Dian Nafi's

journey journal

Zoom Meeting Lasem 3

Leave a Comment
Zoom Meeting Lasem 3


Baca juga:
Zoom Meeting Lasem 1
Zoom Meeting Lasem 2

Zoom Meeting Lasem 3

Kompleks pecinan lasem mengalami perubahan sangat drastis.thn 2000 mulai sepi. byk rumah ditinggal. anya orang2 tua. 2014 satu lorong hanya dihuni 5 rumah, separuhnya kosong. sebagian dibongkar.
th80-90 an masa tersulit batik lasem, hanya ada 5 orang. by order. tdk bisa u nafkah


2016 byk drakademis dan sektor pariwisata berbondog2 ke lasem. unika dan itb. sejak saat itu lasem jd obyek penelitian. krn arsitekturnya unik. kompleks pecinannya banyak dan luas.

feb 2020 sejak ada covid lasem sepi kembali spt sblm dikenalkan

lasem unik. multi etnis, hidup berdampingan saling menghormati. gesekan ada tapi tdk parah.

yang hilang dr lasem: teman dan suasana akrab waktu dulu. ada bbrp bangunan dibongkar, kayu2nya diambil, tinggal tembok2 saja yang kurang: lasem terasa ketinggalann dibanding kota2 ramai lainnya. gak ada tempat2 hangout utk kebutuhan anak2 muda gaul, ngumpul

kesulitan maintain rumah leluhur yg tdk ditinggali. (bangunan induk)krn cukup tinggal di bangunan samping. biaya pemeliharaan (atau hanya utk penamaan) cagar budaya hanya sekali, 2015 infrastuktur tdk sesuai dg konservasi. pembuatan selokan beda dg yg sdh ada. pengerasan jalan

pdhl rumah kuno ada 2 undak. tinggal 1 undak krn termakan co2an pengerasan jalan 15 cm. depan jalan babagan ada hong besar utk pengendali banjir. selokan di tengah jalan di ujung sungai ada kakus. bisa buka nutup skrg cenderung rusak #lasem
krn rusak, diurug sirtu shg undakan rata. ada sounding akan ada cor2an lagi. akhirnya air malah masuk pdhl naik undakan ada filosofinya
dr depan ada gerbang dg kayu bsar, undaknya 2 area pelataran ada 2 undak ke pendopo 2 undak ke rg tengah (4 area) pelataran belakang pawon

di babagan ada makam marga han diperbaiki oleh RT, ada label penunjuk jalan 'makam tua' ceritanya dulu anak2 laki2 Han bandel, kabur saat pemakaman org tua. shg konon kalau anak2 py usaha di lasem, tdk akan berhasil. dulu makam itu terkubur, skrg kok bisa ada lagi


di karangturi ada lorong candu bahan bangunan lasem bagus krn terkenal dg kayu jati kuno besar kecilnya soko tergantung tingkat ekonomi peninggalan kapitan, rumah besar 3rb m2. kayu diameter 50 cm kotak persegi, panjang 5 meter katup/pintu air di ujung sungai tdk terawat

sistem drainase dimanfaatkan utk jalur candu
daerah jambiran: masjid pinggir sungai, ada deck utk cadik merapat klenteng cu at kiong kontur lasem tinggi ds gedongmulyo, byk garis bekas banjir, daerah lbh rendah (ada es puter enak & kepiting)
bgm generasi berikutnya dpt ilmu batik terkait toleransi, yg paling terkenang dan terkesan apa sblm th 80, ada yg lbh suram. th 65 paling parah. kaum tionghoa ketakutan, byk rumah kuno dihapus identitasnya oleh pemiliknya. tulisan tionghoa yg ada maknanya di gerbang, ditutup

semua atribut diturunkan. masa2 kelam. jaman GusDur, tap MPR dicabut, baru mulai berani mengekspresikan diri. dulu tertutup sekali. tembok tinggi, pintu besar,cermin pribadi, tdk mau membuka diri th 2000 batik diakui unesco,batik lasem mulai naik 2014 org2 tionghoa mulai open
pembatik2 sepuh berkurang. tinggal 5 orang th 2000 pemkab bangunkan kembali batik lasem pelatihan digalakkan, memperkenalkan pd generasi muda tenaga pembatik mulai bertambah. skrg 1500 pembatik dulu batik dominasi warga tionghoa 2014 terbalik,85% penduduk lokal/jawa 15% tionghoa

krn anak2 muda tionghoanya keluar dr lasem proses mbatik #lasem nglengkreng ngerusi nemboki anak2nya biasanya ikutan apa yg org tuanya bisa kerjakan yg ibunya nglengkreng, anak2 bisanya nglengkreng juga
biasanya owner batik cari anak2 dr para pegawai pembatik utk regenerasi, utk diajari batik juga sayangnya krn industrialisasi, anak2 muda cenderung ingin kerja di pabrik, tertarik umr pdhl profesi pembatik itu profesi menjanjikan kualitas lbh halus,harga lbh tinggi,upah tinggi

anak2 dididik utk membaur, di manapun hrs bisa adaptasi merayakan hari besar agama bersama2 bikin bareng mercon bumbung sblm buka puasa pesantren kauman di tengah2 kompleks pecinan, nempati rumah tionghoa dan mempertahankan arsitekturnya (gus zaim)

kalau diversifikasinya membangun, justru jd challenge tiap bulan ada meeting utk bahas perkembangan terkini komunitas sharing sdg produksi apa saja,jd lbh kreatif produksi batik2 baru,warna2 alam,warna2 pastel yg diminati generasi muda diversifikasi usaha lain,jd kota pariwisata



Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 coment�rios:

Posting Komentar