pulang dan jalan-jalan

hanya dengan berjalan kita bisa sampai atau kembali
mengunjungi rumahmu lagi, aku tahu
semestinya memang di sini tempat bermainku, belajarku, asyikku
salah satu rumah di antara rumah - rumah di mana seharusnya aku berada

lalu yang kemarin?
yang memanggil nurani purbaku pastilah juga bukan accident
pastilah juga coincidence
ada rencana di balik takdir pertemuan
apa itu? mungkin tugasku menjadi mentor baginya
setelah selama ini aku belajar dari banyak guru
mungkin saatnya aku berbagi

people lift me up
maybe, it's time for me to lift up another person
who knows?

jadi kembali ke rumah yang seharusnya untuk men-charge diri
dan bermain ke rumah yang kadang kita tak nyaman, untuk berbagi yang kita tahu dan miliki



thanks Allah for letting me know the reason of this 'galau'

beda frekuensi


hari sekolah tinggal besok, tetapi anak laki - laki itu bersikukuh hendak menemui seorang temannya hari ini. tiga minggu liburan ternyata menimbulkan kerinduan yang sangat dalam dirinya. dan sang ibu akhrnya meluluskan keinginan tersebut dengan mengantarkannya sampai ke rumah sahabat sang anak.

kerinduan menggebu anak laki-lakinya terbayar sudah. meski dari peristiwa ketemuannya dua anak lelaki di siang hari itu, ada sesuatu yang mengganjal. tetapi membangkitkan kesadaran sang ibu. bahwa belum tentu orang yang sangat kita rindui itu juga merindukan kita dalam kapasitas yang sama. bahkan mungkin tidak rindu sama sekali. sang anak lelakinya yang begitu antusias bercerita dan berbagi pada teman sekelasnya itu hanya mendapat sambutan yang biasa saja. sang sahabat menanggapi dengan cool gaya anak kecil yang tampaknya tidak memiliki frekuensi yang sama dengan anaknya, tidak memiliki kerinduan sebesar yang dimiliki anaknya. so... apakah itu mengurangi rasa suka sang anak pada sahabatnya itu? sang ibu mencoba mencari tahu. apakah anaknya menjadi kecewa dan kemudian berubah sikapnya?  so.... kisah serupa seringkali dialami para dewasa juga. seseorang mungkin mengalami hal hebat dalam perasaannya sendiri terhadap orang lain. Namun sang obyek belum tentu berada dalam frekuensi yang sama. Apakah ini musti dilahirkan dalam kata – kata atau harus diterjemahkan sendiri melalui penginderaan terhadap bahasa tubuh dan bahasa diam? Ini yang sulit, karena manusia dewasa kadang penuh rekayasa dan pandai menyembunyikan sesuatu bahkan mengelabui. Hoho.

pagi yang menakjubkan


berkostum merah putih, dia berkeringat mendorong sepeda anak perempuannya yang sedang belajar menguasai kendaraan kecil itu. cukup menyerap energi sebagai ganti fitness atau pillates yang akhir - akhir ini menjadi pilihannya melampiaskan passion dan sesuatu yang berkobar- kobar dari dalam tubuhnya.

pagi yang bening ini mengantarkannya memahami dan menemui pemaknaan baru tentang kehidupan. di belahan bumi lain, seseorang sedang bersiap untuk detik pernikahannya. di belahan bumi lain, seorang yang lain lagi mungkin sedang menghabiskan sisa malam minggu bersama kekasih barunya (yang entah asli atau palsu atau hanya sandiwara). di belahan bumi lain, seorang lain mungkin sedang susah payah belajar untuk bisa lulus dan bersegera mengerjakan yang lainnya seperti menggenapkan separuh dien misalnya. di belahan bumi lain, seorang yang lain lagi mungkin masih tak habis pikir bagaimana dirinya bisa sedemikian perhatian dan so into tadinya, kini bisa menjadi seseorang yang hadir dengan berbagai kejutan baru yang tak terduga sebelumnya.

