adab membaca Al Qur'an

Bismillaahir rohmaanir rohiim...

Assalaamu 'alaikum sodarakuu...


Ktika qta akan membaca Al-Qur'an, d haruskan santun & etika, yaitu :

1. Berwudhu,

2. Membaca d tempat suci, d sunahkan d masjid,

3. Menghadap kiblat,

4. Membaca Ta'awudz :

A'udzubillaahi minasyaithoonir rojiim...

5. Menyempurnakan bacaan dgn tajwid & lagu yg baik,

6. Merendahkan suara, bila khawatir riya.
Jika tidak, lebih utama mengeraskannya.

7. Mengerahkan pikiran & perasaan utk memahami bacaan,

8. Merenungi ayat2 yg d baca,

9. Membaca mushaf lebih utama drpd hafalan,

10. Jangan bergurau, tertawa, atau melihat sesuatu yg akan mengganggu & menghentikaan bacaan,

11. Bersujud ktika membaca ayat sajdah,

12. Membaca takbir d antara 2 surah, yg d mulai dr surah Ad-Duha, smp akhir surah Al-Qur'an,

13. Ktika selesai atau berhenti membaca ayat atau surah, mengucapkan :

Alloohummar hamni bilquraan waj'alhu liyaa imaamaw wanuuraw wahudaw warahmatan.
Alloohumma dzakkirnii minhu maa nasiitu wa 'allimnii minhumaa jahiltu warzuqnii tilaawatahu aanaa-alliyli wa athraafannaahaari waj'alhu lii hujjatay yaarabbal 'aalamiin. shadaqallaahul 'adhiim.

14. berpuasa ktika khatam Al-Qur'an, & mengundang tetangga, sanak, sodara, & handai taulan utk syukuran.

15. Membaca do'a khatam Al-Qur'an sbagaimana yg terdapat pd akhir Al-Qur'an.

Sharing Kepenulisan di Langitan


Alhamdulillah Allah memberi saya kesempatan silaturahim 21-27 Desember kemarin ke beberapa kota di Jawa Timur. Dan di ujung perjalanan yang semoga penuh berkah dan rahmah ini saya diberi kesempatan untuk sharing kepenulisan di Langitan

Yang paling menantang ketika mengajar di depan audience  yang sama sekali belum kita kenal medan dan  kemampuannya adalah kita harus bisa dengan cepat screening di awal berjumpa.

Seberapa jauh mereka sudah memahami dan menguasai bidang ini. Apa saja yang sebenarnya mereka butuhkan? Potensi apa yang mungkin mereka miliki dan bisa digali serta dikembangkan?

antara jepara dan mekkah

Syahdan di dua masa yang berbeda hiduplah dua orang perempuan bangsawan yang elok rupanya. Santun dalam bertutur menunjukkan kelas sosial dimana mereka berasal. Teristimewa pada era mereka tumbuh dewasa adalah masa dimana perempuan menjadi warga kelas dua bahkan harta yang dapat diwariskan pada para lelaki.

Salah satunya hidup dalam kukungan tradisi jawa yang mengikat. Perempuan terhormat adalah perempuan yang tak boleh terdengar suaranya, yang menurut pada suami dan tak boleh meninggalkan halaman rumahnya apalagi pergi jauh menuntut ilmu ke negeri Belanda meski tawaran beasiswa telah digenggaman.
Raden Ajeng Kartini perempuan haus ilmu itupun harus merelakan kesempatan itu pada KH Agus Salim.
Putus asakah ia ? Justru semua kungkungan yang ia alami membuat penanya makin tajam mengkritisi keadaan. Ia mencari sumber kebenaran sejati hingga terjemah qur'an dalam bahasa jawa pun dilalapnya meski baru separuh jalan.
"Dari Gelap menuju Cahaya " kalimat yang membekas kuat dari dalam dirinya, membuat Kartini tak hanya ingin berbuat lewat surat tapi dengan mendirikan sekolah untuk para perempuan hingga bisa mengeluarkan mereka dari kegelapan tradisi.
Tapi Kartini tetaplah perempuan jawa yang harus menerima keputusan perjodohan orang tuanya meski ia harus menjadi istri ke empat. Keputusan yang membawanya menyongsong syahadah pada usia 25 tahun saat ia melahirkan.
Meski begitu Kartini telah menorehkan tinta emas dalam sejarah perempuan Indonesia.


Nun di suatu tempat yang berjarak ribuan kilometer di tengah gurun yang panas pada rentang masa yang jauh sebelum era Kartini. Telah Hidup seorang perempuan yang juga bangsawan jelita. Dengan kecerdasan dan tangan dinginnya ia tak sekedar mandiri secara finansial tapi juga telah menjadi tokoh bisnis yang disegani dalam perniagaan ke mancanegara. Perempuan yang mampu keluar dari jeratan tradisi Arab yang menjadikan perempuan sebagai harta yang bisa dipindah tangankan sesuka hati kaum pria. Makhluk yang dianggap aib bagi keluarga hingga para ayah merasa malu dan membunuh mereka sejak mereka dilahirkan.
Perempuan yang mengendalikan kerajaan bisnisnya dari kota Makkah. Perempuan yang kelembutan dan kecerdasannya diam diam telah memikat hati seorang pemuda tampan yang limabelas tahun lebih muda.
Bersama belahan jiwanya itu ia bahu membahu menegakkan Kalimatullah di muka bumi meski artinya ia harus kehilangan seluruh harta dan kaum kerabat.
Perempuan yang melahirkan empat putri terbaik dalam sejarah. Dari rahimnya telah lahir putri cantik penghulu para perempuan di syurga. Sang Bunga suci Fatimah Az Zahra.
Perempuan yang sepanjang lima belas tahun perkawinannya suaminya tak pernah menduakannya hingga ajal menjemputnya. Bahkan setelah wafatnya perlu waktu dua tahun bagi suaminya untuk menikah kembali. Sungguh Rumah Mutiara di syurga adalah hal yang layak buat Khadijah Al Kubra Radhiyallahhu anha..


Antara Jepara dan Makkah terbentang ruang waktu dan jarak yang teramat panjang. Lebih dari cukup bagi perempuan moderen masa kini untuk mengambil pelajaran untuk menentukan langkah.
Memilah dan memilih akan jadi apa perempuan abad ini. Kartini dan Khadijah bukan untuk diperbandingkan tapi dijadikan teladan dalam menata hidup perempuan yang ingin menjadikan dirinya istimewa.

Selamat Hari Kartini Perempuan Indonesia..
Selamat Hari Khadijah buat seluruh Perempuan Muslim di seluruh dunia..

by ibu embun

islam .........sederhana saja :)

Ajaran islam yang begitu sederhananya dizaman Rasulullah dulu, kemudian telah berubah menjadi ajaran yang rumit karena ulah para penerus Beliau yang telah berlomba-lomba menafsirkan ajaran Beliau itu dari berbagai sisi dan sudut yang terkecil sekalipun. Al Qur'an ditafsirkan, Hadist ditafsirkan, bahkan sampai ke kehidupan di Syurga dan Nerakapun ditafsirkan pula.

Tentang IMAN, ISLAM, dan IHSAN pun, yang sebenarnya lebih kepada sebuah sikap dari pada kata-kata dan kalimat-kalimat, malah dibahas dan ditafsirkan sampai menghasilkan ribuan halaman buku. Entah untuk apa maksud dari pembahasan itu. Barangkali tujuan awal dari penafsiran itu adalah untuk lebih menjelaskan hal tersebut kepada masyarakat awam dalam bentuk bahasa manusia. Tapi alih-alih bisa lebih memahamkan umat, malah hasilnya adalah kata-kata IMAN, ISLAM, dan IHSAN itu jadi seperti kehilangan RUH. Terkatakan tapi tak terlaksanakan. .. Karena memang tafsir pada hakekatnya adalah bentuk yang lebih mengarah kepada buah dari KELIARAN fikiran kita daripada buah dari kenyataan atau keadaan yang sebenarnya.

Sementara dizaman Rasulullah Al qur'an bukanlah ditafsirkan, tapi dijalankan dari titik yang PALING DASAR (laa ilaha illallah) sampai ketingkat yang lebih kompleks. Artinya Al Qur'an itu dijadikan Beliau sebagai TEROPONG untuk memandang berbagai bentuk perubahan yang sudah, sedang, dan akan terjadi selama masa kenabian Beliau, bahkan juga sampai menjangkau kealam Azali (akhirat). Lalu sikap dan tindakan Beliau dalam menghadapi perubahan demi perubahan itu mewujud membentuk perilaku (akhlak, peradaban) Beliau yang utuh, yang berkembang, yang sesuai dengan peruntukan detik, menit, jam, dan tahunannya satu persatu. Hal seperti inilah yang kemudian hari kita kenal sebagai Sunnah atau Al Hadist.

Nah..., kita saat ini seperti hidup dengan mewarisi ajaran-ajaran islam diberbagai bagian yang rumit-rumitnya saja. Kita malah seperti ketambahan tugas baru untuk mengurai benang kusut yang membelenggu ajaran islam itu. Kalaulah itu benar benang kusut yang akan kita urai, dengan sedikit kerja keras biasanya akan bisa juga kita urai. Akan tetapi kalau benang kusut itu adalah berupa gumpalan-gumpalan kusut pemikiran kita, ah..., itu alangkah sulitnya. Energi kita habis terserap dibuatnya. Sebab kalau kerumitan pemikiran itu dilawan dengan pemikiran pula, maka kerumitan yang barupun tercipta. Rumit berbuah rumit. Sehingga kitapun jadi lupa dengan tujuan kenapa kita ini diciptakan Allah kemuka bumi.

Padahal Allah menyatakan dengan sangat gamblang dan sederhana: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (liya'budun) ", (adz dzaarriaat 56). Sederhana sekali sebenarnya. Tapi akibat kerumitan tafsir-tafsir dan pemikiran-pemikiran yang kita serap dari satu pengajian kepengajian lain sepanjang masa, kita jadi terluput untuk menimba pengalaman Rasulullah dalam menjalankan makna MENYEMBAH kepada Allah itu sepanjang kehidupan Beliau. Maka jadilah bagi kebanyakan kita makna menyembah kepada Allah itu benar-benar dalam wujud MENYEMBAH secara harfiah, yaitu untuk kita selalu melakukan ibadah..., rukuk, sujud, tasbih, tahmid, tahlil, membaca dan menghafal al qur'an, mengaji, wirid, maksurat, berdo'a dan sebagainya. Ibadahnya para malaikat yang dulu sempat dibanggakan mereka dihadapan Allah saat mereka diperjumpakan Allah dengan Adam, yang kemudian malah dimentahkan oleh Allah. "Tidak cukup hanya ibadah seperti itu wahai para malaikat. Aku punya tugas lain yang hanya bisa diemban oleh ciptaanku yang sangat cerdas ini", Allah menegur malaikat saat malaikat coba-coba menghalangi kehendak Allah dalam menciptakan Adam.

Kalaulah kita sedikit lebih jeli membaca Al qur'an dan Al Hadist, kita dapat memaknai kata liya'budun itu menjadi sebuah sikap dan perilaku kita kepada Allah, yaitu:

Bersedia untuk mengabdi dan menghamba kepada Allah, dengan resiko kita pastilah rela pula untuk diberi tugas, diperintah-perintah dan dilarang-larang oleh Allah.

Tugas liya'budun macam apa?. Itu juga tugas sederhana sekali sebenarnya, yaitu:

1. Agar kita bersedia menjadi wakil Allah untuk memelihara tubuh kita dengan segala instrumennya agar fungsinya bisa berjalan sesuai dengan fitrah penciptaannya. Kita ditugaskan Allah untuk mewakili Allah memberi makan dan minum tubuh kita. Maka rahmatilah tubuh kita itu dengan memberinya makanan dan minuman yang halal dan baik.

Kita mewakili Allah untuk menjaga penglihatan, pendengaran, lidah, perut, kelamin, tangan, kaki, otak kita, dada kita, jantung, ginjal kita agar semua bisa berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah.

Otak kita yang disiapkan oleh Allah untuk menampung dan mengolah data-data kehidupan disekitar kita, lalu kita isi dengan berbagai ilmu pengetahuan yang akan memudahkan tubuh kita untuk menjalankan kehidupannya. Kita buat otak itu aktif menyerap setiap kejadian baik ataupun buruk yang bisa kita lihat, dengar, dan rasakan. Lalu kita wakili pula Allah untuk memilah pengetahuan baik dan buruk itu dengan cara kita merenungkannya sejenak dua jenak. Perenungan ini maknanya adalah untuk memilah-milahnya sebelum itu kita simpan didalam otak kita, sehingga kemudian dia bisa berubah menjadi sebuah bentuk kesadaran. Dan hebatnya, Allah berkenan pula menjawab perenungan kita itu dengan cara Dia mengalirkan rasa yang sesuai dan pas kedalam dada kita untuk masing-masing kebaikan dan keburukan itu.

Dengan kita merenungkan kebaikan buat sejenak dan kemudian kita melakukan kebaikan itu, maka sejumput rasa bahagia, nyaman, dan tenang akan dialirkan oleh Allah kedalam dada kita. Seakan akan Allah saat itu tengah berkata kepada kita: "Benar begitu wahai hamba-Ku, lakukanlah itu untuk-Ku, karena engkau adalah pesuruh-Ku". Sebaliknya saat kita merenungkan keburukan, berkata-kata tentang keburukan, dan bahkan sampai melakukan keburukan, maka seketika itu pula Allah akan melemparkan rasa sempit, tertekan, dan tersiksa kedalam dada kita. Saat itu Allah sebenarnya tengah melarang kita untuk melakukannya: "wahai hamba-Ku, janganlah engkau melakukan keburukan itu, sungguh itu akan menyiksa tubuhmu sendiri...".

