Menghirup Cuko di Bumi Sriwijaya

Menghirup Cuko di Bumi Sriwijaya



Palembang, Sungai Musi dan Jembatan Ampera sudah menjadi obsesiku sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Karena menjadi ketua kelas 1.1 di SMA Negeri 1 Demak, tahu-tahu sebuah surat diantar tukang pos kepadaku. Dari seorang gadis tak dikenal yang tinggal dan sekolah di SMA Palembang. Dia menyampaikan rasa kagum dan penasarannya kepada Demak, sebab punya pertalian erat dengan Palembang, sehingga berkirim surat asal saja ditujukan pada ketua kelas 1.1 SMAN 1 Demak. Begitulah awal ceritanya. 

Kami bersahabat pena selama bertahun-tahun tanpa pernah berjumpa. Hingga suatu waktu di akhir masa SMA, tiba-tiba dia datang ke Demak tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Padahal aku sedang berada di Solo karena liburan sekolah. Dus, dia tinggal dan menginap di rumah Demak bersama ayah ibuku. Lalu pergi ke Surabaya tanpa sempat berjumpa darat denganku. Sampai sekarang. 

Oleh-oleh darinya berupa empek-empek dan kemplang menjadi kenangan yang tertinggal. Sejak itulah aku cinta banget dan kecanduan empek-empek. Sampai sekarang. 

Sejak itu pula obsesiku ingin mengunjungi Palembang mulai terbangun. Apalagi Eci, nama gadis itu, banyak menceritakan tentang Musi, Jembatan Ampera dan sejarah Palembang lewat puluhan surat yang dia kirim via pos. 





Obsesiku terhadap Palembang makin menjadi-jadi ketika aku bersua dengan Rizaldisandi vokalis Band Armada.  Kebersahajaannya memikatku. Wong kito galo ternyata punya adab, perilaku, sopan santun juga punya nilai-nilai yang sangat agung. Aku merekamnya dalam sebuah novel berjudul Man Behind The Microphone.
Pertama kali jumpa di event Bedug Asyik Demak saat aku liputan dan band Armada mengisi acara. Aku membawakannya beberapa buku karyaku, di antaranya novel Sarvatraesa Sang Petualang yang dia pegang saat foto bareng. 



Perjumpaan kedua di Medan, karena hotelku berseberangan dengan hotelnya. Aku sedang dalam tugas dari penerbit Erlangga untuk roadshow buku terbaruku saat itu-Socioteenpreneur- ke beberapa kampus dan sekolah di Medan. Dan band Armada sedang dalam tugas juga mengisi acara kondangan di kota yang sama. 

Karena itulah ketika mendapat kabar bahwa aku ikut terpilih dalam undangan Dinas Pariwisata untuk ikutan Palembang Famtrip, rasanya senang sekali. Subhanallah Alhamdulillah. Meski sempat dilema, karena salah satu harinya bertepatan dengan acara Haul Raden Fattah di Demak tanggal 6 Februari 2020. Tapi kumantapkan hati untuk tetap berangkat. 

Kuniatkan perjalananku ke Bumi Sriwijaya ini untuk napak tilas Raden Fatah juga. Karena ibunya-Putri Campa dari China- yang waktu itu hamil Raden Fatah, diungsikan oleh suaminya (Prabu Brawijaya V, Raja terakhir Majapahit) ke Palembang. Sehingga dari masih dalam kandungan, saat lahir, masa kecil hingga remajanya, Raden Fattah tinggal di Palembang. Baru setelah remaja, dia dan saudaranya pergi ke Jawa untuk belajar dan mengaji pada Sunan Ampel, lalu menemui sang ayah. Kemudian baru mendapat pemberian tanah Pardikan Bintoro Demak di mana Raden Fatah membangun kerajaan Islam pertama di Jawa. 

Ternyata keputusanku tidak salah. Konspirasi semesta mewujudkan impianku. Aku mendapatkan perjalanan napak tilas itu, menghirup cuko langsung di tanah kelahirannya, dan akhirnya memahami dari manakah Rizal Armada mendapatkan inspirasi dan genetik seni serta kreativitasnya berikut nilai-nilai agung yang senantiasa menemani perjalanan hidup wong kito galo ini. 

