7 Ways to Follow Your Heart




7 Ways to Follow Your Heart
By Noah St. John, Ph.D.

"You must do the thing you think you cannot do."
Eleanor Roosevelt

Babette and I recently went to see the new "Karate Kid" movie starring Jaden Smith and Jackie Chan.

She really really wanted to see it, but I was pretty sure it was going to be cheeseball. I never saw the original, and was fine with missing this version.

But then something happened while we were at the movie. I started to become emotionally involved with the characters: Dre (played by Jaden), the small kid who gets beaten and bullied by bigger, older kids; and Mr. Han (Jackie Chan), the kung fu master disguised as maintenance man who teaches him the secrets of the ages.

As the movie played out, I realized the story was not about punching and kicking. It was a story about courage and love.

Dre got beat up by bullies until he finds the courage to ask Mr. Han to teach him how to fight back.

Mr. Han was mourning his lost family until young Dre shows him that "no matter how often life knocks us down, we can always get back up."

Now, I realize that this may indeed be a cheesy movie. But I found myself moved to tears - even when we saw it a second time.

The more I thought about the movie, I thought about the real-life Jaden Smith, son of rapper-turned-TV-star-turned-A-List-movie-star Will Smith.

I have been a Will Smith fan since the '90s. If you look in my car, you'll find Will Smith CDs dating back nearly 20 years.

As a student of success and its causes, I have studied Will Smith carefully, because he has a claim to fame that no one else has.

He is the only person who has hit the top of the charts in all three major entertainment categories: music, TV and movies.

Elvis didn't do it. Sinatra didn't. Madonna didn't. Mariah Carey didn't.

Only Will Smith, the Fresh Price from Philly, has done it.

Now when I watch Jaden on the screen, it's easy to see his father in him. His facial expressions, mannerisms, even how he moves his mouth - you can see his Dad's influence.

And that got me thinking about where courage really comes from.

Imagine how confident young Jaden must be to have someone like Will Smith believing in him.

Of course, if you ask Will, I bet he'd tell you that Jaden has more confidence and courage than he himself had at that age.

And that's the way it should be. Will Smith built on the example of his parents, who built on his parents, and so on.

The word courage comes from the Latin cor, "heart".

When you act from courage, you are literally acting from your heart. Isn't it amazing how many times we refer to the heart when talking about people who act with both kindness and courage:

"He spoke from his heart."

"She's all heart."

"Follow your heart."

It sounds so simple. And maybe it is simple, but it isn't always easy.

Sometimes following our heart is the last thing we want to do - because our HEAD tells us we're crazy!

For example, when I launched SuccessClinic.com in 1997, I had no business skills, no money, no contacts, and no idea how to run a profitable business.

Every day, I'd wake up and ask God, "Okay God, what do you want me to do today?"

Twelve years and tens of thousands of Students later, we're still here. And I'm still asking the same question. (Only I have a little more experience and a lot more help these days.)

So here are 7 ways to follow your heart and find more courage:

1. Listen to your still, small voice.

You know, the one that doesn't make any sense? The one telling you to take that leap and do the thing that doesn't make any sense? That one.

2. Write all your crazy ideas.

I'm not saying you should do all of them. But what the heck, they're rattling around in your head anyway. Writing them on paper gives you the chance to examine them and stop the rattling.

3. Share your crazy ideas with a Loving Mirror.

A Loving Mirror believes in you more than you believe in yourself. Like Mr. Han did with Dre. Like Will did with Jaden.

Your mentors believe you into being. This is the true secret of the Naturals of Success.

4. DO SOMETHING.

Here's a great example: Most of the people who audition for American Idol can't sing. But they have a dream, and at least they showed up for it. They took action. They did something.

Sure, maybe they'll embarrass themselves. But it's better than sitting around thinking, "If only I'da..."

And who knows? Someone's gotta win the thing.

5. Learn from people who've already been where you want to go.

Mr. Han was a kung fu master, but if Dre hadn't had the courage to ask for his help, he would have still been beaten up by bullies.

Find 5 people who've done what you want to do.

Contact them and show them how, why and that THEY will benefit from helping you.

Remember The Power of WIIFT: What's In It for THEM! Things get very easy when you're always talking about how the OTHER person benefits.

6. Ignore everyone else.

"The only people who can tell me I can't do something are people who've tried it and failed."

People love to criticize, because it makes them feel important and justifies their not-taking-action.

Ignore them, feel sorry for them, let their non-belief spur you to more action. The only thing not to do is let them stop you.

7. Do the thing you're afraid of.

Will Smith has said over and over: "When I'm afraid of something, that's the thing I do next."

I loved it in the movie when Jaden's character said the same thing, nearly word for word.

I know you've had the experience of being deathly afraid of something...

Then you did it...

And went, "Hey, that wasn't so bad after all. What was I so afraid of?"

Follow your heart and you'll discover that you have more courage than you think.

What are you waiting for?




Untuk menjadi sukses dalam kehidupan (sukses dalam pekerjaan, karir, bisnis, dan keluarga), kita perlu memiliki suatu karakter tertentu, juga perlu memiliki cara berpikir tertentu yang mengacu kepada prinsip-prinsip keberhasilan. Inilah prinsip yang perlu dipelajari:

1) KESADARAN AKAN ARAH.

Bagaimana mungkin kita bisa sukses kalau kita sendiri tidak tahu arah yang ingin dituju. Tanpa tujuan, sudah pasti kita akan bingung: tidak tahu apa yang akan kita kerjakan dan untuk apa mengerjakannya!

Orang yang sukses tentunya memiliki tujuan yang realistis, jelas, pasti, dan diyakini dengan segenap hati.

2) KEJERNIHAN PIKIRAN

Kejernihan pikiran sangat penting dalam menjalani kehidupan yang sukses, sebab ibarat sebuah mobil, ketika kita mengendarai mobil, pandangan di depan haruslah jernih sehingga kita dapat melihat ke depan sebagaimana adanya tanpa ada halangan apa pun. Maka kita dapat mengarahkan mobil pada arah yang tetap dan selamat sampai ke tujuan.

Bila kita memiliki kejernihan pikiran, kita akan mampu melihat kebenaran. Sebab kita harus mengerjakan apa yang benar, bukan membenarkan apa yang kita lakukan.

3) KEBERANIAN

Mempunyai sasaran serta memahami situasinya belumlah cukup. Anda harus mempunyai keberanian untuk bertindak, sebab hanya dengan tindakanlah sasaran itu dapat diubah menjadi kenyataan.

Perbedaan antara orang yang sukses dan gagal bukanlah kemampuan yang lebih baik atau ide yang lebih baik, melainkan keberanian untuk bertaruh atas ide-idenya sendiri, dan mengambil risiko yang diperhitungkan, serta bertindak.

4) MEMBERI

Kepribadian-kepribadian sukses itu: menghormati dan memperlakukan sesamanya sebagai manusia, daripada objek belaka. "Memberi" ibarat menanam bibit pada sebidang tanah yang subur, dan suatu saat bibit yang Anda tanam itu akan tumbuh pohon yang besar dan menghasilkan buah-buah manis.

