3 Musketeers Go To Ubud Writers & Readers Festival (bagian 3) #UWRF

3 Musketeers Go To Ubud Writers and Readers Festival (bagian 3) #UWRF

DAY TWO



Bis memasuki anjungan dan mulai masuk kapal. Penumpang turun dari bis dan beriringan naik ke geladak kapal. Hasan dan Fatimah memilih duduk di luar demi bisa menikmati pemandangan pelabuhan dan laut. Meski angin pagi lumayan dingin dan menggigit kulit.
Sedang asyik bercengkerama, ada seorang pemuda mendekat. Membagikan amplop kosong dengan stempel Yayasam panti asuhan.
“Apa nih mi?” Tanya Fatimah.
“Itu orang minta sumbangan,” jawabku ogah-ogahan.
“Kasih dong, mi. Kasihan. Kan buat panti asuhan, buat yatim,” sahut Hasan.
Anak-anakku ini kadang lupa kalau mereka sendiri juga yatim. Hehe.
“Nggak usah. Biasanya nggak sungguhan diberikan ke panti asuhan,” kilahku.
“Kasihan, mi. Ayo kasih, mi,” kedua anakku membujuk-bujuk.
Akhirnya aku mengisi amplop itu dengan selembar rupiah. Hasan yang menyerahkannya kembali pada pemuda itu saat dia melintasi kami lagi.
Kami kembali bercengkerama dan mengomentari banyak hal yang tampak di sekitar. Saat langit makin gelap dan titik-titik air mulai turun, kami masuk ke ruang dalam kapal. Duduk di bangku depan agar masih bisa menikmati laut dari jendela-jendelanya. Saat itulah kami menyadari sesuatu. Apa yang kukhawatirkan benar-benar terjadi. Ternyata uang yang konon untuk Yayasan Panti Asuhan itu malah buat main judi alias gaple oleh pemuda itu bersama temannya.
“Tuh kan,” kataku sembari memberi isyarat dengan mata dan gedikan kepala ke arah dua pemuda yang duduk asyik saling melempar kartu.
“Ih kok gitu sih,” gerutu dua anakku.
Jadi pelajaran yang nyata ya ternyata.


Setelah menyeberangi lautan selama satu jam, bis akhirnya memasuki pelabuhan Gilimanuk. Sebagian besar penumpang turun untuk pemeriksaan KTAPI. Tapi untuk orang tua dan penumpang yang membawa anak-anak sepertiku tidak perlu turun. Ada petugas yang naik ke dalam bis dan memeriksa tanda pengenal kami masing-masing. Sejak adanya terorisme dan kebrutalan mereka mengebom Bali waktu itu, penjagaan memang menjadi ketat. Apalagi beberapa saat lalu ada even KTT Internasional di pulau dewata ini.

Lepas dari pelabuhan, mata anak-anak sudah benar-benar melek kembali. Mereka ogah tidur lagi sehingga malah membuat perjalanan terasa panjang dan lama. Berkali-kali menanyakan kapan sampai, ini di mana, masih lama nggak dan seterusnya. Kusuruh saja mereka membuka GPS dan melihat rutenya.
Sementara Fatimah senang sekali menyaksikan alam yang eksotik dan bangunan arsitektur Bali yang khas, Hasan berkali-kali pindah matanya dari pinggir jalan ke tab-nya. Mencocokkan apa yang tertulis di GPS dengan yang benar-benar berdiri di sepanjang jalan yang kami lewati.
Bis memasuki terminal Mengwi jam sebelas siang waktu Indonesia Barat, yang berarti jam dua belas siang waktu Bali (alias Waktu Indonesia Tengah). Sambil menyeret koper aku menggandeng dua anakku ke sudut food-court-nya. Setelah makan siang di terminal Mengwi dan sedikit refreshing, kami naik taksi menuju Ubud.

Ubud, we’re coming.

**

Pak Ketut, pemilik bungalow, menyambut kami di pinggir jalan. Setelah berkenalan singkat setelah tadinya hanya berkomunikasi via telpon, kami pun memasuki rumah kecil yang akan kami tinggali lima hari ini.
Puput, salah seorang pembaca bukuku yang jadi volunteer UWRF yang kuceritakan, berkunjung siang itu. Berdasarkan petunjuknya di telpon tadi, anak-anak pun sholat dengan kiblat menghadap pintu. Pas dia datang, barulah dia sadar kalau petunjuk kiblatnya keliru. Harusnya sembilan puluh derajat ke kiri, alias membelakangi jendela samping bungalow kami. Halaaaah…..
Sebenarnya Puput mengajakku untuk hadir dalam launching buku bang Ahmad Fuadi sore itu. Meski acara resmi UWRFnya sendiri belum dibuka, tetapi serangkaian acara lain memang diselenggarakan. Termasuk launching-launching buku. Sayangnya Fatimah sedang agak rewel dan kelihatan capek, jadi aku urung ikut. Kutitipkan bukuku saja untuk minta ditandatangani mas Ahmad Fuadi. Toh masih ada waktu untuk ketemu penulis favoritku itu dalam panel-panel berikutnya.
Sorenya kami keluar bungalow untuk jalan-jalan mencari makan. Sudah sampai jalan monkey forest tapi kami balik lagi karena tempat-tempat makannya terlihat menyeramkan, alias banyak anjingnya. Maklum saja baru datang, jadi belum tahu situasi sekitar.
Eh padahal ternyata lokasi launching buku bang Ahmad Fuadi hanya beberapa ratus meter dari Jalan Monkey Forest situ lho. Sayang sekali aku tidak update dan stalking statusnya sih. Tahu begitu kan tinggal jalan sedikit lagi ke sana dan dapat makan enak gratis pula. Hehe..
Malamnya kupikir anak-anak butuh tidur, sehingga aku mengorbankan diri tidak ikut datang dalam opening ceremony. Tapi ternyata mereka masih melek dan kelihatan tidak lelah. Sampai malam banget masih aktif dan menggambar juga menulis pengalaman mereka kemarin dan hari ini.
We're willing lose some events. Because we often concern about saving kid's energy but sometimes they have more battery than we assume.
Selama lima hari di Ubud, kami menginap di bungalow Kabera. Tempatnya nyaman dan lumayan murah. Sehari cukup merogoh kocek Rp 160.000,- bisa dihuni saya dan kedua anak saya. Biaya itu sudah termasuk sarapan.
Kami menikmati berada di tengah kawasan hunian yang memang banyak dimanfaatkan untuk penginapan alias guest house. Jadilah aku gantian dengan anak-anak memotret beberapa pemandangan bangunan arsitektur Bali yang ada di kawasan Arjuna dekat bungalow tempat kami tinggal. Sembari aku mengingat-ingat pelajaran arsitektur hunian Bali yang dulu sempat kudapat dari bangku arsitektur Undip. (kebayang juga wajah dosenku yang eksentrik dan terkenal garang itu :D)

0 komentar:

Posting Komentar