cinta - harus memiliki atau tidak?


CINTA HARUS MEMILIKI


Kata orang: “Cinta itu tidak harus memiliki, Cukuplah melihat orang yang dicintai bahagia”

Itu hanyalah ungkapan orang yang tak mampu memiliki cinta Orang yang tak berdaya menggapai cintanya Apakah tak sakit melihat orang yang dicintai bersama orang lain??

Karena itu cinta harus memiliki.. Kenapa saya bilang harus? karena jika tidak memilikinya maka kamu akan menderita Menderita karena cinta yang tidak pasti Merasakan sakit yang tak seharusnya dirasakan untuk sesuatu yang tidak pasti Bohong jika kamu tak merasa sakit dengan cinta itu

Sahabat, jika kamu tak sanggup memilikinya Tak mampu menikahinya Lupakanlah cinta itu, jangan mencintainya lagi Karena tak ada cinta diluar pernikahan Tak ada keindahan cinta selain cinta yang terikat pernikahan

Cinta yang tak dapat kamu jangkau itu Cinta itu hanya akan menyakitimu, dirinya, dan yang akan menjadi pendampingmu

Jangan menangisi seseorang yang bukan milikmu Karena Allah telah menyiapkan seseorang yg terbaik untukmu Mungkin saat ini dia yang disiapkan untukmu.. sedang menangis mengadu kepada Tuhan-Nya Memohon agar dipertemukan denganmu..

Cintailah yang kamu miliki, karena dia sebaik-baik pilihan untukmu..



MENGAPA HARUS ADA KOMITMEN DALAM HUBUNGAN CINTA




Mengenalmu adalah suatu anugerah... Menyakitimu adalah suatu larangan



Cinta adalah sebentuk emosi. Sebagaimana bentuk emosi lain, sulit untuk bisa bertahan sangat lama. Hal ini karena pertumbuhan dan perkembangan emosi, seperti juga pada tingkah laku lainnya, ditentukan oleh proses pematangan dan proses pembelajaran. Padahal orang selalu berharap untuk memiliki CINTA selamanya.



Sedangkan komitmen adalah suatu janji pada diri kita sendiri ataupun orang lain yang tercermin dalam tindakan kita. Oleh karena itu, janji harus dipertahankan sampai akhir. Setiap orang dari kecil sampai dewasa pastilah pernah membuat komitmen, meskipun terkadang komitmen itu seringkali tidak diucapkan dengan kata-kata. Seiring bertambahnya usia seseorang, maka komitmen yang ada semakin berkembang dalam penerapannya. Lalu apa saja komitmen yang semakin berkembang itu? Bagaimana penerapan komitmen dalam kehidupan kita, terkhusus dalam hubungan cinta.Dalam diri Kita pasti memiliki sebuah visi yang rindu untuk dibawa kedalam kehidupan. Ini visi yang layak untuk kita berkomitmen penuh. Komitmen terhadap visi kita yang paling mendalam adalah tidak mudah, dan akan meminta banyak hal dari anda

Hal lain yang perlu dipupuk dalam sebuah komitmen adalah kepercayaan. Kepercayaan adalah ungkapan cinta yang utuh. Dengan sikap saling percaya, kita dan pasangan kita dapat menciptakan iklim yang baik bagi tumbuhnya benih-benih CINTA.



Hubungan "soul mate",atau juga pacaran pada dasarnya membutuhkan beberapa elemen ini. Namun, elemen-elemen tersebut muncul tahap demi tahap. Tidak berarti ketertarikan fisik akan hilang ketika kita memasuki hubungan yang lebih dalam, namun hal itu akan berubah. Kita tidak lagi mengalami perasaan yang meluap-luap, atau berbunga-bunga, begitu kita menjalani hubungan yang berangkat dari komitmen. Meskipun begitu, dalam hubungan yang sehat pun kita tetap dapat merasakan momen yang intens tersebut. Misalnya, ketika kita merasa ada yang kurang dalam diri kita ketika sang kekasih tidak lagi mengunjungi kita mungkin karena sibuk dengan pekerjaan atau kuliah, ataupun memberi perhatian sebagaimana biasanya. Yang kita rasakan bukan sekadar kangen, tetapi kita merasa ada sebagian diri kita yang hilang, atau tidak lengkap. Demikian pula yang dirasakan oleh pasangan terhadap kita.Atau juga kita bersama pasangan berkomitmen hal-hal yang merupakan ungkapan secara fisik, mengapa tidak ? Namun pada rel-rel yang benar.



Komitmen dalam hubungan asmara/berpacaran juga berarti mengorbankan diri kita sendiri. Hal ini, adalah merupakan sebuah bentuk pengendalian. Kita ingin mengendalikan bagaimana orang lain merasa atau mempunyai kesan tentang kita dengan melakukan apa yang mereka ingin kita lakukan. Ketika kita melakukan apa yang orang lain ingin kita lakukan dalam hal mengasihi, tanpa persetujuan mereka, kita akan merasa baik. Namun ketika kita mengorbankan diri kita karena kita takut terhadap kemarahan atau pemutusan hubungan oleh pasangan kita, kita akan merasa terjebak dan tertolak. Untuk berada dalam hubungan yang berkomitmen, komitmen pertama yang perlu kita lakukan adalah komitmen kepada diri kita sendiri, jujur pada diri sendiri, integritas, dan kebebasan. Belajar untuk mengasihi diri sendiri adalah kunci untuk menyembuhkan ketakutan akan komitmen. Saat kita mengasihi diri sendiri, kita akan diisi dengan cinta dan anda akan mempunyai lebih banyak cinta untuk dibagikan kepada pasangan anda.



10 Langkah dalam Menjaga Komitmen
Membuat komitmen, termasuk komitmen merajut kasih dengan pasangan kita, rasanya bukan hal yang sulit. Bahkan, bisa dibilang, semudah menelan seteguk air. Yang susah adalah menjaga komitmen tersebut agar tetap berada pada jalurnya. Menjaga agar Anda berdua tidak mencederai komitmen yang sudah dibuat.



Sering sekali kita lihat, orang dengan gampang membuat komitmen. Namun, tak sedikit di antara mereka yang mengingkari komitmen yang sudah mereka buat, yang berujung pada retaknya hubungan, bahkan perceraian (dalam hidup perkawian )Jadi, soal penting yang harus kita hadapi adalah menjaga komitmen yang sudah kita buat.Bagaimana caranya?



1. Jujur pada pasangan



Kejujuran merupakan langkah awal dalam menjalin hubungan dan menjaga komitmen. Dengan kejujuran, kita memiliki tanggung jawab moral untuk selalu menjaga komitmen yang sudah kita buat. Sebaliknya, kebohongan hanya akan mencederai komitmen. Yang juga harus dijaga adalah sikap apa adanya. Jangan berlebihan dalam segala hal, supaya komitmen tidak terlanggar. Menutup-nutupi dan melebih-lebihkan suatu kebenaran juga akan mengganggu komitmen. Langkah ideal yang perlu kita lakukan adalah bersikap jujur dan apa adanya terhadap pasangan. Sikap ini akan membawa kita pada hubungan yang harmonis dan suasana penuh kebahagiaan, sehingga hubungan kita tetap utuh.



