Hotel Arya Duta Gambir Jakarta

Hotel Arya Duta Gambir Jakarta

 Alhamdulillah, writravelicious berkesempatan untuk menginap di hotel Arta Duta Gambir Jakarta.
Kali ini dalam rangka menghadiri malam penganugerahan bagi pemenang kompetisi blog dan blog. Jadi ceritanya tulisanku menjadi salah satu finalis dan nominator lomba. Sehingga kami diterbangkan ke Jakarta untuk mendapatkan hadiah workshop tentang blogging dan vlogging. Plus mengikuti  Bank Indonesia Festival 2020 di Museum Bank Indonesia.
Selama empat malam ini kami diinapkan di hotel Arya Duta Jakarta.  Jaraknya kurang lebih 900 meter dekat stasiun Gambir Jakarta.
Dari bandara internasional Soekarno Hatta aku naik kereta bandara, turun stasiun Sudirman BNI City lalu sambung gojek ke hotel Arya Duta ini.
Hotel Arya Duta termasuk hotel yang senior, alias sudah ada sejak jaman baheula. Kelihatan juga dari beberapa elemen di dalam kamarnya.

Namun karena memang aslinya berstandar internasional, maka meski sudah jadul tetap saja kesannya klasik dan elegan. Semacam everlasting class gitu deh.
Aku dan mbak Nia menempati kamar dengan dua bed dengan headboard kayu. Sentuhan interiornya klasik dengan bahan kayu dan marmer sebagai alas meja-mejanya.
Layar TV flat di atas meja konsol panjang marmer, berada di tengah-tengah antara area lemari built in dekat pintu masuk dan meja baca di sisi dekat jendela.

Sebuah ukiran bergaya suku Asmat menjadi hiasan dinding di atas TV tersebut. Jadi ingat ukiran-ukiran mirip yang kutemui saat mendarat di Bandara soekarno Hatta terminal domestik 2E tadi. By the way, ukiran yang sama juga kulihat di ruang tamu rumah seorang Belanda kolektor barang antik di Leiden waktu aku pergi ke Eropa tengah tahun lalu.
Tatanan interior ruang dalam kamar hotel Arya Duta lumayan chic, flow aliran alur ryang geraknya juga lumayan enak dan leluasa karena luas. Kami bisa menggelar sajadah di pojokan untuk sholat dengan nyaman dan menemukan petunjuk kiblatnya ada di dalam rak laci meja baca.
Ada lampu baca di meja kerjanya, sehingga di sela-sela acara utama kita bisa melakukan pekerjaan lain juga yang memang sering bisa digarap secara mobile.
Pencahayaan alias lighting kamar direncanakan dengan baik dan bisa digunakan sesuai keperluan.
Saatnya istirahat sekarang setelah tadi sempat berendam di bath tub-nya. Have nice rest for morning refresh! :)

Night at Kota Lama Semarang

Night at Kota Lama Semarang


Akhir tahun kemarin kami, aku dan anak-anak, sengaja tidak berlibur jauh-jauh. Alasannya karena emaknya sudah capek pergi luar kota-an berhari-hari terus hehe, liburannya juga cuma sebentar jadi nggak mungkin pergi lama-lama, terus juga pingin irit duit juga. Eaaaa...

Kami pergi mengunjungi saudara-saudara, nenek, pakdhe, budhe, sepupu-sepupu, adik, ipar dan lain-lain terus sembari ke beberapa destinasi.


Meskipun aku sudah sering banget pergi ke Kota Lama Semarang, tapi kali ini aku juga mengajak anak-anak untuk menikmati keindahan suasana tempat ini di malam hari. So, kami berangkat naik bis Trans Semarang sama-sama. Setelah muter-muter dan transit dari halte ke halte, akhirnya sampailah kami ke halte Trans yang dekat dengan pool bis Damri. Letaknya di seberang kawasan Kota Lama Semarang.

