(Writing Challenge) Menulis Klimaks Novel Terbitan Hasfa Publishing


(Writing Challenge) 
Menulis Klimaks Novel Terbitan Hasfa Publishing dan Penerbit Arias
 
 
Ada dua paket buku buat kamu. Mau? Yuk, ikuti tantangan Menulis Klimaks Novel Hasfa Publishing dan Penerbit Arias!

Syarat untuk mengikuti tantangan ini gampang kok:
1. Kamu harus follow Hasfa Publishing di Twitter (@hasfapublishing) dan ‘LIKE’ Fanpage Hasfriends (http://www.facebook.com/pages/Hasfriends/116792125026254)
2. Tulis adegan maksimal 3 halaman.
3. Publish di blog atau notes Facebook kamu. (Khusus notes Facebook, pastikan aksesnya diubah ke public ya.)
4. Tulis judul tulisan di blog atau notes Facebook kamu: (Writing Challenge) Klimaks Novel (Judul novel yang kamu tulis klimaksnya)
5. Daftarkan diri kamu dengan mengirimkan email ke hasfapublishing@yahoo.com, dengan subjek Writing Challenge. Formatnya:
  • Nama:
  • Alamat lengkap (+kode pos):
  • Nomor telepon/HP:
  • Link tulisan kamu di blog/notes Facebook:
  • Username Facebook:
  • Username Twitter:
Untuk mengingat,
novel-novel hasfa publishing: Lelaki, Segitiga, Mayasmara, Dualapan, Luv, Cinta Jangan Kau Pergi

Novel - novel penerbit Arias dan Wehzhu: Kerangka Cinta, Bosku Lebay, Sebiru Hati Dara, Thousand Dreams of Hallyu dll
 
 
** Lomba ditutup 27 Desember 2012 pukul 23:59 WIB.
** Tulisan harus asli bukan saduran ataupun copy-paste. Naskah saduran atau copy-paste akan didiskualifikasi.
** Pengumuman pemenang tanggal 5 Januari 2013 di www.hasfapublishing.com

BOOK BAZAAR


Book Bazaar 

Guys, mau jualan buku nih :) seperti biasa, terms and conditions-nya:

1. Email judul yang dipesan lengkap dengan harganya ke diannafi@yahoo.com, beserta nama, alamat lengkap dan telepon untuk perhitungan ongkos kirim plus keperluan pengiriman.

2. Do not ask me the conditions of each book. Semua masih dalam keadaan layak kok, terutama yang ada keterangan (baru) artinya bukunya memang hanya lepas sampul plastik dan kondisi baru, sebagian belum dibaca. Semuanya dari koleksi perpustakaan pribadi.

3. Pengiriman dilakukan setiap Senin Kamis, via pos tercatat  dari Demak Jateng.  Buku akan dikirim pada hari yang ditentukan saja.

4. Pembayaran via BCA atau Mandiri atau BRI

Happy browsing :)


Judul /Penulis/Harga

Dear Love/111 penulis/ 20rb/baru
Bengkel Jiwa/Awy Qolawun/10rb/baru
Twinlight/Dian Nafi+Nessa K/20rb/baru
Detik Demi Detik/Sahabat Oren/17rb/baru

Ada banyak yang koleksi pribadi mau dilepas, tapi sebentar.. aku cek dulu lagi ya, yg mau dijual.. hehe :D

gas puol

Alhamdulillah tadi siang aku dapat kabar baik. Novel yang September lalu dipesan oleh sebuah penerbit, sudah masuk jadwal terbit setelah akhirnya di-ACC. Semoga prosesnya lancar, berkah dan laris manis. Aamiin..

Subhanallah. menakjubkan sekali melihat apa yang terjadi akhir - akhir ini. Begitu banyak even lomba menulis digelar, dan aku penuh semangat mengikuti beberapa di antaranya. Di samping juga mengerjakan beberapa PR dari penerbit (ada 6 buku baru, alhamdulillah). Dan di sela - sela rempong kesibukan ini, masih semangat pula mengikuti banyak even workshop kepenulisan. Baik sebagai nara sumber, moderator atau penggembira saja.