2. Sabar



Bagaimana kita bisa menjaga komitmen jika emosi kita gampang tersulut, bahkan oleh kabar yang belum jelas, misalnya? Oleh karena itu, bersikap sabar sangat penting untuk mempertahankan komitmen. Orang yang mudah emosi saat menghadapi masalah, cenderung untuk juga mudah menghancurkan komitmen yang telah dibuat.



Oleh karena itu, terimalah setiap kejadian, baik menyenangkan maupun tidak, dengan hati lapang. Jadikan itu semua sebagai pelajaran hidup. Ingat, kesabaran sangat menentukan utuhnya komitmen kita dan pasangan dalam membina keharmonisan hubungan.



3. Saling memberi perhatian



Perhatian yang tulus akan menjadi inspirasi bagi kita untuk terus menjaga komitmen. Mungkin banyak godaan yang muncul di sekitar kita. Misalnya, godaan untuk berbagi perhatian dengan pria lain, atau wanita lain. Godaan semacam inilah yang akan menghancurkan komitmen yang sudah dibuat dengan pasangan.



Satu-satunya jalan untuk menghindari godaan semacam ini adalah dengan saling memberi perhatian pada pasangan. Tentu, perhatian yang memang tulus dari lubuk hati, bukan perhatian yang penuh kedok. Anggaplah pasangan sebagai orang yang sangat berarti dalam hidup kita. Ingatlah selalu bahwa dia adalah orang terbaik yang kita miliki untuk bersama-sama menjalani hidup. Dengan sikap seperti ini, komitmen untuk menjaga hubungan akan tetap terjaga dan kita dapat memasuki jenjang perkawinan dengan kebahagiaan.



4. Bertanggungjawab terhadap komitmen



Komitmen tentu butuh tanggungjawab. Cobalah untuk tidak bersikap seenaknya, namun jangan pula ada paksaan dalam hal membuat komitmen. Komitmen harus dibuat berdasarkan kesadaran penuh kedua pihak.



Jika ini bisa terwujud, maka kita pasti akan dengan sepenuh hati bertanggungjawab menjalankan komitmen demi kelangsungan hubungan. kita dapat menjaga tanggung jawab, misalnya, dengan menghargai pasangan kita. Jika kita tidak mau dilukai, maka jangan lukai pasangan dengan mengingkari komitmen yang telah dibuat. Inilah tanggung jawab yang harus kita junjung tinggi.



5. Mental pun perlu disiapkan



Seringkali, komitmen harus dibuat dengan sejumlah risiko. Tak pelak, mental kita pun harus disiapkan demi mengantisipasi hal-hal yang mungkin tak pernah terlintas dalam benak Anda. Misalnya, Kita menemukan bahwa pasangan ternyata masih saja suka pada hobi lamanya yang sangat menyita waktu, sementara kita sudah berkomitmen untuk tidak mengutak-atik kebiasaan pasangan. Atau kita masing-masing sudah tau kebiasaan buruk pasangan tetapi bukannya sama-sama memperbaiki tetapi saling menyalahkan sampai pada perbedaan pandangan atau prinsip yang sebenarnya dari awal hubungan telah diketahui.



Untuk itu, dalam membuat komitmen, kita juga harus menyiapkan mental agar tidak terkaget-kaget ketika berjumpa dengan sejumlah risiko. Dengan mental yang kuat, komitmen pun akan semakin kuat. Jalinan asmara pun akan tetap terjaga dan harmonis. Tanpa mental yang oke, bisa-bisa komitmen tidak akan lama bertahan, dan ini berarti hubungan terancam.



Sebaiknya, sebelum benar-benar siap mental, jangan buat komitmen apa pun. Jangan cederai diri kita sendiri dan pasangan dengan komitmen yang rapuh. Hanya dengan kesiapan mental, komitmen merajut hubungan akan berjalan lancar hingga memasuki jenjang perkawinan.



6. Berani berkorban



Membuat komitmen seringkali harus mengorbankan keinginan pribadi. Kita harus berani berkorban bila ingin membuat komitmen dengan seseorang, termasuk dengan pasangan hidup. Komitmen untuk menikah, membawa konsekuensi untuk tak lagi asyik dengan masa lalu. Komitmen untuk menikah menuntut kita untuk lebih banyak menghabiskan waktu untuk keluarga. Teman-teman dan masa lalu mungkin tak lagi menjadi prioritas. Jadi, berani berkorban untuk sebuah komitmen itu penting. Juga, memfokuskan pada komitmen yang telah dibuat dengan mengorbankan beberapa hal yang dulu kita miliki.



7. Bikin perencanaan yang matang



Setelah membuat komitmen, tentu kita tak bisa hanya berdiam diri. Kita harus segera membuat rencana matang, apa saja yang hendak kita lakukan bersama pasangan. Bertanyalah pada diri sendiri, "Setelah ini apa yang harus aku lakukan?" Pertanyaan inilah yang akan menuntun kita ke langkah-langkah yang jelas. Ada arah yang harus kita dan pasangan tuju, dan ini harus direncanakan dengan matang.



Jangan biarkan komitmen kita kosong, tidak jelas dan tidak memiliki arah serta tujuan. Dengan perencanaan, kita akan tetap selalu menjaga komitmen, karena begitu kita mengingkari komitmen, perencanaan pun akan buyar dan tujuan hidup berdua tak akan tercapai. Jadi, salah satu jalan menjaga komitmen adalah perlunya memiliki perencanaan yang matang.



8. Pentingnya komitmen tanpa syarat



Komitmen akan langgeng bila kita membuatnya tanpa melibatkan syarat apa pun, kecuali cinta dan harapan. Bila komitmen kita hanya ingin meraih kepentingan atau ambisi pribadi, tak usah heran jika komitmen kita akan cepat pudar. Hubungan pun akan hambar dan bisa-bisa tak akan bertahan lama.



Jadi, lepaskan dulu nafsu-nafsu merusak dalam diri kita sebelum membuat komitmen. Anggap pasangan sebagai pribadi yang perlu dihargai. Jalinan kasih tanpa syarat dengan komitmen yang tulus akan membuat hidup kita berdua lebih enjoy. Tidak ada beban yang perlu dikhawatirkan.



9. Jaga sikap baik



Menjaga komitmen juga berarti menjaga sikap. Jadi, kembangkan sikap-sikap yang baik dan tepislah sikap-sikap yang merusak. Jangan kotori komitmen dengan sikap yang buruk, misalnya gampang curiga, tidak percaya pada pasangan, atau ingin selalu menang sendiri. Sebaliknya, cobalah untuk bersikap menyenangkan, misalnya ramah, berbaik sangka, dan jujur kepada pasangan. Sikap positif itu harus terus kita jaga demi komitmen pada pasangan hidup.