Lalu, karena kita memang bersedia untuk menjadi wakil Allah, kita ikuti saja apa yang diperintahkan Allah itu. Kalau dilarang Allah, ya kita jauhi, kalau disuruh Allah, ya kita jalani saja dengan semangat empat lima.

Sesekali kita do'akan seluruh tubuh kita agar diberi rahmat, dijaga, disehatkan oleh Allah.

Nah..., kalaulah tidak kita sendiri yang menyayangi tubuh kita seperti itu, juga memintakan rahmat dan kesehatan kepada Allah untuk tubuh kita, siapa lagi...?. Masak orang lain yang akan melakukannya, ya nggak mungkinlah.

2. Tugas berikutnya adalah agar kita bersedia pula untuk membantu Allah, menjadi wakil Allah dalam mengalirkan kebaikan, kebajikan, dan kemudahan bagi apapun ciptaan Allah yang ada diluar tubuh kita. Tugas inipun sebenarnya hanya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita masing-masing saja. Tidak meloncat-loncat seperti sekarang ini. Dimana semua hal, yang dulu pernah dilakukan oleh Rasululah dan ribuan sahabat Beliau, ingin kita lakukan sendirian menjadi aktifitas kita sendiri. Akhirnya kita menjadi seperti orang yang sedang kelebihan beban dipundak kita. Kita tertatih-tatih dan limbung seperti orang mabok.

Sebenarnya tugas ini juga sederhana sekali. Kita tinggal melakukan apa saja yang sesuai dengan posisi kita masing-masing berikut dengan prioritas-prioritas nya. Kalau kita masih berposisi sebagai seorang anak sampai menjelang dewasa, maka kita berbuat baik saja sebanyak-banyaknya buat orang-orang yang paling dekat dengan kita. Kita tinggal berbuat baik kepada orang tua kita, saudara-saudara kita, dan teman-teman sepergaulan kita. Kita eksplorasi segala kebaikan yang mungkin bisa kita lakukan untuk mengembangkan dunia keanakan kita yang seharusnya penuh dengan citra kejenakaan, keriangan, dan kepolosan.

Kalau kita sedang berposisi sebagai seorang tua, maka kita kembangkan saja berbagai kebaikan, kebajikan, dan kemudahan untuk anak-anak kita, pasangan kita, tetangga kita, handai taulan kita, kolega kita, dan masyarakat disekitar kita dengan sebaik-baiknya. Salah satunya, ya seperti tulisan saya yang sebelumnya itu. Kita bersedia memberikan kemudahan bagi seorang pejalan kaki yang ingin menyebarangi jalan dengan nyaman. Dinegara maju seperti Amerika, Eropa, dan Jepang yang oleh sebagian kita masih dilabeli sebagai negara orang kafir, hal-hal seperti itu sudah menjadi sebuah kebaikan laten.

Begitu pula saat kita sedang diposisi anak buah dikantor atau diperusahaan, bos, atasan, manager, direktur, pejabat pemerintah, kita lakukan saja apa-apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita masing-masing dengan segala kemungkinan yang ada.

Misalnya, kita yang sedang mengemban tugas sebagai seorang pejabat pemerintahan, kita eksplorasi dan sempurnakan saja segala FASILITAS UMUM yang akan memudahkan masyarakat yang kita pimpin dalam menjalankan hidup kesehariannya. Kita ini sekaang kan nggak begitu. Saat jalan bolong dan berlobang bertebaran disana-sini, lampu lalin padam dan tidak berfungsi, banjir datang bertubi-tubi, kita yang seharusnya membenahi semua itu, seperti sedang pergi entah kemana. Kita lebih banyak sibuk dengan berbagai rapat dan kegiatan administratif saja, sehingga ada kesan bahwa negara ini jalan dengan sendirinya. Seperti negara tanpa pemerintahan. Ada atau tidak ada pemerintahan rasanya seperti sama saja. Padahal jumlah pejabat pemerintahan, lengkap dengan gedung-gedung megah, fasilitas yang wah, sudah meningkat dengan angka yang sangat menakjubkan.

Sungguh sangat banyak alternatif kebaikan, kebajikan, dan kemudahan yang bisa kita berikan kepada orang-orang disekitar kita. Tugas-tugas yang tidak harus sama dan persis amat dengan apa yang dulu dikerjakan oleh Rasulullah dan para sahabat Beliau.

Kebanyakan kita kan nggak begitu. Kita malah tega menjejali otak kita dengan hafalan tentang segala kebaikan yang dulu dikerjakan oleh Rasulullah dan para sahabat Beliau, dan ingin pula melakukannya sama dan sebangun dengan apa yang Beliau lakukan itu. Kalau keluar sedikit saja dari itu akan ada sebuah kata BERTUAH yang akan menghantam kita, yaitu kata BIDAH, yang ganjarannya adalah neraka. Kata yang menimbulkan ketakutan yang sangat kuat tertanam dialam bawah sadar kita. Artinya rasa takut itu sudah sangat laten bagi kita dan munculnya pun tanpa kita pikirkan lagi. Tanpa kita sadari kita telah menjadi takut untuk melakukan apa-apa. Neraka soalnya sebagai imbalannya. Sebuah imbalan yang alangkah menakutkan kita.

Ketakutan seperti ini persis dengan seseorang yang sejak dari masa kecilnya sering ditakuti-takuti oleh orang tuanya ketika orang tuanya ingin melarang anaknya melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh orang tuanya. Misalnya: "awas jangan lakukan itu, nanti ada bangkong..., tu ada bangkong". Selama tahunan sianak ditakuti-takuti seperti, sehingga didalam otaknya terbentuk sebuah kapalan memori yang mengakibatkan setiap sianak melihat bangkong, akan mucul rasa takutnya yang tidak beralasan.

"Jangan lakukan itu, nanti Tuhan marah..., Tuhan marah..., nanti masuk neraka..., neraka..., neraka.... Kalau kamu lakukan juga nanti kamu akan berteman dengan iblis..., mudah dihasut iblis..., sedang disesatkan oleh iblis.". Begitu terus kita ditakut-takuti disetiap pengajian ke pengajian dan bertahun-tahun pula lamanya. Sehingga akhirnya setiap nama Tuhan disebut, kita sudah ketakutan setengah mati. Begitu juga, kita sudah menggigil ketika nama neraka disebut-sebut.

Makanya ketika kita terlanjur melakukan sebuah keburukan, maka yang jadi sasaran adalah si iblis:

"Ah..., iblis telah menggoda saya, saya telah disesatkan oleh iblis..".

Padahal saat itu si iblis juga tengah terheran-heran:

"Belum digoda dan belum disesatkan pun kalian umat manusia telah terlebih dahulu melakukan sendiri keburukan itu dengan sukarela".

Walaupun dipengajian- pengajian kita seringkali pula diceritakan tentang kasih sayang Allah, tentang iman, tentang syurga, yang seharusnya bisa memunculkan rasa tenang, akan tetapi karena kualitas penyampaiannya tidak sampai menghasilkan rasa yakin didalam dada kita, rasa tenang itu tidak muncul. Rasa tenang itu seperti terbungkus oleh rasa takut yang kental. Inilah makna dari ayat Allah: "Faal amaha fujuraha wataqwaha... ". Bahwa pada dasarnya kefujuran itu lebih mudah kita dapatkan dari pada ketaqwaan. Ketakutan itu lebih mudah kita dapatkan dari ketenangan, kecuali bagi orang yang tahu posisinya dihadapan Tuhan.

Karena adanya rasa takut yang tidak berasalan seperti itu, kita yang tanpa sadar itu, kita bukannya menebar kebaikan, kebajikan, dan kemudahan bagi sesama, kita malah berbalik menebarkan kesusahan, kesulitan, ketakutan, kekhawatiran dan kesempitan kepada mereka seperti kata pameo: "kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah.. ". Ah..., kita ini meman sering terbalik-balik.

Belum lagi melihat apa yang telah kita lakukan terhadap alam disekitar kita, sungguh memiriskan hati. Bumi telah semakin renta akibat ulah kita sendiri.

Jadi makna liya'budun dalam tatanan kita sebagai seorang manusia hanya seperti itu saja yang saya pahami. Yaitu agar kita bisa menjadi wakil Allah atau hamba Allah untuk bisa disuruh-suruh Allah untuk bisa berbuat baik, untuk bisa merangkai kebajikan, dan untuk bisa memberikan kemudahan bagi tubuh kita sampai tubuh kita itu nanti kembali ke tanah (mati) disatu sisi. Juga untuk bisa berbuat baik, untuk bisa merangkai kebajikan, dan untuk bisa memberikan kemudahan dan kepada orang-orang lain yang ada disekitar kita disisi lainnya. Kalau bisa itu malah untuk bisa dimanfaatkan oleh umat manusia diseluruh dunia.

Lalu bagaimana makna liya'budun dalam tatanan kita dengan Allah?. Itu juga tidak kalah sederhananya.

Bahwa sebenarnya semua ibadah berupa penyembahan, penghormatan, persujudan kita kepada Allah adalah untuk memantapkan dan mematangkan positioning kita dihadapan Allah saja. Kemudian bermodalkan posisi itu, akan muncul kesadaran kita bahwa apapun yang kita lakukan untuk tubuh kita dan untuk makhluk yang ada disekitar kita, semata-mata adalah atas nama Allah. Sehingga muncul sebuah suasana tanpa pengakuan didalam diri kita: "Saya melakukannya karena Allah yang memerintahkannya kepada saya untuk dilaksananakan. Saya hanya sekedar seorang pelaksana perintah Allah saja...".

Kalau tidak atas nama Allah, maka yang muncul kemudian adalah kita dikuasai oleh fitrah ketubuhan kita tanpa ampun. Apa saja yang dinginkan oleh tubuh dan instrumen-instrumen nya akan kita lakukan secara membabi buta. Otak kita akan membawa kita untuk berfikir liar kesana kemari, suasana panas di dada kita akan berubah-ubah dengan sangat cepat, fitrah kelamin kita akan membawa kita menjadi orang yang sangat liar dengan lawan jenis kita yang tidak sah untuk kita apa-apakan, perut kita akan memaksa kita untuk kita isi dengan gunung, hutan, laut. Semua yang kita lakukan itu semata-mata adalah untuk kepentingan tubuh kita sendiri, dan secara sangat berlebih-lebihan pula. Akhirnya tugas kita untuk memberikan kebaikan, kebajikan, dan kemudahan bagi sesama akan terkubur dengan segera. Kita menjadi orang yang sangat egois. Ya..., seperti yang sering kita perlihatkan dijalan raya itulah.

Agar kita bisa terlepas dari cengkraman fitrah ketubuhan kita seperti itu, maka kita harus mencari tempat pegangan, tempat kita bergantung. Hasil akhirnya adalah agar kita bisa terlepas dan copot dari rongrongan ketubuhan kita. Sebagai gantinya kita terikat kuat dengan Allah. Lalu kita bertindak atas nama Allah untuk menjadi kusir atas tubuh kita dan segala apa yang melekat padanya. Untuk bisa seperti inilah fungsi ibadah-ibadah yang kita jalani dari waktu kewaktu yang menghasilkan tanda penyembahan dan kepatuhan kita kepada Allah.

Ibadah-ibadah yang harus kita lakukan itupun tidak banyak jumlahnya. Rasulullah telah mereduksi berbagai macam dan ragam ibadah penyembahan kepada "TUHAN" yang telah dilakukan oleh umat-umat terdahulu menjadi hanya beberapa macam saja, yaitu SHALAT, DZAKAT, PUASA, dan HAJI. Dan itupun hanya untuk orang-orang yang sudah tidak punya masalah lagi tentang Allah.

Ibadah shalat, dzakat, puasa, dan haji itu hanyalah untuk orang yang sudah final dengan Allah, orang yang tidak punya lagi sedikitpun keraguan tantang Allah, orang yang kesadaran sudah tidak grambyanan lagi tentang Allah, orang yang tidak membahas lagi tentang Allah, orang yang tinggal hanya menghadap saja lagi kepada Allah. Untuk orang-orang yang sudah BERSYAHADAT kepada Allah dan Kerasulan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam dengan TEPAT saja sebenarnya. Sebab kalau posisi kita tidak tepat, maka yang akan kita dapatkan hanyalah rasa capek, lelah, haus, lapar, dan buang-buang harta dan tenaga saja sebenarnya. Tidak nyaman sama sekali.

Untuk mempertepat arah kita kepada Allah itu, dzikir-dzikir sederhana yang dicontohkan oleh Nabi pun cukup tersedia untuk kita lakukan.

Untuk ibadah-ibadah seperti ini, rasanya pantas Rasulullah melarang kita untuk melakukan hal-hal lain yang kita tambah-tambahi sendiri. Konteks BID'AH disini sungguh relevan sekali untuk kita cermati. Sudah dimudahkan Nabi kok kita malah ingin menambah dan mempersulit diri kita sendiri. Itu namanya kita kebablasan.

Sedangkan terhadap rukun-rukun iman seperti percaya kepada malaikat, kepada Nabi-nabi Allah, kepada kitab-kitab Allah, kepada hari akhir, dan kepada qadar baik & buruk, kita matangkan saja melalui berbagai pengalaman hidup yang kita lalui.

Sebagai penutup, tugas kita didunia ini, menurut pemahaman saya yang sederhana, adalah untuk mencapai posisi:

a. Dimana kita tentang Allah dan dengan Allah sudah final dan tuntas. Kita sudah tidak punya pertanyaan lagi, walau sedikitpun, tentang Allah.
b. Dimana kita dengan tubuh kita dan seluruh alat-alatnya juga sudah tuntas. Kita berhasil COPOT dari pengaruh ketubuhan kita itu secara membabi buta. Sebagai gantinya kita yang menjadi kusir atas tubuh kita berikut segala instrumennya.
c. Dimana hubungan kita dengan lingkungan sekitar kita juga sudah tuntas. Kita tinggal melakukan berbagai kebaikan, kebajikan, dan kemudahan bagi orang lain, untuk alam, tumbuhan, dan hewan yang hidup disekitar kita sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.

