti minta bantu temannya utk gagasan2nya.

Alasannya, kupikir, penguasaan bahasa, medium, atau teknik, walau sangat membantu dlm berkarya, tidaklah sebanding dgn kekayaan imajinasi/pengalaman/wawasan yg merupakan anasir2 eksplorasi yg menjadikan karya unik/berbeda/dari sebuah perspektif ajaib.

Memiliki minat2 di luar bidang seorg kreator, kupikir membuka cakrawala bagi seorg kreator utk mencoba sesuatu baru/bereksplorasi tanpa perlu berbanding secara apel ke apel karya lain, tetapi ke sebuah orientasi berbeda.

Org2 ini ketika sedang mencoba sering dianggap gila atau bodoh, tp pada akhirnya kupikir mrk mendekati sesuatu secara lateral, ke samping tdk linear, atau non-Euclidean. Beresiko, tp jauh lbh banyak peluang utk bereksplorasi.

Intinya, kupikir, seorg penulis, sutradara, photographer, perupa, dsbnya, berupaya membongkar medium yg ditekunin utk memperkayakannya: bahasa, musik, visual, gambar dll. Inovasi bisa menekuk ke dlm medium atau dicangkok dr unsur2 luar.

Penulis yg menekuk ke dalam medium bahasa namanya Samuel Beckett. Yang mencangkok bnyk elemen ke dalam karya sastra, James Joyce. Perupa: Monet (nekuk dlm medium), Picasso (pencangkok). Film: Tarkovsky vs Godard dstnya.

Nah, setelah mengatakan itu semua, jgn salahtafsir mrk yg menelusuri seenak jidatnya, tanpa sebuah metode penelusuran berlandasan atau coba hanya sekedar berani mencoba. Krn pd akhirnya menemukan sesuatu baru sekalipun, mrk tdk bs mengulangi atau pny sebuah metode berlanjut.

Karena karya2 yg berani mencoba ini pd akhirnya tdk memiliki sebuah pola atau sebuah konsistensi yg mengukuhkannya menjadi sebuah keseluruhan. Atau bs direkonstruksi kembali menjadi sebuah bentuk, betapapun bedanya karya itu.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 coment�rios:

Posting Komentar