Yang asyik dari ketemu langsung teman - teman dan para sahabat di even-even tersebut adalah hadirnya tambahan charge  ilmu dan energi. Ketemu Ollie, kami banyak sharing masalah penerbitan, enterpreneurship, kepenulisan dan ehm.... (hahaha) Mudah-mudahan kita diberiNya kesempatan nulis bareng ya. Aamiin.



eh masih banyak yg mau ditulis, tapi mau subuhan dulu. sambung lagi kapan2 ya

Wohooo...HOTEL SEMARANG BARU YANG MUSTI DIJAJAL


Belum berkunjung ke hotelnya sih, nunggu undangan kali ya. Tapi kali ini mau review web-nya dulu, siapa tahu jadi dapat gratis ngecobain rasa baru di Semarang city. uhuy :D
Keren banget web-nya, asli ora ngapusi. Terstruktur dan konsepnya nyambung dengan konsep hotel itu sendiri. Minimalis.
Angle entrance yang diambil pada foto tampak depan/fasade hotel lumayan ciamik dan menggugah hasrat berkunjung. Kayaknya lumayan cekli dan itu sepertinya menjadi 'ting tuing' di kepala. kayaknya hotel ini homey sekali, tidak crowded yang bikin pusing dan pasti tidak mahal banget deh :)
Disajikan dengan flash di tiap item ruang - ruang hotel yang ditawarkan, sehingga kita bisa merasakan aura, suasana dari setiap sudutnya. yang tentu saja menjadi aspek yang menjual dan daya tarik hotel Simpang Lima Residence ini.  
Dilengkapi info reservasi dan kontak yang lumayan detail menjadikan web ini sangat informatif bagi mereka yang mencari info akomodasi di Semarang.
Serunya, web ini dilengkapi dengan Where to go, yang bisa menjadi panduan bagi mereka yang baru berkunjung ke Semarang. Tempat - tempat wisata menarik seputar Semarang yang musti dikunjungi biar afdhol travellingnya :)

Krisis Karakter Para Pendidik Kita


Krisis Karakter Para Pendidik Kita
Oleh Dian Nafi

Beberapa kali mengisi pelatihan guru PAUD, saya menemui beberapa hal yang sepertinya sepele tetapi sangat mendasar. Bahwa terkadang apa yang diketahui oleh guru atau pendidik acapkali tidak disertai dengan aplikasi nyata oleh diri mereka sendiri dalam kesehariannya.  Tentu saja sebenarnya ini juga adalah kritik terhadap diri saya sendiri utamanya, di samping ingin menggugah banyak kawan lainnya.
Ada yang berbeda ternyata antara karakter pendidik yang ada di lingkungan kota besar dengan mereka yang ada di kota kecil aka pedesaan. Simpulan sementara ini saya peroleh dari uneg – uneg para pendidik PAUD di kota kecil yang saya bandingkan dengan dinamika realita yang saya saksikan sendiri di ibukota propinsi, di mana saya berkecimpung kurang lebih enam tahun ini sejak tahun 2006 lalu.
Beberapa hal yang dikeluhkan beberapa pendidik PAUD di kota kecil  (yang mereka curhatkan ke saya di tengah – tengah acara pelatihan) adalah kebiasaan para pendidik  dari PAUD lain yang sengaja menyembunyikan berbagai informasi dari mereka sesama pendidik yang sedang belajar dan mencari tahu. Dari informasi mengenai cara – cara pendekatan baru dalam mendidik, informasi dari dinas bersangkutan sampai dengan lagu – lagu ataupun permainan baru. Menurut mereka, alasannya mungkin agar PAUD yang banyak tahu itu tidak tersaingi oleh PAUD lainnya.
Ini berbeda sekali dengan kebiasaan yang saya dapati di ibukota propinsi. Para pendidik PAUDnya justru berlomba – lomba berbagi informasi dan juga bahkan penemuan – penemuan baru mereka dalam permainan edukatif , tepuk ataupun lagu – lagu. Seringkali dibagikan atau di-share dalam acara pertemuan bulanan HIMPAUDI (Himpunan Pendidik PAUD Indonesia) yang diselenggarakan secara bergiliran dari satu PAUD ke PAUD lain. Seperti inilah seharusnya karakter pendidik PAUD sebagai seorang guru yang digugu dan ditiru. Yang juga adalah pahlawan yang tidak saja berjasa bagi anak didik dan komunitas intern-nya saja, tetapi juga berjasa terhadap kalangan yang lebih luas lagi.
Karenanya saya justru sarankan kepada para pendidik PAUD di daerah yang merasa terdzolimi karena merasa tidak dibagi informasi yang mereka butuhkan, untuk bangkit dan berdiri. Menemukan sendiri formula – formula baru dalam hal metode pendekatan pendidikan PAUD maupun permainan –permainan dan lagu – lagu baru yang mereka ciptakan sendiri. Dan kemudian bahkan berinisiatif memulai budaya baru dalam pertemuan HIMPAUDI di daerah dengan bersemangat membagikan apa yang mereka temukan. Sehingga memunculkan budaya berbagi dalam pertemuan tersebut. Kalau boleh menyitir sebuah ayat dan hadis, demikianlah yang diajarkanNya dan rasulNya, maka kepada mereka yang pelit, justru berikanlah sesuatu pemberian. Nhah !! Iya kan. Lalu lihat apa yang akan terjadi, begitu kalau kata pak Mario Teguh J
Fenomena lain yang hendak saya ceritakan adalah adanya suatu pilihan dari beberapa alternative  yang sepertinya disodorkan oleh Diknas atas metoda yang digunakan dalam sebuah institusi. Yang ditangkap oleh institusi dan para pendidiknya sebagai pilihan yang harus memilih satu di antara dua, dalam hal ini apakah sebuah PAUD menggunakan pendekatan Area atau Sentra (BCCT). Saya katakan pada para pendidik PAUD ini, kita tidak harus hanya memilih satu di antara dua itu. Kita boleh memakai kedua – duanya. Dan bahkan kita boleh memakai yang di luar itu. Dan bahkan kita boleh akhirnya menemukan sendiri metode pendekatan yang khas institusi kita setelah melalui banyak pengalaman, pembelajaran, trial error, kontemplasi, diskusi, percobaan dan sebagainya. Untuk ini memang dibutuhkan karakter pendidik yang tidak saja mencintai pekerjaannya tetapi juga mempunyai wawasan luas, ilmu mendalam dan yang juga penting adalah spiritual tinggi. Karena yakin seyakin – yakinnya bahwa segala penemuan itu merupakan karunia dari Sang Maha Pendidik.
Ada banyak lagi uneg – uneg yang ingin saya keluarkan. Semoga ada kesempatan lainnya.
Selamat belajar para pendidik yang juga adalah para pembelajar sejati. Semoga kita semua mendapat keberkahan dari apa yang kita upayakan ini. Aamiin.