Subhanallah alhamdulillah, sujud syukur untuk semua anugerah dan karunia ini. Juga terimo kasih buat Dinas Pariwisata Palembang, para panitia Famtrip, mbak Atik dan Pak Latif Super Guide Tour yang berhasil ngomporin untuk baca dan banyak belajar lagi tentang sejarah. 


Ada tujuh puluh lima destinasi wisata di Palembang, lima belas di antaranya merupakan destinasi utama yang sayang kalau sampai dilewatkan. Kami berkesempatan untuk mengunjungi banyak sekali destinasi, kebanyakan merupakan destinasi utama wisata Palembang. Detailnya akan aku ceritakan dalam beberapa postingan blog ya. Dari sudut pandang arsitektur, bisa diintip di hasfa.co.id.  Cerita geliat enterpreneurnya bisa dilihat di hybridwriterpreneur.com Napak tilas spiritual dan kontemplasinya bisa diserap via dian-nafi.com Sedangkan liputan event dan jurnalnya bisa dilacak di demagz.web.id

Dalam postingan kali ini kubagikan secara garis besarnya saja, supaya gak lama-lama penasarannya ya kan.

HARI PERTAMA

HOTEL EMILIA PALEMBANG


Berkah lain yang juga merupakan surprise adalah ternyata aku sekamar dengan mbak Milda asal Bengkulu. Kami kenal lama via dunia maya karena sama-sama penulis dan blogger, pernah jumpa darat di Jogja tahun 2016 saat sama-sama jadi mombassador salah satu brand nutrisi anak. 

Bersama dua puluh lima blogger, vlogger dan awak media lainnya, kami menginap di hotel Emilia dari hari Rabu sampai Sabtu, tanggal lima sampai delapan Februari 2020. Lokasinya di tengah kota, sehingga mudah kalau mau ke mana-mana. 


Siang itu kami berkumpul di lobby hotel untuk memulai Palembang FamTrip 2020.
Let's explore charming Palembang.

Gambar Di dalam bis menuju destinasi, tour guide kami yang simpatik dan kebapakan-Pak Latif- menjelaskan bahwa Palembang sudah berusia 355 tahun. Tanggal 16 juni 688 Masehi prasastinya, menjadikan Palembang sebagai kota tertua di Indonesia. Berasal dari kata Pa yang artinya keadaan, dan kata lemba, yang artinya tanah yang dihanyutkan air ke tepi. Sebab Palembang ini berada delapan meter di atas permukaan laut. Ada 1,7 juta penduduknya. Terbesar kedua setelah Medan. Luasnya sekitar 450 km2. 60%nya terdiri air. Wow.


Pak Latif menjelaskan sejarah serta perkembangan setiap jalan dan kawasan yang kami lalui dalam FamTrip ini, sehingga kami lebih dekat dan akrab dengan Palembang. Seperti penjelasannya bahwa pada tahun 1970 an, Pekan olahraga mahasiswa ke 9 diselenggarakan sehingga kemudian dibuat jalan-jalan dan bangunan-bangunan yang kawasannya dikenal sebagai kampung kampus. Stadion bumi sriwijaya jadi peninggalannya. Juga rencana tentang Sungai sekana, anak sungai musi, yang akan direstorasi seperti pada masa lalu. Aku langsung membayangkan sungai-sungai itu bisa dilalui perahu-perahu kecil macam yang kunaiki saat di Leiden Belanda Juni 2019 lalu. Waaah, pasti Palembang tambah asyik dan menyenangkan lagi.


Ada 16 bahasa daerah di 16 daerah berbeda di Sumatera Selatan. Wow, betapa kayanya wong Palembang nih. Bahasa jabo punya kosa kata sama dengan bahasa Jawa. Pak Latif memeragakan beberapa bahasa Palembang yang ciri khasnya terutama akhiran kata menggunakan bunyi 'o'.