Suara – suara dalam kepalanya berlomba dengan suara – suara di sekelilingnya. Jeritan anak perempuannya yang excited belajar naik sepeda. Suara tawanya sendiri menikmati pagi. Suara bising kendaraan di sekitar alun – alun. Alunan alquran yang berdengung seperti tawon dari arah masjid agung. Dan suara live music dari seberang jalan. Senandung putrinya yang mengikuti suara-suara yang terakhir membetot telinganya membawa pendengaran juga matanya melirik ke arah live music itu berasal. Empat lelaki muda duduk di atas kursi – kursi di atas trotoar tepi jalan, di depan bangunan rutan seberang alun –alun. Dua orang memegang gitar, seorang memegang bas, seorang lagi memainkan keyboardnya. Lagu –lagu yang ramah di telinga dan jiwanya. Benaknya berlari menuju seseorang yang tidak di sana tetapi bermukim di hatinya beberapa waktu terakhir ini. Seseorang yang kaya dan berwarna hidupnya oleh banyaknya kawan dan komunitas di mana dia bergabung. Ingin sekali sebenarnya dia melihat aksi performance seseorang ini yang kemarin bersama kawan – kawan band-nya mengisi penutupan event besar di sebuah kawasan pameran di pusat propinsi. Tetapi kesempatan itu belum ada, meski dia yakin suatu saat mungkin akan datang waktunya.

Kepala dan tubuhnya bergoyang menikmati live music itu sementara pikirannya terus berkelana. Berkejaran dengan suara tawa anaknya dan suara – suara lain. Tidak mudah menghapus jejak seseorang yang pernah memanggil suara dan nurani purbamu meski hanya sesaat. Sesaat namun lekat seperti konsentrat yang pekat. Sebuah kisah telah tertuliskan terinspirasi namanya. Terhambat di tengah jalan karena terbukanya selaput menyajikan sampah – sampah yang tak terduga sebelumnya. Passion-nya sempat luntur tadinya tetapi dia tidak mau mundur begitu saja. Sekali langkah dia ambil, sampai finish akan dia kejar. Jadi tekadnya kini, dia akan mengolah sampah – sampah itu bersama warna – warninya menjadi sesuatu yang brilian dan berharga. Bismillah.

Cerita di Balik Kisah Lelaki Kutunggu Lelakumu


Besok dia akan menikah. Lelaki itu. Yang kisahnya menginspirasiku untuk menuangkannya dalam sebuah novel : LELAKI : Kutunggu Lelakumu. 

Untung saja dia menikah ( semoga besok semuanya sukses dan lancar tanpa aral melintang serta diberkahi) sebelum novel itu sampai ke toko buku Gramedia dll. (Insya Allah akhir Juli 2012 baru nangkring di rak Gramedia, semoga semuanya lancar dan dimudahkan)
Sehingga beban emosionalku sudah terangkat dengan mudah. Lelaki itu, yang kisahnya kutuliskan, akhirnya menemukan harinya. Akhirnya lelakunya yang ditunggu sekian banyak orang akan segera mewujud. Banyak perempuan menunggu lelakunya sampai usianya melewati kepala tiga. Dan aku tidak tahu kenapa, menjadi pengamat mereka, si lelaki dengan perempuan - perempuan di sekelilingnya. Aku sungguh gemas dengan sikap dingin lelaki ini dan beberapa lelaki lainnya yang punya sikap serupa. APATIS. Apa yang melatarbelakanginya, aku sungguh ingin tahu dan kucari tahu. Seorang penulis tidak saja seseorang yang bisa menyihir pembaca dengan tulisannya tetapi juga seorang intelejen yang jeli, andai saja kau tahu. 

Dengan hasil pengamatan, wawancara, testimoni dan kemudian sedikit imajinasiku serta kerja sama yang baik dengan partner duet menulisku, akhirnya taraaaa..... novel itu lahir. Menuliskan sesuatu yang mungkin belum ditulis orang lain. Karena pernah kubaca dari sebuah quote, jika kau tak temukan buku yang menuliskan apa yang kau ingin baca, maka tulislah olehmu. Jadi inilah persembahanku, untuk kehidupan, untuk cinta, untuk lelaki yang belum punya cukup keberanian, untuk perempuan yang menunggu lelaku lelaki.
Juga untuk lelaki yang ragu – ragu mengungkap dan menyatakan cinta bahkan pada pasangan halalnya, entah apa alasannya. Wahai lelaki, perempuanmu menunggu lelakumu. 