Hari masih sore sebenarnya. Tetapi mendung dan gerimis membuat kami lapar lagi meskipun tadi sudah makan ketika mau berangkat jalan-jalan. Eaaaaa...

Walhasil kami mampir ke warung sebelah kantor Telkom dan SDK aka Semarang Digital Kreatif untuk mengisi perut. Menu nasi goreng babat telur dan jeruk menjadi teman kami menyambut maghrib.



Dari arah pool Damri kami menyeberang jalan ke kawasan Kota Lama lalu menyusuri pedestrian sepanjang jalan Mpu Tantular.  Melewati Cafe Sepur dan berfoto di depan miniatur keretanya yang berkelip-kelip, lalu gedung PELNI, juga sebuah bangunan yang kayak rumah hantu karena sepertinya kosong lama dan seram auranya. hiiiii.... Then sempat berfoto-foto sebentar di depan gedung Bank Mandiri, merekam jejak kaki di salah satu ubin trotoarnya yang apik dan nyeni.






Beberapa pelancong juga tampak menikmati suasana di sana. Sebagian mereka kelihatan datang dari luar kota, bahkan ada yang memakai peralatan kamera lengkap untuk mengabadikan momen-momen di Kota Lama Semarang yang makin indah ketika malam menjelang.

Dekat salah satu tiang lampu jalanan, kami temukan pak tua tukang becak sedang duduk di kendaraan tradisional ini. Mungkin dia juga sedang menikmati lampu-lampu di jembatan Berok petang ini seperti juga kami. 






Belok kiri ke Jalan Suprapto alias jalur utamanya kawasan Kota Lama, aku bisa menangkap bangunan yang dulu kubuat untuk tugas perancangan di kampus arsitektur bareng sahabatku. Bangunan di sebelah gedung Paphros ini milik PTPN, menghadap jalan Sendowo, persis di sisi sungai Berok. Kami  waktu itu memotretnya, naik-naik ke atasnya, mengukur semua elemen, lalu menggambarnya sampai detail bahkan membuat maketnya lalu mempresentasikan di kelas. Masing-masing kelompok mahasiswa mendapat tugas-tugas yang berbeda, tapi semuanya mengambil kasus bangunan-bangunan peninggalan  Belanda di kota lama Semarang ini. Selain tugas perancangan, kami juga sering dibawa oleh dosen ke kota Lama Semarang ini untuk memotret, menggambar, membuat sketsa-sketsa bangunan-bangunan di sini sebagai bagian dari tugas Teknik Presentasi. Dan dosen Tekpres ini adalah salah satu dosen favoritku. Duh jadi kangeeen. tapi beliau sudah almarhum. Lahul fatihah.



Malam itu suasana hangat, bahkan padat, banyak sekali orang menyusuri kawasan kota Lama Semarang, sampai kalau jalan di trotoar tepi jalannya kadang harus mencari ruang untuk menelisip-nelisip supaya bisa lewat. Agak sulit memotret jarak dekat karena banyak orang. Jadi lebih banyak mengambil foto dengan lensa lebar alias jarak jauh.

Melewati gedung Old City 3D anakku langsung komentar, eh kita pernah nih masuk ke dalam situ. Iya, memang kami sudah pernah ke sana beberapa tahun lalu.

Kutunjukkan beberapa gedung di seberangnya yang mungkin waktu itu mereka belum sempat pindai dan kenali. Ada Gallery Kreatif Semarang, dan resto Ikan Bakar Cianjur yang terkenal itu.





Sebenarnya aku tuh maunya bisa berlaku kayak guide bagi mereka, seperti yang sering almarhum bapakku dulu lakukan dan tunjukkan pada kami, anak-anak-nya, tiap kali pergi ke pameran ataupun kunjungan ke mana saja. Ingin kujelaskan pada mereka ini lho   Gedung asuransi Jiwasraya dan gereja Blenduk, gedung Marba, Spiegel, taman Sri Gunting, gimana sejarahnya, ceritanya, arsitekturnya dan lain lain. Tapi anak-anakku tuh cenderung gak bisa tenang dan memperhatikan, punya mau sendiri dan inginnya gerak mobile terus. Bahkan untuk difoto atau selfie bareng pun nggak mau. Ahaha...akhirnya buyar dan ambyar lah impianku.