Biasakan diri Anda untuk memberi. Pertama, berikan nilai tambah bagi orang lain. Kedua, berikan peningkatan hidup bagi orang lain. Dan ketiga, berikan manfaat bagi orang lain, yang sebesar-besarnya sesuai dengan kemampuan yang Anda miliki.

5) HARGA DIRI

Pribadi yang sukses itu memiliki self-esteem yang sehat, di mana mereka tidak mudah tersinggung, tidak mudah marah, tidak suka mengeluh, tidak suka mengkritik atau menjelekkan orang lain, mampu berlapang hati ketika menghadapi kegagalan serta mampu bersabar dalam menghadapi hambatan.

6) KEPERCAYAAN DIRI

Kepercayaan diri dibangun atas pengalaman sukses. Selain itu, kepercayaan diri bisa tumbuh bila kita mulai membentuk kebiasaan mengingat sukses-sukses di masa lalu dan melupakan kegagalan-kegagalan di masa lalu.

7) PENERIMAAN DIRI

Tidak ada sukses sejati atau kebahagiaan sejati sebelum kita bisa menerima diri sendiri. Kita akan merasa lega atau puas ketika bersedia menanggalkan segala kepura-puraan dan mau menjadi diri sendiri.

Sukses datang ketika kita bersedia rileks dan menjadi diri sendiri, bukan ketika kitaberupaya keras menjadi orang lain. Penerimaan diri artinya menerima diri kita sekarang, apa adanya, dengan segala kesalahan, kelemahan, kekurangan, kekeliruan serta kekuatan, dan kelebihan kita.

by : Soegianto Hartono

cheers ^_^


Sikap ceria, gembira dan bertutur kata yang baik adalah sikap-sikap yang sangat dianjurkan disaat kita berinteraksi dengan orang lain. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzarr r.a disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), “Jangan sekali-kali kalian menganggap remeh suatu kebajikan, meski hanya berupa keceriaan wajah ketika kamu bertemu dengan kawanmu”. (HR. Muslim).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh ‘Adi bin Hatim r.a., Rasulullah bersabda, “Lindungilah diri kalian dari neraka meski hanya dengan (menyedekahkan) sebiji kurma, bila tidak punya maka cukup dengan tutur kata yang baik.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan mengucapkan kata-kata yang baik dan berwajah ceria ketika bertemu dengan orang lain, akan menumbuhkan rasa cinta dan persaudaraan di hati setiap mukmin. Dengan sikap seperti ini juga berarti kita telah memenuhi seruan Allah SWT dalam firman-Nya (yang artinya), “…dan berendah hatilah engkau terhadap orang beriman.” (QS. Al-Hijr:88).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, membicarakan hal-hal yang baik bersama orang lain termasuk sedekah. Begitu juga dengan sikap ceria dihadapan orang lain juga termasuk sedekah. Hal ini menunjukkan bahwa makna dari istilah sedekah dalam agama islam sangat luas sekali, termasuk didalamnya bermuka ceria dan senyum. Instrument sedekah tidak hanya terbatas pada harta semata.

Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah saw. tidak pernah bermuka masam atau cemberut. Wajah beliau selalu terlihat ceria dengan hiasan senyum di bibirnya. Beliau adalah sosok manusia yang berhati bersih, penyabar, pemaaf, bijak, lapang dada, zahid, rendah hati, penuh kasih saying, dan perilakunya selalu menyejukkan mata dan jiwa. maka tidaklah mengherankan bila beliau juga terkadang suka bercanda atau bersenda gurau dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya. Istri beliau ‘Aisyah, pernah berkata, “Bila Rasulullah saw. berada dirumah, dialah orang yang paling murah senyum dan tawa.”.

Ali bin Abi Thalib r.a mengisahkan bahwa Rasulullah saw. selalu kelihatan ceria, tenang dan santai, banyak tersenyum dihadapan para sahabat, antusias, dan kagum dengan pembicaraan mereka, bahkan kadang beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. [Ihyaa’ Ulumiddiin, 2/325].

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi adalah orang yang murah senyum dan berhati bersih [Kanzul-‘ummaal, 4/27]. Sebagian sahabat mengatakan bahwa tawa Nabi hanya sebatas senyuman, sebagian yang lain mengisahkan bahwa kadang beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. Namun yang jelas, disaat tertawa, beliau selalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya. [Kanzul-‘ummaal, 4/28].

Rasulullah juga berpesan kepada para sahabat untuk sesekali merilekskan jiwa dan hati. dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau bersabda, “Istirahatkan hati kalian sesaat demi sesaat, karena bila hati telah tumpul (lelah) maka ia akan buta.”

Pada lain kesempatan, beliau juga bersabda, “Orang yang tidak gembira dan tidak membuat orang lain gembira, adalah orang yang tidak memiliki kebaikan.” [Nihaayatul-Irbi, 4/1].

Kadang Rasulullah melontarkan canda-canda ringan yang memikat, namun tetap dalam batas-batas kewajaran dan tidak mengandung unsur kebohongan. Karenanya canda-canda beliau kebanyakan berupa kiasan dan permainan kata-kata. Beliau bersabda, “Saya memang bercanda, namun yang saya katakana adalah kebenaran.” [Nihaayatul-Irbi, 4/2].

Kelapangan dada, keceriaan, kegembiraan dan canda yang sering beliau perlihatkan, sama sekali tidak menyebabkan kehormatannya berkurang, bahkan sebaliknya, karisma dan keagungan beliau semakin bertambah dan semakin banyak orang yang mencintainya dan menghormatinya. Sayyidina Ali r.a. pernah berkata, “Siapa yang baru kenal dengan Rasulullah maka dia akan merasa takut. Namun semakin jauh orang mengenalnya maka semakin besar kecintaan yang tumbuh di hati.”

Rasulullah saw. selalu menganjurkan umatnya untuk bersikap fleksibel, toleran dan penuh kasih sayang, beliau bersabda, “Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang keras hati dan suka bermusuhan.” [Ihyaa’ Ulumiddiin, 3/102].



Diringkas dari: Akhlak Rasul Menurut Bukhari-Muslim, penulis Abdul Mun’im al-Hasyimi, diterjemahkan oleh Abdul Hayyie al-Kattani, Gema Insani, 2009.

Pernikahan Rasulullah


Sepeninggal Khadijah r. A., Rasulullah SAW sangat bersedih hati. Namun kesedihan
ini tidak dipendam lama-lama karena dakwah Islam yang masih berusia sangat muda
memerlukan penanganan yang teramat serius. Sebab itu, Rasulullah SAW memerlukan
pendamping hidup sepeninggal Khadijah r. A. Maka beliau pun, atas izin Allah
SWT, menikah kembali. Inilah keutamaan pernikahan-pernikahan yang dilakukan
Rasulullah SAW sepeninggal Khadijah r. A. Seperti yang ditulis oleh Dr. M.
Syafii Antonio, M. Ec dalam buku “The Super Leader Super Manager: Learn How to
Succeed in Business & Life From The Best Example” (ProLM;Agustus 2007). Inilah
petikannya:

Saudah binti Zum’ah
Ketika dilamar Rasulullah SAW, Saudah telah berusia 70 tahun dengan 12 anak.
Perempuan berkulit hitam dari Sudan ini merupakan janda dari sahabat Nabi
bernama As-Sukran bin Amral Al-Anshari yang menemui syahid keran menjadikan
dirinya perisai hidup bagi Rasulullah di medan perang. Rasulullah yang ketika
melamar Saudah telah berusia 56 tahun menikahi wanita itu agar Saudah bisa
terjaga keimanannya dan terhindar dari gangguan kaum Musyirikin yang tengah
hebat-hebatnya memusuhi umat Islam yang ketika itu masih sangat sedikit
jumlahnya.

