Traveling Cirebon di sela Konferensi

Traveling Cirebon di sela Konferensi


Alhamdulillah, beberapa waktu lalu akhirnya aku kesampaian menjejakkan kaki ke stasiun Cirebon, setelah selama ini cuma lewat-lewat dan tengok-tengok aja kalau pas perjalanan menuju atau dari jakarta. Tulisanku lolos seleksi dan aku diundang ikut konferensi women writers conference. 


kalau mau baca panel-panelnya, langsung klik list ini:
  1. Musdah Mulia dan Muslimah Reformis
  2. Faqihuddin Abdul Kodir dan Muslimah Reformis
  3. Musriya dan Muslimah Reformis
  4. Husein Muhammad dan Muslimah Reformis
  5. Kajian Gender Islam Nur Rofiah
  6. Participant Reflection
  7. Perempuan dan Pesantren
  8. Merumuskan Hukum Keluarga Adil Gender
  9. Perjalanan Menuju Mubaadalah
  10. Writing Session
  11. HAM Internasional untuk Penguatan Isu-Isu Perempuan

Naik kereta pagi hari bakda subuh, aku membutuhkan tiga jam perjalanan menuju kota yang sarat dengan sejarah dan keunikan budaya serta adatnya ini. 

Dari stasiun aku berjalan kaki menuju penginapan yang memang berada di tengah kota. Karena lapar, aku makan nasi khas Cirebon di dekat penginapan. Setelah itu jalan-jalan ke Masjid taqwa, ke Grage Mall lihat Gramedianya dan ke PGC Pusat Grosir Cirebon untuk beli oleh-oleh. Lho baru datang kok beli oleh-oleh? Soalnya khawatir kalau pas pulangnya nggak sempat beli. 

Besok harinya bareng teman sekamarku, Winda Dosen Universitas di Malang, kami jalan--jalan menyusuri kota Cirebon setelah sarapan nasi jamblang. 

Pagi-pagi tentu saja Pasar Cirebon sudah ramai. Letaknya di ujung Pecinan. Ya kayak di kota-kota lain juga ya ternyata. Oh ya, aku gak sempat foto di alun-alu cirebon soalnya lagi direnovasi, jadi dipagari dengan seng-seng tinggi. Ufh, my loss ya. Semoga kapan-kapan bisa ke Cirebon lagi karena masih ada Goa dan Pantai yang belum sempat kukunjungi. 


Cakep banget lho, Meskipun pasar tradisional, tetapi lumayan bersih dan teratur kok. Sebagian percakapannya juga pakai bahasa Jawa. Mungkin karena berada antara Jawa dan Sunda. 


Setelah beli beberapa buah-buahan dan air mineral, kami lanjut ke keraton Cirebon Kaneman. Letaknya dekat pasar Cirebon. jadi belok kiri memasuki gerbang putih besar itu terus jalan sampai ketemu kompleks bangunan dengan warna dominan putih di bagian depannya ini. 


Aku dan Winda saling gantian memotret. Itulah enaknya kalau jalan ada temannya. Meski kalau lagi jalan sendiri, aku biasanya tidak kurang akal dan cara. Cukup taruh botol air mineral di depanku dengan jarak yang cukup, lalu taruh handphone dengan cara terbalik di sana alias siap untuk pose selfie, dan atur settingan timer nya, 10 detik misalnya. jadi begitu mencet klik motret, aku sempat lari menempatkan diri untuk berpose. 
Gitcccchuuu..... (eh buka rahasia nih)

Keraton Kaneman agak serem tampilan dan auranya hehe. Itu kata Winda sih. Soalnya dia memang sensitif banget dnegan hal-hal begituan katanya. 



Dan oh oh, aku semakin sadar bahwa ternyata kok nduts banget ya diriku. Hiks hiks, Nekat nih makan-makan terus gak pernah diet dan jarang olah raga sih. 

Dari keraton kaneman, kami jalan kaki lagi ke keraton Kasepuhan. Cukup melintasi gang-gang dalam pasar, lalu belok  kanan dan lanjut terus sampai ketemu kompleks keraton yang dominan dengan warna serta material merah bata ini. 

Ya walaupun aku bilangnya dekat tapi sebenarnya lumayan lho. Pulang pergi perjalanan kami pagi itu ssekitar sepuluh kilo meter an lah. Uhuuy.... Tapi kami memang demen jalan kaki. Aku sembari nostalgia jalan kaki menyusuri Netherland Juni lalu, dan Winda nostalgia jalan kaki semasa perjalanannya ke Norwegia beberapa tahun lalu. Cocok tho kami berdua. hehehe...



Di depan masjid Ciptaning rasa, kami juga berpose. Tapii gak sempat masuk, karena masih tertutup. 
Masjid ini tempat nikahannya artis sepuh dengan sastrawan sepuh waktu itu lho, yang bikin baper orang-orang termasuk diriku, uh ternyata walaupun sudah tuwir tetap bisa menikah lagi lhooooo.... 
(Mauuuuu... *halagh :D)

Kami sampai di keraton Kasepuhan dalam keadaan sangat berkeringat. Bedak dan lisptikku juga sudah luntur kayaknya selagi memasuki gang-gang pasar yang tentu saja bau keringat, ikan asin, aneka jajan, gorengan dan mau tidak mau sampah pasar juga.  Hehehe


Alhamdulillah selama di keraton Kasepuhan ada guide tour yang mengantar kami berkeliling dan menceritakan secara lengkap sejarah keraton Cirebon, menunjukkan benda-benda bersejarah berikut kisah-kisah di baliknya. 

Meski berusaha foto di banyak spot, tentu saja masih ada yang terlewat ya kan. Karena kami gak mau sampai kesiangan juga untuk sampai di arena konferensi. 


Selain ada masjid Ciptaning rasa di dekat alun-alun atau lapangan besar depan keraton, ternyata ada juga surau atau langgar atau musholla yang ada di dalam kompleks yang lebih dalam. 


Di seberang surau tersebut, beridir bangunan museum pusaka keraton kasepuhan. Arsitekturnya menurutku justru menyesuaikan dengan bangunan yang sudah ada di keraton kaneman, selain tentu saja terinspirasi beberapa artefak dan tetenger yang ada di kompleks keraton kasepuhan ini. 

Gerbang putih ini antara lain bangunan yang sudah ada duluan dan menginspirasi bangunan tambahan di kompleks.  Khas banget khan. Cirebon sekali. Mega mendung ini yang jadi inspirasi kain batik trusmi khas Cirebon. 





Alhamdulillah kami juga dipertemukan dengan Pangeran Heri, keturunan dari Sultan Cirebon Raden Fatahillah. Masih muda. Wajahnya putih bercahaya, tuturnya sangat lembut dan bijaksana. Aku tak kuasa menahan air mataku saat mendengarkan wejangannya. 

Pulang dari Keraton, kami mampir makan Docang dekat pasar. 


Sore setelah konferensi, kami pergi ke batik Trusmi untuk belanja oleh-oleh lagi, Hehehe.


0 Comments:

Posting Komentar