Mereka malah spontan langsung antusias menyewa sepeda di dekat gedung Spiegel, dan kami bertiga akhirnya melewatkan malam itu dengan sepedaan bareng mengelilingi kota lama Semarang. Menyusuri setiap gang dan lorong-lorongnya, bahkan sampai ke bagian-bagian sepi yang tidak tersorot lampu jalanan dan orang-orang yang berlalu lalang.


Setelah sekitar satu jam bersepeda, kami kembali berjalan kaki dan menikmati suasana. Lalu mampir di salah satu kafe di kota Lama Semarang, dalam Galeri Kreatif. Aku memesan wedang uwuh, anak lanang capuccino dan anak perempuanku memesan juice.




Sepupu mereka menjemput kami yang menunggu di jembatan Berok sembari menikmati sisa malam itu. Bangunan PTPN yang kuceritakan tadi tampak indah dari sisi kami berdiri. Lampu-lampu sorot menonjolkan estetika arsitekturalnya, kekuatan fasade yang dibentuk dari detail elemen-elemen yang diperhitungkan dengan cermat menggunakan proporsi Vitruvius Da Vinci. Suasana bangunan di tepi kanal ini mengingatkanku saat di  Belanda Juni 2019 lalu. Sayangnya kali Berok mengeluarkan bau tak sedap sehingga itulah yang membedakannya dengan  suasana di Belanda yang air dan udaranya bersih. Waduh, jadi kangen Netherland. 


Btw, di kawasan kota lama ada akar pohon yang nempel di dinding bangunan dan seringkali buat spot foto orang-orang dengan cara memanjatnya lho. Meski banyak orang bilang bagian situ agak angker dan seram. Hehehe


Muslimat travel to Dieng Wonosobo

Muslimat travel to Dieng Wonosobo
 Alhamdulillah di akhir tahun 2019 kemarin, beberapa pengurus Muslimat travel to Dieng Wonosobo. Berangkat pagi-pagi sekali hari sabtu, satu bis besar penuh dengan mbak-mbak dan ibu-ibu pengurus Muslimat Nahdlatul Ulama Cabang Demak.
 Ada beberapa pengurus yang tidak bisa ikut serta dalam perjalanan traveling kali ini karena menemani anak-anak mereka yang sedang liburan di rumah sebab hari-hari biasanya berada di pondok pesantren. Begitulah, bagi sebagian orang memang ada prioritas-prioritas tertentu, lebih memilih meluangkan waktu bersama anak-anak daripada jalan-jalan dengan teman-teman yang mungkin bisa dilakukan pada kesempatan yang lain. Bisa jadi juga karena sudah sering traveling sehingga menghabiskan waktu, uang serta energi, pada akhirnya musti istirahat sebentar di waktu-waktu yang memungkinkan. Ada lagi alasan lain juga, karena merasa tidak enak kalau ikutan rombongan padahal ibunya juga sama-sama muslimat, kalau barengan pergi selain gak seru juga gak enak dengan pengurus lain, sedangkan kalau pergi sendiri tapi nggak mengajak ibunya juga nggak enak rasanya. Hehe ada-ada saja.
 Alhamdulillah perjalanan lancar dan tak ada kendala berarti. Sesampai di lokasi wisata, segera saja mbak-mbak dan ibu-ibu pengurus Muslimat NU ini berselfie ria, mengambil foto di spot-spot yang mengagumkan. Dan tentu saja berpose foto bersama-sama. Warna-warni kostum baju yang dipakai membuat gambar menjadi semakin semarak.
 Banner baliho panjang yang sudah disiapkan terentang di depan para bunda-bunda aktifis dan organisatoris ini.  Seru!
 Perpaduan pemandangan alam dan bangunan-bangunan candi serta hawa sejuk.pegunungan memang menjadi daya tarik bagi banyak  pelancong untuk pergi berkunjung ke Dieng Wonosobo ini.
 Alhamduliah hari yang cerah, tidak hujan mendukung kegiatan para perempuan organisatoris  Muslimat NU sepanjang hari itu.
 Kesempatan menaiki propertis yang ada di sekitar tempat destinasi wisata tidak disia-siakan begitu saja. Kita tahu di era digital ini, semua foto yang berpotensi menjadi konten instagrammable menjadi sangat berarti. Apalagi bagi para perempuan yang suka narsis dan eksis. He he he.
 Makan bersama usai jalan-jalan traveling Diemg Wonosobo juga menjadi arena dan media untuk menambah keakraban juga kesolidan para pengurus Muslimat Nahdlatul Ulama.
 Semoga bisa ketemu di kesempatan travelimg berikutnya. Aamiin.