Semua itu kita lakukan dalam kerangka sebagai pengabdian kita yang utuh kepada Allah. Karena kita memang hanya hamba Allah, Abdi Allah..., Abdullah...

doa, jangan memaksa

Dalam berdoa, kita wajib untuk bersabar. Sabar ketika melakukanya dan sabar menerima kapan ijabah-Nya. Ini adalah bagian dari adab-adab berdoa. Sebab, Allah tidak bisa dipaksa harus mengijabahi doa kita. Dan juga Allah tidak bisa dipaksa kapan doa kita dikabulkan. Allah berbuat berdasarkan Irodah-Nya.

Ibnu Jauzi berkata, "Adapun orang yang ingin cepat-cepat diijabah doanya, sebenarnya ia mendesak Allah SWT dan sikap seperti itu tidak pantas disebut sebagai ibadah. Saat seseorang di beri cobaan, dibutuhkan olehnya sikap ridha dan sabar yang merupakan jalan menuju kebaikan. Menghadap Allah dengan senantiasa berdoa merupakan tindakan yang sangat terpuji, sedangkan berpaling dari-Nya adalah haram. Sedangkan ingin cepat-cepat berlalu dari cobaan adalah memaksa. Pahamilah itu semua, pasti akan terasa ringan segala cobaan yang mendera."

Doa yang dikabulkan

Do'a merupakan suatu perbuatan atau tindakan untuk melakukan komunikasi dengan Tuhan atau Yang Maha Suci, para dewa, atau kepada hal yang gaib, yang ditemukan di semua agama atau kepercayaan yang dilakukan disetiap waktu. Do'a merupakan tindakan pribadi atau bersama dengan berbagai cara. Do'a merupakan suatu percakapan, jalinan persahabatan dengan Yang Maha Kuasa.


Setiap kita mempunyai permasalahan, biasanya kita akan mengkomunikasikannya dengan orang lain yang kita percayai dapat menyelesaikan masalah kita. Biasanya setelah kita melakukan komunikasi tersebut, beban kita akan berkurang dan bahkan ada yang selesai masalahnya. Dengan komunikasi ini beban hidup akan menjadi berkurang.
Komunikasi antar manusia biasa disebut dengan interpersonal communication, maka komunikasi dengan Tuhan disebut dengan trancendental communcation atau biasa disebut dengan do'a.
Kalau kita ber do'a kepada Tuhan, maka kita telah melakukan komunikasi dengan Tuhan untuk mengadukan pemasalahan kita kepada-Nya.


Dalam Islam Allah Subhanahu WaTa'ala sangat mencintai orang-orang yang rajin bedo'a kepada-Nya sebagaimana disebut dalam hadist "Mintalah anugerah kepada Allah. Sesungguhnya Allah senang untuk diminta" (H.R.Tirmidzi) dan Allah sangat murka kepada orang yang tak berdo'a kepada-Nya sebagaimana disebut dalam hadist "Barangsiapa yang tidak berdo'a kapada Allah, maka murka Allah kepadanya." (H.R.Tirmidzi)


Agar do'a kita dikabulkan oleh Allah Subhanahu WaTa'ala, maka perlu kita perhatikan beberapa hal sbb:


1. Awali do'a dengan Asmaul Husna

Dalam A-Qur'an disebutkan dalam surat Al-A'raf 7:180 "Allah mempunyai Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan."


2. Ucapkan dengan kalimat Tauhid

Setelah membacakan Asmaul Husna, maka kita membacakan Kalimah Tauhid sebagai pernyatan dan ekspresi kita kepada Allah yang Maha Esa, Maha Berkuasa, Maha Pengasih dan tiada sekutu bagi-Nya.


3. Berdo'a dengan prasangka baik

Dalam berdo'a, kita harus berprasangka baik kepada Allah, bahwa Dia akan selalu mengabulkan do'a kita.


4. Berdo'a dengan hati yang sungguh-sungguh

Allah akan mengabulkan do'a dari hati yang bersih dan sungguh-sungguh. Allah tidak akan mengabulkan do'a orang yang tidak bersungguh-sungguh atau setengah hati dalam memohon do'anya.


5. Berdo'a lah dengan kerendahan hati

Dalam berdo'a kita harus merendahkan hati di hadapan Allah. Allah tidak menyukai orang-orang yang tinggi hati atau sombong. Buanglah kesombongan yang ada dalam diri kita agar Allah mendengar permohonan kita.


6. Berdo'a lah dengan permintaan yang jelas

Kita harus meminta kepada Allah dengan permintaan yang jelas dan terfokus. Kalau kita memintakan sesuatu kepada Allah, maka sebutkan permintaan itu dengan jelas, kalau perlu sebutkan dengan spesifik.


7. Manfaatkan waktu-waktu yang baik

Do'a itu dapat dilakukan kapan dan dimanapun, tapi coba kita manfaatkan untuk berdo'a di waktu-waktu utama yang do'a kita lebih didengar oleh Allah Subhanahu Wa Ta'Ala.


a. Sepertiga malam

"Rasullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Setiap malam, Tuhan kita turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam akhir. Maka Allah berfirman: Barangsiapa yang berdo'a kepada-Ku, pasti Aku kabulkan, dan barangsiapa yang memohon kepada-Ku, pasti Aku beri, dan barangsiapa memohon ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni." (H.R.Bukhar, Muslim, Tirmidzi)


b. Tengah malam dan setelah shalat fardhu

"Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya. 'Wahai Rasullah, kapankah do'a yang paling didengar Allah?' Rasullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab: 'Do'a ditengah malam dan do'a setelah shalat fardhu." (H.R.Tirmidzi)


c. Pada saat lapang

"Rasullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: 'Barangsiapa yang menginginkan do'anya dipenuhi Allah ketika ia dalam kesulitan, maka hendaklah ia memperbanyak do'a diwaktu lapang." (H.R.Tirmidzi & Hakim)


d. Ketika sujud

"Rasullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: 'Jarak yang paling dekat antara seseorang hamba dengan Tuhannya ialah ketika sujud. Maka perbanyaklah do'a ketika sujud." (H.R.Muslim)


e. Pada hari Jum'at

"Rasullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: 'Pada hari Jum'at itu ada suatu saat yang apabila kebetulan seorang muslim shalat sambil meminta sesuatu kepada Allah Subhanahu WaTa'Ala, maka Allah akan memberinya apa yang ia minta." (H.R.Muttafaq 'Alaih)


f. Antara adzan dan iqamah

"Rasullullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: 'Do'a antar adzan dan iqamat tidak akan ditolak." (H.R.Tirmidzi)


g. Pada hari Arafah

Rasullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda "Alhajju 'Arafah" yang artinya "puncak ibadah itu wukuf di Arafah"
Perbanyaklah do'a ketika wukuf di Arafah karenaitu merupakan waktu dan tempat terbaik untuk berdo'a.
Kesimpulannya adalah dalam berdo'a kita harus mengetahui adab-adab, waktu untuk berdo'a agar do'a kita didengar oleh Allah Subhanahu WaTa'Ala.


Semoga Bermanfaat, wassalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh...
Sumber :
http://www.syaarar.com/index.php?module=content&id=173

mendidik tdk bisa mendadak

Sebelumnya, kami haturkan mohon maaf kepada para sahabat jika kurang berkenan terhadap tulisan ini. Tulisan ini dibuat khususnya untuk mengoreksi diri saya sebagai Trainer, yang suka sekali menawarkan cara-cara instant untuk sebuah peningkatan kinerja yang cemerlang. Kini, saya pun menyadari, bahwa banyak sekali hal-hal yang instant (baca : mendadak) tetapi tidak mendidik dalam kehidupan manusia...

Mendidik itu bukan mendadak, walaupun hal-hal yang mendadak bisa menjadi sesuatu yang mendidik bagi kita. Bahkan sebenarnya, dalam bahasa hukum semesta "sebab-akibat", maka tidak ada suatu kejadian yang terjadi secara mendadak, artinya bahwa semua terjadi setelah berproses secara bertahap. Hanya dikarenakan kita tidak menyadari pentahapan proses tersebut, maka kita merasa bahwa peristiwa itu terjadi mendadak. Itu sebabnya, orang-orang yang selalu dalam kesadaran penuh padaNya, mereka seperti memiliki intuisi yang jernih terhadap berbagai peristiwa yang akan terjadi. Namun demikian, mereka yang intuisinya sudah aktif, ia tidak akan menyebarkan berbagai info yang ia pahami itu kepada khalayak ramai, sebab bisa menjadi sebuah fitnah yang mengandung kesyirikan yang nyata.

Kini, mari kita berfokus kepada pendidikan Orang Tua kepada anak-anaknya. Hal pertama yang perlu diyakini sepenuhnya adalah bahwa anak-anak Anda bukanlah milik Anda, mereka hanyalah amanah dari ALLAH agar Anda menjaga dan merawat mereka sebagaimana yang dikehendakiNya, bukan sebagaimana yang dikehendaki oleh Anda. Dan tentu saja semua kinerja Anda kelak akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.

Artinya, jika Anda SUKSES merawat, membesarkan, dan mendidik anak-anak Anda, maka tugas Anda adalah MELAPORKAN kesuksesan Anda tersebut kepada ALLAH SWT kelak, sehingga ALLAH membalas kinerja Anda dengan berlipatganda kebaikan. Namun demikian, jika Anda merasa SUKSES mendidik anak, dan lalu Anda "terlanjur" heboh melaporkan kesuksesan Anda kepada manusia lainnya (dengan maksud menyombongkan diri), maka tidak perlu heran jika Allah tidak jadi memberikan pahala yang berlimpah kepada Anda, yakni pahala atas kinerja Anda yang telah apik melaksanakan amanah dariNya.

So, tugas kita sebagai Orang Tua adalah "menjaga amanah" ini, yakni menjaga kefitrahan anak kita, dan bukanlah untuk menyombongkan amanah dariNya, dan apalagi bukan untuk menjauhkan anak kita dari KETAUHIDAN, sehingga secara tidak sadar kita telah menjerumuskan anak-anak kita ke dalam perbuatan syirik yag ilmiah dengan dalih untuk meningkatkan kecerdasan sang anak.

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”. (Luqman: 13)

Mari kita berhati-hati sebagai orang Tua, jangan hanya dikarenakan anak kita ingin dianggap jenius oleh orang lain, maka kita ikutsertakan anak kita pada berbagai kegiatan yang kita tidak memahami isi/karakter kegiatan tersebut, apakah itu kegiatan pelatihan ataukah lainnya, sehingga dengan perantara pelatihan itu, maka anak kita memiliki kemampuan yang "abnormal", bahkan bisa meramal kejadian-kejadian yang akan datang. Padahal, ALLAH Swt sangat tidak suka jika takdirNya didahului oleh makhlukNya. sebab itu semua sudah termasuk perbuatan Syirik.

Dan berikut adalah sedikit penjelasan tentang ramalan, Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, meriwayatkan dari salah seorang isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara dan dia mempercayainya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.”

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa mendatangi seorang dukun dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Nah, sahabat sekalian yang dimulyakan oleh Allah SWT....
Mari hari ini kita tidak mudah tergiur oleh berbagai pelatihan yang menawarkan berbagai keajaiban kepada anak kita. Sebuah pelatihan khusus anak yang bisa membuat anak itu memiliki kemampuan-kemampuan dahsyat, bahkan jika terus diasah kemampuannya, anak itu bisa memiliki kemampuan MERAMAL.

Dan, janganlah kita terjebak dengan istilah "Ini ilmiah kok". Sebab ketahuiliah bahwa jin dan para kerabatnya pun bisa jadi lebih ilmiah dibandingkan kita sebagai manusia.

Mari kita lebih berfokus mendidik anak kita dengan penuh kesabaran dan kesyukuran. Mari kita belajar menikmati proses dan menikmati hasilnya. Janganlah kita menjadi Orang Tua "Mendadak", yakni orang tua yang ingin anaknya HEBAT, tapi kita tidak turut berproses dalam kehebatan anak kita. Jangan sekedar serahkan anak kita kepada sebuah program yang kita sendiri masih sangat meragukannya, terlebih lagi jika kita dilarang mengikuti berbagai kegiatan/proses di dalamnya. Jangan sampai kita termasuk orang Tua yang KAGETAN, yakni orang tua yang merasa kaget kok tiba-tiba saja anaknya menjadi HEBAT tapi ia tidak paham KENAPA anaknya menjadi HEBAT. Padahal, semua proses itu akan DITANYAI oleh ALLAH SWT.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan contoh penanaman aqidah yang kokoh ini ketika beliau mengajari anak paman beliau, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang hasan. Ibnu Abbas bercerita,

“Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu). Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia)berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu). Pena telah diangkat, dan telah kering lembaran-lembaran”.

Orang Tua Biasa hanya ingin Memiliki Anak yang Sholeh dan Hebat, Sedangkan Orang Tua yang Hebat ingin terlibat aktif dalam proses kesholehan dan kehebatan anak-anaknya. Yup, Orang biasa ahli menikmati Hasil, sedangkan orang Luar biasa berhasil menikmati Proses.

Wallahu alam
KZ

nb : Silakan dishare atau dicopas

pertanyaan utk calon pasangan

Jangan hanya bertanya tentang penghasilan, hobby atau dimana akan membangun rumah. Tanyakanlah hal2 yg jauh lebih penting kepada calon suami- misalnya, sedalam apa cintanya kepada Allah…

Dia ingin berkenalan lebih jauh dengan anda. Tujuannya untuk menjajaki apakah hubungan suami isteri ygsuci dan dahsyat itu bisa dibangun bersama anda. Anda berdua sudah saling bertukar curriculum vitae, kawan-kawan dan kerabat sudah saling bertukar informasi kepada anda dan dia. Dia ingin bertemu dan mengajukan beberapa pertanyaan. Sebaliknya, dia juga siap membuka dirinya untuk ditanya-tanya oleh anda.

