Dian Nafi's

journey journal

Hidup adalah Perjalanan Perbaikan Diri

Leave a Comment

Hidup adalah Perjalanan Perbaikan Diri


Waktu 1 on 1 call dengan oola saat konsultasi tentang coaching, aku  ditanya apa yang sekiranya menghalangi. Apa yang membuat langkahku seperti tidak jalan dengan cepat, apalagi  berlari. 


Aku bilang mungkin karena diriku sedikit ragu sebab backgroundku arsitektur dan nulis, bukan psikiater atau psikolog, kok nge-coach life reset. Meski ada background pendidikan pesantren dan tasawuf yang juga kujadikan approach pendekatan dalam program life reset ini. 

Trus dia (konselor coaching) bilang, nggak masalah. Make boundaries aja, apa-apa yang bisa kubantu untuk orang-orang yang bermaksud untuk reset their life. (menata ulang hidup mereka kembali) 

Dia memberi saran agar aku memberikan pendekatan/approach sebagaimana yang pernah aku alami dan dipraktekkan oleh  beberapa teman/kenalan yang pernah kubantu. The general recipe. 
She said, kamu yang bikin silabusnya, arahnya, caranya. Memang akan berbeda dengan cara yang psikiater atau psikolog lakukan, karena memang beda. Tapi not problem at all. You have boundaries, apa yang menjadi tanggung jawabmu, wilayahmu, mana yang bukan.

Oola nawarin aku untuk menjadi coaching program mereka juga, sebagai kepanjangan tangan alias cabang yang di Indonesia. Bayarannya lumayan ya sebenarnya. Dapat 80% sharing dari klien yang ditangani. 






Another story. Aku sempat mendapat tawaran dari satu startup yang punya layanan curhat. Supaya aku menjadi volunteer yang dicurhatin para pengguna aplikasinya. Kami ketemu di kontes startup kemarin. Startupnya masuk finalis tapi nggak menang. Kalau sama-sama gak dibayar, dan sama-sama starting, kupikir ya mending buka lapak sendiri, ya gak sih. Gimana baiknya

and also..
Aku s
empat kepikiran ninggalin this call karena merasa gak/belum pantas. Sebab bahkan diriku sendiri masih terus menerus on progress resetting life. Beberapa kali merasa sudah  berhasil reset my life, lalu terdistrak lagi, balik lagi. Maju mundur, nge loop gitu.  Lalu aku ingat konsep bandul yang salah satu  guruku pernah ajarkan. Konsep bandul ini kusadur dalam buku how to reset your life itu. 

Aku juga mengingat kiat dari habib luthfi yang kudengar dari pamanku, tentang pentingnya menikmati menghikmati progress perubahan. Tak apa sesekali balik, itu manusiawi banget. Manusia adalah makhluk yang lemah, dhoif. Tapi teruslah gantungkan harap yang tinggi padaNya, sembari terus berusaha. Tawakal penuh. Optimalkan usaha dhohiriyah dan batiniah.  Laman laman, step by step. 

So, sembari menikmati proses dan progressku sendiri, seandainya Allah meridloi dan memberi jalan untukku melanjutkan this call, insyaAllah aku  ridlo alias rela. Kan tujuan akhir kita adalah roodhiyatan mardhiyyah. 


Kita tahu maqom gak bisa diminta. It is given, gift. Amanah pasti berat pertanggungjawabannya. Tapi keinginan untuk bisa membantu orang-orang lain agar tak terpuruk setelah keberantakan dan kehancurannya, masih menggaung. 

Let it be let it be. 

Let it flow let it flow. 

Kadang orang yang merasa bisa membantu, sesungguhnya yang butuh dibantu? 
Who knows. 
We never know

Hidup adalah Perjalanan Perbaikan Diri

**
Wanna know more thought about life reset? Sila subscribe di sini
Buku How To Reset Your Life terbitan Grasindo juga tersedia di toko buku offline dan online. Joy reading and learning ^_^

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 coment�rios:

Posting Komentar