[cerpen lama] Bayangan

BAYANGAN
Oleh Dian Nafi

Hati kecilku tahu, jika aku tertarik dengan panggung dan pertunjukan, ini bukan semata karena bintangnya di sana. Tetapi dunia entertainment show dan event organizer adalah salah satu bidang yang pernah dijalani lelaki itu yang kusebut sebagai Mentari, setelah dulu pernah kusebut sebagai Gerhana karena gelapnya pernah melintasi hidupku.
Berada di backstage, mengingatkanku padanya, aktifitasnya. Aku membayangkan dirinya di  tempat ini, di belakang panggung. Aku menjadi seolah dirinya di sini. Aku merasakan situasi yang biasanya melingkupinya, meresapi suasananya, sibuknya, asyiknya, tegangnya. Jadi bukan semata Letto atau Noe-nya yang menarikku berdekatan dengan panggung, tetapi sebab kisah mentariku yang sekarang entah di mana itu yang memicuku. aku serasa berjumpa dengannya di ruang rindu ini, di kesibukan persiapan pertunjukan, di gegap gempita perayaan dan antusiasme pengunjung dan sibuknya para kru.
Tapi bertemu Noe Letto juga jadi tujuanku kali ini. Aku selalu mengagumi orang-orang kreatif seperti Gerhana eh Mentari. Gelisah mengintip ke arah backstage dari balik pagar besi bercat hitam setinggi tubuhku, aku mencari cara bagaimana agar bisa masuk ke sana.
Tiba-tiba seorang pria berkaos hitam berwajah bersih keluar dari pintu pagar besi. Tergesa aku mendekatinya. Aku mengira dia pasti salah satu kru Letto.
“Letto datang, mas?”
“Iya” jawabnya sambil tersenyum ramah.
“Mas Noe juga datang? Mas Sabrang?”
“Iya”
“bisa bantu saya masuk mas? Saya pingin ketemu mas Noe”
“Bisa. Tapi sebentar ya, saya masih ada urusan. Nanti saya kembali’
Pria itu bergegas pergi dan benar saja ketika dia melintas aku melihat tulisan CREW besar di punggung kaosnya. Oke, semantara waktu aku lega. Aku ada peluang untuk bisa masuk. Mas  yang tadi itu sudah menjanjikannya kan?
Sambil menunggu aku menjajal memotret dengan kameraku wajah-wajah orang di dekatku. Karena jika malam hari aku tidak yakin hasil kameranya akan bagus. Tetapi setelah kucoba beberapa settingan, hasilnya lumayanlah. Aku siap berfoto ria bersama dengan mas Noe yang anak seorang Emha Ainun Najib, salah satu idolaku yang lain. Budayawan yang egalitair dan relijius.

