3 Musketeers Go To UWRF (bagian 6)

 3 Musketeers Go To UWRF (bagian 6)

DAY FOUR
Festival Hari Kedua- 13 Oktober



Hari ini kami makin terbiasa mendengar suara gonggogan anjing. Juga tidak setakut kemarin setiap berpapasan dengan mereka.  Melihat banyak anjing di jalan-jalan, membuat
Meet with many dogs in the street, kids learn they live with human as home keeper. They learn about najis mugholadhoh etc


**


Festival hari kedua, kami datang pagi sekali. Di teras Indus Restaurant ketemu mas Garin Nugroho yang datang sendirian. Karena kemarin sore kami sudah sempat ketemu jadi langsung ng-akrab. Bersama anak-anak juga Mrs Ana tetangga kamarku di bungalow Kabera, kami menemani mas Garin masuk ruangan.
Lalu mbak Kamila Andini datang. Sembari menunggu panel dimulai aku dan anak-anak duduk semeja dengan mas Garin dan anaknya-mbak Kamila Andini. Seru ya mengobrol dengan bapak dan anak yang sama-sama ‘aktifis film’.


Lalu mas Rio Helmi (partner Janet Denefee dalam UWRF sejak perintisannya) datang dengan anak perempuannya. Dan ikutan bergabung. Wow…sebuah momen yang ajaib karena ada tiga orang tua di sana dengan masing-masing membawa anak-anaknya. Subhanallah……










Mas Garin dan Kamila Andini mengisi panel Filming Beauty dengan mas Rio Helmi sebagai chair/moderatornya. Indus Restaurant jadi full house, dipenuhi audience yang sangat antusias.
Berikut beberapa catatan yang kuperoleh dalam sesi ini :
Kamila Andini menceritakan proses kreatifnya yang baru-baru ini dan approach dalam directing. Pemain sekaligus juga menjadi penulis di filmnya. Seru ya? Jadi cerita bisa berkembang dengan luwes.
Sedangkan mas Garin cerita proses kreatifnya saat menulis dan memproduksi “Daun Di Atas Bantal”. Film ini dibuat karena Garin gelisah atas sesuatu. Ini bercerita tentang anak-anak jalanan di Yogya. Menurut mas Garin, sutradara haruslah seorang psikologi, sosiologi, juga preman :D
Mas Garin berusaha membuat rekonstruksi realitas ke fiksi. Bagaimana mem-filmkannya. Jika seperti film tentang Papua, dari tujuh pemain anak-anak, terdapat tiga tokoh yang mati. Seperti sebuah isyarat akan bencana, tapi tidak tak ada yang berdaya. Mas Rio Helmi langsung berkomentar, wah itu jadi tragedy to beauty. Komennya disambut dengan riuh audience.
Bergantian mas Garin dan mbak Kamila menanggapi tanggapan serta pertanyaan mas Rio Helmi ataupun dari peserta panel. Dalam cinematography menurut kamilandini, ada space for biggest temptation. Sedang visual concept on film, baginya berarti fighting miserable. Dalam membuat film, Kamila lebih focus pada ceritanya, dan bukannya hanya perhatian pada keindahannya.
Mas Garin menggambarkan bahwa dulu berjalan itu memakai kaki. Sekarang kita jalan dalam kendaraan, bukan di alam. Dengan adanya dunia digital, kita jalan jauh tapi tubuh tidak. Sehingga indra tidak tahu betul tempat itu. Makin banyak kita tidak melakukan perjalanan.
Dalam produksi film, ada banyak jalan tapi banyak kebuntuan. Teknologi di tangan, semua bisa menjadi photographernya, semua sutradara. Kita semua bisa menjadi dalang. Karena kita makhluk homonoratif. Jangan kuatir, ada banyak tantangan.
Lalu mas Garin bercerita. Dikisahkan Marcopolo menangis dan air matanya jatuh. Ada anak kecil berkata padanya, ikuti air matamu. Sehingga kemudian menjadi peta-peta. Temukan keindahannya.

**
Kemudian di tempat yang sama, digelar sesi selanjutnya. Bersama mbak Leila S Chudori dengan tema Reporting and Suffering. Mbak Leila yang baik  memberiku buku terjemahan 9 dari Nadira dan tanda tangannya.

Usai panel, aku berpindah ke Left Bank untuk mengikuti sesinya mas Ahmad Fuadi, Lost Youths. Saat  aku sedang di halamannya, memberi petunjuk pada anak-anakku mengenai apa yang bisa mereka kerjakan sembari menunggu, seseorang menepuk bahuku.
“Mbak Dian ya?” sapanya.
Aku memutar kepala dan “Ya Allah..”seruku. Saking asyiknya tadi, aku sampai tidak sadar kalau sudah lama diperhatikan. Akhirnya aku ketemu lagi dengan  mbak Gina S Noer setelah kami bertemu beberapa waktu lalu di Jakarta. Kami lalu bergabung  bersama rekan-rekannya, mbak Ame dan mbak Fitri serta Kristy Murray yang sedang asyik berdiskusi. Sampai kemudian mas Ahmad Fuadi datang dan saling menyapa, untuk kemudian mengikuti sesinya siang itu.