Tak mudah memang menjaga hal-hal yang baik, sesulit kita menjaga komitmen. Namun, dengan sikap yang kita punya, yakinlah bahwa kita akan mampu. Mungkin dengan sedikit kerja keras dan kesabaran, sikap kita akan tetap terjaga dan komitmen juga akan aman-aman.



10. Cari terus inspirasi



Komitmen akan semakin kuat bila kita rajin mencari inspirasi untuk mencipta hidup berdua yang lebih baik. Kita dapat mempelajari pengalaman hidup orang lain, bisa pula dengan menonton film atau membaca buku. Dari situ, kita dapat memetik hikmah yang diberikan untuk selalu menginspirasi kita dalam menjaga komitmen. Pengalaman hidup yang tertuang dalam buku atau cerita film, misalnya, akan membantu meneguhkan komitmen dengan pasangan.



Lebih baik lagi, pelajarilah pengalaman orang lain yang jatuh bangun mempertahankan komitmennya. Ini akan dapat mempertebal semangat kita dalam menjaga komitmen dengan pasangan. Carilah inspirasi sebanyak mungkin, agar kita dapat menjaga komitmen demi keharmonisan hubungan dengan pasangan.Apabila kita, yang menjalin hubungan bukan hanya semata-mata rasa suka, cinta dan tertarik secara fisik maka Komitmen dalam menjalin hubungan berpacaran sangatlah perlu.Janganlah membuat komitmen selagi hubungan kita masih tahap memilih atau coba-coba, karena akibatnya dapat kita rasakan sendiri.

langgeng


7 Steps to Happily Ever After: How to Make Your Relationship Last
What makes love last a lifetime? Affection? Yep. Respect? Sure. But a great marriage is not just about what you have. It's about what you do to make a relationship stronger, safer, more caring and committed. Here's how to make your "forever" fantastic.

Marriage is a home, a refuge against the outside storms. And like any house, it requires a strong, lasting foundation. To build one, every couple needs to take certain steps — seven, to be precise — that turn the two of you into not just you and me but we. You may not move through all the steps in order, and you may circle back to complete certain steps again (and again and again). But if you make it through them all, you'll be well on your way toward creating a marriage that will be your shelter as long as you both shall live.

Step 1: Find a shared dream for your life together.

It's easy to get caught up in the small stuff of married life: What's for dinner tonight? Whose turn is it to clean the litter box? Did you pay the electric bill? But the best partners never lose sight of the fact that they're working together to achieve the same big dreams. "Successful couples quickly develop a mindfulness of 'us,' of being coupled," says REDBOOK Love Network expert Jane Greer, Ph.D., a marriage and family therapist in New York City. "They have a shared vision, saying things like, 'We want to plan to buy a house, we want to take a vacation to such-and-such a place, we like to do X, we think we want to start a family at Y time.'"

This kind of dream-sharing starts early. "Couples love to tell the story of how they met," points out Julie Holland, M.D., a psychiatrist in private practice in New York City and a clinical assistant professor of psychiatry at the New York University School of Medicine. "It's like telling a fairy tale. But happy couples will go on creating folklore and history, with the meet-cute forming the bedrock of the narrative." As you write and rewrite your love story ("our hardest challenge was X, our dream for retirement is Y"), you continually remind yourselves and each other that you're a team with shared values and goals. And P.S.: When you share a dream, you're a heck of a lot more likely to make that dream come true.
Step 2: Ignite (and reignite) a sexual connection.

In any good relationship, sex is way more than just a physical act. It's crucial for the health of your emotional connection, too: It's something only the two of you share; it makes you both feel warm and loved; it draws you back together when you're drifting apart. And did I mention that it's a whole lot of fun?

Striking up those sparks when you first meet is easy. Nurturing a strong, steady flame? That's the hard part. When you've got a mortgage, a potbelly, and a decade or two of togetherness under your belts, it can be hard to muster up the fire you felt when you first got together. That's when it's even more important to protect your sex life and make it a priority. "You have to keep working to create allure and seduction for each other or your sex life will become lackluster," Greer points out. "Who wants the same turkey sandwich over and over? You want it on whole wheat! On toast! As turkey salad! On a roll!" (And now I will imagine my husband covered with Russian dressing. Thanks, Dr. Greer.)

As the years go by, you'll keep revisiting and realigning and reimagining the passion you have for each other. And if you keep at it, you'll have a sex life that transcends your marriage's lack of newness, the stresses of family and work, the physical changes that come with aging. Now that's something worth holding on to.

Step 3: Choose each other as your first family.

For years, you were primarily a member of one family: the one in which you grew up. Then you got married, and suddenly you became the foundation of a new family, one in which husband and wife are the A-team. It can be tough to shift your identity like this, but it's also an important part of building your self-image as a duo (and maybe, eventually, as three or four or...).

For me, making this transition meant stopping the incessant bitching to my mom when I was mad at my husband — my behavior was disloyal, and I had to learn to talk to Jonathan, not about him. My friend Lynn tells the story of her mother's reaction to a trip to the Middle East she and her then-boyfriend (now husband) had planned. Her mother hit the roof, calling incessantly to urge Lynn not to go. Eventually, Lynn's boyfriend got on the phone with Mom and explained why they were excited to share this experience. "It was clear then that we were the team," Lynn says now. "Not teaming up against my mother, but teaming up together to deal with her issues."

Whatever your challenges — an overprotective mom? an overly critical father-in-law? — you have to outline together the boundaries between you and all of the families connected to you. Not only will you feel stronger as a united front but when you stick to your shared rules, all that family baggage will weigh on you a lot less.


Step 4: Learn how to fight right.

I'm embarrassed to think of how I coped with conflict early in my relationship with Jonathan. I stormed out — a lot. I once threw an apple at his head. Hard. (Don't worry, I missed — on purpose.) I had a terrible habit of threatening divorce at the slightest provocation. But eventually I figured that this was pretty moronic. I didn't want out, and I knew that pelting someone with fruit was not a long-term marital strategy.

"Fighting is the big problem every couple has to deal with," says Daniel B. Wile, Ph.D., a psychologist and couples therapist in Oakland, CA, and author of After the Fight. That's because fights will always come up, so every couple needs to learn how to fight without tearing each other apart.

Fighting right doesn't just mean not throwing produce; it means staying focused on the issue at hand and respecting each other's perspective. Couples that fight right also find ways to defuse the tension, says Wile — often with humor. "Whenever one of us wants the other to listen up, we mime hitting the TV remote, a thumb pressing down on an invisible mute button," says Nancy, 52, an event producer in San Francisco. "It cracks us up, in part because it must look insane to others." Even if you fight a lot, when you can find a way to turn fights toward the positive — with a smile, a quick apology, an expression of appreciation for the other person — the storm blows away fast, and that's what matters.

Step 5: Find a balance between time for two and time for you.

Jonathan and I both work at home. This frequently leads to murderous impulses. Though I'm typing away in the bedroom and he's talking to his consulting clients in our small home office, most days it really feels like too much intimacy for me.