Endorsement :

"Cinta selalu punya makna lebih. Tidak pernah membosankan untuk dinikmati. Cinta dalam novel kali ini bernuansa lain : sudut pandang baru, humor segar, juga hati yang merana. Lihatlah bagaimana tokoh cerita ini, Mayana, beranggapan bahwa mungkinkah lelaki sesungguhnya menunggu wanita mendatangi mereka, sebab para lelaki terlalu apatis dalam memulai kisah cinta?"
(Sinta Yudisia II - pegiat FLP, penulis, novelis)

"Jika anda setuju lelaki tidak sekedar bagian dari isi dunia atau pewarna setiap cerita cinta.... maka bacalah novel karya dua novelis wanita ini! temukan inspirasi dan hikmah terdalam dari seorang LELAKI dengan segala frasa indahnya ! bagus"
(Riyanto El-Harits, Novelis)


Judul : LELAKI : Kutunggu Lelakumu
Penulis: Dian Nafi dan Endang Ssn
Penerbit : Hasfa Publisher
Terbit : Juni 2012
ISBN : 978-602-7693-04-3
172 hal

HADIR DI GRAMEDIA dan toko buku lainnya (insya Allah akhir Juli 2012)
bisa dibeli online. silakan inbox aku atau sms 081914032201

LOMBA RESENSI JULI - AGUSTUS 2012

Info Lomba dari Hasfa Publishing


Buku-buku/novel yang kami pilih untuk diresensi kali ini (14 Juli - 14 Agustus 2012) adalah :
- PETITAH : Perjalanan Menuju Awal
- Novel LELAKI : Kutunggu Lelakumu
- Novel SEGITIGA : Setiap sudutnya punya cerita
- RUANG KATA
- ELIMINASI CINTA

Syarat & Ketentuan :
 -Setiap peserta dipersilahkan mengirim satu, beberapa atau resensi dari semua  judul buku tersebut.
-Wajib menuliskan resensi di ruang online seperti (pilih salah satu atau lebih): blog, notes Facebook, Kompasiana, Blogdetik, Kaskus atau forum-forum komunitas lainnya.
-Isi resensi yang ditulis terdiri dari poin-poin yang membahas tentang kelebihan buku, sekilas isi buku, alasan harus membaca buku tersebut serta kalimat yang berbahasa ringan dan persuasif.
- Resensi yang dimuat di blog (blogspot, wordpress, multiply), kompasiana, blog detik, dll harus memuat link/tautan ke http://hasfapublishing.blogspot.com pada kata-kata seperti : Penerbit HasfaPublishing, judul buku yang diresensi, dan menerbitkan kebaruan (kalau ada)
-Resensi yang dimuat di notes facebook wajib me-tag ke minimal 25 orang temannya.
- Resensi yang dimuat di forum-forum komunitas (kaskus, forum detik, myquran, dll) silakan menggunakan link/tautan pada kata-kata di atas (poin tautan di blog) jika dibolehkan pada aturan masing-masing forum komunitas.

Pendaftaran peserta :
1. Pendaftaran paling lambat tanggal 14 Agustus 2012 sebelum pukul 24.00 WIB.
2. Pendaftaran melalui email hasfapublishing@yahoo.com dengan menyertakan keterangan identitas-nama,alamat dan narasi biografi singkat.
3. Sampaikan juga dalam email tersebut link web/blog, notes facebook, atau halaman forum komunitas yang terdapat resensi Anda. 
4. Kami menilai resensi tersebut langsung ke web/blog, notes facebook dan forum komunitas sehingga diharapkan memberikan link yang memudahkan kami untuk bisa cepat memperolehnya.
5. Hanya resensi yang mengikuti syarat & ketentuan di atas yang akan masuk penilaian kami.

Resensi yang terpilih :
1. Dari semua judul buku yang diresensikan, kami hanya mengambil 1 pemenang dari 1 judul buku.
2. Pengumuman resensi yang terpilih dilakukan pada tanggal 1 September 2012.
3. Kami akan menghubungi peserta yang terpilih.
4. Resensi yang terpilih akan kami muat pada website Hasfa dan akan mencantumkan nama penulis serta nama blognya.
5. Resensi yang terpilih akan kami berikan apresiasi berupa paket buku senilai Rp 300rb.
6. Bagi peserta yang resensinya belum terpilih silakan mengikuti kembali pada bulan berikutnya.