Berwudhu’-lah dulu, laksanakan shalat sunnat dua rakaat, mintalah Allah merengkuh anda dan mengendalikan lisan serta gerak-gerik anda. Ucapkanlah ta’awudz, dan bismillah dg jelas di hadapannya, lalu ajukan pertanyaan2 dibawah ini sambil menggantungkan diri anda hanya kepada Allah yg telah menciptakan anda dan dia.

1. Bagaimana anda pertama kali mengenal Allah? Tolong ceritakan sedetil mungkin.

2. Kapan pertama kali anda bertaubat yg sungguh sungguh? Kalau boleh tahu, kesalahan apakah yang anda mintakan ampun kpada Allah waktu itu? Pernahkah anda mengulangi kesalahan itu? Apa yg akan mungkin membuat anda terjerumus lagi pada kesalahan itu di masa mendatang? (jika dia menganggap itu aib yang anda tak perlu tahu, jangan sekali-kali anda mendesaknya untuk menjawab. Tunjukkan rasa hormat anda atas pilihannya untuk tidak menjawab).

3. Adakah kesalahan kepada Allah yang selalu anda lakukan dan sampai hari ini belum anda mintakan ampun kpada Allah? Kalau boleh tahu kesalahan apakah itu? (Begitu juga yang ini)

4. Seberapa sering anda ingkar kepada Allah terutama kalau sedang sendirian? Dalam bentuk apa keingkaran anda itu? (Begitu juga yang ini)

5. Tolong ceritakan bagaimana hubungan anda dengan Allah saat ini

6. Dalam seminggu terakhir, Berapa kali anda gagal mengikuti shalat fardhu berjamaah sesudah adzan berkumandang? Kenapa?

7. Dalam seminggu terakhir, Berapa kali anda gagal membaca Quran minimal 50 ayat per hari? Kenapa?

8. Dalam seminggu terakhir, Berapa kali anda gagal bangun shalat malam/ tahajjud?

9. Dalam seminggu terakhir, Berapa hari yg anda lewatkan tanpa bershodaqoh atau berinfaq untuk orang miskin dan sabilillah?

10. Tolong sebutkan 5 langkah pertama dan yang akan anda lakukan secara istiqomah untuk membangun rumah tangga yang taat kpada Allah dan Rasul-Nya? Kenapa anda memilih ke-5 langkah tersebut ? Bagaimana cara anda melaksanakannya?

11. Saya mau buka rahasia. Sebenarnya, saya sudah memiliki seorang laki-laki yang sangat saya cintai. Orangnya kalem, pintar, ganteng, dan sangat sopan. Hanya kepada dia saya memberikan cinta saya lebih dari kepada lelaki lain. Bersediakahanda mengizinkan saya melanjutkan cinta saya kepada lelaki ini, kalau anda suami saya? (Biarkan dia salah tingkah dulu. Mungkin juga dia akan menjawab secara emosional. Perhatikan mimic wajahnya, wajah seperti itulah yang akan anda lihat setiap kali kelak anda bertengkar dan mengingatkan dia dengan ayat Allah atau hadist Rasulullah. Setelah anda merekam mimic wajahnya, barulah anda katakana…)laki-laki itu bernama Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana caranya supaya saya semakin mencintai beliau, lebih dari saya mencintai suami saya?

12. Apa saja rencana anda dalam menghidupkan sunnah nabi Muhammad Shallallohu ‘alaihi wa sallam dalam rumah tangga yang akan anda bangun? Bagaimana anda akan melaksanakannya?

13. Ada 3 hal yg insyaAllah akan selalu saya perbaiki dalam diri saya secara bersungguh2 sampai saya mati yaitu ibadah, ilmu dan ‘amal shalih saya. Apa saran anda untuk saya?

14. Tentang Ibu anda, ceritakan sebanyak mungkin hal penting yg menurut anda perlu saya ketahui tentang beliau?

15. Sejak anda dewasa, pernahkah anda membuat beliau sangat marah? Apa sebabnya? Apa yg anda lakukan setelah itu?

16. Dalam seminggu terakhir, berapa kali anda mencium tangan dan memeluknya dengan mesra? Kalau anda tinggal kota dengan beliau, berapa kali anda menelponnya dalam seminggu terakhir? Apa kata2 yang paling sering anda sampaikan ke beliau sebelum anda menutup telepon?

17. Jika Ibu anda melakukan kesalahan, apa yg anda lakukan utk mengingatkannya?

18. Menurut anda, adakah hal tertentu dari ibu anda- apakah itu perkataan maupun perbuatan- yang sangat mempengaruhi cara anda memperlakukan wanita, terutama kelak isteri anda? Apakah itu?
19. Jika kelak terjadi pertengkaran atau ketegangan antara Ibu dan isteri anda, apa yg akan anda lakukan?
20. Tentang Ayah anda, ceritakan hal2 penting yg menurut anda perlu saya ketahui ttg beliau?

21. Apa saja yg menurut anda bisa menghancurkan sebuah hubungan suami isteri? Apa rencana anda untuk menghindarinya?

22. Apa saja menurut anda bisa menggagalkan sebuah rumah tangga dalam menghasilkan anak2 yg shalih? Apa rencana anda utk menghindarinya?

23. Ttg mencari nafkah, kalau pendapatan ekonomi RT anda kurang memadai, jenis pekerjaan apa yg sebaiknya dilakukan oleh isteri anda utk membantu mencari nafkah?

24. Ta’adud ( menikahi lebih dari satu isteri) merupakan salah satu aturan Allah yg Maha sempurna, berikut syarat dan akibat2nya baik utk laki2 dan perempuan. Apa pandangan anda ttg ta’addud?

25. Bagaimana mati yg anda inginkan? Apa rencana2 anda utk itu?

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala membuka segala sesuatu yang paling mendasar, untuk anda ketahui tentang dia, lewat pertanyaan-pertanyaan diatas. Tetapi ada satu hal kecil yang perlu anda lakukan sebelum anda bertemu dia. Pergilah kedepan cermin, pandangilah bayangan mata anda, lalu tanyakan satu persatu pertanyaan diatas tadi kepada diri anda sendiri, dan jawablah dengan jujur.

bukti kesungguhan cinta

Membawa Kekasih ke Surga



“Ukhty, aku punya harapan, kelak anak-anakku penggenggam dunia. Namun hati mereka tetap hanya milik Allah dan rasul-Nya, karena itu aku butuh seorang ustadzah yang membimbing anak-anak dan menjadikan rumahku sebagai madrasah peradaban. Apakah anty siap menjadi ustadzah di rumahku dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak?”

Ini sepenggal ungkapan tatkala seoarang ikhwan mengkhitbah seorang akhwat.
Tatkala ingin menggenapkan sayapnya yang cuma sebelah agar bisa terbang.

Sekarang, saat kita sudah punya sayap yang lengkap, masihkah kita ingin mengajaknya terbang? Begitulah seharusnya. Kita harus konsisten dengan harapan besar tatkala menikahinya. Menggapai ridha Allah, mengantarkan dan membawanya terbang hingga di surga. Ya, kita harus membawanya. Ini bukti kesungguhan dan cinta kita pada bidadari hati kita itu.

Ini bukan romantisme. Tapi harapan. Ya, harapan. Harapan dan tekad kesungguhan setelah mengambil keputusan besar dalam hidup, menikah. Harapan untuk membawa orang-orang yang kita cintai hidup bersama di surga. Bersama, reuni di sana. Benar, setelah ikrar nikah kita ucapkan, kita punya harapan dan kewajiban, dan sebesar-besar harapan itu adalah menjadikan bidadari hati kita sebagai kekasih dunia akhirat. Tidak sebatas menjadikannya istri di dunia semata. Lebih dari itu, kita berharap akan menjadikannya bidadari tercantik di antara bidadari-bidadari surga, yang karenanya bidadari surga cemburu melihat istri kita.

Ini juga bukan romantisme. Tapi harapan. Tekad yang kuat. Tekad untuk mempersembahkan rumah indah di surga untuk istri dan keluarga kita. Dan sekarang kita harus mulai men'desain’ rumah kita itu. Rumah di surga. Ya, sekarang. Selagi kita masih diberi kesempatan beramal di muka bumi ini.

Qiyamul Lail Satu Pintunya


“Allah merahmati seorang suami yang bangun malam lalu menunaian shalat. Dia bangunkan istrinya, jika istrinya enggan, maka ia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang istri yang bangun malam untuk menunaikan shalat. Dia bangunkan suaminya dan apabila suaminya enggan, maka ia percikan air ke wajahnya.”


(H.R Abu Dawud, Nasa’i Ibnu Majah)
Ini bukan romantisme. Tapi, harapan. betapa indahnya jika hadits itu benar-benar kita amalkan. Ketika suami terbangun, ia bangunkan sang istri dengan mengatakan,

“Bidadariku, apakah engkau ingin tertinggal sementara aku ingin mengajakmu ke surga dengan qiyamullail ini. Bangun bidadariku, aku ingin engkau turus membersamaiku selamanya. Bersamaku, tidak hanya di dunia ini, tapi juga di sana, di negeri abadi itu. Bangun dinda, mari sholat.”



Atau sebaliknya, jika istri terbangun dia berkata,

“Kekasihku, tidakkah kau ingin membawaku ke surga dengan qiyamul lailmu. Bukankah engkau ingin menjadikanku sebagai bidadari dunia akhirat, bangun suamiku. Aku rindu bertemu denganmu di surga kelak.”



Ehm. Ini bukan romantisme saudaraku. Bukan. Sungguh, ini harapan. Indah. Bahagia.
Ini juga sebuah harapan. Tentang anak-anak kita kelak. Kita punya mimpi. Mimpi menjadikan mereka menjadi mutiara-mutiara hati yang kelak menggetarkan dunia. Bertebaran di berbagai belahan bumi dengan menggemakan takbir, tahmid, tasbih dan tahlil. Ya, itu artinya kita punya dua tanggungjawab besar; menjadikan istri sebagai bidadari; dan 'melahirkan' jundi-jundi penegak tauhid.

Sungguh, kita berharap dari rahim mulia istri kita terlahir pejuang-pejuang dakwah, yang karena sentuhan lembut tangan bidadari hati kita, mereka menjadi kuat dan kokoh. Dan rumah kita menjadi madrasah peradaban.
Ini bukan romatisme. Tapi harapan.


masnonowajak.blogspot.com

taadud.........poligami

--- Mukaddimah ---

Islam telah mensyari’atkan Ta’addud (polygami) sebagai salah satu pemecahan bagi problematika rumah tangga, khususnya manakala sebuah rumah tangga sudah diambang kehancuran.

Bila sebuah rumah tangga sudah tidak lagi harmonis dan hubungan suami-isteri selalu diwarnai oleh pertengkaran bahkan pengkhianatan (baca: perselingkuhan), maka kehancurannya hanya tinggal menunggu waktu. Secara logika, dalam kondisi yang sudah sampai ke taraf demikian itu, sangat sulit untuk memulihkan kembali hubungan tersebut seperti semula dan kalaupun bisa, maka akan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Maka, jalan satu-satunya – bila masih menghendaki tetap utuhnya rumah tangga dan tidak menghendaki kehancuran itu – adalah dengan cara berdamai dan mengalah tetapi halal.

Dalam hal ini, kita mendapatkan keteladanan dari salah seorang Ummul Mukminin, yaitu Saudah binti Zam’ah.

Dia memiliki sikap yang perlu di tiru oleh setiap wanita shalihah, sikap yang menampilkan sosok seorang isteri shalihah, seorang Ummul Mukminin yang menyadari bahwa dirinya harus menjadi suriteladan yang baik bagi kaum Mukminat di dalam mempertahankan keutuhan sebuah rumah tangga.

Singkatnya, bahwa Rasulullah sebagai manusia biasa memiliki perasaan suka dan tidak suka secara alami. adalah Saudah wanita pertama yang dinikahinya setelah wafatnya, Khadijah. Dia seorang janda dan sudah berusia, namun karena ketabahan dan keimanannya-lah, beliau Shallallâhu 'alaihi wa sallam kemudian menikahinya dan memuliakannya sebagai Ummul Mukminin.

Setelah beberapa lama berumah tangga, dan Rasulullah juga setelah itu sudah memiliki isteri-isteri yang lain, tampak ada perubahan sikap dari diri beliau terhadapnya seakan-akan sudah tidak menginginkan serumah lagi dengannya alias ingin menceraikannya. Sikap ini ditangkap dengan baik oleh Saudah dan gelagat yang tidak menguntungkan dirinya ini dia manfa’atkan momennya, yaitu dengan suka rela dia mau berdamai dan mengalah, demi keutuhan rumah tangga dan mempertahankan martabatnya yang telah dimuliakan sebagai Ummul Mukminin. Artinya, dia dengan rela dan ikhlash memberikan jatah gilirnya kepada isteri Rasulullah yang lain, yaitu ‘Aisyah radliyallâhu 'anha.

Menyadari akan maraknya fenomena yang tidak mendidik bahkan menyesatkan, khususnya, tayangan-tayangan dalam media elektronik seperti sinetron-sinetron yang berusaha merusak tatanan rumah tangga kaum Muslimin dan sengaja memprovokasi kaum ibu agar melawan ‘pengungkungan’ terhadap hak wanita – dalam anggapan mereka – dengan memilih ‘cerai’ ketimbang ‘dimadu’, dan sebagainya; maka kami memandang perlunya mengangkat tema ini, paling tidak, guna menggugah kaum wanita secara keseluruhan dan para isteri-isteri shalihah secara khusus. Semoga bermanfa’at dan dapat dijadikan bahan renungan dan pertimbangan oleh setiap kaum wanita. Wallahu a’lam. (red.)