**

Padahal aku di sana dengan kamera tergenggam di tanganku, tapi belum berhasil foto dengannya. Karena aku terlupa, termangu. Sibuk menyambutnya yang datang tiba-tiba dari arah yang sama sekali tak kuduga. Karena kupikir mas Noe sudah di dalam pagar besi itu. Tapi ternyata ia baru datang setelah aku berdiri di pintu itu beberapa menit ini. Tuhan memang sayang padaku, memberikan rejeki ini untukku. Wajahku pasti berseri, aku yakin itu. Aliran kebahagiaan pelan merayap memasuki relung sanubari.
 “Mas Sabrang….”
Seruku lirih menyebut nama kecilnya.. Sabrang Mowo Damar Panuluh.
Dia pun ramah tersenyum, tersadar bahwa aku pastilah penggemarnya. , Ia menggenggam erat tanganku.
“Siapa ya?” 
Oh, dia sempat menanyakan itu. Dan aku bodohnya tidak menyebutkan namaku dengan jelas.
“Eh, nanti bisa minta fotonya ya mas. Saya juga mau memberikan buku saya”
“Iya..iya” jawabnya sambil tersenyum ramah.
Matanya menyiratkan kesediaan untuk berbincang denganku lebih lama.  Sayangnya karena didorong polisi yang mengawal dari belakang, kakinya pun melangkah masuk melalui pintu pagar besi itu. Namun karena tangannya masih menggenggam telapak tanganku, otomatis aku tergerak untuk ikut masuk. Lagipula itu juga yang kuinginkan. Namun seorang tentara galak dari dalam pagar itu menghadangku. Tanganku dilepaskannya dari genggaman tangan mas Sabrang.
“Ini siapa?”
Tidak ada yang bisa menjawab. Karena memang tidak ada seorangpun yang mengenalku. Mas Sabrang menatapku gamang. Aku berharap ia mengucapkan sesuatu dan meminta tentara itu mengijinkan aku masuk. Tapi aku kemudian memakluminya ketika ia tak berucap sepatah katapun kemudian berlalu. Ia baru saja mengenalku tadi. Jika tidak ada yang mengenalku di sini apalagi dia yang orang jauh.
Dan aku termangu di luar pagar menyadari kebodohanku. Kenapa aku tadi tidak segera saja menyerahkan bukuku padanya. Tidak minta foto bersamanya segera. Tidak perlu masuk ke pagar itu kan? Semuanya juga bisa dikerjakan di luar pagar, tadi itu, waktu kami bertemu hanya berdua karena sepertinya memang tidak orang lain selain aku yang menyadari kehadiran dan keberadaannya. Iya kan? Tadi itu kesempatanku, peluangku, tapi aku melewatkannya begitu saja. Bodohnya aku. Sialan. Ops. Menyesal sekali jadinya. Aku seketika teringat pameo yang mengatakan bahwa keberuntungan adalah ketika persiapan bertemu dengan peluang. Luck is when preparation meets opportunity. Mentalku saja tadi yang belum siap karena tak segera tangkas mengambil peluang dan bertindak cepat. Iya kan?
Uh oh. Mudah-mudahan nanti masih ada peluang melakukan apa-apa yang belum sempat kudapatkan, foto, menyerahkan buku, minta tanda tangan dan foto bersama. Aku tolah toleh mencari seorang kru yang tadi berjanji untuk mengantarku.
Wah! Tapi tadi aku beneran ketemu langsung dan salaman dengan Noe ya? Ngobrol lagi! Beneran kan? Memikirkan anugrah itu kudapatkan barusan, langsung tubuhku jingkrak-jingkrak kegirangan. Tidak memperdulikan pandangan heran yang mungkin datang dari orang-orang di sekitarku. Aku jingkrak – jingkrak lagi.
Oh yes! Yes!

Agak lama juga baru kemudian mas kru yang kutunggu itu muncul. Sebelum ia masuk melangkah ke pintu, aku segera menyambanginya. Agak terlambat karena hampir saja satu kakinya sudah masuk ke pintu.
“Mas. Bisa minta tolong bawa saya masuk ketemu mas Noe”
Ia terhenti sebentar karenanya. Mengurungkan kakinya melangkah.
“Lha tadi belum ketemu? “ tanyanya heran.
“Sudah, mas. Aku salaman, ngobrol bentar tapi lupa minta foto bareng!” jawabku histeris.
“Oh” ia melirik penjagaan yang ketat di pintu pagar.
“Aku tidak boleh masuk sama mereka” kataku lirih, sebal.
“Memang tidak boleh kalau begitu.”
“Oh oh. Kalau gitu minta tolong berikan buku saya ini untuknya.”
Aku bergegas menulis pendek di halaman pertama bukuku ‘ for mas Sabrang’.
Tidak ada waktu lagi untuk menulis lebih banyak, nampak sekali kalau persiapanku memang kurang. Iya kan? Harusnya kutulis rangkaian kata untuk mas Sabrang sebelumnya, tidak mendadak begini. Dasar pengacau..hehe..
“Yang ini saya minta tanda tangan mas Sabrang di sini” kuserahkan sebuha bolpen dan satu lagi bukuku yang berisi banyak tanda tangan orang-orang terkenal yang pernah kutemui.
Pria baik hati itu menerimanya dan bergegas menjalankan mandatku. Ah. Benar-benar mujur aku malam ini.
“Terimakasih mas…siapa namanya mas?” tanyaku setelah dia kembali dengan menyerahkan salah satu buku yang sudah ditandatangani mas Noe.
“Yusuf” katanya sambil tersenyum.
“Minta tolong diambilkan fotonya mas Sabrang ya” kataku sambil menyerahkan kameraku padanya.
Baru beberapa detik kemudian aku menyadari sesuatu, bagaimana aku merasa sangat dekat dan merasa sangat percaya dengan mas Yusuf ini daripada dengan seorang tentara penjaga lain yang tadi menghampiriku beberapa waktu lalu sebelum mas Yusuf datang.
**
“Mau masuk ya mbak?” tanyanya sok ramah.
Aku mengangguk ragu karena melihat tampang dan potongannya, meski ia kelihatan mau menuruti keinginanku tetapi ia tak punya wewenang untuk itu.
“Sudah bawa kodaknya?” tanyanya menyelidik.
Aku jadi curiga. Kodak pasti maksudnya kamera. Aku mengangguk tapi tak ingin menyerahkan kameraku padanya jika maksudnya ia akan membantu mengambilkan foto Noe yang duduk di sana, di kursi di belakang panggung, di dalam pagar ini. Aku tak semudah itu mempercayai orang yang baru kutemui.
**
Tapi dengan mas Yusuf aku langsung percaya begitu saja. Itu mungkin karena mas Yusuf mengingatkanku pada Gerhana eh Mentari. Mas yusuf mungkin samaa seperti Mentari yang posisinya sebagai event organizer dalam konser-konser band dan penyanyi di beberapa kota. Event yang diselenggarakan dalam rangka promo dan branding produk yang digawanginya di perusahaan advertising tempat ia bekerja. Aku serasa mengobati rinduku pada Mentari. Ah mentari, dua minggu tanpa mendengar kabar darimu saja aku merasa hilang.