Zainab binti Jahsy
Tak lama setelah menikahi Saudah, Rasulullah mendapat perintah dari Allah SWT
untuk menikahi Zainab binti Jahsy, seorang janda berusia 45 tahun yang berasal
dari keluarga terhormat. Pernikahan dengan Zainab ini merupakan suatu
pelaksanaan perintah Allah SWT bahwa pernikahan haruslah sekufu. Zainab
merupakan mantan isteri dari Zaid bin Haritsah.

Ummu Salamah binti Abu Umayyah
Setelah menikahi Saudah dan Zainab, Rasulullah kembali mendapat perintah Allah
SWT agar menikahi puteri dari bibinya yang pandai mengajar dan juga pandai
berpidato. Ummu Salamah binti Abu Umayyah, seorang janda berusia 62 tahun.
Setelah menikah dengan Rasulullah SAW, Ummu Salamah kelak banyak membantu Nabi
dalam medan dakwah dan pendidikan bagi kaum perempuan.

Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan
Dalam pengembangan dakwah Islam yang masih sangat terbatas, umat Islam mendapat
cobaan ketika salah seorang darinya, Ubaidillah bin Jahsy, murtad dan menjadi
seorang Nasrani. Secara syar’i, murtadnya Ubaidillah ini menyebabkan haram dan
putusnya ikatan suami-isteri dengan Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan. Untuk
menyelamatkan akidah janda berusia 47 tahun ini, Rasulullah mengambil langkah
cepat dengan menikahi Ummu Habibah. Kelak langkah Rasulullah SAW ini terbukti
tepat dengan aktifnya Ummu Habibah di dalam menunjang dakwah Islam.

Juwairiyyah binti Al-Harits al-Khuzaiyyah
Juwairiyyah adalah seorang janda berusia 65 tahun dengan 17 anak. Perempuan ini
merupakan budak dan tawanan perang yang dibebaskan Rasulullah. Setelah
dibebaskan Rasulullah SAW, Juwairiyyah dengan ke-17 orang anaknya tentu akan
kebingungan karena dia sama sekali tidak memiliki seorang kerabat pun. Allah SWT
memerintahkan Nabi SAW agar menikahi perempuan ini sebagai petunjuk agar manusia
mau membebaskan budak dan memerdekakannya dari perbudakan dan penghambaan kepada
selain Allah SWT.

Shafiyyah binti Hayyi Akhtab
Setahun setelahnya, saat berusia 58 tahun, Rasulullah kembali menikahi Shafiyah
binti Hayyi Akhtab, seorang janda dua kali berusia 53 tahun dan memiliki 10
orang anak dari pernikahan sebelumnya. Shafiyyah merupakan seorang perempuan
Muslimah dari kabilah Yahudi Bani Nadhir. KeIslaman Shafiyyah diboikot
orang-orang Yahudi lainnya. Untuk menolong janda tua dengan 10 orang anak inilah
Rasulullah SAW menikahinya.

Maimunah binti Al-Harits
Dakwah Islam tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang Arab semata, tetapi juga
kepada manusia lainnya termasuk kepada orang-orang Yahudi. Sebab itu, Rasulullah
kemudian menikahi Maimunah binti Al-Harits, seorang janda berusia 63 tahun, yang
berasal dari kabilah Yahudi Bani Kinanah. Pernikahan ini dilakukan semata untuk
mengembangkan dakwah Islam di kalangan Yahudi Bani Nadhir.

Zainab binti Khuzaimah bin Harits
Zainab binti Khuzaimah merupakan seorang janda bersuia 50 tahun yang sangat
dermawan dan banyak mengumpulkan anak-anak yatim, orang-orang lemah, serta para
fakir miskin di rumahnya, sehingga masyarakat sekitar menjulukinya sebagai “Ibu
Fakir Miskin”. Guna mendukung secara aktif aktivitas janda tua ini maka
Rasulullah menikahinya. Dengan pernikahannya ini Rasulullah ingin mencontohkan
kepada umat-Nya agar mau bersama-sama menyantuni anak-anak yatim dan orang-orang
lemah, bahkan dengan hidup dan kehidupannya sendiri.

Mariyah al-Kibtiyyah
Setelah delapan pernikahannya dengan para janda-janda tua dengan banyak anak,
barulah Rasulullah SAW menikahi seorang gadis bernama Mariyah al-Kibtiyah. Namun
pernikahannya ini pun bertujuan untuk memerdekakan Mariyah dan menjaga iman
Islamnya. Mariyah merupakan seorang budak berusia 25 tahun yang dihadiahkan oleh
Raja Muqauqis dari Iskandariyah Mesir.

Hafshah binti Umar bin Khattab
Dia merupakan puteri dari Umar bin Khattab, seorang janda pahlawan perang Uhud
yang telah berusia 35 tahun. Allah SWT memerintahkan Rasulullah untuk menikahi
perempuan mulia ini karena Hafshah merupakan salah seorang perempuan pertama di
dalam Islam yang hafal dengan seluruh surat dan ayat al-Qur’an (Hafidzah).
Pernikahan ini dimaksudkan agar keotentikan al-Qur’an bisa tetap terjaga.

Aisyah binti Abu Bakar
Puteri dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ini merupakan seorang perempuan muda yang
cantik, cerdas, dan penuh izzah. Allah SWT memerintahkan langsung kepada
Rasululah SAW agar menikahi gadis ini. Pernikahan Rasululah dengan Aisyah r. A.
Merupakan perintah langsung Allah SWT kepada Rasulullah SAW lewat mimpi yang
sama tiga malam berturut-turut (Hadits Bukhari Muslim). Tentang usia pernikahan
Aisyah yang katanya masih berusia 9 tahun, ini hanya berdasar satu hadits dhaif
yang diriwayatkan oleh Hisyam bin ‘Urwah saat beliau sudah ada di Iraq, dalam
usia yang sangat tua dan daya ingatnya sudah jauh menurun. Mengenai Hisyam,
Ya’qub ibn Syaibah berkata, “Apa yang dituturkan oleh Hisyam sangat terpercaya,
kecuali yang dipaparkannya ketika ia sudah pindah ke Iraq. ” Malik ibnu anas pun
menolak segala penuturan Hisyam yang sudah berada di Iraq.

Oleh para orientalis, hadits dhaif ini sengaja dibesar-besarkan untuk
menjelek-jelekan Rasulullah SAW. Padahal menurut kajian-kajian semacam
al-Maktabah Al-Athriyyah (jilid 4 hal 301) dan juga kajian perjalanan hidup
keluarga dan anak-anak dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, maka akan diperoleh
keterangan kuat bahwa Asiyah sesungguhnya telah berusia 19-20 tahun ketika
menikah dengan Rasululah SAW. Suatu usia yang cukup matang uhtuk menikah.
Bagi yang mau lebih jauh menelusuri tentang keterangan ini silakan menelusuri
Tarikh al-Mamluk (Jilid 4, hal. 50) dari at-Thabari, Muassasah al-Risalah
(Jilid. 2 hal. 289) dari Al-Zahabi, dan sumber-sumber ini dituliskan kembali
oleh Dr. M. Syafii Antonio, M. Ec dalam buku “The Super Leader Super Manager:
Learn How to Succeed in Business & Life From The Best Example” (ProLM;Agustus
2007). Jadi tidak benar tudingan dan fitnah para orientalis bahwa Rasulullah
menikahi Aisyah di saat gadis itu masih berusia sangat belia.

