sakit

alhamdulillah dikaruniai sakit di penghujung ramadlan.
karena di saat sakit seperti  ini, sepertinya jiwa menjadi lebih sehat. karena merunduk.

ya Rabb ya Rabb
hanya dengan rahmatMu saja, kami Kau angkat
dari lembah kesombongan menuju ke puncak kelemahan dan ketundukan

ya Rabb ya Rabb
ighfirlli wa thub alayya
ampuni kami dan bersihkan kami

allohumma innaka afuwun kariim
tuhibbul afwa fa'fu anni ya kariim

Engkau yang Maha Pemaaf Maha Mulia
Engkau menyukai permintaan maaf
maka ampunilah dan maafkanlah kami

aamiin

RESENSI THE LOST JAVA


Resensi novel
THE LOST JAVA
Oleh Dian Nafi

Judul : The Lost Java
Penulis : Kun Geia
Penerbit : IG Press
Jumlah halaman : xvi + 363
Cetakan Pertama : Juni 2012
ISBN : 978-602-18409-0-0

Yeahhhh.. alhamdulillah,akhirnya aku berhasil mengkhatamkan novel  THE LOST JAVA (TLJ). Yang teris  terang saja tadinya harus melewati keogahan dan keenggananku membacanya. Yang pertama, nama penulisnya belum kukenal. Yang kedua, membaca halaman – halaman awal membuatku pusing. Yang ketiga, aku punya banyak PR lain yang bejibun.
Tapi setelah kupaksakan diri membacanya demi untuk bisa membuat resensi ini, aku berhasil memperoleh kenikmatan di dalamnya. Beberapa kali aku menangis bahkan. Pada saat kematian profesor andalan tim hebat ini, saat pernikahan Gia dan Husna, lalu yang paling menakjubkan saat Husna merelakan Gia kalau mau menikah lagi dengan Sharma.
Secara keseluruhan ini novel yang sangat baik. Menggambarkan kehancuran dunia di ambang mata dengan lugas dan keberpihakan yang sangat jelas. Kebenaran Islam dan kekuatan jahat zionis. Alur yang disusun cukup rapi, dan data yang mendukung dieksplor dengan proporsional.
Tokoh utama yang dibangun di sini merupakan warga negara Indonesia. Profesor-profesornya berkebangsaan Indonesia. Bahkan mereka membuat skenario luar biasa penyelamatan bumi dan mahluk hidup dari kepupnahan akibat pemanasan global. Orang-orang yang digambarkan lebih jenius dari Habibie ini mendirikan Garuda Putih Lab (GarPu Lab) yang tersembunyi di bawah tanah dan tak terlacak oleh satelit. Di situ, mereka melakukan penelitian selama 35 tahun dengan menghimpun 50 ilmuwan dari berbagai negara demi menyelesaikan sebuah formula untuk misi WAR (Warriors of Antartic).
Dalam misi WAR inilah, lima ilmuwan akhirnya berangkat menuju puncak tertinggi di Kutub Selatan yaitu Gunung Vinson Massif. Di tengah badai es yang beberapa kali mengamuk, oksigen yang semakin menipis, suhu yang mencapai -450 derajat Celcius juga avalance yang sesekali mengincar, mereka terus melaju untuk misi mulia ini. Tapi siapa sangka jika di belakang mereka sebuah organisasi rahasia sedang mengikuti mereka dari jalur yang lain untuk merebut formula. Di sinilah mulai terkuak kejahatan Zionis Internasional dengan berbagai jubah organisasinya. 
Subhanallah. Novel TLJ ini ternyata menggetarkan. Di samping juga ilmiah dan penuh petualangan. Berbagai data, kajian dan analisa ilmiah di sana, insya Allah akan kubaca lagi kapan – kapan dengan upgraded chip tentu saja.
Kepedulian terhadap bumi menjadi titik kuat misi dan visi novel ini. Dari titik inilah terutama novel ini direkomendasikan. Namun dari sisi romance-nya juga  aduhai deh. Hampir mendominasi seluruh novel ini, membuatnya juga indah dan menyentuh. So lovely.
Meresapinya, membangkitkan rasa nasionalisme dan keimanan secara bersamaan. Kun Geia seolah ingin menegaskan bahwa Zionis Internasional adalah musuh bersama bagi semua manusia yang masih bernurani. Dengan alur yang cepat, adrenalin kita dipacu. Ditambah lagi konflik pribadi dan keluarga yang mengiringinya dengan dendam dan romantisme membuat emosi kita diaduk-aduk.
Pengetahuan, wawasan dan riset Geia yang memadai, menjadikan cerita ini benar – benar hidup. Seolah – olah kejadiannya benar – benar ada. Mengajak pembaca menikmati petualangan dan ketegangannya.
Kun Geia berhasil memancing kepenasaranan pembaca. Dia menaruh pengait di setiap akhir bab-nya untuk menggugah pembaca. Membuat kita mau membuka halaman dan bab berikutnya.
Lihat caranya memotong adegan menegangkan saat Gia berusaha menyelamatkan Davis, dan juga di beberapa tempat serta adegan lainnya. Persis seperti kita menonton film yang baru seru – serunya, lalu tiba – tiba diselingi adegan di tempat lainnya. Membuat tambah penasaran dan makin tegang.
Kejutan – kejutannya juga membuatku sebagai pembaca lumayan puas. Meski ketika membaca sedikit clue-nya ketika kejutan itu mau dihadirkan, kita bisa mulai menebak – nebak. Tapi lumayan banget lah kejutannya. Ternyata Keenan itu ayah Gia, ternyata Gia selamat dari pengeboman, dan kejutan lainnya yang dihantarkan melalui surat – surat Davis juga Mahmood.
Meskipun ada sedikit lompatan yang kurang manis saat mereka – para pahlawan – ini turun dari Vinson Massif. Kurang dramatisasi dan penggambaran detail. Seandainya saja claws di bagian ini diperbaiki, pasti hasilnya lebih ciamik.
Most of all, two thumbs up buat Kun Geia yang menghadirkan TLJ untuk kita semua. Melalui The Lost Java, kita jadi tahu adanya isu – isu tentang konspirasi dengan tajuk Save The Earth. Sejarah zionisme dan seluk beluknya yang bagi sebagian besar orang mungkin tidak diketahui. Seluk beluk medis, percobaan kimiawi, pengetahuan geologi dan lain – lain hal berkaitan dengan science, yang menambah kekayaan wawasan bagi para pembaca.
Beliau telah melalui riset panjang dan berbagai penyempurnaan seperti yang bisa kita baca melalui halaman persembahannya. Dan ketika aku membaca proses kreatif pembuatannya, wow wow, beliau melakukan dua puluh kali revisi untuk penyempurnaannya. Pantas saja.
Congrats. Selamat untuk Kun Geia. Selamat telah berhasil memukauku meski sebelumnya sempat tidak kulirik J