Di sesi Lost Youths, bang Ahmad Fuadi menceritakan proses kreatif penulisan Negeri 5 Menara. Yang diambil dari kisah nyatanya selama di pesantren Gontor (pesantren almarhum ayahku juga).
Menurut bang Fuadi, ada empat momen dalam kehidupan yang musti disikapi dengan sebaik-baiknya. Empat momen itu adalah :  past to be taken, future to be faced, life to be embraced, dreams to be reach.

Seperti yang berkali-kali bang Fuady sampaikan dalam berbagai kesempatan, dia mengulangnya kali ini. Kata bisa lebih hebat dari peluru, kalau ditulis dengan luar biasa, dengan hati.
Tips menulisnya adalah luruskan niat, tulis subjek yang familiar, jaga konsistensi, gunakan referensi dan visual untuk mengejar supaya menjadi tulisan yang baik.


**

Di sesi Traveling, ada Trinity dan mas Agustinus Wibowo. Kata Trinity : The key of success standing out of the crowds in social media is to be yourself. No place for "jaim"
Sedang mas Agustinus bilang : Perjalanan, kuncinya bukan lagi di destinasi, tetapi pada refleksi. Bahkan perjalanan bisa dilakukan di dalam rumah sendiri.
Ada pula penulis wisata terkenal Tony Wheeler  pendiri Lonely Planet  dan Don George , yang menulis untuk berbagai media wisata papan atas seperti National Geographic Traveler .
Master seperti Wheeler dan George menawarkan wawasan apa yang membuat perjalanan menulis yang baik. Lebih dari sekedar deskripsi aneh dari tempat yang jauh. Wheeler mengatakan konten harus akurat, sementara mas Agustinus mengatakan bahwa itu harus selalu jujur ​​atau non-fiksi .
Menurut George , ada dua jenis perjalanan menulis : gaya buku panduan dan bercerita. Guidebook menulis adalah tentang memberi informasi pusat - seperti tempat tinggal dan tempat makan. Dan kemudian ada cerita tentang apa yang dialami di tempat, dan apa jantung dan jiwa dari tempat tersebut yang ditemukan.
George juga mengamini apa yang Agustinus katakan tentang kejujuran. Bahwa kejujuran pengalaman dan pelajaran yang dipelajari dari sebuah tempat menjadi jiwa dari apa yang dibagikan dengan pembaca .
Kebenaran dan kejujuran penting karena, pada akhirnya, apa yang ingin dicapai dalam perjalanan menulis adalah untuk mencerahkan pembaca tentang tempat yang telah dikunjungi. Sepotong perjalanan menulis yang bagus akan membuat pembaca berpikir "jadi itulah bagaimana rasanya berada di sana," atau lebih baik - "sekarang saya merasa seperti saya ingin pergi ke sana."
Wheeler juga bercerita bahwa dia sudah gabung dengan UWRF sejak pertama kali diselenggarakan. Festival ini di Ubud menyatukan penulis dan penggemar cerita dari seluruh dunia untuk merayakan semangat mereka dalam literatur. Pada UWRF kali ini dia berbicara dalam tiga sesi tentang buku barunya, Tanah Hitam, dan tentang perkembangan terakhir dari perjalanan menulis .
Menurut Wheeler, orang-orang sekarang menempatkan diri mereka ke dalam gambar. Di mana berbagi informasi tentang wisata telah menjadi norma. Dia menambahkan bahwa orang telah menghilangkan kebutuhan untuk bersikap objektif ketika mereka berbagi informasi tentang tujuan atau perjalanan .
Wheeler senang dengan lokasi  Bali. Karena merupakan tempat dengan keanekaragaman hayati yang besar. Terutama  Ubud menawarkan banyak hal yang menarik- bukan hanya kecantikan. Orang bisa mempelajari budaya , makanan, bahasa dan lain sebagainya.
**

Dari lokasi venue utama, dengan shuttle aku dan anak-anak melanjutkan perjalanan hari ini ke Museum Puri Lukisan. Tidak pernah terasa panas di Ubud. Mungkin karena banyaknya pepohonan, mungkin karena ramahnya lingkungan, mungkin juga karena rasa bungah yang buncah di hatiku.
Fatimah membeli layang-layang di sebuah toko lukisan dan barang seni di seberang Museum. Warnanya merah bata. Hasan menganggap bentuknya seperti burung hantu. Fatimah menyangkanya itu burung elang. Kukira itu sebenarnya kelelawar.



Sepertinya tidak ada yang tidak indah jika bicara tentang arsitektur Bali. Begitu khas, unik, berkarakter dan mau tak mau kita mengakui ada kesan magis saat melihat dan menikmatinya. Bahkan jika itu hanya sebentuk pagar atau gerbang.