WARAS (cerpen)



WARAS
by Dian Nafi

Aku tidak mau mengakuinya tapi tampak jelas jika pusat duniaku sesaat , entah berapa lama, berpindah pada  seseorang yang agak gila ini. Dia mengaku sebagai seorang pekerja kreatif. Okelah, mari kita menyebutnya begitu.
 “Ummi jatuh cinta” empat tahun usianya tapi cukup cerdik untuk memahami apa yang terjadi dan cukup berani untuk menyampaikan kejujuran.
“Kata siapa?”seorang pekerja kreatif yang agak gila di depanku bertanya dengan kumisnya yang tersenyum penuh kemenangan. Dia menyentuh  rambut perempuan kecil itu dengan telapak tangannya yang putih.
“Rambut yang bagus” pujian untuk seorang balita yang berada di pihaknya, padahal dia anakku.
 Dia membuka telapak tangannya, mengajak anak perempuanku give him five, give him ten. Dua telapak tangan yang bagus dengan garis –garis tapak tangan yang jelas M nya. Lurus, rapi.
“Bagaimana bisa?” meloncat begitu saja pertanyaanku.
“Apanya?” pekerja kreatif agak gila itu balik bertanya.
“Garis tapak tangan kamu bagus. Kenapa bertemu aku? Garis tapak tanganku tak bagus, karenanya aku boleh melakukan kegilaan.” aku menyimpan pedihku karena dia mungkin tidak segila yang aku kira tapi aku mengasumsikannya demikian. Maaf. Bahkan dia lebih muda dari fotonya. Aku menyukai gayanya berpakaian. Muda banget untuk seumuran dia yang sepuluh tahun lebih tua dariku, padahal aku sendiri sudah 34.
“Aku sudah memikirkannya. Kita akan menulis trilogi untuk cerita kita yang kemarin” seperti biasa pekerja kreatif setengah gila itu mengalihkan pembicaraan.
Lalu kami tenggelam dalam genangan ide dan banjir lahar kata-kata dan sejenak melupakan fakta bahwa aku semakin jauh terlibat dengan suami orang.

