tips Tere Liye

Kata Bang Tere Liye, ada beberapa tips dalam menulis.
1. SUDUT PANDANG YANG SPESIAL.

Boleh menulis tentang apa saja, asal sudut pandang kita spesial. Misalnya mau menulis tentang jalur-jalur angkot. Mungkin menurut orang lain itu persoalan sepele, tapi kalau menurut kita itu hal spesial, MAKA AKAN JADI SPESIALLAH TULISAN KITA ITU.


2. AMUNISI MENULIS

Ketika menulis sesuatu, maka persiapkan dulu riset untuk mengenali lebih banyak tentang hal tersebut. Tulisan tidak akan bernas kalau amunisi di kepala kita, sedikit. Riset dibutuhkan, sekali pun ketika menulis cerita pendek. Lengkapi riset tersebut dengan hal-hal menarik. Masukkan unsur-unsur yang menggelitik.


Mengamati, memperhatikan, bertanya hal-hal kecil kepada orang yang kita temui, atau tempat yang kita kunjungi juga hal penting.

Tere Liye: "Pernahkah kalian berpikir untuk bertanya pada pelayan Indomaret? Misalnya tentang apa barang yang paling best-seller di toko ini?"

Tere Liye: "Atau pernahkah kalian iseng bertanya kepada tukang angkot. Apakah ada artis yang pernah naik angkotnya?"

Dari semua kejadian itu, kita sudah melakukan sebuah riset. Hal-hal itulah yang bisa memperkaya tulisan kita.


Semua orang bisa menulis, tapi apakah tulisan itu akan jadi spesial? Inilah yang membedakannya.


Jangan berasalan tidak tahu mau menulis apa. Taklukkan kelemahan itu dengan banyak-banyak mengisi amunisi kita.


Jangan tertele-tele dengan memainkan koma. Orang yang terlatih bicara, akan lancar bicara. Beda yang dengan orang yang tidak, maka dia akan bicara ...ng...ng..ng.


3. LATIHAN MENULIS

Banyak orang yang bingung, endingnya bagaimana? Hal itu sangat wajar. Bahkan seorang Tere Liye sekali pun sering kehabisan ide ketika menulis. Biasanya Tere Liye menutup novel yang kehabisan ide itu dengan kalimat gantung dan kata 'TAMAT'. Hasil itu tetap dikirim ke penerbit, ternyata malah benar-benar terbit. Bahkan novel-novelnya mulai difilmkan (sudah 2 yang launching dan satu lagi yang akan segera launching di bioskop)

Menurutnya tidak ada tulisan yang baik atau buruk. Tere Liye mencontohkan surat penolakan dari redaksi sebuah koran terhadap tulisan-tulisan yang pernah dikirimnya. Seperti berikut:





Dari sekian banyak penolakan, redaksi tak pernah membuat alasan bahwa sebuah tulisan itu jelek.

Jika seseorang terus berpikiran negatif terhadap tulisannya, maka dia tidak akan pernah MENJADI PENULIS YANG BAIK.

Menulis itu harus dilatih. Novelis sekaliber Andrea Hirata sekali pun, tidaklah sempurna. Menurut Tere Liye, temannya sampai sekarang tidak mengerti apa yang ditulis Andrea. Novel tentang apa sih, ini? Begitu katanya.


4. ALA karena BIASA.

Tere Liye sangat menyukai masakan Ibunya. Dia pernah bertanya kepada Ibunya cara memasak masakan kegemarannya itu. Apa jawab Ibunya?

"Sudah dimakan saja. Kok nanya-nanya."

Namun dia memang mencintai masakan Ibunya itu. Dia tanya lagi. Jawabannya Ibunya berubah begini:

"Ya, tinggal dimasukkan ke wajan."

Kemudian, Tere Liye tanya lagi. Ibunya merasa heran tapi akhirnya menjelaskan urutan-urutan memasaknya.

Filosofinya, seorang ibu rumah tangga yang pintar memasak sekali pun, tetap memerlukan latihan di dalam hidupnya.

Bulan pertama, pasti akan memasak sambil melihat resep. Satu tahun pertama, sudah mulai hapal. Satu tahun lebih beberapa bulan, maka si ibu rumah tangga itu sudah tahu cara memasak yang baik. Bahkan, dia sudah bisa berbagi tips memasak dengan orang lain.

Dalam menulis pun SAMA. Ada relevansinya.

Setiap orang mungkin berhasil menulis. Tapi yang jarang diketahui adalah, bagaimana sepak terjang penulis itu. Tere Liye mengumpamakan dirinya sendiri. Ketika pertama kali menulis artikel dan dikirim ke Koran Kompas, dua puluh kali ia memperoleh penolakan dengan berbagai catatan dari redaksi. Tetapi, ketika tulisannya nongol di koran itu dan tak sengaja bersanding dengan tulisannya Bapak Emil Salim (waktu itu), banyak senior Tere Liye yang kagum padanya. Padahal, para senior tidak tahu seberapa pahitnya berpuluh penolakan tadi.

Begitu juga ketika Tere Liye mengirim naskah novel religiusnya yang berjudul 'Hapalan Salat Delisa' ke dua redaksi besar. Salah satunya Mizan. Namun ditolak. Begitu pun dengan penerbit raksasa Gramedia. Akhirnya, dia mencoba mengirim ke penerbit Republika. Ternyata gayung bersambut.

Kini Tere Liye bekerja sama dengan penerbit Republika untuk naskah religiusnya, dan non-religius dipercayakan kepada Gramedia.

****
Tanya-Jawab

1. Mengapa Bang TL mengatakan tidak ada tulisan yang buruk atau yang baik? Lalu kenapa tulisan ditolak? Bagaimana dengan sebuah lomba menulis?

