Tips Nulis Novel Ayu Utami

Ayu Utami menulis, “Halangan terberat yang biasa saya temui dalam menulis adalah kurangnya waktu karena sering kali disibukkan oleh berbagai kegiatan.” Ia menyatakan pula, “Proses menulis tak selalu berjalan mulus dari awal hingga akhir cerita. Saya pernah merasa stuck sehingga tidak bisa melanjutkan dengan cara yang sama. Kondisi seperti itu sama halnya seperti saat sedang memanjat tebing. Mungkin memang jalan itu terlihat tidak bisa ditempuh, tapi kita harus tetap tenang. Waktu akan memberi ketenangan dan kesempatan untuk melihat jalan baru.

Ayu Utami menyatakan, “Dengan banyak membaca, kita bisa menggali ide untuk sebuah penulisan kreatif.

Ayu Utami menyatakan, “[banyak membaca] Dari sanalah biasanya ide muncul, meski tak jarang pula pengalaman pribadi turut menjadi inspirasi. Inspirasi biasa saya dapat dari kisah nyata.

yu Utami pun menyatakan, “Ide sering datang di saat tak terduga. Oleh karena itu, segera catat ide yang datang tiba-tiba sebelum lekas lupa. Saya selalu menyimpannya dalam sebuah folder khusus bersama ide-ide lain untuk dijadikan tabungan. Setelah ada kesempatan, baru ide itu diuraikan. Sering-sering menengok dan memikirkannya, lalu lihat hubungan yang satu dengan lainnya.” Lebih lanjut ia menceritakan, “…yang paling cepat adalah saat saya menulis Cerita Cinta Enrico. Hanya dua bulan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya karena bahannya sudah terkumpul sejak bertahun-tahun lamanya.

Bagaimana menuangkan ide?Menurut Mba Ayu, ide seperti kepingan lego atau puzzle. Kumpulkan kepingan yang kira-kira dapat saling dipasangkan. Kalau sudah ketemu beberapa keping, cobalah untuk merangkainya. Saat mulai tersusun, biasanya kita akan menyadari bagian mana yang belum lengkap. Maka lengkapilah bagian itu agar menjadi utuh. Tulisan yang utuh biasanya memiliki tiga bagian, yaitu pembuka, isi dan penutup.
Seperti apa pembuka, isi dan penutup yang baik?Pembuka dibuat untuk menjelaskan kemana cerita akan mengarah. Pembuka dibuat pendek, tidak perlu panjang-panjang. Mba Ayu mengambil contoh cerita dalam film, sepuluh menit pertama harus bercerita tentang masalah utama kisah itu.  Isi harus lebih panjang daripada pembuka dan penutup serta harus bergerak menuju klimaks. Penutup menjelaskan penyelesaian konflik-konflik yang ada dalam isi. Kalau diibaratkan dengan makanan, pembuka adalah appetizer yang segar dan gurih agar kita ingin melanjutkan ke menu berikutnya.  Isi adalah main course yang harus nikmat dan berisi supaya kita kenyang. Penutup adalahdessert yang manis. Dessert bisa juga manis dan pahit sekaligus, seperti sepotong tiramizu.
Bagaimana membuat cerita?Ide cerita tidak terbatas dan boleh apa saja, tetapi harus memiliki ketegangan dan suspensi.
Bagaimana membangun ketegangan?Cara yang paling gampang membangun ketegangan adalah dari kemungkinan ya dan tidak. Misalnya, membuat tokoh utama diganggu oleh tokoh antagonis. Contoh: Putri salju ditawari apel yang telah diberi racun. Akankah ia memakannya atau tidak. Selain itu, ketegangan bisa juga dibangun dari kejutan. Cara ini lebih sulit dari yang pertama. Karena untuk membuat kejutan yang mengasyikkan, penulis harus lebih dulu membangun unsur-unsur yang diperlukan.  Kalau tidak, kejutan itu hanya akan menjadi kebetulan yang menjengkelkan.
Bagaimana mengatasi mentok-penulisan?Biasanya kebuntuan dirasakan jika tidak ada jarak dalam membuat tulisan, sehingga kita tidak bisa melihat ada jalan lain. Ambillah jarak dengan beristirahat dan meninggalkan tulisan yang buntu itu selama beberapa hari. Saat menengok tulisan kembali, cobalah pakai cara pandang baru. Lihat kembali ide-ide seperti kepingan lego atau puzel. Lihatlah berbagai kemungkinan apakah kita memasang kombinasi yang salah atau susunannya perlu diganti.
Bagaimana mengatasi kehabisan ide?Untuk mengatasinya banyaklah membaca dan mendengarkan pihak lain. Menurut Mba Ayu enam puluh persen pekerjaan menulis adalah membaca.
Apa betul, agar bisa menulis maka tulis saja segala yang terlintas di benak?Cara itu boleh dilakukan bila menulis catatan pribadi. Bila membuat tulisan yang dibaca orang lain,  sebaliknya pikirkan apa yang dibutuhkan orang banyak (termasuk diri kita sebagai bagian dari orang banyak).
Bagaimana agar tidak takut menulis?Jangan terlalu memikirkan diri sendiri. Segala rasa takut berasal dari terlalu banyak memikirkan diri sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox

@diannafi