Traveling Cirebon di sela Konferensi

Traveling Cirebon di sela Konferensi


Alhamdulillah, beberapa waktu lalu akhirnya aku kesampaian menjejakkan kaki ke stasiun Cirebon, setelah selama ini cuma lewat-lewat dan tengok-tengok aja kalau pas perjalanan menuju atau dari jakarta. Tulisanku lolos seleksi dan aku diundang ikut konferensi women writers conference. 


kalau mau baca panel-panelnya, langsung klik list ini:
  1. Musdah Mulia dan Muslimah Reformis
  2. Faqihuddin Abdul Kodir dan Muslimah Reformis
  3. Musriya dan Muslimah Reformis
  4. Husein Muhammad dan Muslimah Reformis
  5. Kajian Gender Islam Nur Rofiah
  6. Participant Reflection
  7. Perempuan dan Pesantren
  8. Merumuskan Hukum Keluarga Adil Gender
  9. Perjalanan Menuju Mubaadalah
  10. Writing Session
  11. HAM Internasional untuk Penguatan Isu-Isu Perempuan

Naik kereta pagi hari bakda subuh, aku membutuhkan tiga jam perjalanan menuju kota yang sarat dengan sejarah dan keunikan budaya serta adatnya ini. 

Dari stasiun aku berjalan kaki menuju penginapan yang memang berada di tengah kota. Karena lapar, aku makan nasi khas Cirebon di dekat penginapan. Setelah itu jalan-jalan ke Masjid taqwa, ke Grage Mall lihat Gramedianya dan ke PGC Pusat Grosir Cirebon untuk beli oleh-oleh. Lho baru datang kok beli oleh-oleh? Soalnya khawatir kalau pas pulangnya nggak sempat beli. 

Besok harinya bareng teman sekamarku, Winda Dosen Universitas di Malang, kami jalan--jalan menyusuri kota Cirebon setelah sarapan nasi jamblang. 

Pagi-pagi tentu saja Pasar Cirebon sudah ramai. Letaknya di ujung Pecinan. Ya kayak di kota-kota lain juga ya ternyata. Oh ya, aku gak sempat foto di alun-alu cirebon soalnya lagi direnovasi, jadi dipagari dengan seng-seng tinggi. Ufh, my loss ya. Semoga kapan-kapan bisa ke Cirebon lagi karena masih ada Goa dan Pantai yang belum sempat kukunjungi. 


Cakep banget lho, Meskipun pasar tradisional, tetapi lumayan bersih dan teratur kok. Sebagian percakapannya juga pakai bahasa Jawa. Mungkin karena berada antara Jawa dan Sunda. 


Setelah beli beberapa buah-buahan dan air mineral, kami lanjut ke keraton Cirebon Kaneman. Letaknya dekat pasar Cirebon. jadi belok kiri memasuki gerbang putih besar itu terus jalan sampai ketemu kompleks bangunan dengan warna dominan putih di bagian depannya ini. 