Profil Penulis Resensi
Dian Nafi. Lulusan Arsitektur Undip berlatar belakang keluarga santri. Pecinta purnama, penikmat hujan. Pimred De Magz. Pemenang Favorit Lomba Cerpen ROHTO 2011. Peserta Terpilih dalam Workshop Kepenulisan Cerita Anak bersama PBA & KPK 2011. Peserta Terpilih Lokakarya Penulisan Cerpen Kompas 2012. Menang Lomba Menulis Bareng Ahmad Fuadi-penulis Negeri Lima Menara. Menang lomba menulis cerita anak tingkat Jawa Tengah dll. Profilnya dimuat di Harian Analisa Medan (2011) juga Buku Profil Perempuan Pengarang dan Penulis Indonesia (KosaKataKita, 2012). Penulis Novel Mayasmara dan 8 buku solo-duet serta 64 Antologi . Di antaranya: Balita Hebat (Jendela-Zikrul Hakim) Gado-gado Poligami (Quanta-ElexMedia) Man Jadda Wajada Series - Berjalan Menembus Batas (Bentang), Miss Backpacker Naik Haji (Imania-Grup Mizan), 101 Ide Bisnis Online (GPU). http://diannafi.blogspot.com; fb: ummihasfa. Twit@ummihasfa