“Apa ada yang salah dengan selingkuh tulisan?” tanyanya, tanyaku juga.
Selingkuh tetap saja selingkuh. Dan itu tidak sama dengan setia. Tak lagi mempunyai pemahaman atas selingkuh dan setia  membuat kami menikmati sesuatu entah apa. Dan ada rasa bersalah selalu singgah sesudahnya. Tidakkah cukup membuktikan bahwa keterlibatan dan ketenggalaman ini adalah suatu kesalahan yang biasa disebut sebagai dosa.

“Tolong kembali memutar dan drop in lagi ya” tergesa aku menelpon pekerja kreatif setengah gila itu. Dan kukira dia menyambutnya dengan gembira, tentu saja dia senang dengan caraku menahannya pergi. Seperti aku juga seringkali senang dengan caranya selalu kembali dan membuatku tak bisa berpaling.
“Ada yang belum usai?” senyum dengan kumisnya yang menantang benar-benar hampir meruntuhkan duniaku. Dia turun dari mobil yang mengantarnya berputar kembali untuk menemuiku untuk yang kedua kalinya di pertemuan pertama kami, di hari yang satu-satunya ini.
Kami kembali berjalan beriringan, kali ini hanya berdua. Karena aku sudah membawa pulang ke rumah anak perempuan kecilku yang tadi menemani kami berdua. Putri cantikku yang selalu merindukan ayahnya di surga dan selalu senang jika ada pria dewasa di dekatnya, dia sudah banyak membantu tadi. Memecah kekakuan antara kami yang sebelumnya hanya bertemu di maya. Saatnya berdua saja, seperti yang selalu kami tuliskan bersama dalam karya-karya kami.
Dia terus bicara tentang film, tulisan,  konser, tour, buku dan apa saja. Dan aku, perempuan kesepian yang rapuh, sudah cukup nyaman hanya dengan berjalan bersisian dengannya. Kesatuan jiwa seindahnya dipadu dalam ikatan yang sah. Namun  meski dia seseorang yang sangat nyaman untuk dijadikan belahan jiwa , figur yang bisa dijadikan ayah bagi anak-anak siapa saja, tetapi mungkin bukan calon yang ideal menurut  nilai-nilai dalam keluarga besarku.. Kami berbeda di banyak hal, tetapi sebenarnya mirip di banyak hal lainnya. Tapi ada yang bilang jika dua orang berbeda gender saling tertarik dan kemudian  bertemu di masjid kuno dengan tiang dari Majapahit ini, akan menikah pada suatu saatnya nanti. Kalian pernah dengar mitos ini?
“Kenapa?”  dia bertanya heran melihatku mengambil langkah mundur lalu mengambil tempat disebelah kirinya berjalan setelah sebelumnya berada di sebelah kanannya.
“Ooooo…” ada seorang gila beneran dengan pakaian setengah telanjang berjalan dari arah berlawanan.
“Hehehe..orang gila takut orang gila” aku yang mengaku gila juga menyembunyikan malu di wajahku yang memerah ketika sesaat tadi berada di belakang punggung pekerja kreatif setengah gila yang aku gilai. Nyamannya punggung yang bukan milikku, jadi lupakan untuk bersandar di sana apalagi memeluk pinggangnya.

Oh No!” sekali lagi aku terkejut. Kali ini hendak melarikan diri Karena kami berpapasan dengan serombongan orang yang hendak pergi ke makam untuk kirim doa bagi sesepuh yang dihauli hari ini. Tapi aku mengurungkan niatku. Pekerja kreatif setengah gila ini telah meluangkan waktu dan energinya untuk terbang 45 menit dari kota yang sangat jauh, melalui rangkaian kerja dua hari dua malam  yang melelahkan, balik lagi dari kota sebelah selatan kotaku setelah menempuh dua jam pulang-pergi kembali ke utara untuk bertemu aku, dan aku tidak cukup memberinya penghargaan? Tuan rumah macam apa aku ini? Kekasih macam apa aku ini yang meninggalkan kekasihnya begitu saja karena rasa segan yang terinternalisasi dalam diriku - bagian dari segerombolan manusia yang disebut sebagai keluarga, yang menjunjung tinggi sesuatu yang disebut dengan kehormatan?
Sejurus kemudian tak terhindarkan lagi pertemuan telapak tangan bergaris tapak bagus itu  dengan telapak tangan-tangan  saudara ayahku, anak anak saudara ayahku, saudaraku seayah ibu. Yang kusebut terakhir termasuk yang istimewa. .
“Ini si penulis resep yang juga masih harus berjuang terus demi kesehatan putranya” aku mengenalkannya ketika mereka berjabat tangan.
Pekerja kreatif setengah gila itu akhirnya bertemu dengan orang-orang  yang selama ini juga menjadi bagian dari cerita-ceritaku yang mengalir bersama rasa dan rahasiaku. Terutama mengenai si istimewa itu, karena pekerja kreatif setengah gila itu menaruh perhatian terhadap adik-adik dan juga anak-anakku. Tak perlu meragukannya, dia – si pekerja kreatif setengah gila itu – mungkin diciptakan Tuhan ketika Dia sedang jatuh cinta. Sehingga ia sebenarnya mungkin bukan manusia, tetapi hati. Hati yang punya telapak tangan dengan garis tapak tangan yang bagus.