Inilah pernikahan-pernikahan agung yang dilakukan Rasulullah SAW. Beliau banyak
menikahi para janda tua dengan banyak anak sebelum menikah dengan dua gadis
(Mariyyah dan Aisyah), itu pun atas perintah Allah SWT dan di saat usia Beliau
sudah tidak muda lagi. Poligami yang diajarkan, yang disunnahkan Rasulullah SAW
adalah poligami yang berdasarkan syariat yang sejati, bukan berdasar
akal-akalan, bukan berdasarkan syahwat yang berlindung di balik ayat-ayat Allah
SWT.

Jika sekarang banyak sekali orang-orang Islam yang melakukan poligami, mengambil
isteri kedua, isteri ketiga, dan isteri keempat, yang semuanya masih gadis,
cantik, muda usia, dan sesungguhnya tidak berada dalam kondisi yang memerlukan
pertolongan darurat terkait keimanannya, maka hal itu berpulang kepada mereka
masing-masing. Adakah poligami yang demikian itu sesuai dengan poligami yang
dilakukan dan dijalani Rasululah SAW? Silakan tanya pada hati nurani
masing-masing, karena hati nurani tidak pernah mampu untuk berbohong.
Wallahu’alam bishawab.
(Diedit dari eramuslim.com)

simbol


Bahasa tubuh wanita jatuh cinta atau saat tertarik kepada pria (cowok, laki-laki dan mahluk sejenisnya) sangat mudah ditebak. Katanya sih, kata orang -orang yang memang sudah ahli dalam memahami bahasa tubuh wanita. Bagi yang belum ngerti ya tetep aja susah

Tapi tenang, karena di sini Si Gen akan membagikan ilmu untuk mempelajari bahasa tubuh wanita jatuh cinta, khusus buat kamu yang gaptek mengenai ilmu bahasa tubuh. Ini bisa sangat membantu tewrutama buat kamu para cowok yang lagi dalam tahap PDKT sama cewek. Untuk apa? Tentu saja untuk mengetahui Apakah wanita yang sedang kamu taksir, kamu kejar dan menjadi target penembakan kamu (berburu kaleeee) tertarik sama kamu atau tidak.

Oke lah, kalau begitu..! Mari kita mulai pelajaran tentang bahasa tubuh wanita jatuh cinta ini. Disimak baik-baik yah, anak - anak!!!

1. Kontak Mata

Di awal-awal ketertarikan terhadap seorang pria, seorang wanita akan sering malu malu kucing atau malu malu tapi benar-benar malu. Bahkan untuk sekedar melakukan kontak mata dengan cowok yang mereka taksir. Kalau tatapan mata beradu dia akan segera memalingkan muka atau menunduk perlahan. Baru setelah mereka merasa nyaman dan merasa yakin terhadap kamu tatapan matanya akan berubah menjadi lebih dalam dan fokus.

Berbeda dengan wanita yang sama sekali tidak tertarik dengan kamu. Dia akan sering membuang muka dan cenderung malas jika beradu pandang bahkan untuk sekedar ngobrol. Itu artinya, menurut dia kamu orang yang membosankan. Kamu harus berusaha lebih giat lagi untuk menarik perhatian dia.

2. Gerakan tangan

Perhatikan apa yang dia lakukan dengan tangannya saat berbicara dengan kamu. Merapikan rambut atau memainkan ujung rambutnya adalah tanda kalau dia tertarik. Bisa juga sebagai tindakan sensual untuk menarik perhatian kamu. Intinya ini pertanda bagus.

Meletakkan jari di bibir, atau bahkan sampai menggigit ujung jarinya adalah sinyal kalau dia begitu terpesona dengan kamu.Biasanya, tindakan ini dilakukan secara diam-diam sambil memperhatikan pria yang disukainya.

3. Sikap tubuh

Perhatikan bagaimana sikap tubuh seorang wanita saat dia berada dekat atau sedang berbicara sama kamu. Mendekatkan tubuh, memiringkan kepala ke satu sisi dan berbicara dengan nada suara yang lebih lembut, menurut para ahli ini adalah indikasi bahwa dia tertarik.

Sedangkan beberapa wanita bisa terlihat jaim (entah itu Jaimun atau Jaimin). Dia sepertinya tidak mau terlihat jelek di mata kamu. Dia selalu ingin tampil menarik dan sesempurna mungkin. Tapi, disinilah biasanya mereka sering terlihat salting. Yang lainnya, berani mengambil, posisi yang menantang dan lebih menggoda. Seperti ingin disentuh (touch me, please..!).

4. Ekspresi wajah

Seperti saya bilang di awal, membaca bahasa tubuh wanita jatuh cinta sangat mudah (bagi orang-orang yang ahli). Wanita akan lebih sering tertawa dan tersenyum walau pun topik yang sedang dibicarakan tidak terlalu lucu. Pokoknya, wajahnya selalu berseri-seri dan terlihat ceria kalau dia lagi sama kamu.

Alis terangkat tanpa disadari, rona merah pada wajah sekitar pipi, juga merupakan pertanda bahwa seorang wanita tertarik. Hati-hati tertukar dengan wanita yang memakai pemerah pipi yah?

Nah, segitu aja dulu pelajaran mengenai bahasa tubuh wanita jatuh cinta -nya. Untuk referensi lain, silakan baca juga artikel Ciri cewek jatuh cinta sama cowok. Yah, semoga artikel bahasa tubuh wanita jatuh cinta ini bisa bermanfaat buat yang membutuhkannya.

sumber :internet

Kiat Menghafal Alquran


CARA MUDAH MENGHAFAL AL-QUR’AN

Oleh Syeikh Abdul Muhsin Al-Qasim. Beliau adalah Imam dan Khatib di Masjid Nabawi. Semoga Artikel kali ini bermanfaat dan dapat menambah semangat kaum Muslimin untuk dapat menyelesaikan hafalan Al Qur’an yang mulia. Selamat mencoba. [admin]

الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد ، وعلى آله وصحبه أجمعين

Berikut adalah metode untuk menghafal Al-Quran yang memiliki keistimewaan berupa kuatnya hafalan dan cepatnya proses penghafalan. Kami akan jelaskan metode ini dengan membawa contoh satu halaman dari surat Al-Jumu’ah:

1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali :

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali:

وَآَخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali:

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

5. Bacalah keempat ayat ini dari awal sampai akhir sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut

6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali:

قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali:

وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

10. Bacalah ayat kelima sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut

11. Bacalah ayat pertama sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk menguatkan/meng-itqankan hafalan untuk halaman ini

Demikianlah ikuti cara ini dalam menghafal setiap halaman Al-Qur’an. Dan janganlah menghafal lebih dari seperdelapan juz dalam setiap hari agar tidak berat bagi anda untuk menjaganya.