Aku dan Winda saling gantian memotret. Itulah enaknya kalau jalan ada temannya. Meski kalau lagi jalan sendiri, aku biasanya tidak kurang akal dan cara. Cukup taruh botol air mineral di depanku dengan jarak yang cukup, lalu taruh handphone dengan cara terbalik di sana alias siap untuk pose selfie, dan atur settingan timer nya, 10 detik misalnya. jadi begitu mencet klik motret, aku sempat lari menempatkan diri untuk berpose. 
Gitcccchuuu..... (eh buka rahasia nih)

Keraton Kaneman agak serem tampilan dan auranya hehe. Itu kata Winda sih. Soalnya dia memang sensitif banget dnegan hal-hal begituan katanya. 



Dan oh oh, aku semakin sadar bahwa ternyata kok nduts banget ya diriku. Hiks hiks, Nekat nih makan-makan terus gak pernah diet dan jarang olah raga sih. 

Dari keraton kaneman, kami jalan kaki lagi ke keraton Kasepuhan. Cukup melintasi gang-gang dalam pasar, lalu belok  kanan dan lanjut terus sampai ketemu kompleks keraton yang dominan dengan warna serta material merah bata ini. 

Ya walaupun aku bilangnya dekat tapi sebenarnya lumayan lho. Pulang pergi perjalanan kami pagi itu ssekitar sepuluh kilo meter an lah. Uhuuy.... Tapi kami memang demen jalan kaki. Aku sembari nostalgia jalan kaki menyusuri Netherland Juni lalu, dan Winda nostalgia jalan kaki semasa perjalanannya ke Norwegia beberapa tahun lalu. Cocok tho kami berdua. hehehe...



Di depan masjid Ciptaning rasa, kami juga berpose. Tapii gak sempat masuk, karena masih tertutup. 
Masjid ini tempat nikahannya artis sepuh dengan sastrawan sepuh waktu itu lho, yang bikin baper orang-orang termasuk diriku, uh ternyata walaupun sudah tuwir tetap bisa menikah lagi lhooooo.... 
(Mauuuuu... *halagh :D)

Kami sampai di keraton Kasepuhan dalam keadaan sangat berkeringat. Bedak dan lisptikku juga sudah luntur kayaknya selagi memasuki gang-gang pasar yang tentu saja bau keringat, ikan asin, aneka jajan, gorengan dan mau tidak mau sampah pasar juga.  Hehehe


Alhamdulillah selama di keraton Kasepuhan ada guide tour yang mengantar kami berkeliling dan menceritakan secara lengkap sejarah keraton Cirebon, menunjukkan benda-benda bersejarah berikut kisah-kisah di baliknya. 

Meski berusaha foto di banyak spot, tentu saja masih ada yang terlewat ya kan. Karena kami gak mau sampai kesiangan juga untuk sampai di arena konferensi. 


Selain ada masjid Ciptaning rasa di dekat alun-alun atau lapangan besar depan keraton, ternyata ada juga surau atau langgar atau musholla yang ada di dalam kompleks yang lebih dalam. 


Di seberang surau tersebut, beridir bangunan museum pusaka keraton kasepuhan. Arsitekturnya menurutku justru menyesuaikan dengan bangunan yang sudah ada di keraton kaneman, selain tentu saja terinspirasi beberapa artefak dan tetenger yang ada di kompleks keraton kasepuhan ini. 

Gerbang putih ini antara lain bangunan yang sudah ada duluan dan menginspirasi bangunan tambahan di kompleks.  Khas banget khan. Cirebon sekali. Mega mendung ini yang jadi inspirasi kain batik trusmi khas Cirebon. 





Alhamdulillah kami juga dipertemukan dengan Pangeran Heri, keturunan dari Sultan Cirebon Raden Fatahillah. Masih muda. Wajahnya putih bercahaya, tuturnya sangat lembut dan bijaksana. Aku tak kuasa menahan air mataku saat mendengarkan wejangannya. 

