Lato-Lato atau Letto

 Lato-Lato atau Letto


Siang itu rumah kami rusuh. Keponakan-keponakan yang datang dari berbagai kota, Semarang dan Jakarta, berkumpul semuanya. Yang bikin ramai bukan saja suara mereka yang melengking, menjerit dan saling bersahut-sahutan, tetapi juga suara mainan yang berdentang-dentang. 

Tadinya aku nggak begitu sadar dengan mainan yang mereka bawa ini sedang tren. Kupikir mereka, seperti biasanya, saling  iri dan pengin memiliki mainan yang juga dipegang saudaranya yang lain. 

Tapi ketika kami keluar rumah untuk mengantar keponakan paling kecil yang juga hendak membeli mainan yang sama, aku baru ngeh alias sadar ternyata mainan ini lagi dipegang semua anak kecil di pelataran masjid agung (tempat wisata dekat rumah kami). 

Lah lah. 

Keponakanku yang paling besar (sudah mau kuliah tahun ini) menceritakan tren mainan lato-lato tersebut. Owalaaaah.. then bisa ditebak, begitu disebut sebagai tren, aku langsung terpancing untuk juga memainkannya, hadeeeeuhh..

Keesokan harinya adikku yang kemarin malam sudah balik Semarang terpaksa balik lagi ke kota kecil kami untuk mengambil dolanan lato-lato anaknya yang ketinggalan. Wkwkwkwk..

Beberapa hari kemudian ndilalah pas aku mendengarkan ceramah sabrang mowo damar panuluh (anak cak emha ainun nadjib) aka noe vokalis band letto, dia bilang kalau tren lato-lato ini pertanda band letto harus muncul dan berkibar kembali. Eaaaaa 












Posting Komentar

0 Komentar