Bagaimana cara menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah?

Janganlah anda menghafal Al-Quran tanpa proses muraja’ah/pengulangan. Hal ini dikarenakan jika anda terus menerus menambah hafalan Al-Quran lembar demi lembar hingga selesai kemudian anda ingin untuk mengulang kembali hafalan anda dari awal maka hal itu akan berat dan anda dapati diri anda telah melupakan hafalan yang lalu. Oleh karena itu, jalan terbaik (untuk menghafal) adalah dengan menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah.

Bagilah Al-Quran menjadi 3 bagian dimana setiap bagian terdiri dari 10 juz. Jika anda menghafal satu halaman setiap hari, maka ulangilah 4 halaman sebelumnya sampai anda menghafal 10 juz. Jika anda telah mencapai 10 juz, maka berhentilah selama sebulan penuh untuk muraja’ah dengan cara mengulang-ngulang 8 halaman dalam setiap harinya.

Setelah sebulan penuh muraja’ah, maka mulailah kembali untuk menambah hafalan yang baru baik satu atau dua halaman setiap harinya tergantung kemampuan serta barengilah dengan muraja’ah sebanyak 8 halaman dalam sehari. Lakukan ini sampai anda menghafal 20 juz. Jika anda telah mencapainya, maka berhentilah dari menambah hafalan baru selama 2 bulan untuk mengulang 20 juz. Pengulangan ini dilakukan dengan mengulang 8 halaman setiap hari.

Setelah 2 bulan, mulailah kembali menambah hafalan setiap hari sebanyak satu sampai dua halaman dengan dibarengi muraja’ah/pengulangan 8 halaman sampai anda menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.

Jika anda telah selesai menghafal seluruh Al-Qur’an, ulangilah 10 juz pertama saja selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz. Kemudian ulangilah 10 juz kedua selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama. Kemudian ulangilah 10 juz terakhir selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

Bagaimana cara memuraja’ah/mengulang Al-Quran seluruhnya jika saya telah menyelesaikan system muraja’ah diatas?

Mulailah dengan memuraja’ah Al-Qur’an setiap hari sebanyak 2 juz. Ulangilah sebanyak 3 kali setiap hari hingga anda menyelesaikan Al-Qur’an setiap 2 minggu sekali. Dengan melakukan metode seperti ini selama satu tahun penuh, maka –insya Allah- anda akan dapat memiliki hafalan yang mutqin/kokoh.

Apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dalam satu tahun?

- Setelah setahun mengokohkan hafalan Al-Qur’an dan muraja’ahnya, jadikanlah Al-Qur’an sebagai wirid harian anda sampai akhir hayat sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadikannya sebagai wirid harian. Adalah wirid Rasulullah dengan membagi Al-Qur’an menjadi 7 bagian sehingga setiap 7 hari Al-Qur’an dapat dikhatamkan. Berkata Aus bin Hudzaifah رحمه الله: Aku bertanya pada sahabat-sahabat Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – tentang bagaimana mereka membagi Al-Qur’an (untuk wirid harian). Mereka berkata: 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan dari surat Qaf sampai selesai. (HR. Ahmad). Yaitu maksudnya mereka membagi wirid Al-Quran sebagai berikut:

- Hari pertama: membaca surat “al fatihah” hingga akhir surat “an-nisa”,
- Hari kedua: dari surat “al maidah” hingga akhir surat “at-taubah”,
- Hari ketiga: dari surat “yunus” hingga akhir surat “an-nahl”,
- Hari keempat: dari surat “al isra” hingga akhir surat “al furqan”,
- Hari kelima: dari surat “asy syu’ara” hingga akhir surat “yaasin”,
- Hari keenam: dari surat “ash-shafat” hingga akhir surat “al hujurat”,
- Hari ketujuh: dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-naas”.

Wirid Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – di singkat oleh para ulama dengan perkataan: فمي بشوق (famii bisyauqi). Dimana setiap huruf dari kata ini merupakan surat awal dari kelompok surat yang dibaca setiap hari.

Bagaimana membedakan antara ayat-ayat mutasyaabih/mirip di dalam Al-Qur’an?

Cara yang paling afdhal jika anda mendapati 2 ayat yang mirip adalah dengan membuka mushaf pada setiap ayat yang mirip tersebut, lalu perhatikanlah perbedaan diantara kedua ayat tersebut kemudian berikanlah tanda yang dapat mengingatkan anda akan perbedaan itu. Lalu ketika anda memuraja’ah, perhatikanlah perbedaan yang anda tandai sebelumnya beberapa kali hingga anda mantap menghafal tentang kemiripan dan perbedaan diantara keduanya.

Kaidah-kaidah dan batasan-batasan dalam menghafal Al-Qur’an

o Wajib bagi anda menghafal dengan bantuan seorang ustadz/syeikh untuk membenarkan bacaan anda

o Hafallah 2 halaman setiap hari. Satu halaman setelah Subuh, dan satu halaman lagi sesudah Ashar atau sesudah Maghrib. Dengan cara ini, maka anda akan mampu menghafal Al-Qur’an seluruhnya dengan mutqin/kokoh dalam waktu satu tahun. Adapun jika anda menambah hafalan diatas 2 halaman setiap hari maka hafalan anda akan lemah disebabkan semakin banyaknya ayat yang harus dijaga..

o Hendaklah menghafal dari surat An-Naas sampai Al-Baqarah karena hal tersebut lebih mudah. Namun setelah selesai menghafal seluruh Al-Quran, hendaklah muraja’ah anda dimulai dari surat Al-Baqarah sampai An-Naas

o Hendaklah menghafal dengan menggunakan satu cetakan mushaf karena hal ini dapat menolong anda dalam memantapkan hafalan dan meningkatkan kecepatan dalam mengingat posisi-posisi ayat serta awal dan akhir setiap halaman Al-Qur’an.

o Setiap orang yang menghafal dalam 2 tahun pertama biasanya masih mudah kehilangan hafalannya. Masa ini dinamakan dengan Marhalah Tajmi’ (fase pengumpulan). Janganlah bersedih atas mudahnya hafalan anda hilang atau banyaknya kekeliruan anda. Karena memang fase ini merupakan fase cobaan yang sulit. Dan waspadalah, karena syaithan akan mengambil kesempatan ini untuk menggoda anda agar berhenti dari menghafal Al-Qur’an. Maka janganlah perdulikan rasa was-was syaithan tersebut dan teruskan menghafal karena sesungguhnya itu adalah harta yang sangat berharga yang tidak diberikan pada setiap orang.