Tak terasa kami sampai ke Resto Kapal Selam untuk makan siang bersama seluruh peserta Famtrip dan para pejabat Dinas Pariwisata Palembang.


Gambar
Kami menyaksikan langsung cara pembuatan empek-empek di ruangan pertama kita masuk ke restoran ini. Empek-empek kapal selam yang benar versi Palembang berisi telur mentah yang dimasukkan ke dalam adonan. Sagu, ikan, telurmya dipecah masuk baru dimasak. Kalau yang telurnya matang, seperti sebagian yang kita temukan di Jawa, berarti bukan wong Palembang yang membuatnya.


Resto Kapal Selam ini termasuk yang paling tua, dari tahun 1970 an. Ikan putaw, ikan belido, ikan sungai sebagai bahan dasar empek-empek kapal selem. Cukonya sangat spesial. Suasana interior restonya sangat Palembang. Dengan background kain-kain songket. Seluruh kayunya berasal dari bongkaran satu kapal, supaya mendapatkan ruhnya.

Siang ini kami dijamu dengan Nasi asgaf yang berasal dari olahan para keturunan hadrommaut Yaman. Di Palembang memang ada kampung-kampung arab. Selain asgaf, ada juga kampung munawar.
bagian depan resto Kapal Selam menjadi semacam museum mini -layaknya resto-resto di Eropa yang punya museum kecil-
yang menyajikan buku-buku sejarah Palembang dan budayanya,  juga  pojok pamer kain songket kebanggaan Palembang. 

Kalau empek-empek awalnya dari kisah ini. Orang-orang Cina punya adat dan kebiasaan menjual makanan yang disukai penduduk lokal. Nah, ada laki-laki Cina tua -disebutnya apek- yang menjual penganan ini di atas sungai Musi. Orang-orang yang pengin membeli lalu meneriakinya, Pek pek, sini, sini, kami mau beli. Jadilah namanya menjadi empek-empek. Padahal konon nama awalnya adalah kelasan. Aslinya sih pakai arak Namun karena arak haram bagi muslim, maka arak diganti dengan cuka putih. Seberang hulu sungai Musi, sampai sekarang masih banyak keturunan Cina. Empek-empek yang enak berasal dari sana. Pak Faisal, owner resto kapal selam inipun matanya sipit dan kulitnya terang. Bisnis utama sebenarnya adalah properti. Resto ini merupakan passion yang dia geluti sembari menjaga tradisi dan kekayaan leluhur Palembang yang sangat keluarganya junjung tinggi. Sepupunya yang juga pengusaha properti, menyediakan salah satu rumah limasnya untuk menjadi destinasi wisata budaya dan arsitektur lokal bagi pengunjung umum. Kami pun sempat mengunjunginya pada FamTrip ini di hari kedua.
Ikan gabus dicampur ikan putak -spesies ikan lido yang kecil- menjadi bahan utama empek-empek di resto Kapal Selam ini. Harganya Rp 5500 per biji kecil. Ada juga yang namanya model, seperti empek-empek tahu dengan kuah sup bening. Kuah bening terinspirasi dari cina, yang biasanya ditambah jamur. Ada juga jenis kuliner bernama Celimpungan, empek-empek dengan kuah bersantan, versi arabnya.
Legendanya bercerita bahwa pada masa itu Raja Sriwijaya menyuruh rakyat menanam saba, sagu. Dan karena kerajaan madagaskar perlu makanan yang tahan lama, maka dibuatlah adonan empek-empek ini. Makanan yang bisa bertahan lama bahkan sampai satu tahun. Tinggal rendam dengan air, kocok dengan telur, jadilah lenggang. Kapal-kapal Sriwijaya membawa makanan-makanan itu.

Kekumbu menjadi salah satu dessert alias snack yang menemani makan siang kali ini. Berbahan dasar kacang merah, rasanya lezat sekali.