Naskah Hadits

عَنْ عَائِشَةَ «أَنَّ سَوْدَةَ بِنْتَ زَمْعَةَ وَهَبَتْ يَوْمَهَا لِعَائِشَةَ, وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقسِمُ لِعَائِشَةَ بِيَوْمِهَا وَيَوْمِ سَوْدَةَ». متفق عليه

“Dari ‘Aisyah –radliallâhu 'anha- bahwasanya Saudah binti Zam’ah – radliallâhu 'anha - telah memberikan jatah gilirnya kepada ‘Aisyah, dan Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam telah menggilir ‘Aisyah (pada jatah gilirnya) plus jatah gilir Saudah”. (Muttafaqun ‘alaih)

Takhrij Hadits Secara Global

Di dalam kitab Bulûghul Marâm karya Syaikh Ibn Hajar al-‘Asqalâny menyebutkan bahwa hadits diatas, diriwayatkan secara sepakat oleh Imam Bukhari dan Muslim. Namun, kami tidak mendapatkan riwayat dari Imam Muslim yang sama seperti lafazh tersebut.

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Daud, Ibnu Majah dan Imam Ahmad.

Beberapa Pelajaran Dari Hadits

Saudah binti Zam’ah al-Qurasyiyyah al-‘آmiriyyah adalah isteri kedua dari Rasulullah disamping isteri-isteri yang lain. Beliau menikahinya setelah Khadijah wafat. Saat telah berumah tangga dengan beliau, usianya sudah tua dan kondisinya semakin lemah. Karenanya, dia khawatir, beliau shallallâhu 'alaihi wa sallam akan menceraikannya sehingga dirinya akan kehilangan martabat yang mulia dan nikmat yang agung sebagai salah seorang isteri Rasulullah. Dari itu, dia dengan ikhlas merelakan jatah gilirnya kepada ‘Aisyah asalkan dapat tetap menjadi isteri beliau. Beliau-pun menerima cara yang dia lakukan ini. Dan tatkala Rasulullah wafat, dia masih tetap berpredikat sebagai salah seorang dari Ummahâtul Mukminîn.

Abu Dâwud ath-Thayâlisy meriwayatkan dari Ibn ‘Abbâs, dia berkata: “Saudah khawatir dithalaq oleh Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam, lalu dia berkata kepada beliau: ‘Wahai Rasulullah! Janganlah engkau menthalaqku dan jadikanlah jatah gilirku untuk ‘Aisyah!’. Beliau pun setuju melakukan itu sehingga turunlah ayat ini:

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِن بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلاَجُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرُُ

“Dan jika seorang wanita (isteri) khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)”.(Q.,s.an-Nisâ`/04:128)

Dan di dalam kitab ‘ash-Shahîhain’ (Shahîh Bukhâry dan Muslim) dari ‘Aisyah, dia berkata: “Tatkala usia Saudah sudah senja (tua), maka dia memberikan (secara sukarela) jatah gilirnya kepada ‘Aisyah. Lalu, Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam membagikan jatah gilirnya tersebut untuk ‘Aisyah”.


Hadits diatas mengindikasikan kebolehan berdamai antara suami-isteri. Hal ini bisa dilakukan ketika si isteri merasa suaminya sudah mulai menjauhi atau berpaling darinya sementara dia sendiri takut untuk diceraikan seperti bilamana terputus seluruh haknya atau sebagiannya dari pembagian nafkah, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya yang semula adalah bagian dai kewajiban suami terhadapnya. Sedangkan suami, boleh menerima hal itu darinya dan si isteri tidak berdosa dengan memberikan jatah gilirnya. Demikian pula, dia tidak berdosa bila menerimanya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: “maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)”. Artinya, bahwa perdamaian itu lebih baik daripada berpisah dan bercerai.

Tindakan yang dilakukan oleh Ummul Mukminin, Saudah radliallâhu 'anha adalah tindakan yang bijaksana sekali. Karenanya, berdasarkan riwayat yang shahih, ‘Aisyah pernah mengomentarinya: “Tidak ada orang yang aku lebih suka menjadi selumur (kulit luar selongsong ular) baginya (selain) dari Saudah”. Hal itu diucapkannya karena sedemikian kagumnya dia terhadap sikap Saudah. Saudah wafat pada akhir masa kekhalifahan ‘Umar radliallâhu 'anhu.

Para ulama berkata: “Bila seorang isteri memberikan jatah gilir hari dan malamnya untuk salah seorang isteri yang lain (madu) dari suaminya, maka hal itu tidak menjadi keniscayaan bagi hak sang suami dan tidak berpengaruh besar. Jadi, dia boleh saja mendatangi si pemberi jatah gilirnya ini atau tidak rela bersamanya karena sudah cukup dengan isteri yang lainnya. Tetapi jika dia (suami) rela maka hal itu boleh”.

Jika si suami memiliki banyak isteri (tiga orang atau empat orang), lalu isteri yang merelakan jatah gilirnya ini menentukan kepada salah seorang diantara madu-madunya tersebut, maka hal itu dianggap berlaku secara hukum sebagaimana dengan kisah Saudah terhadap ‘Aisyah diatas. Tetapi, jika dia membiarkan jatahnya itu tanpa menentukan kepada siapa diantara madu-madunya itu yang dia beri, maka hendaknya si suami menyamakan jatah yang satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini, tidak memasukkan lagi jatah gilir si pemberi tersebut.

Isteri yang telah memberikan jatah gilirnya kepada madunya boleh saja menarik kembali pemberiannya itu dari suaminya kapanpun dia menghendaki sebab hukum asal semua pemberian (Hibah) adalah dibolehkan menarik/mengambilnya kembali selama belum dipegang (disepakati perjanjiannya) baik untuk yang sekarang maupun untuk yang akan datangnya. Wallahu a’lam.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
(Diambil dari Kitab Tawdlîh al-Ahkâm Min Bulûgh al-Marâm, karya Syaikh ‘Abdullah آli Bassam, Jld. IV, Hal. 519-520, No. 921).

perbanyak doa

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما من مسلمٍ يدعو بدعوة ليس فيها أثمٌ ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث؛ إما أن تعجل له دعوته، وإما أن يدخرها له في الآخرة، وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها”. قالوا: إذا نكثر. قال: “اللهُ أكثرُ”. رواه أحمد والحاكم وغيرهما[1].

“Tiada seorang muslim pun yang memohon (kepada Allah Ta’ala) dengan doa yang tidak mengandung dosa (permintaan yang haram), atau pemutusan hubungan (baik) dengan keluarga/kerabat, kecuali Allah akan memberikan baginya dengan (sebab) doa itu salah satu dari tiga perkara: (1) boleh jadi akan disegerakan pengabulan doanya, atau (2)Allah akan menyimpannya untuk kebaikan (pahala) baginya di akhirat, atau (3)akan dihindarkan darinya keburukan (bencana) yang sesuai dengannya”. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata: Kalau begitu, kami akan memperbanyak (doa kepada Allah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Allah lebih luas (rahmat dan karunia-Nya)”.

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan berdoa kepada Allah Ta’ala, dan kepastian dikabulkannya doa seorang muslim dengan salah satu dari tiga perkara yang tersebut dalam hadits di atas, jika terpenuhi padanya syarat-syarat dikabulkannya doa. Inilah makna firman-Nya:

{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ}

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila dia berdoa kepada-Ku” (QS al-Baqarah:186).

Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:

- Doa seorang muslim akan dikabulkan dan tidak tertolak jika memenuhi syarat diterimanya doa.

- Luasnya karunia Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, dengan menjadikan pengabulan doa mereka dalam berbagai macam kebaikan dan keutamaan.

- Dalam hadits ini disebutkan dua di antara syarat-syarat dikabulkannya doa, dan masih ada syarat-syarat yang lain, yaitu: ikhlas dalam berdoa, tidak tergesa-gesa dalam pengabulan doa, halalnya makanan dan pakaian, dan lain-lain.

- Syarat penting lain dikabulkannya doa adalah yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kamu yakin (Allah akan) mengabulkannya, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari (seorang yang ketika berdoa) hatinya lalai dan lupa (tidak berkonsentrasi)”.

- Keburukan yang dihindarkan dari seorang hamba dengan doanya adalah mencakup semua keburukan, baik dalam urusan dunia maupun agama.

- Dianjurkan memohon doa sebanyak-banyaknya kepada Allah, karena rahmat dan karunia-Nya lebih luas dari apa yang diminta oleh hamba-hamba-Nya.

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA
Artikel www.muslim.or.id

sudah Benarkah Syahadat kita

Setiap muslim seyogyanya mengerti dan memiliki kepedulian terhadap perkara agamanya. Terlebih tatkala dia hidup di jaman yang jauh dari kenabian Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasalam dan semakin dekat dengan hari kiamat. Dia hidup di tengah kebodohan yang telah menyebar sedangkan ilmu agama yang benar semakin pudar dengan meninggalnya para ulama.

Di antara perkara yang harus dimengerti tersebut adalah dua kalimat syahadat, sebuah perkara yang Allah dan rasul-Nya jadikan sebagai rukun terpenting dari rukun-rukun Islam, dinding pembatas antara iman dan kekufuran, halal atau haramnya darah dan harta seseorang untuk ditumpahkan dan diambil. Bahkan sebagai faktor penentu seseorang menjadi penghuni Jannah atau Naar.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Hanyalah orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Al Hujuraat : 15).

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda :

“Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah…” (H. R. Muslim).

Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasalam juga bersabda :

“Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Apabila mereka telah melakukannya maka mereka telah menjaga darah dan hartanya dariku kecuali dengan haknya, sedangkan hisab mereka di sisi Allah.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Memang, dua kalimat syahadat merupakan sebuah persaksian seorang muslim tentang hak Allah dan rasul-Nya. Namun, hendaklah dia ketahui bahwa persaksian itu tidaklah cukup dengan ucapan lisannya saja, walaupun dia fasih dalam mengucapkannya. Tetapi ia juga sangat membutuhkan pengetahuan dan amalan tentang makna dan kandungannya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri banyak menyebutkan tentang makna dan kandungan syahadat Laa Ilaaha Illallah di dalam kitab-Nya yang suci. Di antaranya Allah ceritakan tentang kisah antara nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam dengan kaumnya :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيْمُ لأَبِيْهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَآءٌ مِمَّا تَعْبُدُوْنَ إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِيْنِ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Dan ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah kecuali Dzat yang telah menciptakanku, Dialah yang benar-benar menunjukiku, dan Dia (Allah) yang telah menjadikan sikap berlepas diri dan loyalitasnya tersebut sebagai kalimat yang selalu ada pada keturunannya (Ibrahim) agar mereka kembali kepada tauhid.” (Az Zukhruf : 26-28).

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan tentang tafsir ayat tersebut: “Yaitu Allah telah menjadikan sikap loyalitas kepada-Nya dan berlepas diri dari setiap sesembahan selain-Nya sebagai kalimat yang selalu ada pada keturunannya (Ibrahim). Para nabi dan pengikut mereka akan saling mewarisi kalimat tersebut. Ia adalah Laa Ilaaha Illallah yang telah diwariskan oleh imam para Ahlut Tauhid yaitu Ibrahim kepada para pengikutnya sampai hari kiamat.”

Penggalan ayat إِنَّنِي بَرَآءٌ مِمَّا تَعْبُدُوْنَ sesuai dengan lafadz syahadat “Laa Ilaaha” yang mengandung arti peniadaan atas segala sesuatu sebagai sesembahan. Sedangkan ayat إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي selaras dengan lafadz syahadat: “Illallah” yang mengandung penetapan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah satu-satunya sesembahan yang berhak untuk diibadahi. Kesimpulannya bahwa makna sekaligus kandungan yang sebenarnya tentang syahadat “Laa Ilaaha Illallah” adalah tiada sesembahan yang berhak untuk diibadahi melainkan Allah saja.

Uniknya makna yang sah dari tinjauan syar’i maupun bahasa Arab tersebut sangat dipahami dan diketahui orang-orang musyrikin di jaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam, akan tetapi sifat sombong dan gengsi dengan agama nenek moyang mereka menjadi faktor penghalang untuk menerima seruan dakwah Laa Ilaaha Illallah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوْا إِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَسْتَكْبِرُوْنَ

“Sesungguhnya bila dikatakan kepada mereka Laa Ilaaha Illallah, mereka menyombongkan diri.” (Ash Shaffaat: 35).

Berdasar tinjauan makna dan kandungan Laa Ilaaha Illallah yang sedemikian rupa maka sangatlah tidak tepat bila ada sebagian orang yang memberikan makna syahadat tersebut dengan berbagai makna misalnya:

“Tidak ada pencipta, pengatur, dan pemberi rizki kecuali Allah.”

“Tidak ada Tuhan kecuali Allah.”

Atau yang lebih tragis lagi bila seorang yang bersedia dianggap sebagai “cendekiawan muslim” memberikan makna yang nyeleneh: “Tidak ada tuhan kecuali Tuhan.”

Subhanallah !! Semua pendapat yang semata-mata dari akal pikiran dan jauh dari petunjuk Al Qur’an dan As Sunnah di atas, sesungguhnya masih meninggalkan adanya kemungkinan pengakuan terhadap sesembahan selain Allah.

Tidaklah mengherankan akibat kesalahan di dalam memahami makna dan kandungan syahadat Laa Ilaaha Illallah, banyak di antara kaum muslimin yang terjatuh ke dalam berbagai bentuk kesyirikan yang sebenarnya pernah, atau bahkan belum pernah dipraktekkan kaum musyrikin jahiliyyah meskipun mereka mengucapkan syahadat di dalam dzikir, shalat dan do’a mereka. Wallahul Musta’an.

Para pembaca yang mulia, manakala seseorang telah mengerti dan meyakini bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah saja maka dia tidak akan mampu mengetahui cara dan bentuk ibadah yang akan dia persembahkan kepada-Nya kecuali hanya dengan petunjuk utusan-Nya yaitu Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasalam. Di sinilah letak pentingnya mengetahui makna dan kandungan syahadat rasul Muhammadur- rasulullah terlebih dahulu sebelum berbicara tentang syari’at dan sunnah-sunnahnya.