dengarkanlah permintaan hati
yang teraniaya sunyi
dan berikanlah arti pada
hidupku yang terhempas
yang terlepas pelukanmu
bersamamu dan tanpamu
aku hilang selalu
bersamamu dan tanpamu
aku hilang selalu


Mas Yusuf kembali membawa kameraku yang sudah menjepret satu pose mas Noe untukku.
“Terimakasih mas Yusuf” ucapku tulus.
“kapan ya bisa ketemu dengan mas Noe lagi untuk foto bersama?” aku masih gigih menanyakan kemungkinannya.
“Tahun depan berarti” jawabnya mantap.
“Hah?! Tahun depan? Lama banget” jawabku bego.
“nanti selepas konser ini kan bisa? “ tanyaku lagi.
“Iya kan konsernya ini kan selesainya tahun depan” jawabnya sambil tertawa renyah melihat ekspresiku yang kacau.
Aku langsung menepuk jidat. Olala. Iya saja tahun depan Karena ini kan malam penghujung tahun ini, jam sepuluh malam. Dua jam lagi sudah memasuki tahun depan.
“Ah ya kalau gitu tinggalkan saja nomer ponselnya, nanti saya hubungi jika mas Noe bisa ditemui lagi dengan bebas. Karena sekarang juga saya harus briefing sebelum pentas”  usul si mas yang memang baik hati itu. Ah, semakin mengingatkanku pada mentariku saja. Dia seperti bayangannya saja. Kusebutkan angka-angka milikku dan berterimakasih sekali lagi.
Cukup puas dengan pertemuan dengan mas Noe tadi, dapat foto, tanda tangannya, bukuku sudah ada padanya, akhirnya aku merasa mungkin tak harus berpose bersama jika tidak memungkinkan. Sehingga selesai konser karena hujan nampaknya segera turun, aku beringsut melangkah pulang ke rumah.
Sampai di rumah, aku rebahan sambil menunggu telpon atau sms dari mas Yusuf seperti yang ia janjikan tadi. Sekitar jam setengah dua malam ternyata kantukku tak tertahankan. Dan jelas, dalam mimpiku aku ditelpon mas Yusuf lalu ngobrol di telpon dengan mas Sabrang. Benar-benar mimpi yang menghibur.
Paginya jam lima ketika bangun baru kutemukan sms dari mas Yusuf.
Met tahun baru.
Mungkin itu maksudnya juga sms pemberitahuan kalau mereka sudah free untuk  aku jika mau datang lagi untuk ngobrol dan foto bersama. Sayangnya karena aku bacanya terlambat, jadi lewatlah kesempatan itu.
Met tahun baru juga. Terima kasih ya. Semoga Letto sukses dan makin cemerlang di 2012, bunyi sms balasanku.
Akhirnya aku malah sms-an dengan mas Yusuf sepanjang hari itu. Aku mengobati kerinduanku pada mentariku dengan berkomunikasi dengan seseorang yang mengingatkanku padanya.
Dari komunikasi yang beruntun itu terbongkarlah siapa aku. Seorang janda muda dengan dua anak balita, seorang penulis freelance dan arsitek rumahan.
Kirimi aku puisi dong..hehe” sms dari Yusuf ketika tahu kalau aku hobi nulis. Jemariku pun menari. Dan sebuah puisi singkat tercipta, yang tentu saja kepada mas Sabrang isi puisi sebenarnya dialamatkan.