Syarat Menjadi Penulis Hebat



4 Syarat Menjadi Penulis Hebat:
  1. Jangan menjadi pengekor. Boleh meniru gaya, tapi harus tetap berproses menemukan kekhasanmu sendiri.
  2. Jangan biarkan editor mengubah tulisanmu, menulislah sebaik dan sesempurna mungkin.
  3. Jangan bergantung mood, itu hanya momok. Biasakan menulis dalam keadaan bagaimana pun.
  4. Jangan cepat putus asa. Jadikan setiap penolakan sebagai bahan evaluasi untuk menulis lebih baik. Perbanyak pengetahuan dan terus belajar.
Langkah Tepat jadi Penulis Hebat:
  1. Mulai sekarang juga.
“Penulis pemula sering dihantui oleh keinginan menghasilkan tulisan menarik yang sangat unik, lain daripada yang lain. Kecenderungan ini berakibat pada dua hal. Disatu sisi, cerita yang kita tulis terlalu ganjil dan terkesan sangat menggoda-ada sehingga tidak layak baca. Di sisi lain, kita membutuhkan energi yang ekstra besar untuk menyelesaikan satu cerpen yang paling sederhana sekalipun”.
2. Benchmarking. Jadikan tulisan, penulis, atau media sebagai model acuan. Benchmarking bukan meniru.
“Demi Allah, saya mengharapkan dengan seluruh kekuatan yang saya miliki agar setiap tulisan mampu menciptakan perubahan besar bagi hidup, pikiran, jiwa, dan agama kita. Hidup ini tak lama, sedangkan kematian amat dekat. Maka, saya berharap setiap kata yang dituliskan menjadi bekal untuk hidup sesudah mati”.
3. Membuat tulisan lebih memikat.
Buat paragraf pembuka yang menarik minat (ringkas: tidak lebih dari 17 kata per kalimat, pilih kata yang tepat, kohesif: antar kalimat menyambung, tidak klise, tidak juga terlalu puitis).
Buat judul yang menggugah rasa ingin tahu (singkat, mudah diucapkan,mudah ditangkap, dan kuat maknanya).
Hukum Buku Laris:
  1. Bertutur dengan sederhana, renyah, mengalir.
“Mereka senang memakai kalimat-kalimat sederhana, kosakata yang sederhana, dan kalau pun terpaksa menggunakan istilah yang kurang dikenal khalayak, mereka memberi penjelasan dengan cara yang sederhana dan enak. Sehingga, orang-orang yang tahu tidak merasa jemu dan yang tidak tahu merasa lapang”.
“Adalah tidak terpuji memaksa pembaca memeras otaknya untuk memahami tulisan kita”(Frank Lawrence)
2. Memiliki objective benefit (memiliki manfaat sesuai yang dijanjikan oleh penulis/penerbit), identity benefit (mampu membangun identitas bagi pembaca), emotional benefit (manfaat emosi), dan ekuitas yang terjaga (kualitas yang terjaga dari buku satu ke buku lain).
Apa yang membuat ia mampu menghadirkan suasana negeri lain dengan sangat kuat? Rasa ingin tahu yang sangat besar. Imajinasi saja tidak cukup. Imajinasi perlu didukung oleh data dan pengetahuan yang matang”. 3. Buat plot yang rumit, pelik, kompleks. Ini akan merangsang pembaca berpikir dan menghayati. Plot yang terlalu sederhana cenderung membosankan dan mudah ditebak.
4. Buat akhir cerita yang tidak biasa. Penyelesaian masalah yang terlalu sederhana cenderung tidak disukai pembaca. 5. Perkuat materi dengan dukungan ilmu pengetahuan yang memadai, riset, survei, bukti, literatur ilmiah, dan logika yang kuat. Karya yang hanya berisi banyak sensasi atau kejutan takkan bertahan lama.
Dinukil dari buku “Dunia Kata: Mewujudkan Impian Menjadi Penulis Brilian”, Penulis : M Fauzil Adhim, (DAR!Mizan, 2004)

just a tough

pengalaman positif bisa menimbulkan kepositifan dalam diri kita.
sebaliknya, demikian pula halnya dengan pengalaman negatif.