Tidaklah sah dan diterima syahadat Laa Ilaaha Illallah tanpa adanya syahadat ini.

Sangatlah banyak dalil-dalil baik dari Al Qur’an dan As Sunnah yang menunjukkan makna syahadat ini yang pada akhirnya para ulama menyebutkannya secara ringkas sebagai berikut:

Mentaati Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wasalam dalam apa yang beliau perintahkan.

Membenarkan segala apa yang beliau beritakan.

Menjauhi apa yang beliau larang.

1. Tidaklah Allah diibadahi melainkan dengan apa yang Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wasalam tersebut ajarkan.

2. Bahwa Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasalam adalah seorang rasul yang tidak boleh didustai sekaligus sebagai seorang hamba yang tidak boleh diibadahi.

Oleh karena itu seseorang yang mengaku cinta dan sebagai pengikut Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wasalam tidaklah pantas untuk mendahulukan ucapan seorang guru, ustadz ataupun kyainya daripada ucapan Rasul tersebut. Tidaklah layak seorang yang telah bersyahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah untuk menolak atau ragu terhadap sebuah hadits karena – menurut anggapan dia – tidak sesuai dengan perkembangan jaman, penelitian para ilmuwan atau akal pikirannya. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk pelanggaran terhadap hak Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wasalam atau syahadat Muhamadurrasulullah.

Syarat Kesempurnaan Persaksian Dua Kalimat Syahadat

Kedua syahadat ini sebagaimana rukun Islam yang lainnya memiliki beberapa syarat yang seseorang tidak akan mendapatkan manfaat dengan persaksiannya kecuali menyempurnakan dan berpegang teguh dengan syarat-syaratnya.

Alhamdulillah, Allah telah mudahkan kita untuk mengetahuinya melalui para ulama – semoga Allah merahmati kita dan mereka semuanya. Mereka (para ulama) telah kumpulkan beberapa syarat yakni:

1. Al Ilmu, yaitu mengetahui tentang kandungan dan konsekuensi dua kalimat syahadat dengan ilmu yang benar. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): “Kecuali orang-orang yang bersaksi kebenaran (Laa Ilaaha Illallah) dalam keadaan mereka berilmu.” (Az Zukhruf : 86).

2. Al Yaqin, yaitu keyakinan yang mantap tentang konsekuensi dari dua kalimat syahadat tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): “Hanyalah orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian tidak ragu (dengan keimanannya).” (Al Hujuraat : 15).

3. Al Qabul, yaitu menerima kandungan dua kalimat syahadat dengan hati dan mengikrarkan dengan lisannya. Dalilnya adalah setiap firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang memberitakan tentang keselamatan dan keutamaan bagi siapa saja yang menerima Laa Ilaaha Illallah. Sebaliknya kecelakaan dan adzab bagi siapa saja yang menolak kalimat agung tersebut.

4. Al Inqiyad, yakni tunduk terhadap kandungan dan makna dua kalimat syahadat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): “Dan barangsiapa yang menundukkan wajahnya kepada Allah dan berbuat baik maka dia telah berpegang teguh dengan tali yang kuat (Laa Ilaaha Illallah).” (Luqman : 22).

5. Ash Shidq, adalah jujur di dalam mengikrarkannya baik dengan lisan maupun hatinya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda: “Tidaklah seseorang yang bersaksi Laa Ilaaha Illallah wa anna Muhammadar-rasulullah dengan jujur dari hatinya kecuali Allah haramkan Naar baginya.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

6. Al Ikhlas, maknanya membersihkan amalan dengan niat yang benar dan bersih dari noda-noda kesyirikan. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan (Naar) bagi seseorang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dalam keadaan dia mengharap wajah Allah ‘Azza Wa Jalla (ikhlas).” (Muttafaqun ‘Alaihi).

7. Al Mahabbah, artinya mencintai dua kalimat syahadat ini, kandungannya dan orang-orang yang berpegang teguh dengan dua kalimat syahadat tersebut. Sebaliknya membenci terhadap siapa saja yang menentang dan menolak dua kalimat syahadat. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda: “Tiga perkara yang barangsiapa memilikinya maka dia akan mendapatkan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan darinya sebagaimana ia benci apabila dilemparkan ke dalam api.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Wallahu Ta'ala A’lam Bish Shawab ...

Berubah Untuk Meraih Keberuntungan

Oleh :Andrew Ho
pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller

"Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending. - Tak seorangpun dapat kembali ke masa lalu dan memulai awal yang baru. Tetapi setiap orang dapat berubah sedari sekarang dan menciptakan sebuah akhir yang berbeda."
Maria Robinson, penulis.

Di masa krisis keuangan global seperti sekarang dibutuhkan kemampuan untuk cepat berubah. Banyak orang terpuruk tetapi juga banyak orang muncul menjadi orang-orang sukses dalam berbagai bidang. Kenyataan tersebut seolah menegaskan bahwa kesulitan dalam proses perubahan dapat sangat bermanfaat jika dipandang sebagai alarm untuk segera berubah dengan berbenah, berusaha lebih keras, bersikap lebih hati-hati dan lain sebagainya.

Berubah merupakan kunci fundamental untuk memenangkan tantangan dalam bentuk apapun dan meraih kehidupan yang lebih baik. Tak seorangpun dapat meraih perubahan hidup jika ia masih melakukan kebiasaan yang sama. Ghandi mengatakan, "You must be the change you wish to see in the world. - Anda sendiri harus menjadi agen perubahan yang ingin Anda saksikan di dunia."

Memang melakukan tindakan-tindakan perubahan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tak jarang mereka yang sudah cukup memahami slogan ‘perubahan adalah abadi' justru tidak berusaha untuk berubah. Bahkan di tengah tantangan yang semakin besar di masa krisis seperti sekarang mereka masih saja mengeluh, menyalahkan orang lain, menunggu dan menyesal terus menerus diikuti kebiasaan buruk lainnya.

Tak sedikit orang yang sudah berumur 60 tahun baru sadar menjaga kesehatan di waktu muda sangat penting. Banyak orang yang menyesal telah mengabaikan nasehat orang lain setelah benar-benar terpuruk ekonominya. Masih banyak lagi fenomena penyesalan semacam itu dikarenakan mereka belum mempunyai kesadaran untuk berubah dan belum mengerti bagaimana menyiasati setiap perubahan. Beberapa hal berikut ini semoga dapat membantu Anda segera melakukan perubahan.

Hal pertama yang dapat membantu Anda berubah adalah kemauan berpikir dan memutuskan untuk berubah dengan menciptakan impian atau visi serta merumuskan tujuan hidup. Impian, visi dan misi, tujuan hidup atau apapun istilahnya merupakan langkah hebat memulai perubahan. Jadi jangan ragu untuk bermimpi, menetapkan visi, atau merumuskan tujuan hidup Anda. Setelah itu tanamkan keyakinan bahwa untuk mencapai setiap impian, visi atau tujuan hidup Anda tersebut memerlukan perubahan dan Anda sangat yakin sanggup berubah dengan cepat.

Sementara itu kita juga harus menyadari bahwa hanya diri kita sendiri yang bertanggung jawab terhadap perubahan yang kita inginkan. "Perubahan tidak akan pernah terjadi jika kita hanya menunggu orang lain atau kesempatan lain untuk berubah. Sebab diri kitalah agen perubahan yang kita cari," demikian Barrack Hussein Obama, Presiden USA ke-44. Oleh sebab itu segera lakukan tindakan-tindakan nyata yang relevan dengan target atau impian yang dimaksud. Tindakan adalah satu-satunya hal yang membuat Anda dapat menciptakan perubahan bahkan mampu meraih lebih dari yang Anda pikirkan.

Sebelumnya miliki motivasi dibalik impian, visi dan misi, atau tujuan hidup Anda. Malcolm X mengatakan, "If you don't stand for something, you will fall for anything. - Jika Anda tidak berdiri karena suatu alasan, maka Anda akan jatuh karena banyak sebab." Ketika kita mempunyai motivasi atau alasan yang kuat maka kita akan mempunyai energi lebih besar untuk melakukan tindakan-tindakan perubahan walaupun tantangannya juga sangat besar.

Sementara itu, sikap konsisten disertai dengan keyakinan adalah kunci perubahan. Konsisten adalah terus melakukan tindakan-tindakan yang relevan meskipun Anda belum juga menemukan kesuksesan yang Anda impikan. Jangan pernah berpikir dapat menciptakan perubahan secara instan, karena setiap perubahan akan memerlukan proses. Yakinkan diri bahwa Anda pasti dapat berubah dan mencapai tujuan yang Anda inginkan.

Setelah melakukan beberapa tahap di atas, cobalah untuk melihat kembali apakah langkah-langkah yang sudah Anda jalankan semakin mendekatkan diri Anda terhadap tujuan yang Anda maksud? Pada tahap ini Anda dapat menilai apakah langkah-langkah yang sebelumnya Anda lakukan dapat diteruskan atau tidak? Cobalah untuk mencari pelajaran kehidupan yang tersembunyi di balik kegagalan maupun kemajuan yang Anda dapatkan.

Dalam hal ini saya ingin menyampaikan bahwa mencari pelajaran hidup setiap saat, entah dari kegagalan atau kesuksesan maupun dari fenomena kehidupan sehari-hari, akan sangat membantu kita mengembangkan kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan kita akan kesulitan untuk berubah, yang menyebabkan kita terus melakukan kesalahan dari hari ke hari. Sadarilah bahwa setiap proses mengandung pelajaran hidup berharga, diantaranya adalah prinsip-prinsip baru untuk meraih sukses, yang membantu kita melakukan evolusi atau perubahan besar.

Perubahan adalah hal yang tak dapat kita hindari sekaligus kita perlukan untuk meraih keberuntungan. Beberapa langkah sebagaimana saya uraikan di atas akan membantu kita meningkatkan kemampuan berubah. Laksanakan langkah-langkah perubahan meskipun harus bersakit-sakit dahulu, karena dengan begitu sama halnya Anda memastikan keberuntungan ada di pihak Anda pada akhirnya.

I'TIKAF :"TAHIYAT AWAL MENEMUI CAHAYA AWAL MENUJU YANG MAHA AKHIR (AMALIAH MENYONGSONG MALAM KEMULIAAN:LAILATUL QADAR)"

Salah satu cara yang hendak ditempuh untuk menemukan dan mencapai Lailatul Qadar ialah melakukan i'tikaf. I'tikaf adalah diam menetap dalam masjid (lahir/batin), berkhalwat di dalamnya dengan niat mendekatkan diri (nawaitu taqorruban ilallah) kepada Allah SWT sekaligus menjauhkan diri dari maksiat lahir batin.

Allah SWT berfirman:"...makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) jangan kamu campuri mereka itu, sedang kamu berI'TIKAF dalam Mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia, supaya mereka bertakwa" (Q.S. Al Baqarah, 2 :187).

I'tikaf hukumnya sunnat, ia juga suatu syariat yang dilaksanakan Nabi Ibrahim as dan puteranya Nabi Ismail as. Rasulullah senatiasa menanti dan menyongsong Lailatul Qadar dengan ibadah, dan mewujudkan suasana kejiwaan dan qalbu yang sesuai dengan saat-saat turunya para malaikat yang mengunjungi hamba-hamba Allah di bumi (Besar=Alam Semesta dan Kecil=diri) ini.

Di antara yang Rasulullah lakukan adalah beri'tikaf masuk ke dalam masjid sebelum terbenam matahari malam 20 atau malam 21 (malam likuran). Tak dapat diragukan lagi bahwa sanya i'tikaf di dalam masjid benar-benar merupakan manifestasi penyiapan diri untuk mengkaonsentrasikan pikiran kepada ibadah, buat menanti dan menyambut kedatangan Lailatul Qadar.

Allah SWT berfirman:" Bacalah kitabmu, cukup kamu sendiri sebagai penghisab atas dirimu" (Q.S. Al Isra', 17 : 14). Dari kedua firman Allah tersebut di atas bahwa i'tikaf harus dilakukan dengan muhasabahtun nafs (menghitung diri) sebelum dihisab oleh Allah SWT. Membaca kitab diri pada hakikatnya jalan pengenalan diri sejati."Man 'arofa nafsahu faqod 'arofa Robbahu" (Al Hadits) Siapa mengenal dirinya pasti ia akan mengenal Tuhanya.Maka disebut Awwaludini ma'rifatullah (mengenal Cahaya Awal ) yang hakikinya mengenal Allah SWT.

Adapun tata cara beri'tikaf untuk menemui Cahaya Awal Menuju Yang Maha Akhir (Allah SWT) diantaranya sebagai berikut :

1. Sebelum berusaha hendaklah dimulai dengan niat dan doa (Nawaitu taqorruban Ilallah=niat mendekatkan diri Pada Allah SWT)
2. Duduk Tahiyat Awal, duduk di atas betis dan telapak kaki (Istilah bhs.jawa Menekung)
3. Punggung tegak lurus dan kepala tegak.
4. Pandangan tertutup (mata lahir tertutup) dan mata batin dibuka, muka lurus ke depan.
5. Telapak tangan di atas lutut, empu jari kanan dann kiri bersentuhan.
6. Bagi Pria, agar kemaluannya dianggkat ke atas, agar tidak terjepit.
7. Lakukan sesudah tahajud di malam hari (Qiyamul lail). Sebelum bertahajud di malam hari, hendaknya berniat dan berpuasa khusus (mengurangi maksiat lahir batin dari sumber2 nafsu diri).
8.Duduklah yang enak dan mulailah berkonsentrasi dengan mengendalikan nafas (menguasai angin nafsu diri). Kemudian tarik nafas dengan hidung satu kali, dan tahan di perut 17 ketukan/detik, kemudian lepaskan melalui mulut sampai bersih dengan ucapan ALLAHU....7x (Perbandingan 1 : 17 : 7)
9. Ulangi beberapa kali sampai mengantuk, bila mampu maka baca Al Fatihah lebih dari satu kali dalam satu pernafasan (ketika menahan nafas diisi dengan membaca Al fatihah).
10.Al Fatihah atau Asmaul Husna, selama pernafasan berada di dalam perut. Pernafasan demikian di dalam ilmu bela diri sering disebut "pernafasan halus".