Mentari berpijar malam itu
Hiasi  sudut kota kecilku
Bersua sesaat kami di tepi pintu
Detikpun berhenti mewaktu

Aku hilang… sebelum cahaya…..

Mas Yusuf menampakkan sikap persahabatan yang positif lewat komunikasinya via sms dan telpon. Sesekali menggoda karena katanya aku tak tampak berusia tigapuluh enam tahun.
“Kupikir duapuluh tujuh tahun” katanya.
Aku tak bisa menyalahkannya. Kebanyakan orang memang menyangka aku berusia dua puluhan tahun. Mungkin karena tubuhku yang mungil dan wajahku yang ceria dan tampak tanpa beban juga pembawaanku yang energik.
**

“Dapat gacoan baru ya?” ledek mentariku. Tiba-tiba setelah menghilang hampir dua bulan, ia muncul lagi menggodaku. Mengusikku.
“Siapa nih yang dimaksud? “ tanyaku ketus. Sebenarnya karena rasa rindu yang membatu dan pecah tak tertahankan begitu mendengar suaranya kembali. Mentariku salah satu pria yang membuatku bertekuk lutut. Ia dengan kemisteriusannya, dengan kasih sayangnya yang kadang-kadang berlimpah padaku padahal ia sudah beristri, dengan hobinya yang datang pergi sesuka hati. Mentari bikin aku meleleh.
Mentariku terkekeh. Tawanya yang renyah itu yang selalu membuatku menggigil oleh rindu.
“Tinggal siapa yang lebih kamu pilih kan? Mas Sabrang atau mas Yusuf?”
What?! Bagaimana dia tahu? Sementara kami berjarak ratusan kilometer dan hanya via maya kami berkomunikasi. Aku tak pernah menceritakan tentang kisah ini.
“Aku ketemu Yusuf kemarin waktu kami terlibat event yang sama”
Oh.
“Kayaknya dia ada rasa sama kamu. Tapi aku tahu kamu dekat dengan dia hanya untuk mendekati Sabrang. Iya kan? “ tebak mentariku.
Ah. Andai kamu tahu mentari, Yusuf mengingatkanku padamu. Dan sekalipun beberapa pria termasuk pria hebat melintasi hidupku, masih kamu yang merajai hati, mentariku.
“Yusuf lumayan kok, Fin” kata mentariku berpromosi.
Aku hanya terdiam. Aku tahu dia sungguh-sungguh dan menyampaikan kebenaran jika mereferensikan sesuatu. Andai mentariku tahu. Hatiku masih belum berpaling darinya. Tapi ketidaksendiriannya itu yang mengurungkan niatku untuk memperjuangkan cinta ini. Aku tak ingin bahagia di atas penderitaan orang lain.


Ku mengira hanya dialah obatnya
Tapi ku sadari bukan itu yang kucari
Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
Dan ku yakin kau tak ingin aku berhenti
Apakah itu kamu apakah itu dia
Selama ini ku cari tanpa henti
Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang ’kan mengisi lubang dalam hati

**

“Apa kabar, Fin?”
Suara mas Yusuf menyapaku pagi ini. Kami berkomunikasi intens lebih dari setengah tahun. Aku mulai tahu ia mengarah ke mana. Kemarin juga ia menanyakan kesediaanku menerima uluran tangannya. Aku belum juga memberikan jawaban. Aku tak ingin memberikan harapan kosong. Tidak juga pagi ini. Entah sampai kapan.
Kunikmati sendiri irama titik- titik air yang menimpa genteng di sebelah jendela kaca tempat aku duduk termenung setelah aku menutup telpon dari mas Yusuf. Aku belum lagi menemukan apa yang kucari tapi kuyakin ada, entah di mana.

Walau tak ku punya
Tapi ku percaya cinta itu indah
Walau tak terlihat
Tapi ku percaya cinta itu indah
Oh rasa cinta bersabarlah menantinya
Oh rasa cinta bersabarlah menantinya 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox

@diannafi