But that's my bias. When it comes to togetherness, every couple has its own unique sweet spot. "There are couples that are never apart and there are couples that see each other only on weekends," Greer says. With the right balance, neither partner feels slighted or smothered. You have enough non-shared experiences to fire you up and help you maintain a sense of yourself outside the relationship — not to mention give you something to talk about at the dinner table. But you also have enough time together to feel your connection as a strong tie rather than as a loose thread.

Your togetherness needs will also change over time, so you'll have to shift your balance accordingly. "My husband and I spend a lot of time together, but it's almost all family time," says Katie, 40, a mom of two in San Leandro, CA. "We realized a few months ago that we hadn't had a conversation that didn't involve the kids or our to-do lists in ages, so we committed to a weekly date. We were so happy just to go to the movies and hold hands, something we hadn't done in ages. It felt like we were dating again!"

Step 7: Face down a major challenge together.

You're sailing along through life, and suddenly you hit a huge bump. A serious illness. Unemployment. The loss of a home. A death in the family. How do you cope?

The truth is, you never know how strong your relationship is until it's tested. All too often, the stress of a crisis can pull a couple apart. But the good news is, when you do make it through in one piece, you might just find yourselves tighter than ever.

"What didn't happen to us?" says Daryl, 28, a preschool teacher in Harrisburg, PA. "My husband lost his job and took a minimum-wage job he was way overqualified for just to make ends meet. He was offered a better job in a mountain town outside San Diego, so we moved. Then during the California wildfires several years ago, our house burned down and we lost everything. We were living in a one-room converted garage with no running water and a newborn. But we found that this chaos somehow brought us even closer together. We took turns losing it. We really kept each other sane."

Hey, marriage is no roll in the hay. It's tough, real work. But the reward, the edifice you build together that will shelter you through years of tough times, is more than worth the effort. The small, friendly cottage you build — decorated with your shared history and stories, filled with color and laughter — will be the warmest and safest retreat you can imagine.

Atasi Masalah Selingkuh


ATASI MASALAH SELINGKUH ~ DOA DAN ZIKIR CINTA . 4~

~SUPAYA TIDAK SELINGKUH~
Sebagai makhluk yang berderjat tinggi , kita sesungguhnya mampu menepis ransangan untuk berselingkuh, dengan makhluk yang paling sexy sekalipun. Contohnya Yusuf a.s.
Meski dirayu oleh seorang wanita yang sangat cantik,sexy, murah hati dan kaya raya, beliau mampu mempertahankan ketinggian derajatnya selaku manusia. Beliau mampu meredam api birahi beliau melalui zikir.

“ Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal dirumahnya menggoda yusuf untuk menundukkan dirinya(kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata :”marilah Kesini”, Yusuf berkata :”AKU BERLINDUNG KEPADA ALLAH ” , sungguh tuanku ( suamimu) telah memperlakukan aku dengan baik. “sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung” (QS Yusuf : 23)

Maka kitapun sebagai manusia berderajat tinggi juga mampu meredam api nafsu melalui zikir , sehingga tidak berselingkuh. Silahkan ucapkan zikir ala nabi Yusuf :

“ MA’ADZALLAH”
Artinya : “Aku berlindung kepada Allah “ (QS Yusuf : 23)

***
~ SUPAYA SUAMI / ISTRI /PASANGAN ANDA TIDAK SELINGKUH~

Disamping meredam api birahi diri sendiri , sehingga tidak berselingkuh, zikir kita juga dapat meredam gejolak sexual si dia, sehingga tidak berbuat serong. Dengan kata lain zikir anda mencegah berselingkuhnya suami atau istri atau kekasih anda. Untuk itu silahkan sering mengucapkan zikir :
“ FA INNALLAAHA KAANA BIMAA TA’MALUUNA KHABIIRAA”
Artinya : “ Maka sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala yang kalian kerjakan” (QS An-nisa : 128)
Dengan zikir tersebut berarti kita menyertakan Allah SWT dalam mengamati sehgala tingkah laku suami ( atau istri) atau kekasih anda. Walaupun anda tidak bisa sepenuhnya mengawasi dia , masih ada Allah yang mengetahui segala yang dia kerjakan.

***
~SUPAYA TIADA LAGI PERSELINGKUHAN~

Bagaimana bila telah terlanjur terjadi perselingkuhan? Inipun dapat diatasi.Andai pernah terjadi perselingkuhan , itu bukan berarti pasti akan ada perselingkuhan lagi. Allah itu bukan hanya mengetahui perselingkuhan tersebut, melainkan juga Maha Bijaksana. Dengan kebijaksaan-NYA , dia akan menerima taubat kita dan menyukai perbaikan yang kita upayakan.

Oleh karena itu , supaya tiada lagi perselingkuhan dalam hubungan cinta Anda dengan sidia setelah pertaubatan dan perbaikan diri masing-masing, maka ucapkanlah zikir :

“ WA KAANA LLAAHU ‘ALIIMAN HAKIIMAA”
Artinya : “Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana “ (QS An-nisa : 17)

***
~SUPAYA JANJINYA DIA PENUHI~

Anda ingin si dia menepati janji setianya kepada Anda bukan? Kalau memang iya silahkan sering-sering ucapkan zikir berupa sepotong kal;imat dari Al-quran :
“ YADULLAAHI FAWQA AYDIIHIM”
Artinya : “Tangan Allah diatas tangan mereka “
Maksud kalimat dalam zikir tersebut adalah bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya dia berjanji setia kepada Allah “ (QS Al-Fath : 10). Dengan demikian anda menyertakan Allah untuk turut “menagih” janjinya, sehingga janjinya terpenuhi.

***
~SUPAYA SUMPAH TETAP TERJAGA~

Sumpah itu lebih berat daripada janji ( yaitu dengan disebutkannya kalimat “demi Allah”).Allahpun turut menjadi saksinya. Untuk lebih memperkuat sumpah tersebut, sehingga akan senantiasa terjaga dan tidak dilanggar, kita dapat mengucapkan zikir :
“ ALLAHU ‘ALAA MAA NAQUULU WAKIIL”
Artinya : Allah adalah saksi terhadap apa yang kita Ucapkan ( ini) (QS Yusuf : 66)

***
~SUPAYA SELAMAT DARI RAYUAN GOMBAL~

Masalah rayuan tidak hanya dialami oleh seseorang yang berstatus lajang. Bahkan orang yang sudah berkeluarga pun tidak jarang mengalami hal ini. Entah itu hanya iseng atau serius . Dengan berhati-hati , InsyaAllah kita selamat dari rayuan gombal. Supaya keselamatan kita lebih terjamin , kita dapat berzikir ala nabi Yusuf :
“ INNAHUU HUWAS SAMI’UL ‘ALIIM “ ( QS. Yusuf : 3)
Artinya : “ Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui” (QS Yusuf : 34)


***
~SUPAYA TIDAK TERGILA-GILA~

Allah SWT berfirman : “Dijadikannya indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita ( atau lawan jenis) ,anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas ,perak, kuda pilihan , binatang –binatang ternak , dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia , TETAPI DI SISI ALLAH-LAH TEMPAT KEMBALI TERBAIK” (QS Ali-Imran :14)
Memang masalah ketergila-gilaan itu manusiawi sekali. Hampir semua orang pernah mengalaminya. Banyak orang kehilangan akal sehat karenanya.
Ayat diatas mengisyaratkan bahwa bila kita menyadari bahwa “ di sisi Allah-lah tempat kembali yang terbaik”, maka kita takkan terlalu cinta kepada si dia melebihi cinta kepada Allah.