Pulang dari Keraton, kami mampir makan Docang dekat pasar. 


Sore setelah konferensi, kami pergi ke batik Trusmi untuk belanja oleh-oleh lagi, Hehehe.


Perjalanan Satu Dekade Dian Nafi

Perjalanan Satu Dekade Dian Nafi

Awalnya ikut-ikutan para twips yang share tentang one decade nya di twitter.

Nah, terus ternyata lumayan juga rekapnya. Jadi kita angkutlah ke postingan blog ini.


1 dekade travel
10 kediri iait
11 jkt kompas
12 puncak noura
13 ubud uwrf
14 banyuwngi,mojokerto,langitan
15 medan erlangga
16 spore,jkt rri,bandung,jogja sgm
17 salatiga,magelang,lamongan
18 jkt tempo,srby bekraf
19 malaysia,karimun,paper belanda, paris, belgia, jerman, cirebon


Total ada 28 buku tunggal dan 84 antologi dian nafi di 17 penerbit indonesia, yang tertulis di list ini adalah sebagiannya.

One decade #DNbooks
10 mayasmara,lkl,sgtg
11 miss backpacker naik haji,sarva
12 ayah,lelaki itu mengkhianatiku, gta
13 mesir suatu waktu,cck
14 just in love,LP
15 gus, socioteenpreneur,mkh,
16 matahari matahati,bspc,idt
17 banu,mcgs,gfrm
18 how to reset your life,MM,LM
19 paper


Alhamdulillah sungguh sebuah kesyukuran

One decade gratitude journal
2019
https://t.co/3wnBg6U1ym
2018 https://t.co/2uAsXcneSD
2017 https://t.co/CmMUtLKe3h
2016 https://t.co/SHUNsEilWg
2015 https://t.co/9a9Xy6JrUJ
2014 https://t.co/hdxsJRAmZx
2013 https://t.co/JnkOps5d4h
2012 - 2011 https://t.co/FvfXeGer0a
2010 hasfa

One decade lolos seleksi+award
10 workshop cerpen kompas
11 KPK+PBA
12 NBA noura
13 PSA grasindo
14 PSA grasindo
15 bulannarasi+plotpoint
16 goodreads gus
17 apresiasi literasi award dr bupati
18 jurnalisme investigasi tempo
19 presenter paper konferensi internasional belanda

One decade writing genre
10 kisah inspiratif,antologi
11 chicken soup story
12 buku anak,parenting
13 kum cerpen,puisi
14 novel2 biografi/memoir
15 novel2 pesantren
16 buku2 enterpreneurship
17 buku2 motivasi, personal growth
18 buku2 people development
19 esai, paper, jurnal

One decade acquaintanceship expertise field
10 writing
11 publishing
12 blogging, copywriting
13 novel
14 demagz, jurnalism
15 script, content
16 travel writing, hasfa camp
17 yoga, batik, digital marketing
18 jurnalisme investigasi, coding
19 paper, shibori, coaching


1 decade diet model
10 kepathen bojo
11 vegetarian, food combining 4 bulan
12 gak diet
13 gak diet
14 jendela makan
15 mayo turun 8 kg 2 mg
16 mayo+pilates turun 12 kg 6 bln
17 yoga
18 herbalife turun 6kg 20 hr
19 gak diet

2020 enaknya diet apa ya

One decade percintaan perlu gak nih
#eaaa





Perjalanan Menuju Mubadalaah

Perjalanan Menuju Mubadalaah

Hidup adalah serangkaian Perjalanan Dari Pemahaman Ke Pemahaman Lain

Gambar

Panel lainnya di Women Writers Conference:
Musdah Mulia dan Muslimah Reformis
Faqihuddin Abdul Kodir dan Muslimah Reformis
Musriva dan Muslimah Reformis
Husein Muhammad dan Muslimah Reformis
Kajian Gender Islam Nur Rofiah