Gambar



HOTEL DAN RESORT NOVOTEL PALEMBANG





Kunjungan berikutnya ke hotel Novotel Palembang, yang mengingatkanku saat Kuliah Kerja Lapangan ke Novotel Surabaya semasa kuliah di Arsitektur Undip. Konsepnya sama, Novotel berorientasi lanscap, sehingga banyak sekali ruang terbuka, taman, pepohonan, jogging track dan lahan-lahan yang nyaman serta leluasa untuk berjalan kaki menikmati kawasan resort dan hotel yang sangat artistik.




Gambar
Kami menelusuri ruang demi ruang, baik unit hunian dari Junior Deluxe, Family Room juga Penthousenya yang pernah ditinggali pak Presiden Jokowi semasa kunjungan ke Palembang, hingga ke public space macam ballroom untuk ribuan audience, kolam renang hingga fasilitas SPA-nya. 


Gambar

LAMONDE PALEMBANG



Siang itu kami juga sempat mampir ke Lamonde Palembang milik artis Irwansyah untuk beli jajanan oleh-oleh kito. 



KEDAI TIGA NYONYA
Malamnya kami pergi welcoming dinner di Kedai Tiga Nyonya sekaligus menikmati tarian Palembang sebagai bagian acara pembukaan. 

Lantai atas kedai tiga nyonya ini bikin terpesona. Luas banget ruangannya.  Ada banyak set meja kursi di setiap sudutnya. Juga bermacam hiasan pecah belah serta kristal dengan berbagai bentuk. Membuat kita musti ekstra hati-hati saat jalan-jalan menikmatinya. Most of all, very beautiful place with great architecture. Interiornya sangat menawan. Kami sampai terpana menikmati seluruh detailnya. Rasanya tak cukup sebentar berada di sana.




Kedai tiga nyonya ini berada di kawasan elit Palembang. Jadi ceritanya dulu saat tambang minyak hadir di sekitar Palembang dan makin banyak orang eropa datang, maka kemudian dibuat perumahan yang mirip menteng Jakarta. Kawasannya bernama Kambang iwak, tempat banyak anak muda hangout.

Kedai Tiga Nyonya sendiri berarti ada tiga resep masakan di kedai ini. Masakan Cina, masakan Eropa dan masakan Melayu.

HARI KEDUA

Pagi-pagi sekali kami naik bis dari Hotel Emilia pergi ke pelabuhan BKB, kependekan dari Benteng Kuto Besak. Benteng kuto besak merupakan salah satu wisata andalan Palembang. Dibangun pada jaman sultan badarudin jayawikromo. Luasnya 300 meter persegi. Ketinggian dinding 10 meter. Lebar dinding 2 meter. Namanya asli Indonesia, tidak dalam bahasa Belanda seperti nama-nama benteng di berbagai kota di Indonesia.

BENTENG KUTO BESAK

Gambar

Benteng kuto besak. Yang bagian belakang lebih tinggi. Artinya sultan didukung rakyat. Bahan batu batanya direkatkan dengan batu kapur dan putih telur sehingga awet sampai sekarang. Padahal tanah rawa-rawa, tapi sampai sekarang belum turun atau ambles. Hebat memang nenek moyang kita ya.



Di pelabuhan BKB inilah untuk pertama kalinya kami makin dekat dengan JEMBATAN AMPERA! Whoaaaa!!



BERLAYAR DI SUNGAI MUSI

Dari pelabuhan kami naik perahu, dinakhodai seorang serang,  berlayar menyusuri sungai Musi menuju destinasi-destinasi wisata yang ada di seberang tempat kami tinggal. Sebagian ada di ulu dan sebagian ada di ilir. Semua akses dari sungai Musi yang mempunyai kedalaman 17 meter. Kecepatan arus 700km/jam. Panjang sungai Musi 750 km. Lebarnya 400m-1000m.






Cruising dengan bus air kami tidak memakai life jacket lho. Nekat bangeeet. Hahaha jadi ingat waktu menyeberang ke Karimun Jawa dan kami dimarahi polisi air karena tidak memakai pelampung yang telah disediakan. Gelombang sungai Musi tidak sampai 50 cm, dan gelombang terjadi paling kalau pas ada tongkang dan boat lewat saja. Perahu mendarat ke dermaga batu ampar. Karena banyak batu terhampar. Legendanya ada seorang anak laki yang membangkang pada ibunya, dan kemudian dia dikutuk menjadi batu. Seperti Legenda Maling Kundang itulah.