Sumber: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=342445 [mirror]

http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/08/05/cara-mudah-menghafal-al-quran/

P u a s a


Kewajiban, Hikmah, & Adab-adab Puasa Ramadhan

Kewajiban Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan adalah suatu kewajiban yang jelas yang termaktub dalam Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya dan ijma’ kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur.” (Al-Baqarah:183-185)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Islam dibangun di atas lima hal: bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu ‘Umar)
Sementara itu kaum muslimin bersepakat akan wajibnya puasa Ramadhan. Maka barangsiapa yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, berarti dia telah murtad dan kafir, harus disuruh bertaubat. Kalau mau bertaubat dan mau mengakui kewajiban syari’at tadi maka dia itu muslim kembali. Jika tidak, dia harus dibunuh karena kekafirannya.
Puasa Ramadhan diwajibkan mulai pada tahun kedua hijriyyah. Ini berarti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat melakukannya selama sembilan kali.
Puasa Ramadhan wajib bagi setiap muslim yang telah ‘aqil baligh dan berakal sehat. Maka puasa tidak wajib bagi orang kafir dan tidak akan diterima pahalanya jika ada yang melakukannya sampai dia masuk Islam.

Puasa juga tidak wajib bagi anak kecil sampai dia ‘aqil baligh. ‘Aqil balighnya ini diketahui ketika dia telah masuk usia 15 tahun atau tumbuh rambut kemaluannya atau keluar air mani (sperma) ketika bermimpi.

Ini bagi anak laki-laki, sementara bagi anak wanita ditandai dengan haidh (menstruasi). Maka jika seorang anak telah mendapati tanda-tanda ini, maka dia telah ‘aqil baligh.
Akan tetapi dalam rangka sebagai latihan dan pembiasaan, sebaiknya seorang anak (yang belum baligh –pent) disuruh untuk berpuasa, jika kuat dan tidak membahayakannya.

Puasa juga tidak wajib bagi orang yang kehilangan akal, baik itu karena gila atau penyakit syaraf atau sebab lainnya. Berkenaan dengan inilah jika ada orang yang telah menginjak dewasa namun masih tetap idiot dan tidak berakal sehat, maka tidak wajib baginya berpuasa dan tidak pula menggantinya dengan membayar fidyah.

Hikmah dan Manfaat Puasa
Shaum (puasa) yang disyari’atkan dan difardhukan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya mempunyai hikmah dan manfaat yang banyak sekali. Di antara hikmah puasa adalah bahwasanya puasa itu merupakan ibadah yang bisa digunakan seorang hamba untuk bertaqarrub kepada Allah dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan dunianya seperti makan, minum dan menggauli istri dalam rangka untuk mendapatkan ridha Rabbnya dan keberuntungan di kampung kemuliaan (yaitu kampung akhirat –pent).

Dengan puasa ini jelas bahwa seorang hamba akan lebih mementingkan kehendak Rabbnya daripada kesenangan-kesenangan pribadinya. Lebih cinta kampung akhirat daripada kehidupan dunia.

Hikmah puasa yang lain adalah bahwa puasa adalah sarana untuk menghadapi derajat takwa apabila seseorang melakukannya dengan sesungguhnya (sesuai dengan syari’at). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah:183)

Orang yang berpuasa berarti diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah, yakni dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Inilah tujuan agung dari disyari’atkannya puasa. Jadi bukan hanya sekedar melatih untuk meninggalkan makan, minum dan menggauli istri.

Apabila kita membaca ayat tersebut, maka tentulah kita mengetahui apa hikmah diwajibkannya puasa, yakni takwa dan menghambakan diri kepada Allah.
Adapun takwa adalah meninggalkan keharaman-keharaman, dan kata takwa ini ketika dimutlakkan (penggunaannya) maka mengandung makna mengerjakan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزَّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ عَزَّ وَجَلَّ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ))
“Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap amalan dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Al-Bukhariy no.1903)

Berdasarkan dalil ini, maka diperintahkan dengan kuat terhadap setiap orang yang berpuasa untuk mengerjakan segala kewajiban, demikian juga menjauhi hal-hal yang diharamkan baik berupa perkataan maupun perbuatan, maka tidak boleh mencela, ghibah (menggunjing orang lain), berdusta, mengadu domba antar mereka, menjual barang dagangan yang haram, mendengarkan apa saja yang haram untuk didengarkan seperti lagu-lagu, musik ataupun nasyid, yang itu semuanya dapat melalaikan dari ketaatan kepada Allah, serta menjauhi segala bentuk keharaman lainnya.

Apabila seseorang mengerjakan semuanya itu dalam satu bulan penuh dengan penuh keimanan dan mengharap pahala kepada Allah maka itu akan memudahkannya kelak untuk istiqamah di bulan-bulan tersisa lainnya dalam tahun tersebut.
Akan tetapi betapa sedihnya, kebanyakan orang yang berpuasa tidak membedakan antara hari puasanya dengan hari berbukanya, mereka tetap menjalani kebiasaan yang biasa mereka lakukan yakni meninggalkan kewajiban-kewajiban dan mengerjakan keharaman-keharaman, mereka tidak merasakan keagungan dan kehormatan puasa.

Perbuatan ini memang tidak membatalkan puasa tetapi mengurangi pahalanya, bahkan seringkali perbuatan-perbuatan tersebut merusak pahala puasa sehingga hilanglah pahalanya.

Hikmah puasa yang lainnya adalah seorang kaya akan mengetahui nilai nikmat Allah dengan kekayaannya itu di mana Allah telah memudahkan baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, seperti makan, minum dan menikah serta apa saja yang dibolehkan oleh Allah secara syar’i. Allah telah memudahkan baginya untuk itu. Maka dengan begitu ia akan bersyukur kepada Rabbnya atas karunia nikmat ini dan mengingat saudaranya yang miskin, yang ternyata tidak dimudahkan untuk mendapatkannya. Dengan begitu ia akan berderma kepadanya dalam bentuk shadaqah dan perbuatan yang baik lainnya.

Diantara hikmah puasa juga adalah melatih seseorang untuk menguasai dan berdisiplin dalam mengatur jiwanya. Sehingga ia akan mampu memimpin jiwanya untuk meraih kebahagiaan dan kebaikannya di dunia dan di akhirat serta menjauhi sifat kebinatangan.
Puasa juga mengandung berbagai macam manfaat kesehatan yang direalisasikan dengan mengurangi makan dan mengistirahatkan alat pencernaan pada waktu-waktu tertentu serta mengurangi kolesterol yang jika terlalu banyak akan membahayakan tubuh. Juga manfaat lainnya dari puasa sangat banyak.



(Dikutip dari Bulletin Al Wala wal Bara, judul asli Kewajiban, Hikmah, & Adab-adab Puasa Ramadhan, Edisi ke-47 Tahun ke-2 / 15 Oktober 2004 M / 01 Ramadhan 1425 H , url sumber http://fdawj.atspace.org/awwb/th2/47.htm)

Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=987


http://mumtazanas.wordpress.com/2007/09/05/amalan-di-bulan-ramadhan-adab-hikmahnya/


Delapan Pengertian Cinta Menurut Qur’an

Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Alloh SWT, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

1. Cinta Mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta Rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.

3. Cinta Mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta Syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta Ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta Shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)

7. Cinta Syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta Kulfah, yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

posted by : Mubarok institute

Diposkan oleh Mistikus CintaDelapan Pengertian Cinta Menurut Qur’an
Share
Tuesday, August 4, 2009 at 8:33am
Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga : (1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, (2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan (3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Alloh SWT, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

1. Cinta Mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta Rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.