Oleh karena itu supaya tidak tergila-gila , kita bisa mengucap zikir :

“ WALLAAHU ‘INDAHUU HUSNUL MA’AB”
Artinya : “Tetapi di sisi Allah-lah tempat kembali terbaik” (QS Ali Imran : 34)

***
~SUPAYA TERJALIN HUBUNGAN CINTA YANG ROMANTIS~

Pasca pernikahan karena sudah berjalan rutin, sebagian orang menganggap sepele masalah ini. Menganggap romantisme hanya sebelum menikah, padahal justru romantisme cinta dalam keluarga harus tetap di pupuk. Agar terjalin keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah....

Supaya terjalin hubungan cinta yang benar-benar manis atau romantis kita dapat berzikir dengan mengucap : “ WA JA’ALA BAYNAKUM MAWADDATAW WA RAHMAH “
Artinya :”Dan dijadikan-NYA diantara kalian rasa Cinta dan Kasih “ ( QS Ar-Ruum (30) : 21)


(Sumber : M. Shodiq Mustika “ Doa dan Zikir Cinta”)

MERAIH SURGA DENGAN KATA-KATA




Maka bangunlah surga dengan kedermawanan kata-kata yang baik dan lembut, pujian yang semerbak serta luapan perasaan cinta kasih. Karena kata-kata yang baik adalah mata air kehidupan bagi hati dan jiwa, lebih-lebih hati dan jiwa wanita. Jangan bakhil terhadap sepotong kata yang baik. Kenapa harus berat mengucapkan kata-kata menyejukkan?

"Lidah memang tak bertulang", begitu kata banyak orang. Tapi harap tau, lidah adalah roda kemudi dan kata-kata adalah nutrisinya. Karena itulah, mengapa orang yang mengalami kegundahan, kesedihan, stress atau depresi, justru akan menjadi lebih baik ketika mendapatkan siraman kata-kata sejuknya yang menghibur.

Saat kita mengucapkan, "Assalamu alaikum? Apa kabar?"
tentu, itu bukan dimaksudkan sekedar untuk mencari keterangan. Itu hanya sebuah upaya agar orang lain merasa senang. Sebaliknya, perkataan yang buruk atau komunikasi yang gagal akan menimbulkan hubungan sosial yang tidak harmonis.

"Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaithan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka." (QS Al-Isra': 53)

Sebuah perumpamaan diberikan Allah yang ditunjukkan dalam Al-Qur an. "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, yaitu akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.
Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat." (QS Ibrahim:
24-25)

Berinfaklah dengan Perasaan

Sungguh, kita kaya dan berkuasa atas perasaan yang kita miliki. Maka sedekahkanlah kekayaan bathin itu untuk keluarga dan orang-orang terdekat kita.
Janganlah menghalangi mereka dari merasakan perasaan-perasaan itu.

Berkatalah pada istri, suami atau kerabat dan orang terdekat dengan mulut yang terbuka dengan sempurna, lalu selamilah isi hati kita. Usahakanlah selalu agar mereka tidak merasa bahwa kita pelit hati, walau tangan sering bersedekah. Jangan buat mereka gersang dan haus akan kesejukan hati kita. Janganlah bakhil mencurahkan kemurahan hati kita, padahal mereka mengetahui bahwa kita memiliki kemurahan itu. Apakah air sejuk hati ini begitu dalam, sehingga tak dapat dirasakan seperti halnya air di sumur yang dalam?

Atsar berikut bisa kita renungkan. Isteri terbahagia di antara para wanita, yaitu 'Aisyah meriwayatkan dari Rasulullah saw. "Surga adalah tempat orang yang bermurah hati." (HR Ibnu 'Ady).

Maka bangunlah surga dengan kedermawanan kata-kata yang baik dan lembut, pujian yang semerbak serta luapan perasaan cinta kasih. Karena kata-kata yang baik adalah mata air kehidupan bagi hati dan jiwa, lebih-lebih hati dan jiwa wanita. Jangan bakhil terhadap sepotong kata yang baik. Kenapa harus berat mengucapkan kata-kata menyejukkan? Apakah sepotong kata yang dikeluarkan membuat harta berkurang? Apakah sepenggal kalimat baik yang kita ucapkan membuat kita terbebani? Alangkah indahnya jika kita menjunjung syiar Islam, yaitu membahagiakan orang lain. Dan orang lain yang paling utama kita bahagiakan, adalah keluarga dan orang terdekat.

Sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah setelah amal fardhu, yaitu memberikan kegembiraan pada orang muslim." (HR Ath-Thabrany)

Kata-kata lembut antara suami-istri mengandung pesan hati serta jiwa yang begitu dalam. Dan setelahnya, Insya Allah akan lahir kebahagiaan agung yang mencairkan segala kebekuan. Sinarilah rumah tangga dengan kata-kata baik nan lembut, maka Anda sudah membangun satu pondasi kokoh bagi pernikahan. Dengan ucapan yang menyejukkan hati, rumah terisi dengan cahaya saling memaafkan, cahaya toleransi dan cahaya cinta. Akhirnya, hati dan jiwa pun saling menyatu.


(Dari Seoarnag Sahabat :Muhammad Masnur Hamzah,Mahasiswa Univ. al-Azhar Kairo)RENUNGAN JUM"AT : MERAIH SURGA DENGAN KATA-KATA
Share
Today at 7:35am
Maka bangunlah surga dengan kedermawanan kata-kata yang baik dan lembut, pujian yang semerbak serta luapan perasaan cinta kasih. Karena kata-kata yang baik adalah mata air kehidupan bagi hati dan jiwa, lebih-lebih hati dan jiwa wanita. Jangan bakhil terhadap sepotong kata yang baik. Kenapa harus berat mengucapkan kata-kata menyejukkan?

"Lidah memang tak bertulang", begitu kata banyak orang. Tapi harap tau, lidah adalah roda kemudi dan kata-kata adalah nutrisinya. Karena itulah, mengapa orang yang mengalami kegundahan, kesedihan, stress atau depresi, justru akan menjadi lebih baik ketika mendapatkan siraman kata-kata sejuknya yang menghibur.

Saat kita mengucapkan, "Assalamu alaikum? Apa kabar?"
tentu, itu bukan dimaksudkan sekedar untuk mencari keterangan. Itu hanya sebuah upaya agar orang lain merasa senang. Sebaliknya, perkataan yang buruk atau komunikasi yang gagal akan menimbulkan hubungan sosial yang tidak harmonis.

"Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaithan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka." (QS Al-Isra': 53)

Sebuah perumpamaan diberikan Allah yang ditunjukkan dalam Al-Qur an. "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, yaitu akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.
Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat." (QS Ibrahim:
24-25)

Berinfaklah dengan Perasaan

Sungguh, kita kaya dan berkuasa atas perasaan yang kita miliki. Maka sedekahkanlah kekayaan bathin itu untuk keluarga dan orang-orang terdekat kita.
Janganlah menghalangi mereka dari merasakan perasaan-perasaan itu.

Berkatalah pada istri, suami atau kerabat dan orang terdekat dengan mulut yang terbuka dengan sempurna, lalu selamilah isi hati kita. Usahakanlah selalu agar mereka tidak merasa bahwa kita pelit hati, walau tangan sering bersedekah. Jangan buat mereka gersang dan haus akan kesejukan hati kita. Janganlah bakhil mencurahkan kemurahan hati kita, padahal mereka mengetahui bahwa kita memiliki kemurahan itu. Apakah air sejuk hati ini begitu dalam, sehingga tak dapat dirasakan seperti halnya air di sumur yang dalam?

Atsar berikut bisa kita renungkan. Isteri terbahagia di antara para wanita, yaitu 'Aisyah meriwayatkan dari Rasulullah saw. "Surga adalah tempat orang yang bermurah hati." (HR Ibnu 'Ady).

Maka bangunlah surga dengan kedermawanan kata-kata yang baik dan lembut, pujian yang semerbak serta luapan perasaan cinta kasih. Karena kata-kata yang baik adalah mata air kehidupan bagi hati dan jiwa, lebih-lebih hati dan jiwa wanita. Jangan bakhil terhadap sepotong kata yang baik. Kenapa harus berat mengucapkan kata-kata menyejukkan? Apakah sepotong kata yang dikeluarkan membuat harta berkurang? Apakah sepenggal kalimat baik yang kita ucapkan membuat kita terbebani? Alangkah indahnya jika kita menjunjung syiar Islam, yaitu membahagiakan orang lain. Dan orang lain yang paling utama kita bahagiakan, adalah keluarga dan orang terdekat.

Sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah setelah amal fardhu, yaitu memberikan kegembiraan pada orang muslim." (HR Ath-Thabrany)

Kata-kata lembut antara suami-istri mengandung pesan hati serta jiwa yang begitu dalam. Dan setelahnya, Insya Allah akan lahir kebahagiaan agung yang mencairkan segala kebekuan. Sinarilah rumah tangga dengan kata-kata baik nan lembut, maka Anda sudah membangun satu pondasi kokoh bagi pernikahan. Dengan ucapan yang menyejukkan hati, rumah terisi dengan cahaya saling memaafkan, cahaya toleransi dan cahaya cinta. Akhirnya, hati dan jiwa pun saling menyatu.


(Dari Seoarnag Sahabat :Muhammad Masnur Hamzah,Mahasiswa Univ. al-Azhar Kairo)

di antara tanda keberhasilan romadlon


Di bawah ini ada beberapa tanda berhasil atau tidaknya kita dalam melaksanakan Shaum Romadhon, dan tentu nya hati kita yang bisa menjawab nya



1. Selalu Sholat Tepat Waktu & Berjamaah



“Celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)



Tentu nya ayat ini bukan ditunjukan bagi orang yang melalaikan sholat baik bagi yang telah rajin sholat tepat waktu bahkan sambil berjamaah.



2. Rajin Menjalankan Ibadah Sunnah



Yang terbiasa sholat Tarawih, sholat witir, Duha, Tahajud dan yang terpenting Sholat Rawatib di bulan Ramadhon ,bahkan sebelum romadhon tiba, ibadah-ibadah Sunnah tidaklah berat. Mungkin akan terasa nikmat melakukan nya karena sudah terbiasa. Sebaliknya jika paska Romadhon malas melaksanakan nya tentunya dipertanyakan pula kualitas Romadhon nya.



Karena orang soleh itu, atau yang takwa yang berhasil dalam Romadhon itu ialah:



“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya:90)



“Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya.” (Hadits Qudsi)



3. Tidak Kikir, Senang Berbagi Dengan Anak Yatim, Orang Miskin dll



Ketika romdahon usai, kemudian makin besar rasa sayang kepada orang miskin, mau berbagi dengan anak yatim dll adalah tanda keberhasilan menempuh Romadhon.



4. Rajin Membaca Al-Qur’an.

Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. Orang-orang soleh itu banyak menghabiskan waktunya siang malam Ramadhan untuk membaca Al-Qur’an.

Sebagaimana beberapa hadist menyebutkan:



“Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur’an.” (HR Baihaqi)



“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkanny. a” (HR Bukhari)



Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci.



5. Mampu Menahan Amarah



Dalam sebuah hadits , Rasulullah Saw bersabda:



“Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim)



7. Selalu Menjaga Perkataan



Ramadhan adalah peluang untuk mengatur dan melatih lidah agar senantiasa berkata baik. Umar ibn Khattab pernah berkata:



“Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia.”



Rasulullah Saw bersabda:



“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tidak ada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari)



Orang yang gagal memetik buah Ramadhan kerap berkata seenaknya dan tidak berfikir dahulu sebelum bicara. “Bicara dulu baru berpikir, bukan sebaliknya.”



8. Mampu Menjaga Amanah

Romadhon adalah amanah Allah yang harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.

Romadhon ibarat hutang yang harus ditunaikan dan orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata.

Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.



Coba kita deteksi diri kita setelah Romadhon selesai..Apakah kita termasuk yang berhasil menempuh Romadhon, ataukah gagal atau hanya sebagian saja yang bisa kita peroleh...??? Hanya diri kita yang mengetahui nya


Semoga kita termasuk yang berhasil mendapat berkah Romadhon...dan berhasil mengapai Rahmat Allah...amiin

hati - hati dengan hati


Hati Lembut Dan Jernih (Taushiyah Malam)





Ya Rabb, betapa banyak aku telah bermaksiat pada-Mu, namun Engkau tidak juga menghukumku, begitulah penuturan sebagian rahib Bani Israel. Padahal sebenarnya Allah SWT telah banyak memberi hukuman kepadamu, akan tetapi engkau tidak juga menyadari. Sesungguhnya balasan keburukan adalah keburukan yang serupa!, demikian menurut Syaikul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam bukunya ‘al-Hasanah wa as-Sayyiah’.



Gersang





Musibah terbesar adalah merasa aman setelah melakukan perbuatan dosa. Padahal sanksi itu tidak diturunkan secara langsung. Siksa terbesar bagi seseorang adalah jika ia tidak dapat menyadari dosa-dosanya, terserabutnya nilai-nilai agama darinya, kerasnya hati, dan salah memilih amal untuk kepentingan jiwanya. Buah dari itu semua adalah sehat jasmani dan cita-citanya tercapai, akan tetapi hatinya keras dan sakit.



Sebagai contoh, sebagian orang tidak mendapatkan taufiq sehingga tidak menjalankan shalat subuh dalam rentang waktu yang lama. Atau ia teledor dalam menaati kedua orang tuanya, sehingga engkau mendapatinya sebagai orang yang paling durhaka kepada keduanya. Atau engkau melihatnya senantiasa berbuat maksiat atau bahkan telah akrab dengannya, akan tetapi ia tidak juga merasa sakit dan atau terluka parah karena dosa-dosa itu (‘Wahatul Imah’ karya Abdul Humaid al-Bilal).