TL:

Terhadap sebuah tulisan, jika editornya berbaik hati, maka mereka akan mengirimkan alasan penolakan seperti ini.
1.1. Struktur naskah kacau balau,
1.2. Tulisan biasa saja,
1.3. Tidak relevan dengan koran/majalah tersebut,
1.4. Tulisan bagus tapi cara penyampaian, dsb.

Dalam sebuah lomba, perlu ditentukan pemenang. Oleh karena itu, juri biasanya akan kembali ke kriteria yang sudah mereka tentukan sebelumnya.

Suatu kali di sebuah workshop, saya (TL) mendapat pertanyaan serius dari seorang guru. Dia bertanya, "kalau semua tulisan tidak ada yang buruk, bagaimana saya akan memberi ponten (nilai)? Masa' harus diberi nilai delapan semua?"

TL bilang, "Ya tidak apa-apa Bapak memberi nilai delapan semua. Justru akan memotivasi anak. Toh bukan sebuah lomba, namun meningkatkan keinginan mereka menulis. Bukankah pada level anak-anak SD hal itu jauh lebih penting?"

2. Kalau sedang menulis, tiba-tiba alur cerita jadi ngaco. Kemana-mana. Bagaimana mengatasinya?

TL:
Gampang sekali. Coba cek lagi, sebenarnya kamu mau menulis tentang apa? Kalau tema kamu adalah 'curhat', ya sah-sah saja kalau isinya jadi kemana-mana. Bahkan jadi ngaco sekali pun. Tapi kalau niatnya menulis tesis atau skripsi, ya harus ada rangkanya dong.

Orang yang terbiasa menulis, sudah tak memerlukan rangka khusus. Di kepalanya sudah ada awal, tengah dan ending cerita. Bagi yang belum terbiasa, tak menjadi masalah kalau rangka cerita dibuat dan ditempel di depan komputer. Jadi pas mengetik keliatan mau kemana cerita itu akan dibawa.

Lain lagi ketika cerita kita masuk ke penerbit. Kita akan bertemu dengan editor. Bisa jadi menurut editor naskah kita harus di'luruskan'. Padahal menurut kita, naskah kita nggak ngaco. Jika demikian, jangan jadi bete lantaran editor meminta naskah kita diluruskan. Berikan saja kepada mereka. Tanyakan pendapat mereka. Belajar dari mereka.

Kebanyakan dari penulis muda itu GALAU.

Naskah ditolak sekali aja GALAU.
Lalu ngambek dan diterbikan INDIE.
Kayaknya, GALAU banget kalau naskahnya yang baru sebiji nggak muncul ke permukaan publik.
Please deh...

Tere Liye sendiri tidak pernah ikut campur ketika tiga novelnya difilmkan. Dia serahkan sepenuhnya kepada produser. Karena dia tak pernah mau menghabiskan waktu berdebat dengan produser.

3. Bagaimana menulis tentang ekonomi, politik, sosial budaya ke dalam novel kita? Mungkinkah pembaca akan tertarik?

TL:
Kalian pasti tahu ya novel DA VINCI CODE. Atau katakanlah karya ANDREA HIRATA.

Menulis fiksi akan makin menarik jika dibumbui dengan hal-hal berbau ekonomi, sosial dan lain-lain. Penulis bisa memasukkan unsur 'logic' ke dalamnya dan pembaca akan larut.

Tere Liye sendiri tidak paham soal hal-hal yang tertulis di novel DA VINCI CODE. Tapi dia jadi penasaran untuk terus membacanya hingga selesai.

Pernah suatu kali, pada kegiatan workshop buku-bukunya juga, seorang anak berusia 8 tahun datang membawa novelnya. Judulnya NEGERI PARA BEDEBAH! Novel tentang dunia korupsi.

Tere Liye heran dan bertanya pada anak itu.

"Kamu membaca ini, Nak?"

"Iya, Bang."

"Kamu mengerti isi novel ini?"

"Tidak! Tapi aku suka ada kejar-kejarannya."

Itulah pembaca. Biarkan pembaca yang menilai buku kita.

4. Apa itu orisinalitas sebuah tulisan?

TL:

Kita ambil perbandingan ya. Kalian kenal POCHAHONTAS? Lalu, cerita AVATAR?

Keduanya memasukkan unsur ada sebuah tokoh yang datang ke sebuah tempat. Di situ bertemu dengan seorang gadis. Lalu jatuh cinta. Tetapi timbul konflik dsb.

Keduanya orisinal, meski pun bercerita mirip. Tak sedikit orang menulis novel yang isinya nyaris sama, padahal keduanya tak saling mengenal. Maka, masalah orisinalitas hanya kita (penulis) yang tahu. Atau ada pembaca yang bisa mengenali apakah tulisan kita itu orisinal atau plagiat, lantaran dia pernah membaca cerita yang sama sebelumnya.

5. Sering ikut-ikutan gaya penulisan orang lain, bagaimana mengantisipasinya?

TL:
Sering-sering membaca, mendengar atau memahami pendapat orang lain. Jangan cuma menelan kalimat yang kita baca bulat-bulat. Lakukan riset dan perbandingan pendapat.

6. Bahasa yang dipakai sebaiknya yang pendek-pendek atau yang panjang-panjang?

TL:
Dikembalikan pada selera kita. Saran saya, belajarlah menulis yang efektif. Seperti menulis di twitter. Singkat tapi memuat makna yang dalam. Tapi, kalau mau menulis kalimat yang panjang, minimal 8-12 kata ya.

Nasihat terakhir dari Tere Liye:
TULIS...TULIS dan TULIS.

sumber : http://youkoso-bestfriend.blogspot.com/2013/05/tips-menulis-dari-tere-liye.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox

@diannafi