My Mom My Hero

My Mom My Hero


Semua orang pasti kebanyakan bilang ibuku pahlawanku. Ya kan?
Apalagi di hari Ibu yang beberapa hari lagiakan menghiasi time line kita di twitter, fesbuk, instagram, dan lainnya.

Demikian pula ibuku. Dia yang membersamaiku sejak aku masih berbentuk embrio hingga sekarang ini. Bayangkan saja sudah puluhan tahun. Nggak usah sebut umur ya, ntar jadi ketahuan umurku lagi. Hehehe....


Jadi begitu mbak Chella dan Noorma minta supaya aku cerita tentang pengalaman berkesan dengan ibu, ya banyak sekali yang terlintas di kepala. Karena banyak sekali kisah yang begitu menghunjam di jiwa. Ratusan? Mungkin ribuan atau mungkin juga jutaan? Who knows.

Namun yang sebenarnya aku selalu kelu bicara tentang ibu. Beberapa kali audisi menulis tentang ibu bahkan selalu kulewatkan karena aku tak bisa menuliskannya. Ataupun jika telah memulai menulis, tak pernah bisa kuselesaikan. Ada sekat tak tampak tapi jelas hadir di antara kami.

 Aku dan ibu memiliki hubungan yang unik. Menurut sahabatku itu disebabkan oleh karena kami saling menyayangi tetapi tidak tahu bagaimana cara mengatakan atau memperlihatkannya. Ibu sangat protektif padaku sedangkan aku sangat hormat dan segan kepadanya. Jadi kadang seperti ada dinding tinggi di antara kami, seperti berdiam dalam rumah es. Jarang terjadi percakapan hangat apalagi saling menatap.


Tapi ada beberapa situasi yang kulalui bersama ibu yang sekarang ini terlintas dan sangat berarti.



SEHARI SEBELUM PERNIKAHAN

Sehari sebelum pernikahan, ibu mengajakku bicara rahasia. Bagiku ini momen yang sangat istimewa karena aku dan Ibu tak pernah dekat. Aku tahu ibu menyayangiku tetapi caranya mengasihi yang kadang tak kumengerti, tak sesuai dengan keinginanku. Ingin merasakan kepalaku dibelai dalam pangkuannya, tetapi beliau sering terlupa. Mungkin karena beliau sendiri tumbuh sebagai gadis yang keras ditempa kehidupan kurang berkecukupan dan beliau menjadi salah satu punggung keluarga, membantu kakekku berdagang apa saja. 

 Di malam sebelum pernikahanku itu, beliau berpesan singkat saja.
Nok, nanti dalam perjalanan pernikahan pasti terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan. Tapi ingat ini, jika kamu dan suamimu bertengkar, jangan sekali-kali menjauh, tapi kamu justru harus mendekat. 

Begitulah, dan karena kupraktekkan pesan ini, maka aku tak pernah purik. Hehehe



SETELAH KEMATIAN  SUAMI

Salah satu  pengalaman berkesan bersama ibu   adalah saat beliau menemaniku selama beberapa hari setelah kematian suamiku. Padahal kantor ibu letaknya 40 kilometer dari rumahku saat itu. Tapi setiap hari sepulang kantor, beliau langsung naik bis menuju rumahku. Agar malamnya bisa menemaniku dengan anak-anakku yang saat itu masih berusia 3 tahun dan 1,5 tahun.

Ibu sepertinya memahami bahwa diriku sendiri pastilah mengalami rasa kehilangan yang sangat sehingga jiwaku  belum begitu stabil.  Akibatnya akan tidak baik untuk anak-anakku kalau aku justru menumpahkan kesedihan dan ketidakstabilanku itu pada mereka.

Jadi kalau malam-malam ada anak-anak yang terbangun, entah mau pipis atau minta minum, Ibu dengan sigap gantian denganku melakukan tugas-tugas ini. Yach semacam pengganti almarhum suamiku lah untuk hal-hal demikian.

Dan karena lokasi kantor yang sangat jauh, terpaksa sekali pagi-pagi dini hari setelah sholat subuh, ibuku berjalan menuju jalan raya untuk naik angkot dan oper naik angkot lain hingga dua kali, lalu naik bis menuju kantornya. Begitu setiap hari. Bayangkanlah betapa capeknya beliau.

Setelah sekitar beberapa minggu, dan aku kelihatan sudah lebih kuat serta stabil, barulah beliau pulang ke rumahnya sendiri dan kadang menginap di kamar kost dekat kantornya sana.

Subhanallah. Mengingat ini kembali rasanya aku mau menangis deh. Betapa besar pengorbanan beliau. Dan aku yakin Ibu melakukannya dengan ikhlas sepenuh hati, tanpa pameih apa pun.

DITINGGAL KE HAROMAIN

Dan ibu kembali menunjukkan kebesaran jiwanya sebagai ibu dan dukungan penuhnya padaku, saat tahun depannya menjagai kedua anakku saat kutinggal pergi haji.

Bayangkan saja selama empat puluh hari aku di Makkah Madinah, kadang ibadah kadang jalan-jalan belanja-belanja ya kan, dan ibuku di rumah justru mengasuh kedua cucunya. Anak-anakku yang saat itu berusia empat tahun dan 2,5 tahun. Setiap harinya mengantar mereka sekolah sebelum beliau pergi ke kantor. Sore sepulang kantor pasti direcokin, dan malamnya apalagi.

Belum lagi kalau pas anak-anak rewel karena teringat ibunya yang tidak berada di dekat mereka.

Tapi Ibuku sungguh tangguh. Subhanallah. Alhamdulillah.


Duuuuh, jadi mau nangis lagi kan. Hiks.

Yang seru kalau menurut cerita anak-anak dan juga ibu sendiri adalah saat mereka pergi ke masjid melihat sapi korban yang ibu beli bersama teman-temannya, usai sholat hari raya Idul Adha. Anak-anak memberi makan sapi tersebut dengan riang gembira dan penuh canda tawa sebelum sapinya disembelih.


 

Terima kasih, Ibu. Selamat Hari Ibu.
Teriring peluk cium dan kasih untukmu..










**
Untuk  kerjasama  review, liputan, event, narsum dll
For reservation,  review and any other collaboration
please do not hesitate to contact at 085701591957 (sms/wa)
Line: diannafi57

0 komentar:

Posting Komentar