Praktek i'tikaf demikian dapat pula dilakukan di luar bulan Suci Ramadhan. Agar segera melewati atau naik ke tingkat pengisian (tahalli) sesudah pengosongan diri (takhalli) menuju Tajalli Illahi (Allah SWT Yang Maha Awal dan Maha Akhir)...semoga tercapai dengan kaffah sehingga menjadilah insan kamil...insya Allah juga mukammil....amiin...barokallah....(Bersambung)

rahasia Sabar

Takwa adalah anugerah yang paling agung setelah hidayah iman yang telah dimasukkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala ke dalam kalbu. Dengan bersyukur yang sebenarbenarnya, Allah Subhanahu Wata'ala akan meningkatkan kenikmatan yang agung itu, insya Allah. Dia hujamkan keimanan ke dalam hati kita dan mengangkat tinggi derajat ketakwaan kita. Amin, Allahumma, amin…

Jika keimanan itu laksana burung, maka jiwa kita akan terbang menuju ke hadirat Allah Subhanahu Wata'ala dengan dua sayap yang kokoh, yaitu sayap syukur dan sayap sabar.

Hakikat sabar adalah teguh dan kokoh mempertahankan jiwa untuk selalu berada pada ketentuan syari'at Allah, dengan tetap menjalankan ketaatan dan menahan diri dari larangan serta berlapang dada pada setiap ketentuan ujian dari Allah Subhanahu Wata'ala.

Maka orang yang bersabar akan senantiasa teguh dan selalu menambah kekuatan tenaga jasmani dan rohaninya untuk meningkatkan amal ketaatan, terus mengokohkan dan menambah tekun amal ibadah dan amal shalih mereka. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran: 200).

Mereka juga bersabar di dalam menahan penderitaan dengan tetap melaksanakan ketaatan, sehingga Allah Subhanahu Wata'ala amat memuji dan menyanjung mereka.

Dengan bersabar, seseorang akan menyadari dan ridha bah-kan cinta terhadap ketentuan ujian penderitaan yang telah ditak-dirkan oleh Allah pada dirinya. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedi-kit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 155).

Bagaimana tidak, padahal orang-orang kafir, orang-orang musyrik dan orang-orang atheis mampu bertahan dengan penderitaan-penderitaan yang menimpa mereka, maka orang beriman pasti lebih kokoh, tahan dan ridha, bahkan cinta pada ketentuan takdir itu, kemudian dengan kekuatan jiwa dan imannya, orang-orang yang beriman mencari kebaikan di dunia dan di akhirat dari penderitaan itu dengan beristirja` hanya kepada Allah. Istirja` maksudnya, meyakini, mengakui, menyadari sepenuhnya serta menye-rahkan segenap kebaikan urusannya hanya kepada Allah, sehingga Allah Subhanahu Wata'ala berkenan membalasnya dengan yang lebih indah. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

"(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'." (Al-Baqarah: 155 – 156).

Itulah hakikat kesabaran yang intinya adalah teguh bertahan sekokoh-kokohnya dalam memperkuat jiwa, kemudian memperjuangkan segenap kemampuan jiwanya itu dalam menempuh keridhaan Allah, dengan melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya dalam kondisi apa pun.
Kesabaran yang demikian itulah yang disediakan bagi penyandangnya berbagai kemuliaan, keagungan, ketinggian derajat, kekuasaan, bahkan berbagai balasan yang dijanjikan oleh Allah dalam Firman-firmanNya,

Mari kita simak beberapa pujian dan balasan yang disediakan dan diberikan kepada orang-orang yang bersabar, yang kita kutip dari Firman Allah Subhanahu Wata'ala,


1. Allah akan mengantarkannya menuju kepada keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Firman Allah Subhanahu Wata'ala :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran: 200).

2. Pahala orang-orang yang bersabar akan dilipatgandakan dengan hitungan yang tanpa batas. Sebagaimana yang diperkuat oleh Firman Allah :

قُلْ يَاعِبَادِ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَاحَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang beriman, bertakwalah ke-pada Rabbmu.'Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mem-peroleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas." Az-Zumar: 10).

3. Mencapai kejayaan dan kepemimpinan, sebab tanpa kesabaran, cita-cita yang sudah di depan mata dan sedikit lagi akan tergapai menjadi sirna dan hilang. Cobalah perhatikan pemimpin-pemimpin besar dunia, mereka adalah orang-orang yang gigih memperjuangkan cita-citanya, di samping senjata utama yang tidak pernah lekang dari mereka yaitu kesabaran menghadapi berbagai rintangan yang menghadang mereka.
Firman Allah Subhanahu Wata'ala :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajadah: 24).

4. Dengan kesabaran, kekuatan akan selalu bersanding ber-samanya, kemenangan akan selalu hadir di hadapannya, dan pertolongan Allah akan selalu menyertainya. Firman Allah Subhanahu Wata'ala :

وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

"Dan taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Anfal: 46).

5. Kesabaran merupakan perisai kokoh dan tangguh, yang dapat digunakan menangkal berbagai makar yang diluncurkan musuh, bahkan dengan kesabaran itu, makar-makar musuh akan menjadi lemah dan tak mempunyai daya serang yang berarti. Firman Allah Subhanahu Wata'ala :

إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةُُ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةُُ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطُُ

"Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit-pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (Ali Imran: 120).

6. Sebagai penghormatan yang sangat istimewa bagi para penyabar. Dikarenakan ketangguhan mereka di dalam bersabar, maka para malaikat menyambut dan mengucapkan salam kepada mereka.
Firman Allah Subhanahu Wata'ala :

سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

"(Sambil mengucapkan), 'Salamun 'alaikum bima shabartum.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 23 – 24).

7. Menjadi golongan yang dicintai Allah merupakan cita-cita dan tujuan seorang mukmin, maka dengan kesabaran, kecintaan Allah Subhanahu Wata'ala dengan sendirinya tersandang kepadanya.
Firman Allah Subhanahu Wata'ala :"Dan berapa banyak nabi yang berperang, bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 146).



Dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang akan diperoleh oleh seorang penyabar, yang tidak memungkinkan bagi khatib untuk menyebutkan satu persatu dan merincinya dengan detil pada khutbah ini, tapi di antara keutamaan-keutamaan itu adalah mencapai puncak derajat tertinggi dan kebaikan yang paling agung di dunia maupun akhirat, mendapat kejayaan dan keberuntungan, jauh dari kerugian dan penyesalan, diistimewakan oleh Allah bersama para dermawan yang penuh cinta kasih, dan dimasukkan ke dalam golongan Kanan (أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ), serta dapat memperkuat sendi-sendi keislamannya dengan kesabarannya tersebut.

Itulah berbagai kemuliaan, keutamaan yang dikaruniakan, pahala yang tiada terhitung, kemudian ampunan dan surga yang pasti akan diperoleh orang-orang yang bersabar.
Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ الله بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.

"Tidaklah menimpa seorang Muslim dari keletihan atau penyakit, kecemasan, kesedihan, penderitaan, tidak pula duka cita, sampai pada duri yang menusuknya, kecuali Allah meleburkan dengannya dari dosa-dosanya." (HR. al-Bukhari: 5641 – 5642; Muslim: 2573).

Bahkan Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam meriwayatkan satu hadits Qudsi yang beliau riwayatkan dari Sang Maha Penyabar, bahwa Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

إذا ابْتَلَيْتُ عَبْدِيْ بِحَبِيْبَتَيْهِ فَصَبَرَ، عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ

"Bila Aku menguji hambaKu dengan kedua kekasihnya (matanya) kemudian bersabar, maka Aku ganti baginya dengan surga." (HR. al-Bukhari : 5653).

Itulah keutamaan kesabaran, maka marilah kita memohon taufik dan inayahNya, semoga Allah Subhanahu Wata'ala menjadikan kita semua se-bagai hambaNya yang penyabar.
Kesabaran adalah kebahagiaan hidup yang sesungguhnya, beberapa orang sahabat radiyallahu 'anhum datang memohon sesuatu kepada Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam, beliau memberinya, maka mereka datang memohon lagi, Rasul Sallallahu 'Alahi Wasallam memberi lagi, kemudian mereka datang lagi, beliau Sallallahu 'Alahi Wasallam memberi lagi, sampai akhirnya beliau kehabisan sesuatu untuk diberikan kepadanya, kemudian beliau Sallallahu 'Alahi Wasallam bersabda :

مَا يَكُوْنُ عِنْدِيْ مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ الله ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ الله ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ الله ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

"Tidak ada suatu benda berharga pun yang aku sembunyikan dari kalian semua, maka siapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaganya. Siapa yang mencukupkan diri (dari meminta-minta), maka Allah akan mencukupinya, dan siapa yang menyabar-kan dirinya, maka Allah akan menjadikannya bersabar. Dan tidaklah seseorang mendapat karunia yang lebih baik dan lebih luas melebihi dari kesabaran." (HR. al-Bukhari-Muslim dari Abi Sa'id al-Khudri).

Kesabaran itulah perhiasan akhlak yang harus kita mohonkan kepada Allah, Sayyidina Umar radiyallahu 'anhu berkata :

وَجَدْنَا خَيْرَ عَيْشِنَا بِالصَّبْرِ

"Kita temukan sebaik-baik kehidupan kita adalah dengan kesabaran."

Maka marilah kita memohon tambahan kokohnya kesabaran itu dengan menambah ilmu tentang keutamaan kesabaran dan menambah kokohnya iman kita tentang sifat, anugerah dan janji-janji Allah serta kehidupan dan balasan di akhirat kelak.

وَاصْبِرْ وَمَاصَبْرُكَ إِلاَّبِاللهِ وَلاَتَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلاَتَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ . إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

"Bersabarlah (hai Muhammad), dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (An-Nahl: 127-128).


www.alsofwah.or.id
( Dikutip dari buku: Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta. Diposting oleh Wandy Hazar S.Pd.I )
Written 42 minutes ago · Comment · LikeUnlike
6 people like this.
Write a comment...
DOA RASULULLAH
Share
by Azis Setiawan (notes) Today at 4:14pm


Diriwayatkan oleh an Nasa'i, Imam Ahmad, Ibnu Hibban (dalam kitab Shahih-nya) dan begitu pula yang lainnya sebagai hadis yang diterima dari Ammar bin Yasir r.a. bahwa Rasulullah saw telah berdoa dengan doa:

Ya Allah dengan pengetahuan-Mu terhadap yang gaib dan dengan kuasa-Mu atas makhluk, hidupkanlah aku selama Engkau ketahui bahwa kehidupan itu lebih baik bagiku dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku. Aku memohon kepada-Mu agar aku selalu takut kepada-Mu, baik di kala sepi maupun ramai. Aku memohon kepada-Mu perkataan yang benar pada waktu marah dan tenang. Aku memohon kepada-Mu kesederhanaan di saat fakir dan kaya. Aku memohon kepada-mu nikmat yang tiada lenyap. Aku memohon kepada-Mu penyejuk mata yang tidak akan terputus. Aku memohon kepada-Mu sikap rela menerima qada sesudah terjadi. Aku memohon kepada-Mu kehidupan yang damai sesudah mati. Aku memohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu. Aku memohon kepada-Mu kerinduan untuk dapat berjumpa dengan-Mu tidak dalam keadaan susah yang membahayakan dan bukan dalam keadaan sedang mendapat ujian yang menyesatkan.
Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami orang-orang yang mendapat hidayah. Amin

(Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)
Updated 53 minutes ago · Comment · LikeUnlike
Laura Aja and 20 others like this.
Dewi Aisyah
Dewi Aisyah
Amiin ya mujibassailin
15 minutes ago
Laura Aja
Laura Aja
Amiin ya Allah ya Mujib Amin...
9 minutes ago
Write a comment...
Segera Petik Buah Tanaman Kesadaran Sebelum Hama Mafia Rekayasa Menyerbu
Share
by Triwidodo Djokorahardjo (notes) Today at 3:59pm
Malam sudah semakin larut dan sepasang suami istri setengah baya masih saja bercengkerama melakukan introspeksi ke dalam diri. Di hadapan mereka terdapat buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif”, karya Bapak Anand Krishna, terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, tahun 2003.

Sang Isteri: Dalam buku Atisha dijelaskan bahwa ibarat mobil, “mind’ hanya punya tiga gigi, suka – tidak suka – dan cuek. Yang disukai dikejarnya, yang tidak disukai dihindarinya dan cuek terhadap urusan orang lain. Selama ini yang dikerjakan mind hanya tiga pekerjaan tersebut. Hidup di zaman sekarang ini, kita selalu menggunakan pertimbangan “mind”, kalkulasi “untung-rugi” sebelum melakukan sesuatu. Mind selalu mengejar kesenangan dan menghindari penderitaan. Dalam konteks korupsi, mengingat korupsi merupakan cara cepat mendapatkan kekayaan tanpa mesti kerja keras, secara psikologis, “mind” seseorang akan mudah tergerak untuk korupsi.