Tuhan memang baik.
“Keren” kata dia suatu saat ketika kami sedang berdiskusi dan aku mengutip satu ayat yang bahkan secara eksplisit menuliskan ajakan Tuhan agar siapa saja  kembali kepadaNya dan  memasuki rumahNya. penuh dengan rasa kepuasan dan juga kepuasan Tuhan atas seseorang itu. Rodhiyatan Mardhiyah.
“Ya iyalah, keren. Gusti Allah gitu lhoh” aku senang karena tanpa sengaja membawanya dan juga diriku sendiri, pada satu lagi kesadaran bahwa Dia begitu keren dan hebat.
Sehebat skenario-Nya pada hari dimana aku bertemu darat untuk pertama kalinya dengan  guru yang sahabat sekaligus  sephia-ku  bernama pekerja kreatif setengah gila itu. Ternyata aku tak harus tenggelam dalam kegilaan yang lebih jauh seperti bersamanya menikmati perselingkuhan dengan lunch atau dinner yang romantis di sebuah resto, mengobrol panjang tak jelas di suatu lobby hotel tempatnya menginap, di gelap gedung yang memutar film romantis, di rinai hujan di lorong lorong kota lama, di bangku stasiun kereta. Tuhan menyelamatkan aku, karena di hari satu-satunya itu aku harus ada di sekitar rumah saja karena ada acara haul (peringatan hari kematian) sesepuhku.
Sungguh terselamatkan, jauh dari bayangan ketakutanku yang tak beralasan.
 “Aku akan datang ke kota sebelah utara dekat kotamu purnama depan” dibalik telpon terdengar suara baritonnya yang hangat dan selalu membuatku merindu untuk ditelponnya lagi.
“Mungkin malam sebelum aku melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya, aku akan menginap di kota sebelah selatan  kotamu” suaranya semakin berat  dan entah kenapa aku hampir lunglai mendengar kalimatnya barusan.
Seperti kelinci hendak diterkam serigala, aku menggigil dan menggelepar-gelepar.
Lalu bayangan akan dua tangan saling menggenggam, berjalan bergandengan di kota lama, mungkin menonton sebuah film yang selalu dia hembus-hembuskan belakangan ini dan berakhir di bangku stasiun menunggu kereta yang akan membawanya jauh ke kota timur kotaku. Dengan kepalaku bersandar di pundaknya, duduk bersisian di bangku yang gambarnya selalu ada di note-ku dan note-nya..
Membayangkannya saja jantungku berdegup tak karuan dan kurasakan aliran hangat menjalar di sekujur pembuluh darah dan semua bagian tubuhku. Aku sejenak pingsan dalam ketakberdayaanku melawan tirani bersembunyi di balik topeng bernama cinta.  Yang tidak bisa aku fahami dan menimbulkan kecemasan lebih lanjut - karena ini mungkin sekali tanda-tanda aku stress - adalah aku terlambat datang bulan selama hampir dua minggu. Oops..belum pernah terjadi sebelumnya kecuali aku hamil. Dan karena tidak terjadi pembuahan karena bertemu saja bahkan belum pernah, jadi ini lebih berbahaya daripada hamil. Aku alami gejala depresi dan ketakutan akan entah apa. 
Duduk bersamanya di tempat suci ini dengan wajah bersihnya dan telapak tangan yang bergaris tapak tangan bagus menghentikan sejenak desir waktu.
 “Malu ah” katanya ketika aku menawarkan supaya dia duduk minum dan makan di rumahku saja. Daripada dia haus dan lapar, karena kami hanya duduk di serambi masjid tanpa hidangan kecuali perbincangan yang hangat tapi ngalor ngidul.
“Iya juga. Ada banyak sekali orang dan keluarga besar datang berkumpul di rumah. Ya sudahlah disini saja” aku menurut saja.
Cuaca cerah, Senin kan ya? Tapi kulihat banyak sekali wisatawan religi di kompleks masjid ini padahal ini bukan hari libur. Kami  tersembunyi di keramaian, bahkan mungkin ada yang mengira kami juga wisatawan dan bukan dua orang gila yang melalui perjalanan dan kisah gila sebelum mendarat bersama di serambi masjid kuno ini.
Kukira pertemuan darat kami menghentikan kegilaan kami di maya. Tapi ternyata tidak. Segalanya masih sama seperti sebelum pertemuan. Kegilaan yang sama.
Aku kadang berada di ruang cemburu dan ragu tiap kali mengingat bahwa ia bukan milikku. Tapi juga di labirin ceria dan hangat mengingat ia tetap setia menelponku dua tiga kali sehari.. Seringkali muncul pertanyaan dalam benakku  sendiri, tapi  tak pernah kutanyakan  padanya, ke mana istrinya. Kenapa bukan istrinya yang menerima kelimpahan perhatian dan kasih sayang ini. Siapa yang tidak normal di antara mereka berdua, istrinya atau pekerja kreatif setengah gila itu. Jangan tanya diriku, kalau aku jelas tidak normal karena mau-maunya terlibat dengan suami orang. Bukan pula untuk bersama dalam pernikahan kedua,hanya untuk bersama menumpahkan kegelisahan dan mengawinkan ide serta tulisan –tulisan kami. Kami menyebutnya sebagai persahabatan.
“Aku mulai capek dengan permainan dan perjalanan yang tak berujung ini” aku menyampaikan keluhan.
“Kamu mau pergi?” pekerja kreatif setengah gila itu bertanya dengan kalimat tertahan seperti menahan pertahananku yang hampir tak bertahan lagi.
Lagu cintaku, cintamu, cinta kita, Nicky Ukur terus menerus diputar melatari percakapan ini. Dari sejumlah novel dan film sering disitir, yang paling disesali bukanlah perpisahan, tapi pertemuan. Kenapa bertemu? Kenapa?
Tak ada jawaban kecuali jerawat yang datang setelah bertahun lamanya tak menyinggahi pipi si perempuan rapuh kesepian. Mungkinkah itu karena ia menyentuh telapak tangan yang garis tapak tangannya bagus ?