Museum Puri Lukisan merupakan museum privat pertama di Bali yang menyimpan koleksi karya lukis dan pahat. Sebagai "the heritage of Balinese Art", museum ini banyak mengoleksi karya-karya naratif yang menggambarkan kepercayaan dan adat Bali.



Tempatnya luas dan asri. Ada banyak taman dan pepohonan. Tangga-tangga dengan batu alamnya membawa kesejukan saat kita menapakinya. Lay out dan penataan lanskapnya juga cantik. Kami berpose di selasar depan joglo menuju arah bangunan utama museum. Deretan kolom batu alam yang mulai berlumut justru menjadi latar indah untuk berfoto. 


Karena baterai ipad habis, padahal kami butuh untuk berfoto-foto ria, akhirnya kami pergi ke resto museum puri lukisan untuk minum sembari nge-charge ipad. Hehe. Dan lumayan juga harga menunya. Es kopi saja dua puluh tiga ribu rupiah.


Usai makan minum dan nge-charge ipad, kami jalan-jalan keliling Museum Puri Lukisan. Menakjubkan sekali meliha pohon-pohon di sana bisa sedemikian artistiknya menjadi bagian dari kompleks Museum ini. Sehingga deretan dinding museum yang monoton itu tidak berkesan massif, mati dan membosankan. Karena diimbangi oleh vitalitas kehidupan pepohonan dan taman di depan dan sekitarnya.


Usai makan minum dan nge-charge ipad, kami jalan-jalan keliling Museum Puri Lukisan.
Atas kecintaan Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan Tjokorda Agung pada karya seni tradisional Bali yang unik, mereka membangun sebuah museum yang menyimpan berbagai karya seni dari pre-war era hingga post-war era.
Museum terbagi menjadi tiga bangunan. Mengoleksi karya dari seniman terkenal Bali seperti Ida Bagus Nyana, Ida Bagus Gelgel,I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gde Sobrat, dan I Gusti Made Deblog.
Menjelajahi museum ini kita serasa dibawa ke masa lampau. Ketika memasuki bangunan 1 yang terletak di sisi utara museum, kita akan menjumpai karya-karya pre-war era (sebelum 1945) dari para seniman. Lukisan karya dari I Gusti Nyoman Lempad yang disebut sebagai "Renaissance Man"-nya Bali juga bisa kita lihat di sini. Ciri khas karya Lempad terletak pada sosok-sosok yang menonjol lewat tinta hitam di atas kerta putih sehingga kita akan merujuk pada sosok wayang kulit di atas layar putih. Sebutan "a true master" pun tersemat untuk Lempad karena kejeniusannya dalam bidang artistik. Lempad juga memiliki banyak talenta termasuk melukis, memahat, dan dalam bidang arsitektur. Lempad pula lah yang mendesain istana dan puri-puri di Ubud dan Museum Puri Lukisan. Karya-karya Lempad sangat naratif dan terinspirasi dari kisah Ramayana, Mahabarata, Bharatayudha, serta kisah rakyat dan mitologi Bali. Misalnya saja "The Dream of Dharmawangsa", salah satu lukisan masterpiece Lempad yang terinspirasi dari kisah epik Mahabarata. (sumber : web)
Menuju ke gedung II yang terletak di sayap barat, lukisan-lukisan dari "Young Artists" akan menyambut kita. Aliran "Young Artist" sendiri merupakan karya yang memadukan gaya tradisional Bali dan gaya modern. Lukisan karya I Nyoman Dewa Batuan "Mandala" lah yang memiliki magnet tersendiri ketika kami memasuki ruangan ini. Lukisan teratai dengan 8 kelopak yang menunjukkan delapan arah mata angin yang masing-masing ditempati dewa-dewa menunjukkan suatu harmonisasi. Manifestasi Sang Hanyaang Widhi Wasa (Tuhan YME) yang menciptakan dan merawat alam semesta dan segala isinya terlihat jelas lewat lukisan ini.
Sedangkan di gedung III yang merupakan bangunan untuk mengoleksi karya-karya dengan gaya wayang dan biasa digunakan untuk pameran temporari menjadi tujuan paling akhir. Karya-karya post-war era (1945-sekarang) juga disimpan di gedung ini.

Ada bangku panjang dari kayu yang menjadi vocal point dalam salah satu sisi ruangan. Menyediakan tempat rehat untuk para pengunjung. Sambil tetap bisa menikmati lukisan-lukisan yang ada di sana.
Sembari melihat lukisan-lukisan yang banyak menceritakan cerita dan dongeng khas Bali, biasanya para pengunjung akan ditemani dengan alunan musik yang ditabuh oleh salah seorang pegawai. Tapi kemarin justru anak-anak yang memainkan alat music itu sendiri. Semaunya mereka. Sehingga malah dipotret para turis bule karena menyaksikan polah mereka yang lucu.
Begitu keluar dari gedung-gedung yang menyimpan karya-karya, kita bisa menikmati indahnya taman tropis yang asri di dalam dan sekitar museum. Bagian toiletnya pun didesain indah dan nyaman. Very International style tetapi dengan bahan-bahan local yang eksotis.

0 komentar:

Posting Komentar