Fenomena demikian terjadi di sekitar kita. Secara fisik, ia sehat dan bahkan dunia datang kepadanya dengan segala keindahan dan kenikmatannya. Lalu ia tertipu dan terlena olehnya sehingga membuat ia ingkar kepada Allah SWT sehingga hatinya menjadi mati bukan hanya keras, kasar dan gersang saja akan tetapi betul-betul mati.



Ia tidak juga menyadari luka yang telah kronis, lumuran dosa dan kotoran maksiatnya. Ia seperti mayit yang tidak dapat merasakan apapun. Seorang penyair pernah berkata. Bagi yang hina, kesalahan-kesalahan itu biasa sebagaimana mayit tidak merasa sakit jika terluka.



Putih Hitam





Sahabatku... jika engkau berharap hatimu baik, maka dengar dan berjalanlah bersama kehendak dan hasrat yang terdetik dalam hatimu. Turutilah suara hati yang baik dan jauhi yang tidak benar, hasrat-hasrat ke arah maksiat tersebut merupakan tangga menuju kesesatan, bahaya dan fitnah yang dapat menjadikan hati menjadi keras.



Rasulullah SAW bersabda: Fitnah-fitnah itu menimpa hati secara perlahan dan bertahap, maka hati mana yang paling dapat dipengaruhi, maka tertoreh padanya noda hitam, hingga sabdanya: “Sehingga menjadi dua jenis hati; putih seperti sesuatu yang sangat jernih hingga tidak dapat terpengaruh fitnah selama langit dan bumi masih ada. Dan kedua, hitam (dan ini yang paling rentan kena fitnah) ia seperti wadah yang terikat miring, tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang mungkar kecuali sesuai nafsunya.” (HR. Imam Muslim dalam Kitab Fatan, 1990).





Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah mengomentari hadis tersebut dengan ucapannya, fitnah-fitnah yang mengancam dan menimpa hati merupakan penyebab sakitnya hati. Pertama, syahwat, sikap menyimpang, maksiat-maksiat dan kedzaliman. Kedua, fitnah syubhat, kesesatan, bid’ah dan kebodohan. Jenis fitnah pertama berimplikasi pada rusaknya niat dan tujuan, sedang fitnah kedua yang berakibat rusaknya ilmu seseorang serta akidahnya.



Dua Saksi Adil





Memang, hati itu dihinggapi sebuah keinginan, hanya dengan tuntutan al-Qur’an dan as-Sunnah ia dapat tenang dan bening, seperti kata seorang penyair, Setiap hasrat hati timbanglah dulu dengan timbangan syari’at. Jika termasuk yang diperintahkannya, segeralah kerjakan Bila termasuk yang dilarang, itu dari syaitan, segeralah jauhi.



Kini tiba saatnya kita mengukur dan bercermin kaidah tersebut, kita akan mendapati betapa banyak terlintas di benak, nurani dan pikiran kita sejumlah keinginan, hasrat, gagasan dan kemauan untuk kita lakukan, akan tetapi sudahkah kita bersikap dengan sengaja – dengan segala hasrat tersebut – sebagaimana kaidah di atas, yaitu menghadirkan dua saksi adil, yaitu al-Quran dan as-Sunnah kemudian menimbang keselarasannya dengan keduanya.



Jika bersesuaian, kita dengan penuh semangat melakukannya dan bila bertentangan dengannya segera saja kita tinggalkan dan hindari. Sehingga dengan itu,hati kita selamat dan dipenuhi dengan cahaya keimanan dan akhirnya berubah menjadi hati yang jernih dan lembut.



Abu Bakar misalnya, ia seorang yang mudah menangis di saat shalat, maka ia disebut sebagai ‘orang yang hatinya lembut dan peka sehingga bacaan yang dibacanya hampir tak dapat dipahami lantaran tangis dan getar perasaannya yang sangat peka’



Maka peliharalah hatimu sahabatku dari kesesatan dan penyimpangan sesudah jelas bagimu hal itu.



Sumber: as-Sirrul Maknun Fii Riqqatil Qulub wa Dam’il Uyyun Abdul Karim bin Abdul Majid ad-Diwan. (ruruly)



Kelola hati


Untuk mengawali catatan ini adalah perkataan al-Qahthani dalam nuniyahnya. Katanya,



وَاللهِ لَوْ عَلِمُوْا قَبِيْحَ سَرِيْرَتِيْ

لأَبَى السَّلاَمَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِيْ

وَلَأَعْرَضُوْا عَنِّيْ وَمَلُّوْا صُحْبَتِيْ

وَلَبُؤْتُ بَعْدَ كَرَامَةٍ بِهَوَانِ

لَكِنْ سَتَرْتَ مَعَايِبِيْ وَمَثَالِبِيْ

وَحَلِمْتَ عَنْ سَقَطِيْ وَعَنْ طُغْيَانِيْ

فَلَكَ الْمَحَامِدُ وَالْمَدَائِحُ كُلُّهَا

بِخَوَاطِرِيْ وَجَوَارِحِيْ وَلِسَانِيْ

وَلَقَدْ مَنَنْتَ عَلَيَّ رَبِّ بِأَنْعُمِ

مَالِيْ بِشُكْرِ أَقَلِّهِنَّ يَدَانِ



Demi Allah, seandainya mereka mengetahui jeleknya hatiku

Niscaya orang yang bertemu denganku akan enggan menyalamiku

Mereka akan berpaling dariku dan bosan berteman denganku

Aku akan menjadi hina setelah mulia

Tetapi Engkau menutupi kecacatan dan kesalahanku

Dan Engkau bersikap lembut dari dosa dan keangkuhanku

Bagi-Mu lah segala pujian dengan hati, badan dan lidahku

Sungguh, Engkau telah memberiku nikmat yang begitu banyak

Tetapi aku kurang mensyukuri nikmat-nikmat tersebut



[Nuniyah al-Qohthoni hal. 9 ]

---------------------------------------------------------------------------------------------------------



Untuk kesekian kali nya, kini ku menangis di malam yang buta ini.

Aku yang telah berdosa bahkan aku menganggap diriku memiliki dosa sudah setara dengan banyaknya buih di lautan dan tingginya sebuah Gunung merasa tak berarti lagi sebagai manusia atau makhluk Tuhan apapun dan merasa tak pantas hidup di bumi Allah ini.





Namun aku percaya bahwa Allahu Robbul izzati maha Ghofur hingga aku sampai saat ini masih bertahan hidup.

Walau pun demikian adanya, diriku tetap saja di landa keputusasaan untuk mencari sebuah pengampunan sebab sampai kini aku masih tak dapat menemukan tempat untukku kembali ke jalan Tuhanku, Allahu Rabbi.





Terkadang pun, di saat aku mendengar azan berkumandang.