singkat cerita, karena pernah melihat sepupuku kesulitan mengeluarkan memory card dari dalam handphone-nya. aku dalam kesempatan lain, kok kemudian juga ikut-ikutan kesulitan yang sama.

padahal semestinya jika aku bersikap netral terhadap kesulitan yang dialaminya itu, aku bisa menemukan sendiri cara yang benar dalam mengeluarkan memory card tersebut. karena boleh jadi kesulitan sepupuku itu sebab dia belum tahu cara yang paling tepat mengeluarkan benda kecil itu dari sana.

stay cool, tetap tenang, bersikap positif adalah kunci dari segala sukses, kukira.

bagaimana menurut teman - teman ?

Alhamdulillah

Alhamdulillah, menyusul kemudahan demi kemudahan, anugerah demi anugerah yang Allah berikan.
Saat ini setitik debu yang berdebu ini sedang menyelesaikan dua novel pesanan dari dua penerbit.
mohon doanya, semoga lancar, diberi kemudahan dan sukses sampai pada masanya melahirkan persembahan untuk teman - teman semuanya.
Aamiin....

Oh ya, kemarin sempat saya janji menyampaikan beberapa poin yang saya dapat selama bersanding dalam sebuah event dengan sang doktor ya.. hehe.. ini resume-nya, cekidot. semoga bermanfaat :)
(maaf kalimatnya pendek - pendek karena saya cicil nulisnya via twitter @ummihasfa)

 itu tdk bergerak dr ini ke itu.tp semakin naik,semakin melipat waktu,melipat ajaran.mengeliminir kerak2. dialektikanya naik.



Sifat rasul,tabligh,artinya profesional.dg seni kehidupan,seni komunikasi,menata harmoni,civil society yg berkeadaban

Kehadiran tulisan tdk bernilai lebih kalau masyarakatnya tdk punya ekspektasi dan kecerdasan.

Meningkatny apresiasi sastra thd tema relijiusitas hrsnya diikuti kajian relijiusitas itu sendiri.bgm buat reading society yg cr bacanya pas

Ilham konon spt air,mengaliri tempat2 yg kosong&lbh rendah.maka kosongkan diri&rendahkan hati 

Sandarkan pd yg Maha indah,shg tulisan mjd indah.sandarkan pd yg maha menginspirasi agar tulisan mjd inspiratif 

Knapa shbt Umar menangis ktk mdgr bacaan Toha?krn tahu epistimologi,kehadiran teks,dan mengadanya.estetika adl urusan filosofi,bgnn berpikir

Nilai ajaran&konsep spiritualitas sgt pas kalo disampaikan lewat novel.dlm tradisi sufi,ada ibn arabi,ibn thufail,iqbal,ghazali,dsb

Tulisan para sufi tdk menghakimi,tp kosmologi.estetika yg dikonstruksi dg filosofi akan abadi,murni,tdk bertendensi,bisa diterima siapa saja

kekalahan kita krn rasanya terkdg hy euforia.menulis hanya dr emosi(bukan kontemplasi) tdk akan 'mewah'

Membaca di balik segala sesuatu(metafisika)melebihi org2 biasa,hrs mjd pengetahuan kita,shg ktk melahirkannya dlm tulisan, akan bisa abadi.

Para filsuf,tirakat selama proses menulis,wudlu,puasa,sholat,baca taqrib dsb.utk menjaga kemisterian Tuhan dg AlJamal-nya(yg Maha Indah)

Ibnu Arabi menulis futuhatul makiyah secara sporadis,sesuai dg kondisi spiritualnya.(tdk menulis dlm keadaan emosi/kemrungsung dsb)

Hamka,mengelola ketidakbisaan mengada di luar mjd tetap bisa mengada di dlm(bui).karya besar sering lahir dr keterpurukan,bhkn skizoprenia

Banyak pemikir yg menulis bagus,menjadi tumpul ketika terjun ke politik. Kenapa ? mungkinn karena kemurnian dan keikhlasannya berkurang.

