Alhamdulillah

Alhamdulillah, menyusul kemudahan demi kemudahan, anugerah demi anugerah yang Allah berikan.
Saat ini setitik debu yang berdebu ini sedang menyelesaikan dua novel pesanan dari dua penerbit.
mohon doanya, semoga lancar, diberi kemudahan dan sukses sampai pada masanya melahirkan persembahan untuk teman - teman semuanya.
Aamiin....

Oh ya, kemarin sempat saya janji menyampaikan beberapa poin yang saya dapat selama bersanding dalam sebuah event dengan sang doktor ya.. hehe.. ini resume-nya, cekidot. semoga bermanfaat :)
(maaf kalimatnya pendek - pendek karena saya cicil nulisnya via twitter @ummihasfa)

 itu tdk bergerak dr ini ke itu.tp semakin naik,semakin melipat waktu,melipat ajaran.mengeliminir kerak2. dialektikanya naik.



Sifat rasul,tabligh,artinya profesional.dg seni kehidupan,seni komunikasi,menata harmoni,civil society yg berkeadaban

Kehadiran tulisan tdk bernilai lebih kalau masyarakatnya tdk punya ekspektasi dan kecerdasan.

Meningkatny apresiasi sastra thd tema relijiusitas hrsnya diikuti kajian relijiusitas itu sendiri.bgm buat reading society yg cr bacanya pas

Ilham konon spt air,mengaliri tempat2 yg kosong&lbh rendah.maka kosongkan diri&rendahkan hati 

Sandarkan pd yg Maha indah,shg tulisan mjd indah.sandarkan pd yg maha menginspirasi agar tulisan mjd inspiratif 

Knapa shbt Umar menangis ktk mdgr bacaan Toha?krn tahu epistimologi,kehadiran teks,dan mengadanya.estetika adl urusan filosofi,bgnn berpikir

Nilai ajaran&konsep spiritualitas sgt pas kalo disampaikan lewat novel.dlm tradisi sufi,ada ibn arabi,ibn thufail,iqbal,ghazali,dsb

Tulisan para sufi tdk menghakimi,tp kosmologi.estetika yg dikonstruksi dg filosofi akan abadi,murni,tdk bertendensi,bisa diterima siapa saja

kekalahan kita krn rasanya terkdg hy euforia.menulis hanya dr emosi(bukan kontemplasi) tdk akan 'mewah'

Membaca di balik segala sesuatu(metafisika)melebihi org2 biasa,hrs mjd pengetahuan kita,shg ktk melahirkannya dlm tulisan, akan bisa abadi.

Para filsuf,tirakat selama proses menulis,wudlu,puasa,sholat,baca taqrib dsb.utk menjaga kemisterian Tuhan dg AlJamal-nya(yg Maha Indah)

Ibnu Arabi menulis futuhatul makiyah secara sporadis,sesuai dg kondisi spiritualnya.(tdk menulis dlm keadaan emosi/kemrungsung dsb)

Hamka,mengelola ketidakbisaan mengada di luar mjd tetap bisa mengada di dlm(bui).karya besar sering lahir dr keterpurukan,bhkn skizoprenia

Banyak pemikir yg menulis bagus,menjadi tumpul ketika terjun ke politik. Kenapa ? mungkinn karena kemurnian dan keikhlasannya berkurang.

Jaga konsistensi menangkap wajah Tuhan saat lewat sekelebat,krn dtgnya inspirasi mmg tdk terus menerus 

Media memang mjd ajang perebutan makna.krn nya pembacalah yg hrs dicerdaskan,berikut membuat komunitas pembacanya.

 itu bagaimana menghargai dan konsisten (istiqomah)

 itu bukan jual beli,bkn krn mindset untung rugi,keserasian ekonomi dsb

 itu Tuhan itu sendiri.





*btw,pernah terbakar,mabuk cinta pdNya,spt klo pas membara jk sdg fallin dg org?biasanya stlh terpuruk krn dosa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox

@diannafi