Terimakasih,
Hasfa Publishing

Energi Kinanthi


Sebenarnya sudah sejak lama aku mendengar dan tahu tentang novel Galaksi Kinanthi.  Tetapi karena pernah membaca karya Tasaro GK dalam Lelaki Penggenggam Hujan dan aku kurang suka, aku tidak ada keinginan membaca dan memiliki Galaksi Kinanthi waktu itu. takdir berkata lain, ketika di Jakarta bukfer entah bagaimana tiba – tiba aku melihat buku ini dan tertarik membelinya.
Sampai di rumah, beberapa minggu kemudian baru buku ini kupegang dan kurobek plastiknya. Getar hebat terjadi pada tubuh dan jiwaku ketika aku baru memegangnya saja. Belum membaca isinya. Ada apa ini, pikirku? Mungkin karena hormonku atau apa karena faktor energi dalam buku ini? Bisa jadi perpaduan keduanya.
Lalu perlahan kunikmati dan kuhikmati buku itu. Tasaro benar – benar menyihirku kali ini. Aku menangis, menangis dan menangis. Pantas saja buku ini best seller. Look what it has done to me. Aku bergetar lagi ketika sampai pada bagian – bagian tertentu yang menyerap energiku (atau energinya bertemu energiku). Jelas setrum buku ini besar, aku merasakannya.
Berharap aku bisa menulis lagi seperti saat aku menulis novel Mayasmara, saat menulis dengan hati dan full energi. Namun dengan kepiawaian bercerita seperti Tasaro dalam Galaksi Kinanthi.
Semoga kesempatan itu ada. Amiin.

Yang Tak Lepas


ia datang lagi setelah tiga tahun lalu, setelah tujuh belas tahun lalu.
membuat perempuan itu tersipu dan malu saat ingatannya dilemparkan ke suatu waktu.
"yang jualan pecel waktu itu masih ada?"
perempuan itu tak mungkin lupa. 
"yang jualan sudah meninggal dunia"
jawabnya sambil menutupi wajahnya. perasaan bersalah yang hadir kembali.
mereka tidak pernah membahas ini, belum pernah.
"waktu itu, aku sempat makan tidak ya?", pria itu mengingat-ingat.
"kayaknya tidak", jawabnya sendiri.
"aku pulang, jalan menyusuri sungai itu............"
ucapan terakhirnya terasa mengambang, di awang - awang.
perempuan itu merasakan luka di sana. 
mereka belum pernah membahas ini sebelumnya. yang ia tahu, lelaki itu tampak tegar waktu itu. tegas.
ia masih menutupi wajahnya, menyembunyikan rasa bersalah yang tak pernah ia ungkapkan dengan jelas.
hanya tangisan berbulan - bulan dan tubuh luruh yang kehabisan daya hidup.

tulang rusuk yang melepaskan diri sebelum dipasang. 
sesal yang tak bisa pulang. 

"anak-anakmu sehat?", pria itu mengalihkan pembicaraan.
"alhamdulillah. nayla, kasih salam sama oom, dong", si kecil datang mendekat.
"siapa ini, bu?" 
"oom ini teman ibumu", jawab pria itu menyodorkan jabat tangannya.

dia belum berubah, mereka belum berubah.
mereka masih sepasang, seperti dulu. seperti orang-orang mengira mereka adalah pasangan. 
apakah pasangan tetap pasangan meski tidak menyatu? entahlah. 
ada banyak misteri di dunia ini. kita tak pernah tahu. 

*posting tulisan lama

Mentari, Gerhana, Ibu dan Iman


Gemerisik daun berjatuhan dekat jendela kamar Dina masih kalah oleh sontak kemarahan seorang perempuan tua yang merasa menjadi ratu di rumah itu. Tanpa mengetuk pintu, atau memberi kesempatan korbannya menyembunyikan bukti yang senyata dan sekeras batu. Membuat Dina hanya bisa beringsut sedikit demi mengatur nafasnya yang memburu seperti kacau dikejar hantu.

“Untuk apa kamu membaca novel- novel terus, Dina”
Ibu tak bisa menyembunyikan risau dan kebencian di matanya.
‘Buku-buku puisi ini juga. Apa gunanya?”
Dua buku puisi yang sudah tak cantik rautnya itu menjadi korban. Ibu mengambil untuk membantingnya ke meja di depan gadis berahang kokoh dengan burai sedikit anak rambut di atas telinganya.
Perempuan berhati sutra itu bergeming. Ditegakkannya punggung sambil menarik nafas.
“Membaca sastra itu bisa melembutkan kalbu. Andai ibu tahu” jawabnya lirih. Dia selalu ingin menghormati ibunya. Di tahta ibu, pusaka hidupnya berada. Dia yakin itu.