Ge Er

Apakah Ge Er atau gede rumongso itu sah? halal?
yang jelas GR sering tidak disukai.
tapi apa yang salah dengan GR?
bagaimana kalau GR itu menjadi semacam pemacu semangat dan boleh jadi salah satu bentuk kesyukuran atas karunia yang diterima.


JADI
sebenarnya, aku mau cerita ke-ge er-anku.

singkat cerita, aku suka memberikan novel pertamaku Mayasmara kepada orang - orang penting dan terkenal yang aku temui . termasuk salah duanya adalah Mas Gol A Gong dan mas Sabrang Mowo Damar Panuluh.

mas Gol A Gong kemudian menempuh perjalanan umroh back traveling setelah itu. kupikir pemicunya karena ketika dia bertanya di manakah setting mayasmara ini, kujawab Makkah Madinah. dia bertanya lagi, sudah pernah ke sana? alhamdulillah, jawabku. 
di situlah awal krenteknya untuk backpacker-an umroh (mungkiiiiin... khan aku ge-er)

mas Noe Letto alias mas Sabrang ini kemudian membuat film Rayya. Tokohnya, si Rayya ini kayak Mayana di mayasmara, seseorang yang terliputi oleh paradoks. Dan kebetulan lagi tokoh Arya, seperti Nero di mayasmara, dikhianati oleh istrinya yang selingkuh. tentu saja ini bagian kecil, tapi tetep saja aku ge-er. halah. lha wong ge-er ini. hehehe...

hmmm..
intinya, aku senang banget bertemu dan kenal mereka berdua. i am their big fans. senang bahwa novel pertamaku ada di tangan mereka, dibaca dan ah.... itu sudah lebih dari apapun. subhanallah walhamdulillah.

dan kalau aku ge-er, halaaaah siapalah aku. aku ini bukan siapa-siapa. hanya seseorang yang tidak punya apa - apa tapi pretends have something. 


Robbanaa dzolamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakunanna minal khosiriin