Participant Reflection
Perempuan dan Pesantren
Merumuskan Hukum Keluarga Adil Gender



Para peserta Women Writers Conference mendapat kitab mubaadalah versi kitab kuningnya juga. Alhamdulillah

Prinsip metode mubaadalah Kt beriman thd teks yg diinterpretasikan itu. Misinya rahmatan lil.alamiin. kita buka bukan dlm tataran teksnya, tp keadilam gender sbg misi utama teks tersebut.. maka kita reinterpretasikan dg yg lbh ramah genderz dg tujuan kesalingan.


Jgn menyerang masy yg meyakini teks itu. Jadikan sbg kendaraan transformasi. Jk tdk mampu reinterprestasi, mauquf dulu. Krn ini proses.
Gambar
Ayat2 itu ada 3 jenis.


Teknik paling sederhana, temukan maknanya yg dekat dg kesetaraan. Ex. Perenpuan tdk boleh menyerupai laki2. Tdk boleh rambut pendek, pakai celana Makna bersamanya disharingkan. Kalau tdk dpt makna bersama, jgn dipakai utk menyerang.

Perempuan tercipta dr tulang rusuk yg bengkok. Jd pemahaman semua org, pdhl di quran gak ada. Di injil ada Apapun yg dipakai hrs dimaknai, biar bahagia. Termasuk ayat. Ada 2 versi Tercipta Seperti Mnrt hadits, seperti. Bukan perempuan, tapi istri. Maknanya kiasan.

Yg mudah patah bukan cuma istri, tp suami Pemaknaannya mjd kadang sebagian istri/suami itu ada yg keras, spt tulang rusuk bengkok. Hilangkan kata perempuan Stlh itu, kaji dg psikologis dst

Perempuan = neraka Tdk boleh dibesar2kan. Ada konteksnya. Yg dilihat iman, hati, amal Kalimatnya pakai kata Rojulun itu laki2, tp kita mengartikannya seseorang Maka imroatun itu juga diartikan sbg seseorg Yg suka melaknat dan tdk bersyukur masuk neraka. Baik laki dan prmpuan

Jgn lagi kt biarkan laki bilang pd istrinya, dik mau ibadah gak? Pas anaknya rewel dan minta gendong. Kan lakinya juga bs ibadah dg gendong anak

Sebarkan kebaikan dg mengajak dan mendorong laki perempuan utk sama2 berkesempatan beramal Kurang2 sedikit gak apa, tetap beri apresiasi.

Metode interpretasi mubadalah tdk digunakan utk mengkritik tapi menawarkan solusi kesetaraan Daya dorong thd kebaikan. Amar maruf Daya tahan dr keburukan. Nahi munkar Lupakan subjek Kembalikan ke teks Ganti dg kata yg menggantikan Kembali ke substansi teks itu sendiri

Bahasanya mungkin sdh benar. Tapi cara pandangnya yg gak adil scr hakiki, maka interpretasinya juga begitu. Misal. Setiap org boleh. Tp perempuan hrs dg ijin suami. Yg sdh ada itu sbg latar blkg. Skrg mari dorong energi utk melakukan apa ke depan

Sbg laki2 menggunakan pemahaman laki2. Logika bersama islam itu kullliyatul khomsah. Maqosidusysyariah Membela yg lemah Kyai husein dulu tradisional tp dr dulu sdh berpikir kullliyatul khomsah Pak.faqih berangkat dr curhatN perempuan yg bingung praktik kitab haidl

Memahami problem perempuan Kbykn laki2 kalau dituding2 akan keluar Pdktn mba musdah dikritik p faqih krn merasa senang diserang org. Mengajak itu tdk cari musuh Mubaadalah lahir krn berada di antara 2 kubu. Perempuan nuduh kyai2 patriarkis. Kyai2 nyalahin perempuan.