Dari dermaga, kami berjalan menuju kawasan makam kawah tekurep. Ciri khas atap bangunan makamnya adalah dome yang bentuknya seperti kawah tekurep. Tengkurep kalau bahasa Jawanya. Makna filosofisnya adalah manusia harus senantiasa menundukkan dirinya di hadapan sang Maha Kuasa, karena dia akan kembali padaNya dalam keadaan tak membawa materi apapun.


KAWAH TEKUREP



Selanjutnya sepanjang hari itu kami ziarah dari makam ke makam, masjid ke masjid. Subhanallah Alhamdulillah Allahu Akbar. Semoga tambah berkah hidup kita. Aamin

MAKAM SULTAN MAHMUD BADARUDDIN




MAKAM SULTAN MAHMUD DAN 4 ISTRINYA


Sultan Mahmud Badaruddin Joyowikromo mempunyai 4 istri. Yang pertama dari Demak. Yang kedua dari Malaysia. Yang ketiga dari Cina. Dan yang keempat dari Palembang.
Sejak dari makam inilah, aku dan mbak Ili, peserta dari Malaysia, jadi tambah akrab. Hahaha....



Gambar
Ratu sepuh, istri pertama Sultan Mahmud Badaruddin I, dari Demak

Kerajaan Palembang punya panglima yang orang cina, penasihatnya orang arab, sultan/rajanya melayu/palembang yang merupakan keturunan Rasulullah. Sultan Mahmud Badaruddin adalah keturunan Rasulullah ke-35.

Gambar
Di berbagai makam itu selalu ditampilkan silsilah raja-raja Palembang. Yang benar-benar erat kaitannya dengan Kerajaan Demak. Subhanallah. Benar-benar napak tilas Raden Fatah perjalananku di Palembang ini. Sebuah konspirasi semesta dengan ijin Allah. 
GambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambar

MAKAM SABO KINGKING 


Berfoto bareng dua peserta asal Malaysia dan peserta dari Bengkulu di depan kawasan makam Sabo Kingking


Awalnya gelar di Palembang adalah ki ki, lalu susuhunan, baru setelah ratusan tahun barulah sultan-sultan. Kawasan Makam Saba Kingking merupakan tempat dimakamkannya raja-raja awal Palembang.

Gambar


MAKAM KI GEDE ING SURO


Gambar
Komplek makam ki ageng suro dengan lambang jipang dari Demak di salah satu bloknya. Foto drone by Ivan yg mirip sulungnya cakamadku

STEMPEL JIPANG DARI KERAJAAN DEMAK

Gambar
Dan yang paling bikin histeris adalah saat kami akhirnya menemukan stempel Jipang, Lambamg kerajaan Demak yang dibawa ke Palembang. Ada di dinding salah satu blok makam di kawasan Makam Ki Gede Ing Suro.


Terdapat 9 makam auliya keturunan Demak dengan lambang jipang di tepi-tepi blok makamnya di kawasan makam ki ageng gede suro ini.


Sultan-sultan dan raja-raja Palembang ini makamnya berada di tempat yang berbeda-beda, berjauhan. Tidak seperti imogiri jogja yang berada dalam satu kompleks pemakaman. Mungkin karena tiap-tiap penggede Palembang ini mempunyai otonomi daerah dan wilayah kekuasaan serta area dakwah masing-masing. Sehingga tidak overlap. Eaaaa...
Orang-orang mati yang sejatinya tidak mati, bahkan tetap hidup ya seperti para raja dan ulama Palembang yang sholih dan punya banyak jasa bagi umat ini. Semoga kecipratan berkahnya. Amin



KAMPUNG ARAB ALMUNAWWAR

Kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Arab Al Munawwar. 
Saat berada di plaza tengah antara banyak rumah-rumah di kampung arab itu aku terkesima. Teringat saat mengambil video dengan gaya berputar tiga ratus enam puluh derajat dengan latar bangunan-bangunan Eropa di plaza Belgia yang terkenal itu pada Juni 2019 lalu. Lah, ini plazanya juga mirip nih, bisa banget bikin video serupa dengan latar rumah-rumah kampung arab. Dus, jadilah aku shoot dengan gaya sama. 