Sang Suami: Pada zaman dahulu ketika alat tukar masih berupa logam emas dan perak, para “raksasa” yang tidak dapat mengendalikan keserakahan melakukan perampokan dan penjarahan. Pada saat ini uang adalah alat tukar yang praktis, bahkan tidak harus membawa uang untuk berbisnis, cukup dengan kartu kredit atau transaksi lewat bank. Hanya saja ketika uang sebagai komoditas mengungguli nilai riil, pusat kekayaan tidak lagi di sawah perkebunan yang luas atau peti besi, tetapi di dunia perbankan, di instansi keuangan, misalnya kantor pajak. Para “raksasa” modern tidak lagi merampok dengan kasar tetapi melakukan “rekayasa”. Penampilan fisik di luar lebih halus tetapi di dalam dirinya, tidak banyak berbeda dengan zaman dahulu....... Untuk mengawasi kegiatan keuangan terdapat kantor atau instansi yang bertugas mengawasi keuangan negara. Untuk merealisasikan program pemerintah maka terdapat kantor atau instansi yang membelanjakan uang negara. Seorang teman memperkirakan total anggaran belanja yang dikelola pemerintah adalah sekitar 15% dari total anggaran belanja yang terjadi di tengah masyarakat. Para penegak hukum dan politisi terlibat di dalam pengawasan masuknya uang dan pengawasan keluarnya uang pembelanjaan atau neraca anggaran biaya dan belanja negara. Dari Jajak Pendapat Kompas pada tanggal 12 April 2010, ternyata kepercayaan publik terhadap penyelenggara negara sudah sangat rendah. 90% responden menilai aparat berbagai instansi tidak bebas dari korupsi dan yang paling rawan di lembaga penegak hukum dan kemudian politisi. Untuk itu Satgas Pemberantasan Mafia Hukum yang dibentuk Kepala Negara telah menengarai telah terjadi Mafia di berbagai bidang.

Sang Isteri: Suamiku, terus bagaimana pandangan kuno para leluhur yang menyatakan bahwa harta dan tahta hanya "sesampiran", ibarat seledang penutup tubuh. Anak istri hanya "gegaduhan", hanya sekedar diminta memelihara. Dan, nyawa pun hanya "silihan", pinjaman. Bagaimana pula dengan Sayidina Umar sang panglima perang yang sangat “Jawa”, karena beliau berkata bahwa “Pada hakikatnya setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu dan uang yang dimilikinya adalah pinjaman”. Seorang tamu pastilah cepat atau lambat akan pergi, dan pinjaman harus dikembalikan. Kemudian saya pernah baca buku “Mystical Rose”, ketika Maria Magdalena bertanya, “Seperti apa para pengikutmu Gusti?” Gusti Yesus menjawab, “Mereka seperti anak-anak kecil yang tinggal di atas lahan milik orang lain. Kemudian, apabila Pemilik Lahan itu mendatangi mereka dan minta lahannya dikembalikan, mereka akan langsung menanggalkan baju mereka dan langsung mengosongkan tempat itu.” Terus......Bagaimana menerapkan mutiara kebijaksanaan tersebut dalam kondisi seperti pada zaman ini?

Sang Suami: Yang menjadi masalah selama ini adalah definisi tentang kebahagiaan. Adalah ketidaksadaran kita bahwa kebahagiaan itu sebenarnya berada dalam diri kita. Karena ketidaktahuan kita, maka kita mencarinya dari sumber-sumber di luar diri. Mari merenungkan, yang membahagiakan kita bukan orang yang kita temui. Yang membahagiakan kita adalah perasaan kita sendiri – bahwa kita pernah bertemu dengan orang itu. Yang belum memilikinya berpikir harta dapat membahagiakan mereka. Yang telah memilikinya tahu persis bahwa harta pun tidak selalu membahagiakan. Kebahagiaan berasal dari dalam diri. Kita harus menemukan dalam diri. Caranya dengan meniti ke dalam diri........ Pesan para leluhur bahwa kita di dunia hanya sebatas mampir minum, atau sebagai tamu, atau sebagai pemelihara sawah bukan berarti manusia harus hidup dalam kemiskinan, tanpa keluarga. Titik beratnya adalah “ketidakterikatan”. Sri Krishna adalah seorang raja yang kaya, berpakaian indah gemerlapan, istrinya banyak, akan tetapi dia tidak terikat dengan wujud semua kebendaan tersebut. Hartanya digunakan untuk Dharma. Hasrat semangatnya digunakan untuk mencapai Kebenaran Sejati. Manusia yang menggunakan “mind” menggunakan hasrat semangatnya untuk mencari harta, dan melupakan Dharma serta melupakan Kebenaran Sejati.

Sang Isteri: Terima kasih suamiku, jadi Guru Atisha menganjurkan perubahan orientasi – dari “mind”, pikiran ke rasa. Pengalihan orientasi dari pikiran ke rasa membuat seseorang lebih lembut, lebih peka, lebih reseptif, lebih halus, lebih cair..... Walaupun demikian, perubahan saja tidak cukup. Seseorang harus bisa mempertahankan perubahan itu. Apa gunanya perubahan yang bersifat sesaat, sementara. “Mind” yang kita punyai ini bukanlah ciptaan kita akan tetapi ciptaan masyarakat. Ciptaan orang tua, pengajar di sekolah, lembaga agama, peraturan pemerintah, kondisi sosial ekonomi politik serta budaya setempat. Itulah sebab terjadinya konflik antara rasa dan pikiran. Antara suara nurani dan “mind”. Setelah kita dapat membuang pola “mind” lama dan membentuk “mind” baru yang berkesadaran maka terjadilah kelahiran baru, kelahiran kesucian dalam diri.

Sang Suami: Guru Atisha mulai dengan tiga asumsi awal, yaitu: Pertama – Adanya Kebenaran. Kedua – Mind menghalangi penglihatan kita. Ketiga – Mind bisa dilampaui. Inilah hal-hal mendasar – preliminaries – yang harus kita pelajari terlebih dahulu. Guru Atisha menganjurkan agar kita menyadari bahwa kesadaran belum tumbuh dalam diri kita. Kesadaran masih merupakan potensi yang terkembang. Kita berpotensi jadi Buddha, mencapai kesadaran Kristus, tetapi belum menjadi, belum mencapai. Dan kita harus menyadari hal itu. Yang membuat kita melekat dengan badan kasar, yang membuat kita masih hidup adalah “mind”. Yang membuat kita gelisah pun juga “mind”. Kita perlu berusaha memahami “mind” dengan penuh kesadaran. Membebaskan diri dari mind dengan membuat ketiga pekerjaannya sebagai tiga landasan kebijakan. Suka – sukailah kesadaran. Tidak suka – tidak sukailah ketidaksadaran. Cuek – cueklah terhadap yang menghujat dan menyepelekan kita.

Sang Isteri: Guru telah memberikan ciri-ciri seorang pengikut Gusti Yesus. Pertama, mereka berjiwa tulus, polos lugu seperti “anak kecil”. Kedua, ia yang sadar bahwa dunia ini bukan “milik”-nya. Ia tidak terikat dengan “dunia benda”. Ketiga, seorang pengikut siap menghadapi kematian “raga” kapan saja.

Sang Suami: Guru Atisha menyampaikan agar jangan lupa tujuan manusia berada di atas “panggung” sandiwara kehidupan yaitu untuk menghibur. Inilah "kesadaran". Aku berlindung pada "Kesadaran Murni". Jangan lupa peranmu, lakonmu, "dharma"-mu. Bermainlah sesuai dengan peran yang diberikan padamu. Aku akan selalu mematuhi dharma, peran yang diberikan padaku. Jangan lupa bahwa kau berada di sini untuk menghibur diri dan menghibur orang lain, bukan untuk menyusahkan orang. Mencelakakan orang. Aku selalu memikirkan "sangha", komunitas, masyarakat, bangsa.

Sang Isteri: Inilah maksud ayat yang kubaca di buku tulisan Guru. Kehadiran seorang Guru dalam hidup kita membuktikan bahwa waktu panen kesadaran sudah tiba. Celakanya kita tidak sadar bahwa sesungguhnya kita sudah siap. Seperti orang yang kebingungan, kita masih membuang-buang waktu. Masih lihat kiri-kanan, entah apa yang sedang kita cari. Sampai Guru gregetan, Mana aritmu? Cepat-cepat dipotong dong! Kalau tidak cepat-cepat dipotong, padi kita akan dimakan hama ketidaksadaran: burung, tikus, pencuri, banjir, atau mafia rekayasa. Upaya kita selama bertahun-tahun akan sia-sia.

Sang Suami: Dan Guru Atisha belajar pada Guru Besar Dharmakirti Svarnadvippi dari Sriwijaya. Kemudian Guru Atisha menyebarkannya di Tibet. Ajarannya yang terkenal adalah meditasi “Tong-Len” atau “Terima-Kasih”. Nenek Moyang kita akan “Menerima” segala apa pun yang diberikan kepada mereka dan mereka akan mengembalikannya dengan “Kasih”. Sudah waktunya ajaran Buddhi ini menyebar ke seluruh Nusantara. Apa pun agama yang kita anut, kita warnai keyakinan kita, kepercayaan kita dengan “Kesadaran”.

Situs artikel terkait
http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/
http://triwidodo.wordpress.com
http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo
April, 2010.
Written about an hour ago · Comment · LikeUnlike
6 people like this.
Triwidodo Djokorahardjo
Triwidodo Djokorahardjo
Terima Kasih Pak Frans, Terima Kasih Mas Arief Rahman.
Salam! ... __/\__ ...
5 minutes ago
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Yulden Erwin
Terima Kasih...... LOVE
5 minutes ago
Write a comment...
Dzikir... oh Dzikir.......
Share
by Vicky Robiyanto (notes) Today at 2:32pm
Dzikirlah yang kami amalkan....
Hati kami jadi tenang...
Walau dimusuhi oleh setan....
Hati kami takkan goncang...

Maha Agunglah Asma-Nya.....
Maha besarlah kasih Nya...
Ahli dzikir kepada-Nya....
Paling dicinta oleh Dia....

Mati dalam husnul khotimah...
Harapan insan beriman...
Banyak-banyaklah dzikirullah...
Agar tetap dalam iman...

Tanda orang cinta Allah...
Cinta kepada dzikirullah...
Siang dan malam dzikirullah....
Allah...Allah...Allah...Allah......
Tiada henti dan terputus....
Hanyut dalam cinta-Nya....

Assalamu'alaikum

Dipandang dari segi sains (pengetahuan lintas sekte-sekte aliran dalam tasawuf Islam, dzikir dinilai sebagai salah satu metode khas Islam untuk mencapai suasana tertentu dalam perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.

Secara umum, dzikir dilakukan dengan berulang-ulang mengucapkan salah satu dari: Allah atau salah satu dari Asma'ul husna, la illaha ilallah, la haula wa la quwwata illa billah, surat-surat pendek dari al-Qur'an dll. Semuanya bernuansa sama, yaitu mengingat Allah dengan segala Sifat-sifat-Nya. Pengucapan dilakukan dengan suara keras, atau hanya di dalam hati. Sambil mengulang-ulang dzikir itu, orang ada yang duduk tenang bersila dalam posisi (postur) tertentu, dengan atau tanpa disertai pengaturan napas. Ada kalanya, dzikir dilakukan dengan gerakan anggota tubuh tertentu, bahkan dengan gerakan-gerakan bela-diri, atau tarian dan musik [dilakukan oleh beberapa aliran sufi di Mesir dan Turki]. Pemusatan pikiran sangat diperlukan dalam dzikir.

Saya dapat menceritakan lebih banyak keragaman cara dzikir, tetapi yang saya maksud disini ialah sekedar membeberkan adanya keragaman yang tak terhitung, jangan sampai di antara kita ada fanatisme bahwa hanya ada satu cara yang baik. Seorang mursyid bisa saja menerapkan metode yang berbeda pada murid yang berlainan. Ini adalah karena tiap orang itu spesifik; bagi orang tertentu, baginya ada metode yang lebih cocok. Nabi sendiri mengajarkan dzikir dengan suara keras kepada sebagian sahabatnya, dan dzikir tak bersuara kepada sahabat lainnya.

Fungsi dzikir adalah untuk memusatkan perhatian kepada satu hal saja, yaitu keberadaan Allah. Pemikiran atau bayangan-bayangan selain Allah harus dihilangkan. Dilakukannya perbuatan lain selain pengucapan, adalah sekedar untuk membantu pemusatan (penyatuan dengan dzikir), hingga pada akhirnya kita dapat mencapai keadaan ekstasi. Dalam keadaan ini, panca-indera kita mati beberapa saat, dan kita mulai dapat "melihat" kebenaran dari Allah.

Dzikir berfungsi pula sebagai genderang peringatan yang selalu ditabuh keras-keras di dalam hati, agar ketika kita memasuki ekstasi, kita tidak tersasar atau salah masuk. Dzikrullah menuntun hati agar tidak terlepas dari jalur menuju Allah.

Dzikrullah perlu dijadikan kebiasaan. kalau kita melakukannya di setiap saat, ketika berdiri, berjalan, duduk, tidur (!), ketika bekerja, ketika istirahat, ketika makan, minum dll. Jika kita membiasakannya, dzikir itu akan terus berlangsung dengan sendirinya meskipun kita tidak menyadarinya. Tetapi itu semua hanya sekedar hasil olah pikir dari pengalaman dan bacaan. Benar-tidaknya, wallahu a'lam bish shawab.

Ku terlena dalam dekapan cinta....
Ku hembus nafas ku pelan-pelan...
Tuk mengungkap keagungan dan keindahan-Mu...
Darah mendidih...
Badanku gemetar...
Ketika Kalimat-Mu dilanturkan...
Sang penguasa cipta....
Aku tak dapat mambandung lautan kebahagiiaan...
Air mataku terus mengalir...
Bersama kalimah-Mu...
Cintaku hanya untuk-Mu...
Cintaku abadi pada-Mu..
Ku tinggalkan segala hawa nafsuku...
Untuk menembus tabir-tabir kasih-Mu...
Dzikir yang selalu menyelimuti jiwaku...
Dapatkah aku meraih cinta-Mu...
Dengan lumuran dosa - dosaku...
Dapatkah aku berdzikir tuk menjadi kekasih-Mu...
Dengan tanganku yang kotor....
Dapatka aku melihat keagungan-Mu...
Dengan kedua mataku yang penuh kemaksiatan...