Menjadi juri konten kreatif
Menjadi juri konten kreatif, awalnya terdengar menyenangkan. Seperti diberi kursi di barisan depan untuk menyaksikan ide-ide segar lahir dari kepala-kepala yang berani. Tapi ternyata, duduk di kursi itu tidak sesederhana memberi nilai.
Hari pertama, aku membuka satu per satu karya yang masuk. Video, desain, tulisan—semuanya seperti membawa potongan kecil dari kehidupan orang lain. Ada yang rapi, ada yang berisik, ada juga yang terasa jujur meski sederhana.
Di titik itu aku sadar, yang sedang aku nilai bukan sekadar konten. Tapi juga keberanian seseorang untuk didengar.
Semakin banyak karya yang aku lihat, semakin pelan aku mengambil keputusan. Karena di balik satu menit video, ada jam-jam yang mungkin penuh ragu. Di balik satu desain, ada revisi berkali-kali yang mungkin tidak pernah kita tahu.
Dan di situlah letak resahnya.
Bagaimana mungkin aku merangkum semua proses itu menjadi angka?
Aku mulai berhenti mencari yang paling sempurna. Sebaliknya, aku mencari yang paling “hidup”. Yang punya rasa. Yang terasa punya alasan untuk dibuat.
Menjadi juri, ternyata bukan soal siapa yang paling layak menang. Tapi tentang seberapa jujur kita melihat usaha orang lain tanpa mereduksinya.
Aku belajar menahan ego. Belajar bahwa selera pribadi tidak selalu bisa dijadikan ukuran. Dan yang paling penting, belajar bahwa setiap karya—sekecil apapun—adalah bentuk harapan.
Hari itu aku pulang dengan pikiran yang lebih penuh daripada saat datang.
Karena menjadi juri, diam-diam mengajarkan satu hal:
bahwa menghargai karya orang lain, adalah cara paling sederhana untuk tetap manusia.
**
Baca seri buku jkreatif by dian nafi di sini >>
https://play.google.com/store/books/series?id=Ew-LHAAAABCZEM



Tidak ada komentar:
Posting Komentar