Jaga konsistensi menangkap wajah Tuhan saat lewat sekelebat,krn dtgnya inspirasi mmg tdk terus menerus 

Media memang mjd ajang perebutan makna.krn nya pembacalah yg hrs dicerdaskan,berikut membuat komunitas pembacanya.

 itu bagaimana menghargai dan konsisten (istiqomah)

 itu bukan jual beli,bkn krn mindset untung rugi,keserasian ekonomi dsb

 itu Tuhan itu sendiri.





*btw,pernah terbakar,mabuk cinta pdNya,spt klo pas membara jk sdg fallin dg org?biasanya stlh terpuruk krn dosa


[ edisi belajar membaca] Tipuan Prasangka


Beberapa saat lalu saya memposting sebuah cerpen. Tadinya hendak saya beri judul Senin Agustus. Tetapi kemudian karena dalam cerita itu tokoh utamanya terbelah, antara mendengar sisi hatinya yang menyuruhnya pergi dari bayang - bayang seorang lelaki yang menjadi karakter dalam novelnya. satu sisi yang lain, tetap ingin tinggal. Sehingga kemudian saya beri judul Separuh Aku.

Andai saja teman - teman yang saya tag ataupun tidak, membaca cerpen itu, tanpa saya menaruh link lagu Separuh Aku dari Noah, tentu mereka berkomentar akan isi cerpen saya. Memberi komentar, saran dan kritik sehubungan dengan penulisannya, apakah sampai pesan cerpen yang saya komunikasikan, plot, karakter, setting, adegan dan sebagainya yang berkaitan dengan sebuah cerpen.

Namun saya mungkin sedikit membuat kesalahan yang bisa jadi justru menjadi pelajaran. Utamanya buat diri saya sendiri, tentang bagaimana mata dan hati bisa sedemikian tertipu.

Karena saya menaruh link lagu Separuh Aku by Noah di bawah postingan cerpen itu, perhatian pembaca kemudian terbetot ke sana. Menghubung-hubungkan cerpen saya dengan lagu itu, band itu. dan karena ada pro kontra mengenai vokalis band tersebut. Yang menurut saya mungkin dia sudah bertaubat, tetapi sebagian besar orang sepertinya kadung mencap jelek dia. Yang akhirnya terbawa dengan memandang sebelah mata terhadap karyanya.

Yang suka lagu dan liriknya pun, berusaha menahan diri untuk tidak berkomentar tentangnya karena mungkin kuatir dianggap termasuk rombongan yang membela dan nge-fans vokalisnya. Imbasnya, cerpen saya tidak jadi dibaca dengan apa adanya cerpen saya. Tetapi lagu itu yang saya ‘tetapkan’ sebagai soundtrack cerpen saya kemudian (yang tadinya saya tulis bukan karena menterjemahkan ataupun terinspirasi lagu itu) mengaburkan pandangan jernih dan mungkin cara membaca orang terhadap cerpen saya.

It’s a great lesson.
Bisakah kita membaca dengan lebih jernih tanpa tertipu mata, hati dan prasangka ?
*itu PR besarnya :D


Angin Baru Bedah Buku (sebuah catatan dari LPM Idea)


Angin Baru Relaunching dan Bedah Buku “Asmara di atas Haram”

Semarang-Jum’at (03/8) Penerbit Erlangga menyelenggarakan acara relaunching dan bedah novel Asmara di Atas Haram, karya Zulkifli L. Muchdi di gedung toko buku Gramedia Pandanaran
Semarang lantai dua. Acara ini terselenggara atas kerja sama Penerbit buku Erlangga dan Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Semarang dengan menghadirkan narasumber Dian Nafi (Pimred De Magz/ pemilik Hasfa Publishing) dan Zainul Adzfar (Pemerhati Sastra/ Senior LPM IDEA).

Bedah buku ini juga dirasa menarik dikarenakan kombinasi antara kedua narasumber dalam membedah novel karya Zulkifli Muchdi tersebut. Pasalnya kedua pembicara memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat novel tersebut. Dian Nafi berbicara terkait fisik novel, meliputi diksi, alur cerita, setting, dan lain sebagainya, sedangkan Zainul Adzfar berbicara terkait jiwanya, yakni berkaitan tentang pemaknaan karya sastra. Kombinasi ini membuat peserta semakin asyik dalam mengikuti dialog.