“Membaca Alquran dan berdzikir, itu yang sebenar-benarnya melembutkan hati” tajam ibu menyampaikan kenyataan dan mungkin juga dogma. Kemarahan yang sama, kemarahan yang itu – itu lagi.
Dina hampir kaku tak bisa menjawab. Tapi dia tahu ibunya menunggu sesuatu bunyi keluar dari bibir tipisnya. Ditahannya agar tak ada segarispun bening keluar dari mata mengarsir tulang pipinya yang tinggi.
“Melakukan sesuatu yang sama kadang jenuh, bu. Perlu melakukan sesuatu lainnya yang juga bermanfaat” bisiknya.
Ingin sebenarnya dia berteriak. Ibu seharusnya bersyukur karena dirinya lebih memilih membaca buku daripada dugem atau minum ciu.

Tapi begitulah….ibu masih menggumam serentetan risau yang keluar dari pengertiannya sendiri. Novel itu omong kosong, loghow dalam bahasa santrinya, membuang waktu, tidak produktif, mengajarkan angan-angan panjang, dan tetek bengek kontrapositif tentang sastra dan semacamnya.

Ah, ibu.  Ibu saja yang tidak pernah membaca novel bagus. Ibu hanya mendengar keburukannya dari ustadz, dari kyai, dari siapa saja yang terkungkung labirin dan kacamata prasangka.
Orang  kuno selalu kuno, lirihnya.
Anak muda selalu pemberontak, geram ibunya.

**

Jadi begitu alurnya. Dia kenal dekat dengan seorang mualaf. Gerhana ini membawanya semakin mencintai sastra. Di komunitas sastra, apalagi yang umumnya dibaca kalau bukan buku. Dan bukan kitab suci atau kitab lainnya.
Berinteraksi intens dengan mualaf membuatnya sedikit menurunkan tingkat fanatisme terhadap agama. Dia tak ingin membuat Gerhana takut. Keraguan dan kebimbangan yang menderu di kepala Gerhana seringkali berimbas pada dirinya. Untuk suatu waktu, kadang Dina mempertanyakan kembali beberapa hal yang selama ini diyakininya dengan pasti. Untuk suatu alasan, dia mengulang dan menginterpretasikan kembali segala sesuatunya.

Anehnya kehidupan bahkan menyeretnya lebih jauh keluar dari lingkaran amannya. Kali ini dia dipaksa takdir bertemu Mentari. Yang bahkan  berbeda keyakinan. Bukannya Dina tak pernah berkawan dengan mereka yang tidak sekeyakinan dengannya. Tapi kali ini lain, karena lelaki itu menggerus dan merongrong sisi halus dalam dirinya.
Hidup agak kacau dalam kepalanya kini. Kadang-kadang dalam keadaan setengah tidur, ia cemas. Meraba dadanya, apakah iman masih bersemayam di sana. Kadang ada perasaan mengapung, melayang tanpa sesuatu pengait, pasak atau apa saja yang mencengkeram dirinya berpilin erat dengan akar iman. Kadang ada rasa itu, dan dia takut.

Karenanya saat terbangun di pagi hari dalam keadaan beriman, dia selalu bersyukur. Dengan sebenar-benarnya syukur. Iman itulah yang paling berharga. Seolah dia bersyahadat kembali dalam kesadarannya yang terkini. Betapa mahalnya iman, betapa takutnya dia tergelincir, betapa rapuhnya dunia dan kehidupan jika tak memiliki keyakinan.

Yang paling parah dan lebih berat dari segala kegalauan ini adalah dia harus menghadapai kekhawatiran dan kecemasan ibunya yang berlebihan. Tak seharusnya demikian. Dina cukup terbekali oleh semangat mengabdi kepadaNya dan tak mau menggadaikan keyakinan demi apapun. Tidak cinta, tidak harta.

Tidak ada yang lebih menyedihkan dibanding tatapan curiga dari orang yang kepadanya dia persembahkan seluruh waktu, perhatian dan kehidupannya. Yang di rumahnya, dia telah bersedia dipenjara, merelakan mimpi-mimpinya sendiri terkubur.
**


*posting tulisan lama

Lokakarya Penulisan Cerpen Kompas 2012


27-28 Juni 2012 kemarin, aku mendapat kesempatan luar biasa. Terpilih menjadi salah satu dari 26 peserta lokakarya penulisan cerpen Kompas 2012 dan berkesempatan belajar langsung dari para suhu. 