3. Cinta Mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta Syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta Ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta Shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)

7. Cinta Syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta Kulfah, yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

posted by : Mubarok institute


~CINTA SEWAJARNYA.~
...
~Cinta merupakan Anugerah Allah SWT yang bersemi di dalam Hati.....
Jadikanlah Cinta sebagai "E n e r g i" Perjuangan Hidup, dan
jangan jadikan berhala di dalam Hati.....

~Cintailah sesuatu apapun atas Dasar Memelihara "Amanat" dan "Anugerah" Allah SWT,.....
Jangan menCintai sesuatu,.....karena ingin "Memiliki" dan "Menguasai".....

~"Cintailah seseorang dengan sewajarnya,.....
bisa jadi suatu saat dia akan menjadi musuhmu.....
Dan Bencilah seseorang dengan sewajarnya,.....
boleh jadi suatu saat dia akan menjadi kekasihmu.....(HR.At-Tirmidzi).~

Bencana Dalam Menuntut ilmu


Sepuluh Bencana dalam Menuntut Ilmu

Oleh: Badrul Tamam

Keutamaan ilmu tidaklah kita ragukan lagi besarnya. Dengannya, Allah anugerahkan rasa takut kepada para penuntutnya. Karena ketika seorang hamba tahu tentang Rabb-nya, maka ia akan semakin berharap dan takut kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah ulama (orang berilmu).” (QS. Fathir: 28)

Dan sesungguhnya kebahagiaan dunia dan akhirat hanya tidak dapat diraih kecuali dengan ilmu. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّة

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan lainnya)

Namun, tidak semua orang lancar dalam menempuh jalan ini. Syetan senantiasa berusaha merusak aktifitas yang agung ini dengan berbagai cara. Di tambah lagi adanya nafsu syahwat para penuntut ilmu yang belum ditundukkan semakin menambah bencana dalam meraih keutamaan agung ini.

Pada tulisan ini kami akan sebutkan sepuluh bencana yang menghalangi seorang murid dalam menuntut ilmu. Kesepuluh bencana ini kami sarikan dari tulisan Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad al-Sadlan dalam kitabnya, Ma’alim Fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi sebagai berikut:

1. Salah niat dalam menuntut ilmu

Sesungguhnya niat adalah dasar, rukun, serta penentu suatu amal. Apabila niat salah dan rusak, maka amal yang dikerjakan akan ikut salah dan rusak, sekadar dengan rusaknya niat.

Jika niat menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah tercampur dengan niatan-niatan kotor seperti ingin tampil, terkenal, atau menguasai majlis, pastilah hal ini akan menjadi penghalang baginya dalam menuntut ilmu.

Karenanya, bagi penuntut ilmu hendaknya mengikhlaskan naitnya untuk mencari wajah Allah semata. Namun apabila dalam perjalanan syetan membisikkan niatan-niatan jahat maka ia harus menghilangkannya dan membersihkan kotoran itu dari dirinya.

2. Ingin terkenal dan ingin tampil

Ingin dikenal dan ingin tampil merupakan penyakit ganas yang sering menyerang para menuntut ilmu. Tidak selamat darinya kecuali orang yang dijaga oleh Allah Ta’ala. Imam al-Syatibi dalam al-I’tisham berkata, “Sesuatu yang paling terakhir hilang dari hati orang-orang shalih adalah keinginan untuk berkuasa dan keinginan untuk tampil.”

Apabila niat seorang penuntut ilmu ingin terkenal namanya, ingin disebut-sebut dan ingin selalu dihormati di mana saja ia berada dan berjalan, dan tidak ada yang dia inginkan kecuali hal itu, maka ia telah berada pada posisi yang sangat berbahaya. Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya orang pertama kali yang akan diadili pada hari kiamat adalah tiga orang: . . . . . (hingga sabda beliau) . . . Dan orang yang mempelajari ilmu, membacakannya dan membaca Al-Qur’an. Ia dihadapkan kepada Allah. Allah memberitahukan kepadanya akan nikmat-nikmat-Nya dan ia pun mengetahui-Nya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang kamu lakukan dengan nikma-nikmat tersebut?” Ia menjawab, “Saya mempelajari ilmu, mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an di jalan-Mu.” Allah berkata kepadanya, “Kamu dusta, sesungguhnya kamu mempelajari ilmu agar kamu dikatakan sebagai seorang ulama. Kamu mempelajari Al-Qur’an agar kamu disebut sebagai Qurra’ (Ahli membaca Al-Qur’an), itu semua telah dikatakan untukmu.” Kemudian Allah memerintahkan (untuk mengadzabnya) maka ia pun diseret wajahnya lalu dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Para ulama salaf adalah orang-orang yang paling menjauhi keinginan untuk dikenal lalu dipuji. Bisyr bin Harits berkata, “Tidak bertakwa kepada Allah orang yang ingin dikenal.” (Siyar A’lam Nubala’: 11/216)

Imam Ahmad rahimahullah pernah berkata, “Aku ingin tinggal di pinggiran kota Makkah sehingga saya tidak dikenal. Sesungguhnya aku diuji dengan terkenalnya namaku.” Ketika Imam Ahmad mendengar bahwa orang-orang menyebut-nyebut namanya ia berkata, “Semoga ini bukan merupakan ujian bagiku.” (Siyar A’lam Nubala’: 11/210)

Para ulama salaf adalah orang-orang yang paling menjauhi keinginan untuk dikenal lalu dipuji.

3. Lalai menghadiri majelis ilmu

Para ulama salaf mengatakan bahwa ilmu itu didatangi bukan mendatangi. Namun kini ilmu mendatangi kita dan tidak didatangi kecuali beberapa saja.

Sesungguhnya menghadiri majelis ilmu terdapat dua keberuntungan: Mendapatkan ilmu dan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Karena menuntut ilmu termasuk ibadah yang sangat mulia dan agung. Karenanya Allah Ta’ala menurunkan ketenangan bagi siapa yang gemar menghadiri majelis ilmu dan melimpahkan rahmat kepada mereka. Sementara para malaikat akan menaungkan sayapnya bagi mereka dan memintakan ampun untuk mereka.

4. Beralasan dengan banyaknya kesibukan

Alasan ini dijadikan oleh syetan sebagai sarana menghalangi jalan menuntut ilmu. Berapa banyak orang yang sudah dinasihati dan didorong untuk menuntut ilmu, tapi syetan menggodanya dengan alasan ini.

Orang yang beralasan dengan kesibukannya pada pekerjaan atau yang lainnya sehingga membuat dirinya meninggalkan majelis ilmu adalah termasuk orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatan mencari ilmu. Sedangkan orang-orang yang hatinya dibuka oleh Allah, ia akan mengatur waktunya dan menggunakannya sebaik mungkin sehingga kesibukannya untuk mencari kebutuhan hidup tidak sampai memalingkannya dari menuntut ilmu.

Orang yang beralasan dengan kesibukannya pada pekerjaan atau yang lainnya sehingga membuat dirinya meninggalkan majelis ilmu adalah termasuk orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatan mencari ilmu.

5. Menyia-nyiakan kesempatan belajar di waktu kecil

Orang yang tidak mampu memanfaatkan waktu kecilnya untuk menuntut ilmu maka ketika sudah besar akan menyesal. Saat sudah tua, akan banyak kesibukan, pekerjaan, dan tamu yang datang ke rumahnya sehingga pikirannya bertumpuk. Pikirannya tidak mampu digunakan untuk focus belajar sebagimana ketika masih kecil, yang saat itu belum banyak kesibukan. Karenanya Imam Al-Hasan al-Bashri berkata, “Belajar hadits di waktu kecil bagai mengukir di atas batu.”