Acara ini cukup menyita perhatian pengunjung Gramedia. Hal ini dibuktikan dengan membludaknya pengunjung yang berkunjung antara pukul 15.00-17.30 WIB berhenti di area kegiatan dan menyimak apa yang sedang dibicarakan. Dalam acara ini juga hadir segenap pengurus dan anggota FLP cabang Semarang dan beberapa tamu undangan.

Lima menit sebelum adzan maghrib berkumandang, bedah novel ini berakhir. Dilanjutkan dengan buka bersama. [UA/Zf-IDEA]
 —

Belajar Membaca

Alhamdulillah, bedah buku di toko buku Gramedia Pandanaran Semarang berlangsung sukses kemarin, Jumat  3 Agustus 2012.

Bersanding dengan seorang doktor di bidang filsafat sebagai nara sumber yang satunya, memberikanku double benefit kali ini.
Senang banget karena diriku diberi kesempatan berbagi makna dan berbagi cahaya dengan seluruh audiens yang hadir dalam acara yang berlangsung seru itu.
Keuntungan kedua, aku dapat buanyaaaak pelajaran dari uraian   sang doktor yang meski 'kepalanya' penuh tapi gaya penyampaiannya 'cool'. hehe.

Segitu dulu ya, nulisnya. Aku berhasil mendokumentasikan pelajaran yang kudapat dari beliau dalam 7 halaman keramat. insya Allah kapan - kapan aku bagikan di sini.

So, stay tune :-)

Launching Dua Novel Duet

Alhamdulillah, menyusul terbitnya Dua Novel Duet kami bertiga, (kesannya aku poligami gitu ya? hehe )
terselenggaralah Launching kedua novel  tersebut.

Novel Segitiga: Setiap Sudutnya Punya Cerita, yang kutulis bareng Nessa Kartika dilaunching pada event WONOSOBO book fair. Alhamdulillah berlangsung seru dan meriah pada 18 Juli 2012 yang lalu.



Kemudian Launching Novel LELAKI : Kutunggu Lelakumu, yang kutulis bareng mbak Endang Ssn, pada 30 Juli 2012 di Surabaya. Berlangsung seru dan penuh kehangatan. Dihadiri pula oleh penulis Bunda Pipiet Senja dan mbak Sinta Yudisia yang memberikan endorsement novel kami.


Kedua novel ini telah hadir di toko buku Gramedia dan toko buku lainnya.
Selamat membaca dan menikmati ya :)


De Javu




Waktu teman - teman FLP datang ke rumah menyampaikan proposal acara dan meminta saya menjadi salah satu nara sumber bedah buku Asmara di Atas Haram terbitan Erlangga di toko buku Gramedia, itu untuk pertama kalinya saya memegang buku tersebut.  Saya sempat merasa de javu. Karena ketika sekilas membaca bab terakhirnya- Purnama di Atas Haram, saya teringat dengan dua puisi yang saya tulis tahun 2009 lalu dan saya cantumkan di novel Miss Backpacker Naik Haji terbitan Imania (Group Mizan), judulnya Purnama di Atas Makkah dan Purnama Di atas Madinah. 

Subhanallah. Ternyata seringkali cara kita membaca peristiwa , tempat dan alam bisa sama. Dan kesamaan pengalaman ini bisa menjadi daya tarik bagi calon pembaca buku.

Saya diminta mengupas buku ini dari sisi sastra, budaya dan pasar.
Alhamdulillah ada 14 halaman catatan yang saya tulis setelah membaca novel Asmara di Atas Haram karya Bp Zulkifli L Muhdi tersebut.  Insya Allah dalam kesempatan besok hari Jum'at 3 Agustus 2012, akan saya bagikan dalam beberapa poin. Sembari terus bergema keinginan dalam hati, Ya Robb perkenankanlah aku kembali ke tanah sucimu, someday, mereguk kasihMu di surgaMu yang Engkau paparkan di sana. 
Aamiin..