Aku menangis seolah diriku lebih hina dari seekor binatang yang selalu bertasbih menyambut datangnya seruan sang Mu’azzin. -------------------------------------------------------------------------------------------------



Dan juga perkataan Muhammad bin Wasi, “Kalau seandainya dosa memiliki bau niscaya tak ada yang sudi bermajlis denganku (karena saking busuknya bau dosaku).”



Ya, kalian tidak tahu betapa busuknya jiwa ini. Allah, aku malu. Aku malu kepada-Mu bila harus menasehati hamba-hamba-Mu padahal Engkau lebih tahu siapa sebenarnya hamba-Mu ini. Tertutupnya dosa-dosa yang hamba lakukan adalah karena kasih sayang-Mu yang selalu menutupinya. Tetapi karena pesan di atas adalah meminta nasehat, maka aku sebagai hamba-Mu ingin melaksanakan salah satu wasiat nabi-Mu, “Jika ada salah seorang di antara kalian meminta nasehat, maka nasehatilah ia.” (HR. Bukhari ).



Terus terang, ada selaksa rasa yang berkecamuk dalam jiwa tatkala membacanya. Aku merasakan suara jeritan yang juga membuat hatiku miris dan menangis. Jeritan pertanda keputusasaan sekaligus harapan. Jeritan yang mengandung kekhawatiran dan ketakutan. Suara jeritan yang memang murni dari lubuk hati terdalam; mengaku banyak berdosa dan merindu jalan-Nya. Jeritan seperti inilah yang selalu membuat Rabi’ bin Khaitsam menangis pilu, setiap malamnya. Ia melalui malamnya dengan tangisan pilu yang menyayang hati sang ibu. Sehingga si ibu berprasangka bahwa anaknya mungkin telah membunuh seseorang lalu menyesal dan menangis sedemikian kerasnya. Kata sang ibu, “Duhai anakku, duhai belahan jiwaku, duhai permata hatiku…., katakanlah duhai anakku apakah engkau membunuh sehingga engkau menangis tersedu-sedu seperti ini ? Katakan wahai anakku, siapakah dia ? aku akan meminta kerelaan dari keluarganya agar memaafkanmu. Mereka pasti iba melihat kondisimu seperti ini duhai anakku. Katakan siapa yang engkau bunuh ?”



Semakin keras tangis Rabi’ bin Khutsaim mendengar penuturan ibunya, lalu ia berkata, “Duhai ibu, memang aku telah membunuh. Ya, aku telah membunuh diriku sendiri dengan dosa-dosa yang tidak bisa aku tanggung nanti.” Akhirnya si ibu pergi meninggalkan putra terkasihnya tenggelam dalam deraian air mata yang tak berkesudahan.



Air mata taubat dan hati yang menghadap Allah dengan hancur sehancur-hancurnya adalah keadaan terbaik seorang hamba ketika bermunajat kepada-Nya. Orang yang menitikkan air mata penyesalan seperti inilah yang justru mendapat lezatnya iman, yang jauh lebih indah daripada semua kenikmatan dunia. Dosa-dosa yang membuat hati menjerit seperti inilah yang menghantarkan kepada kedekatan kepada sang pencipta. Rasululloh sendiri bersabda, “



وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ



“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, kalau kalian tidak berdosa niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang melakukan dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah kemudian Dia mengampuni mereka.”



Maka berbahagialah bila kita selalu memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa kita. Terlebih dengan hati yang menangis, dan menghiba rahmat-Nya. Dan aku juga merindukan hati yang menjerit seperti itu. Merindu sebagaimana rindu Abu Bakar ketika melihat para shahabat membaca al-Qur’an dan menangis tersedu-sedu. Kata Abu Bakar, “Dulu kami juga seperti itu.”



Sekelam apapun dosa kita, sebesar apapun kemaksiatan kita, dan setinggi apapun kesalahan kita, Allah akan senatiasa membuka pintu tobat bagi hamba-hamba-Nya. Allah berfirman, “



يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا



“Duhai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya.” (az-Zumar : 53).



Panggilan yang indah dari Allah; duhai hamba-hamba-Ku. Duhai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, yang selalu mendzalimi dirinya sendiri dengan dosa-dosanya, jangalah kalian berputus asa dari rahmat-Ku. Rahmat-Ku mendahului murka-Ku duhai hamba-Ku.



Ya. Itulah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman,



يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

.

“Duhai anak adam, selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku akan mengampunimu sebanyak apapun dosamu dan Aku tidak peduli. Duhai anak adam, kalau toh dosa-dosamu setinggi langit kemudia kamu memohon ampunan kepada-Ku, Aku akan mengampunimu dan aku tidak peduli. Duhai anak adam, jika engkau mendatangiku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau bersua dengan-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun maka Aku pasti akan mendatangimu dengan membawa ampunan sepenuh bumi juga.” (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani).



Yang terakhir, kuatkan tekad kita dalam bertaubat kepada Allah dengan mencari sahabat yang shalih, dan bergaul dengan orang-orang shalih. Kisah pembunuh 100 nyawa yang tertera dalam hadits Nabi yang panjang mengajarkan dua hal itu. Pesan lelaki shalih terhadap pembunuh 100 nyawa yang ingin bertaubat itu adalah, “



انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ



“Pergilah ke negeri ini dan ini karena di sana ada manusia-manusia yang menyembah Allah Ta’ala. Maka sembahlah Allah bersama mereka, dan jangan pernah lagi kembali ke negerimu karena ia adalah negeri yang buruk.” (HR. Bukhari-Muslim).



Tentang hadits ini, Ibnu ‘Allan –rahimahullah- berkata, “Di dalam hadits ini ada anjuran untuk berlepas diri dari teman yang buruk, memutus hubungan dengan mereka selama mereka masih tetap seperti itu, dan mengganti mereka dengan bersahabatkan orang-orang yang baik, rajin beribadah dan wara’ serta orang-orang yang bisa dijadikan teladan, dan bersahabat dengan orang-orang yang mendatangkan manfaat. Agar taubatnya semakin mantap dan kuat, karena setiap orang akan meniru temannya.” (Dalilu al-Falihin li Thuruqi Riyadhi ash-Shalihin : 1/98).



Di samping menjauhi perilaku teman yang rusak, kita perlu bersahabat dengan orang-orang shalih. Ini sangat dirasakan oleh para ulama’ terdahulu. Mari kita sejenak merenungi perkataan Ibnul Qayyim –rahimahullah- tentang peran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam memberikan keteguhan, “Dan ketika kami dilanda ketakutan yang sangat, buruk prasangka, dan dunia yang terasa sempit, maka tidak ada yang kami lakukan kecuali melihatnya dan mendengarkan perkataannya sehingga semua yang ada pada kami hilang. Dan berganti kelapangan, kekuatan, keyakinan dan ketenangan.”



Salam, semoga bermanfaat.



Reference ; ‘Aqabat fi Thariqil Akhawat, karya Isham bin Muhammad asy-Syarif, Maktabah Syamilah dan lain-lain. (agama)