Kalau kritik dan hapus hadits2, lha mmg mau pakai apa? Menghancurkan pondasi lama perempuan, tp tdk py pondasi baru, ya repot Di philipina,kpd ulamanya, yai faqih tanya apa peran yg bs diambil utk memperdayakan perempuan Pd para perempuannya, K Faqih ty siapa idolanya?Khadijah

Kalau fave nya Khodijah, Berarti mau gak lamar laki2 duluan? Pakai bahasa spt itu. Mubaadalah tdk melawan laki2 tp mengajak laki2 utk bersama2 menemukan kebahagiaan.

Analisis Kritiknya sdh duluan. Mubaadalahnya utk mendorong Nikah di malaysia. Laki2 milik ibunya. Istrinya milik suaminya. Gmn cara memghormati ibu pdhl ibu jauh. Org butuh menghormati juga. Ketemu bgm mengelola diri. Peljran khdpn. Bangun, terpuruk, bangkit dst.

Ia ada dlm dirimu Namanya bisa mubaadalah, feminisme, keadilan gender, keadilan hakiki

Gerakan perempuan memerlukan laki2 krn ini perjuangan kehidupan. Krn ingin diterima oleh semua org, maka pakai bahasa kalimat yg bs diterima Poligami adl pernikahan yg beresiko Poligami baru bisa jika thooba lakum. wanita yg kamu senangi. Thooba dan thibna satu akar kata

Jd bukan wanita yg kamu senangi, tp wanita dan anak2nya senang, ridlo Fa in khiftum Fawaahidatan fawaahidatan fawaahidatan

Sbg kajian kritis, tawarannya apa novel islami Prinsip2 mubaadalah tdk ada dlm novel habiburrahman elshirazy Novel abidah el khaliqy ada prinsip mubaadalah Bgm cara mengintegrasikn Tulis prinsip2nya Dlm relasi dg psgn,rekan, dst Kita mendpt dan memberi. Jd hrs setara

Kt seringkali melihat hal2 yg juziyah. Mubaadalah membawanya naik ke mabadi, yg abadi. Substantif. Sejauh mana tjd kebahagiaan yg bersalingan Cari poin2 yg bs jd panduan

perlu kita massifkan mubaadalah krn mendukung muruah dan marfuah

INTERMEZZO

Perjalananku menuju dan dari mubaadalah tak mudah. Berangkatnya aja butuh 6x ganti kendaraan. Naik bis subuh2 dr alun2, kebelet pipis turun nggorawe, sambung bis, eh diturunkan di genuk, sambung angkot turun johar, sambung angkot turun tawang, naik sepur turun stasiun cirebon

Balik stasiun smrg, biasanya santai aja nģegrab balik meski dinhari, eh ndilalah keder. Akhirnya ikut yg padha transit dulu ke bringin. Subuh2 dr bringin, ngojek ke halte, sambung bis jrakah, sambung bis terboyo, smbung bis balik. Not easy journey, but no other choice except joy

Mumgkin satu yg luput dr kajian gender islam dan mubaadalah kmrn itu adalah tdk adanya perspektif pengalaman perempuan sbg janda dg yatim yg mjd salah satu dasar pertimbangan dan pijakan. It's quite different. But i don't know how to deliver about it to forum. Mgkn krn segan atau krn ingin diterima

Jd inget respon penerimaan atas konsep poligami oleh amrazing yg notabene justru bukan muslim. & bhkn ia sampaikan strategi how to deliver it with better communication and language in front of 400 audience in patjarmerah literary festival. How come outside person understnd better. Bagaimana mungkin justru orang di luar kita yang justru memahami dengan lebih baik.

Soalnya bahkan ketika ada salah satu partisipan WWC yang mengungkapkan idenya untuk menulis tentang poligami yang berkesalingan. Serta merta beberapa perempuan panitia buru-buru dan secara keras membantah bahwa tak ada poligami berkesalingan. mubaadalah itu ya monogami
🙏