Namun demikian bukan berarti seseorang boleh berputus asa untuk belajar ketika tidak memanfaatkan waktu mudanya untuk mencari ilmu. Imam Al-Bukhari menasihatkan, “Dan (tuntutlah ilmu walaupun) setelah kalian tua, karena para sahabat Nabi belajar pada saat mereka tua.”

Sesungguhnya seluruh umut adalah kesempatan untuk mencari ilmu, karena thalabul ilmi adalah ibadah. Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

"Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (maut).” (QS. Al-Hijr: 99)

6. Enggan mencari ilmu

Di antara sebab yang menjadikan seseorang malas dan enggan menuntut ilmu adalah kesibukannya mengikuti informasi terkini dan memantau peristiwa yang sedang terjadi.

Sesungguhnya seluruh problem kehidupan hanya bisa di atasi dengan ilmu. Biar tidak ngawur, maka ilmu harus ada untuk membimbingnya. Sementara orang yang lebih memantau berita dan informasi terkini namun tidak memiliki kematangan ilmu dien, maka dia akan menyelesaikan masalah yang muncul dan yang di hadapinya dengan pandanganya yang pendek, jauh dari ilmu. Karenanya ia akan merugi karena kesalahan-kesalahannya dalam menyikapi segala persoalan yang muncul yang disebabkan kejahilan terhadap kebenaran.

Syaikhul Islam adalah orang yang paling tahu dengan keadaan yang terjadi saat itu dan mengetahui permasalahn yang terjadi di sekitarnya. Namun ia tetap mencari ilmu. Sehinga ketika banyak fitnah dan musibah di kala itu, beliau bisa mengatasi permasalahan yang terjadi di masyarakat dan mendapatkan solusi secara syar’i dan tepat dari Al-Qur’an dan Sunnah serta dari berbagai disiplin ilmu.

Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali ada obatnya. Dan tidaklah musibah terjadi kecuali ada jalan keluarnya dan Al-Qur’an dan al-Sunnah. Dan ini adalah perkara pasti yang tidak perlu diragukan lagi.

7. Menilai baik diri sendiri

Maksudnya adalah merasa bangga apabila dipuji dan merasa senang ketika mendengar orang lain memujinya.

Memang, pujian manusia terhadap seorang mukmin merupakan kabar gembira yang Allah segerakan. Abu Hurairah pernah bertanya kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam tentang seseorang yang melakukan suatu kebaikan dan orang-orang melihatnya sehingga memujinya. Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

“Itu adalah kabar gembira bagi orang beriman yang Allah berikan dengan segera.” (HR. Musli dalam kitab Al-Birr)

Namun hendaknya seorang mukmin berhati-hati dengan rasa gembira dan bangga jika dipuji dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya. Allah menceritakan sifat orang munafikin, “Dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang tidak mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 188)

Dan sesungguhnya merasa diri hebat dan sempurna adalah perbuatan tercela, kecuali pada beberapa perkara saja yang sesuai dengan syariat. Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci, karena Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (QS. Al-Najm: 32)

Allah telah mencela ahli kitab dengan sifat buruk mereka yang sok suci dan hebat,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.” (QS. Al-Nisa’: 49)

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian merasa diri kalian suci. Allah yang lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik di antara kalian.” (HR. Muslim)

Sesungguhnya merasa diri bagus dan suka dipuji termasuk salah satu pintu masuk syetan kepada hamba-hamba Allah. Karenanya, berhati-hatilah agar tidak termasuk orang yang bisa dikuasai syetan karena adanya sifat suka dipuji dan merasa hebat.

8. Tidak mengamalkan Ilmu

Setiap orang yang memiliki ilmu akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmunya. Dan siapa yang memiliki ilmu dan tidak mengamalkannya maka keberkahan ilmu yang dimilikinya akan hilang. Dan Allah sangat mencela orang yang tidak mengamalkan ilmunya,

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Al-Shaff: 3)

9. Putus asa dan rendah diri diri

Putus asa dan tidak percaya diri merupakan salah satu sebab tidak diperolehnya ilmu. Karenanya janganlah merasa rendah diri jika anda lemah hafalan, lemah pemahaman, lambat dalam membaca dan cepat lupa. Semua penyakit ini akan hilang jika anda meluruskan niat dan bersungguh-sungguh mencurahkan usaha.

Imam Al-Askari menceritakan tentang dirinya, “Ketika pertama kali menuntut ilmu, menghafal itu sangat susah bagiku. Lalu aku membiasakan untuk membaca syair Ru’bah yang berjudul, “Wa Qaaim al-A’maaqi Khaawii al-Mukhtaraqna" (Gelapnya kedalaman yang Tak Tertembus) dalam satu malam. Padahal syair tersebut hamper dua ratus bait.” (Al-Hatsts ‘ala Thalab al-Ilmi, Abu Hilal Al-Askari; 71)

Imam al-Bukhari pernah ditanya tentang obat lupa. Beliau menjawab, “Senantiasa membaca Kitab.”

Di samping niat yang lurus dan bersungguh-sungguh, juga harus dijauhi penyebab lemahnya hafalan, yaitu maksiat. Dan meninggalkan maksiat merupakan sarana terkuat untuk membantu kuatnya hafalan.

Imam Al-Syafi’i rahimahullaah pernah mengadu kepada gurunya, Waqi tentang buruknya hafalan beliau. Maka sang guru member arahan kepada muridnya ini agar meningalkan maksiat. Beliau mengatakan bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada ahli maksiat.

10. Terbiasa menunda-nunda

Ibnu Qayyim rahimahullaah pernah menjelaskan tentang menunda-nunda dan berangan-angan, “Sesungguhnya berangan-angan itu adalah senjata utama Iblis (untuk menggoda manusia).” (Madarij Salikin: 1/456-457)

Abu Ishaq pernah berkata, “Dikatakan kepada salah seorang dari Bani Abdil Qais, nasihatilah aku! Maka ia berkata, “Hindarilah menunda-nunda pekerjaan.”

Al-Hasan pernah berkata, “Janganlah kamu menunda-nunda pekerjaan. Sesungguhnya anda adalah orang yang berada pada hari ini, bukan pada hari esok. Seandainya anda mendapati hari esok, maka tetaplah kamu seperti yang kemarin. Karena jika anda tidak mendapatkan hari esok, maka anda tidak akan menyesal dengan waktu yang telah anda gunakan hari ini.”
Karena itu bagi setiap orang yang ingin mendapatkan ilmu dan ingin berkepribadian orang yang berilmu, janganlah menyia-nyiakan sedikitpun dari waktunya. Dan para ulama salaf sangat serius dalam memperhatikan urusan waktu mereka sehingga apabila kita mau membaca tentangnya maka kita akan terheran-heran karena ketatnya mereka dalam memperhatikan waktu. Wallahu Ta’ala a’lam.
(PurWD/voa-islam.com)

by :Yulianna PS

http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2010/08/03/8862/sepuluh-bencana-dalam-menuntut-ilmu/