Senang sekali berada di tempat yang pernah menjadi lokasi shooting film Ada Surga di Rumahmu. Sutradaranya  Aditya Gumay, mengadaptasi novelnya ustadz Ahmad Al Habsyi. Ada Zee zee shahab dan Husein Alattas yang jadi pemainnya. Selepas pulang dari Palembang, aku jadi menonton ulang film ini deh. Hehehe.

WARUNG MBOK WAR MUSI PALEMBANG



Setelah lelah berjalan ziarah dari makam ke makam, kami melepas penat dengan makan siang bersama di warung mbok War, dekat jembatan Ampera.
Kami pun menikmati sajian lezat PINDANG PATIN MBOK WAR. Slruuuppp...

Sayang sekali goyangan perahu mbok Warnya kurang maut. Eaaaa....
Mungkin karena bukan malam hari ya..



Keluar dari kawasan pelabuhan BKB, kita bisa melihat penampakan MUSEUM SULTAN MAHMUD BADARUDDIN dari jauh. Tapi karena waktu yang terbatas, kami tidak berkunjung ke sana. Semoga bisa lain waktu ya. Aamiin.

KAMPUNG KAPITAN
Gambar


Destinasi selanjutnya adalah Kampung Kapitan, kampungnya orang-orang Cina yang semasa kerajaan Sriwijaya dulu dipercaya sebagai panglima dan bergelar Kapitan. Ingat lagu Kapitan yang pedangnya panjang kan. 



Gambar
Photo Kapitan dan dua istrinya.

Ada kisah sedih dari Kampung Kapitan ini. Konon ceritanya sang Kapitan melamar gadis yang dicintai. Tapi orang tua si gadis menolaknya karena dia terlihat hanya membawa bakul berisi sayuran. Ditendanglah bakul itu ke dalam sungai, padahal di bawah sayurannya ada banyak perhiasan emas. Sang pemuda -sadboy- ini terjun ke sungai, diikuti sang gadis kekasih pujaan hatinya, juga sang pengawal. Dari tempat mereka terjun itulah kemudian muncul Pulau Kemaro yang sangat terkenal dan epic dengan kuil viharanya yang tinggi. 


MASJID CHENGHO PALEMBANG

Sore harinya kami ke masjid Chengho yang didirikan sebagai peringatan 600 tahun kedatangan laksamana Chengho ke Palembang.

Pada hari kedua Famtrip ini kami makan malam di Martabak Har yang ada di jalan utama kota Palembang. Untuk bekal berselancar kembali menyusuri Sungai Musi di malam hari menuju puncak acara Cap Go Meh di pulau Kemaro. 



Kami naik kapal pesiar putri Kembang Dadar yang termasuk mewah di Palembang ini. Rencananya dengan pak Walikota, tapi pak Setda yang akhirnya datang mewakili.

Pemandangan Sungai Musi dan Jembatan Ampera pada malam hari semakin indah dan memukau. Aku tak jemu-jemu memandangi dan menikmatinya. 
 Semakin dekat ke pulau Kemaro, kami bisa menyaksikan kerlap-kerlip lampu yang menghiasi perayaan Cap Go Meh malam ini.



PULAU KEMARO

Dan akhirnya kami berhasil mendarat di Pulau Kemaro, menikmati perayaan Cap Go Meh yang meriah dengan kembang api dan petasan-petasannya yang menghiasi langit malam. 

Sempat menikmati teater Cina di Pulau Kemaro juga, yang meski tidak kami pahami bahasanya tapi menarik gaya kostum juga performance dramanya. 