Bertempat di Bentara Budaya Jakarta, lokakarya dimulai pukul 09.30 WIB. Seru banget karena kita langsung praktek setelah mendapat stimulasi dari mas Yanusa Nugroho. Dengan musik - musiknya serta film yang diputar untuk merangsang para peserta mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam menuangkan rasa dalam tulisan. Semua berebut unjuk jari dan membacakan tulisannya masing - masing. Wew !! dan semuanya keren - keren. Walah wis, diksi - diksi dan juga cara mereka bercerita memang yahud. Salut. 


Bli Putu Fajar Arcana sebagai pemateri berikutnya memberikan clue buat kita semua mengenai pembukaan cerpen sebagai pintu pertama pembaca untuk masuk ke ‘rumah’ cerpen kita atau langsung ‘neg’ dibuatnya. Sekaligus beliau memberikan contoh – contoh dari 21 cerpen pilihan Kompas 2012. Lebih lengkap, Bli Can juga memberikan bocoran penting seperti apakah cerpen – cerpen yang keren dan disukai Kompas.
Setelahnya, lagi – lagi peserta diberi games permainan yang seru.  Bahkan yang tak terduga sebelumnya. Nggak pake ba bi bu, semua langsung bermain dengan laptop masing – masing menyelesaikan tugas menulis dadakan berdasarkan stimulasi yang ada.
Satu hal penting dari mas Yanusa yang kucatat dan terus kuingat:
Jangan terpaku untuk menulis sesuatu yang besar, yang wah. Tetapi galilah dari hal – hal SEPELE di sekitar kita, namun kemas sehingga menjadi cerita yang keren dan BERGIZI.
Kalau dari Bli Can, ini nih :
Ilham, Wahyu, inspirasi jangan ditunggu, tetapi harus DICARI dan DIKEJAR.

Sesi Lokakarya ditutup dengan acara penyerahan sertifikat untuk seluruh peserta dan foto bersama.

Lokakarya disambung dengan acara Diskusi Cerpen Kompas dan Realitas Sosial yang bertempat di Gedung Kompas, berseberangan dengan Bentara Budaya Jakarta. Di sini, saat acara ramah tamah, kami semua berkesempatan bertemu para cerpenis dan sastrawan hebat. Para selebs-nya dunia sastra deh.  Selain menggali dan menyerap ilmu dari mereka, tak lupa mejeng dan foto – foto bersama.
Diskusi Cerpen dimoderatori Bli Can dengan pembicara Radhar Panca Dahana dan Adi. Meski sakit, pak Radhar begitu bersemangat dan berapi – api sepanjang jalannya diskusi. Utamanya pesan dari beliau adalah harus ada yang tegak berdiri dan teguh menjadi punggawa penjaga kebudayaan dan kesusastraan.
Bli Can menutup diskusi dengan berbagai istilah – istilah yang didapat baru saja saat diskusi berlangsung, antara lain sastra kedinginan dan sastra zombie.
Dalam ruang diskusi ini, sepanjang dinding kanan kirinya juga dipamerkan gambar ilustrasi cerpen Kompas 2012, sebagai rangkaian dari ulang tahun Kompas yang ke-47 yang jatuh pada tanggal 28 Juni 2012.
Selepas diskusi, acara dilanjutkan dengan makan malam. Dan acara pembacaan cerpen terbaik pilihan Kompas 2012 oleh 21 Cerpenis di panggung di halaman Bentara Budaya Jakarta. Jiaaah... kami mendengarkan dengan khusyu’ pembacaan cerpen –cerpen ini seperti kalau mendengarkan bacaan Alqur’an. Keren – keren.
Tanggal 28 Januari jam 19.30 Acara penganugerahan Cerpenis Terbaik Kompas 2012 memilih dua cerpenis sekaligus (baru terjadi sejak award ini diluncurkan 20 tahun lalu). Yaitu mas Agus Noor dengan Kunang-Kunang di Langit Jakarta dan  mas Yanusa Nugroho dengan Salawat Dedaunan .

Kompas’s editor for short story, Fajar Arcana, told the Post that he was hoping the event, along with a workshop for 26 upcoming writers on Wednesday, could trigger more people to appreciate Indonesia’s literature in the future. (paragraf terakhir ini kukutip dari artikel di Jakarta Post. Ameeeen....)