HARI KETIGA
QURAN AKBAR PALEMBANG



Pagi hari ketiga kami berkunjung ke Museum Quran Akbar yang selalu ramai dikunjungi orang-orang dari berbagai daerah, bahkan luar negeri. Suatu malam, ustadz Syofwatillah tertidur dekat musi. Mimpi dan mendapat petunjuk untuk membuat quran akbar. 2002-2009 adalah masa pembuatannya. 177 cm panjang tiap papannya. Ada corak tiongkok dan melayu. Juga stilisasi buah srikaya, pakis bunga teratai, sulur yang menjadi bingkainya. 

Ustadz syofwatillah berasal dari keluarga sederhana. Beliau memimpin Ponpes ihsaniyah selain pernah menjadi anggota legislatif beberapa periode. Rumahnya diwakafkan untuk museum alquran akbar. Rencananya akan dibangun 12 lantai. Sehingga jika kita berbelanja di sini, berarti kita sambil ber-infaq. Produknya ada kopi lahat, safron dr afganistan, air quran, minyak wangi. 50% nya untuk pesantren yatim piatu, dhuafa. 


Ukiran yang pertama dibuat adalah surat alfatihah. Dengan ukuran 177cm, 140cm, 2,5 cm tebal Berat per lembar 50kg

MUSEUM BALAPUTRADEWA



Ada banyak ruangan di kompleks museum Balaputradewa yang menyimpan banyak koleksi benda bersejarah. Satu ruangan khusus untuk memajang kain songket dari berbagai jenis bahan, bentuk model, corak gaya, dari masa ke masa. 



 Dan yang paling istimewa adalah di bagian paling belakang kawasan museum Balaputradewa ini, kami menemukan rumah limas kebanggaan wong Palembang. Gedhe banget dan sangat artistik. Rumah limas inilah yang ada gambarnya di mata uang sepuluh ribu rupiah edisi lama.

Kebetulan tiba-tiba gerimis, sehingga kami akhirnya dibawa masuk ke dalam rumah limas ini oleh penjaganya. Beneran blessing in disguise kan ya. Sehingga kami bisa menikmati detail rumah ini dari jarak lebih dekat dan lebih intim.
Gambar

RUMAH LIMAS AZIZ




Siang hari ketiga ini kami dibawa ke Rumah Limas Aziz yang sempat diceritakan saat kami berkunjung ke resto Kapal Selam. Sepupunya inilah yang punya tekad untuk menjaga dan merawat Rumah Limas agar bisa dinikmati oleh publik, diserap inspirasi serta nilai-nilainya yang penuh makna filosofis.



Beruntung banget hari itu akhirnya kami juga berkesempatan memakai baju adat Palembang yang beraneka warna. Uhuyy serasa gadis Palembang deh. Hahaha..



Usai keliling menikmati dan motret-motret semua sudut Rumah Limas Aziz, kami makan bersama nasi briyani lengkap dengan paket lauk pauknya yang sangat lezat dan nikmat. 





TOKO OLEH-OLEH SONGKET FIKRI COLLECTION


Sebelum pergi ke destinasi berikutnya, kami sempat mampir ke toko oleh-oleh Fikri Collection yang menjual songket dari harga ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah. Waaaah, mahal kan ya. Tapi memang pembuatan songket membutuhkan waktu lama, upaya yang sangat tinggi, ketekunan, kesabaran dan juga kreatifitas seni. 


LAWANG BOROTAN

Lawang Borotan adalah pintu tempat sultan Mahmud Badaruddin keluar saat diungsikan ke batavia dan Ternate oleh VOC. Museum sultan badarudin yang tadinya keraton dibakar penjajah Belanda saat itu untuk menghllangkan jejak nenek moyang Indonesia. Selama dua tahun, tempat ini dibiarkan. Namun sekarang menjadi kantor militer dam sriwijaya. Sudah diminta oleh Dinas Pariwisata, tapi belum diberikan oleh Militer.
.


CAFE LENGGOK




Malamnya kami diskusi bareng Dinas Pariwisata Palembang di Cafe Lenggok. Seru banget karena kami diberi kesempatan untuk memberikan kritik, saran, masukan untuk perbaikan dan pengembangan Pariwisata Palembang selanjutnya.


PASAR DURIAN KOTO


Malam itu diakhiri dengan makan durian bersama di Pasar Durian Kuto. Sampai puas, sampai kenyang, sampai mabuk.



MAKAM ARYO DAMAR DAN ARYO DILLAH
sarapan hari terakhir di Emilia Palembang

Pagi-pagi banget setelah sarapan di hotel Emilia, aku jalan ziarah ke Makam Aryo Damar dan Aryo Dillah untuk menggenapi napak tilasku atas perjalanan hidup masa kecil sampai remajanya Raden Fattah. Dan rasa haruku membuncah. Subhanallah Alhamdulillah Allahu Akbar.

Aku ingat ungkapan wong Palembang yang disampaikan lewat pak Latif kemarin, bahwa wong Jowo sekewed, curang, karena tidak menuliskan sejarah kontribusi sumbangan masyarakat Palembang dalam sejarah orang-orang Jawa. Seolah disembunyikan. Dan memang benar sih, banyak orang bahkan termasuk adik-adikku tidak tahu sejarah Raden Fatah semasa kecil ini. Padahal notabene kami tinggal bersebelahan dengan masjid Agung dan makam Raden Fatah.

Hari ini kubayar stigma itu dengan menjelaskan kepada lebih banyak orang lagi, bagaimana sebenarnya sejarah Raden Fattah dan keterikatannya dengan Palembang yang indah, ramah, memesona dan penuh nilai-nilai filosofis yang bermakna.

Sudah kusampaikan pula -pada Takmir Masjid Agung Demak- keinginan para kuncen Palembang agar diundang ke peringatan Haul Raden Fatah tahun depan, karena mereka tidak diundang tahun ini dan sebelumnya.




MASJID SULTAN MAHMUD BADARUDDIN
 Kututup perjalananku selama di Palembang dengan mengunjungi Masjid Agung Palembang. Masjid Sultan Mahmud Badaruddin yang bukan hanya penguasa tetapi juga seorang alim ulama yang mengayomi rakyatnya yang beragam. Bahkan barokahnya meluber dengan menikahi empat istri dari ras yang berbeda-beda, Demak Jawa, Melayu Malaysia, China dan pribumi Palembang. Subhanallah Allahu Akbar. Semoga Allah senantiasa memberkahinya, juga masyarakat Palembang sebagai generasi penerusnya. Aamiin.


BANDARA SULTAN MAHMUD BADARUDDIN

Sampai jumpa lagi Palembang. Semoga Allah berkenan memperjalankanku kembali ke Bumi Sriwijaya ini untuk mengunjungi banyak lagi destinasi yang belum sempat kujelajahi. Aamiin. Termasuk Gudang Buncit dan Pusat Songket Tuan Kentang yang terlewatkan meski sudah ada dalam list kunjungan, karena sempitnya waktu.

Baca lebih lengkap detail perjalanan ke masing-masing destinasi ini di postingan-postingan selanjutnya ya.

6 komentar:

  1. Terhanyut sekali, mbak baca dari awal hingga akhir. Kayak mengulang lagi pas berkunjung kesana kemarin.

    Angkat aku jadi muridmu, mbak biar bisa nulis seenak ini. :D

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah.Terima kasih ya.

    Aku juga masih terus belajar.

    BalasHapus
  3. Waah...ceritanya lengkap sekali. Jadi tahu sedikit sejarah tentang palembang.
    Berasa ngulang perjalananku pas di palembang dua tahun yang lalu. Jadi kangen makan martabak har dan mie celor lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.
      Yuk ke Palembang lagi yuk. Masih banyak yang belum dikunjungi

      Hapus
  4. Lengkap banget nih ceritanya, hihi asik yaaa jalan2nyaaa jadi pengen juga main2 ke palembang :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak bakal nyesel main ke Palembang. Ayoooo

      Hapus